Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
78. Ular raksasa


__ADS_3

"Kami berhasil meminta pak Tom untuk memakai kamera kami, dan kami juga berhasil meliput langsung pertarungan yang dilakukan oleh Tom Cage, Hunter rank SS terkuat yang dijuluki sang Burning Arms!"


Bisa dikatakan, semua berita di seluruh dunia menayangkan pertarungan sengit antara para Hunter yang dipimpin oleh Tom melawan seekor ular raksasa berkulit ungu yang disebut-sebut terjadi di Islandia.


Tentunya, berita itu langsung menjadi berita utama di seluruh dunia, dan banyak orang yang menyaksikan langsung seberapa dahsyat pertarungan yang terjadi di Islandia.


"Ularnya besar sekali!"


"Tom dan Hunter lainnya pasti bisa menghabisinya!"


"Semangat kalian, Hunter! Kalian tak boleh kalah!"


Berbagai sorakan di seluruh dunia terdengar dan sorakan itu mendukung para Hunter mengalahkan ular besar itu.


Di sebuah desa kecil di Indonesia, di sebuah rumah sederhana di tepi desa, di malam hari...


"Besar..." Aku yakin kalau ukuran ular itu adalah yang paling besar yang pernah kulihat dan kuhadapi.


Tetapi, aku juga melihat kalau sosok yang membawa kamera kecil yang meliput pertarungan itu adalah Hunter terkuat di seluruh dunia, yang pernah Christo katakan padaku, yaitu Tom Cage sang Burning Arms.


Jika sang Hunter terkuat turun langsung dalam pertarungan, aku yakin kalau semuanya bisa diatasi, sekalipun itu lord, pasti bisa dihabisi.


Omong-omong, aku masih belum melihat kakekku di televisi, dan aku berpikir, mungkin kakekku ada di tempat lain.


"Semangat, StarSam, RedWhite, EasternDragon, kalian pasti bisa!"


***


Islandia...


Asap ungu yang tadi menyelimuti apapun yang ada di depan mulut ular itu perlahan menghilang, dan Tom langsung mengepalkan tangannya dan berlari maju.


"Fatal Blow!" Tom melancarkan pukulannya saat ia sudah ada di depan mulut ular itu dan pukulannya mendarat sempurna, tetapi tak ada goresan sedikitpun di mulutnya, "Ap-?!"


Ia melompat mundur dan tanpa sengaja, ia melihat mata ular itu menyala sejenak, sebelum ular itu menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Kemana?!" Tom menatap segala arah dengan cepat, "Mana?!"


Vigo mendekat dan ia bertanya, "Mana dia?"


Aku tidak tahu adalah kalimat yang ingin ia katakan, tetapi ia mengurungkan keinginannya karena ia mendengar suara jeritan di belakangnya, ketika ia berbalik, beberapa bercak darah tercipta di atas rumput dan ular besar yang ia lawan tadi ada di belakangnya sedang menelan sesuatu.


Vigo yang ada di sebelahnya menahan napas melihatnya, "Apa-apaan itu?"


"Ular itu memakan para Hunter yang lebih lemah dari kita mungkin sebagai makan siangnya..." Tom memasang posisinya, "Lagi!"


Vigo memasang posisinya dan melesat maju, bersamaan dengan Tom yang sudah pergi duluan.


Para Hunter yang mendapat tim samping bergerak cepat mengejar ular itu mengikuti Tom dan Vigo.


Ular itu tampak asyik memakan beberapa Hunter yang tak sempat melarikan diri tanpa sadar kalau ia menjadi sasaran puluhan Hunter di belakangnya.


Beberapa saat kemudian, ia menyadarinya dan saat ia menoleh, Tom sudah melompat tinggi sambil mengarahkan telapak tangannya ke arahnya.


"Hmph, hanya semburan api kecil, aku bisa menahannya..." Ular itu berkata pelan, tetapi tak membuat semangat para Hunter menurun.


"Serang dia!" Mark berseru dan ia mengarahkan senapannya ke depan lalu menembakkan beberapa peluru.


Ular itu melirik sedikit dan tiba-tiba, tekanan udara di tempat itu menurun sedikit, membuat napas para Hunter yang menyerangnya kacau tak beraturan.


"Sial!" Tom mengepalkan tangannya dan ia mendarat di atas tanah, sementara para Hunter lainnya bergerak maju menyerang ke depan.


