
"Langit Satria memasang posisi dengan kedua tangannya yang memegang pedang! Apakah ia akan bertarung dengan dua pedang?!"
"Setelah sedari tadi kita melihat Langit Satria yang terus dipojokkan, apakah kita akan melihat amukan sang Hunter rank SSS yang kita panggil dengan julukan Cold Blooded Hunter?!"
"Kita bisa melihat tadi, kalau sedikit Hunter rank SS yang berani maju, mereka tahu kalau mereka sedang melawan Hunter terkuat di dunia!"
"Ayah, bukankah nama orang itu mirip seperti ayah?" laki-laki kecil di sebelahku bertanya, dan aku mengusap kepalanya.
"Ahahaha, hanya nama saja yang mirip, tapi tidak dengan kemampuannya." aku terkekeh kecil.
"Langit, ceritakan saja semua, kau tak boleh bohong pada Bintang kecil kita ini..." perempuan di depanku berkata dengan wajah datar, dan aku menghela napasnya.
"Kata ibumu kemarin, Hunter rank SSS yang tayang di tablet ibumu itu adalah ayah." ujarku datar.
"Benarkah?!" Bintang terlihat senang, "Ceritakan tentang apa saja yang ayah lakukan dulu!"
"Baik-baik, akan ayah ceritakan, tapi setelah kita menyelesaikan makan malam kita, ya?"
"Oke!"
Kedamaian ini terasa semu, aku yakin kalau nanti akan ada saatnya aku menarik Pedang Api Hitam dan Black Flame Soul Katana lagi, Vina mengangkat Mata Elang, Andhika menarik Keris Raja Singa, Rei mengangkat Penghancur Bumi, Senja menarik Azure Sword, Yuuki menarik Hinokami no Ken, Carroline menarik Star Sword dan Tombak Penembus Langit, kedua orang tuaku menarik senjata mereka, dan masih banyak lagi.
Kekuatanku tersegel dan tak bisa kubuka dengan mudah, tapi inilah kenyataannya, aku akan menghadapinya nanti dengan kekuatanku yang seadanya...
Kehidupan itu seperti lingkaran, saat ini kita menghadapi kekacauan kemudian berhasil mengatasinya, tetapi