"Terima ini! Membelah Samudra!" Bintang melompat sambil mengayunkan pedangnya ke bawah dengan cepat, dan untuk pertama kalinya, goresan kecil berhasil diciptakan di tubuh ular itu.


Mata ular itu melirik Bintang tajam, dan Bintang hanya tersenyum lebar, "Aku bisa menggoresmu!"


Alex dan Joko bergerak cepat, dengan belati masing-masing, keduanya berusaha menggores kulit ular itu yang terlalu keras.


"Sayatan Kilat!" Joko berhenti dan melancarkan sayatan demi sayatan yang tak memiliki dampaknya sedikitpun.


Semuanya mencoba menggores kulit ular itu yang terlalu keras untuk digores, bahkan dengan senjata api yang sudah menyala sekalipun.

__ADS_1


Ular itu menggeliat sedikit dan membuat para Hunter melompat menjauhinya, mencoba mengambil jarak sejauh-jauhnya dari ular itu, tetapi sayangnya ular itu bergerak cepat melahap dua Hunter yang pergerakannya lambat di matanya.


Tom menatapnya dengan serius dan ia memiliki sedikit tebakan tentang alasan kenapa ular itu terus melahap Hunter.


"Pasti karena ia mengumpulkan kekuatan..." gumam Tom, "Jika tidak, mungkin ia kelaparan..."


Vigo mendengarnya dan ia melirik Tom, "Memangnya Monster bisa kelaparan?"


"Pakai otakmu hei, mana ada makhluk yang tidak kelaparan kalau tidak makan dalam waktu lama..." Tom menghela napasnya, "Atau, berevolusi menjadi Monster yang lebih kuat..."


"Teori evolusi itu mungkin saja, mengingat sejauh ini kita sudah mengelompokkan Monster berdasarkan ukuran dan hawa yang kita rasakan..." Vigo memejamkan matanya, "Kalau kuperkirakan, level Monster ini adalah Disaster..."


Para Hunter membagi para Monster menjadi beberapa level, pertama adalah Weak, Strong Enough, Awesome, Destruction, dan terakhir adalah Disaster.


Sederhananya, Disaster setara dengan kekuatan seluruh Hunter rank SS dan rank S yang ada di dunia bersatu yang hasilnya menang dengan bayaran kehilangan separuh atau lebih kekuatan atau kalah.


Destruction setara dengan setidaknya satu atau dua Hunter rank SS, Awesome setara dengan satu atau lebih Hunter rank S, Strong Enough setara dengan Hunter rank A, rank B, dan rank C, serta Weak yang setara dengan Hunter rank D dan rank E.


Ular itu memejamkan matanya dan membuat para Hunter bersiap kembali, dan ular itu perlahan mengecil, hingga akhirnya berubah menjadi sesosok makhluk mirip manusia.


Saat manusia itu membuka matanya, mata ular adalah mata manusia itu, dan para Hunter yakin kalau manusia itu adalah jelmaan lain dari ular besar itu.


"Ini lebih baik..." Manusia itu menghilang dan tiba-tiba, ia ada di depan Vigo dan berkata pelan, "Halo..."


Tom menggertakkan giginya, "Cepat, aku tak bisa melihatnya..."


Ia melirik ke samping dan manusia mata ular itu mengarahkan pukulannya ke arah wajah Vigo dan ditahan dengan pedang besarnya.


Vigo berhasil menahan pukulan itu, tetapi sayangnya pedangnya langsung retak di bagian yang dipukul dan membuat Vigo terkejut sambil melebarkan matanya.


"Apa-apaan fisik itu?!" Joko terkejut, sementara Bintang dan Alex memasang posisi mereka kemudian bergerak cepat menuju Vigo.


Jarak keduanya dengan Vigo dan manusia ular itu dihitung tak terlalu jauh, jadi mereka bisa bergerak dengan cepat dan menebaskan senjata masing-masing, berniat memotong tangan manusia ular itu.


"Oh, masih lambat!" Manusia ular itu menarik tangannya dan menghadapi Bintang, "Kau Wadahnya, pasti kau lebih kuat dari si pedang besar-..."

__ADS_1


"Jangan remehkan kami!" Tom melompat dan mempersiapkan pukulannya yang ia tujukan ke kepala manusia mata ular itu, tetapi manusia mata ular itu mampu menghindar dan membuka mulutnya lebar-lebar.


"Semuanya, menjauh!" seru Tom sambil bergerak menjauh, dan sesaat setelah ia berseru begitu, semburan racun yang sama muncul lagi dan menutupi sekitar manusia mata ular itu.


__ADS_2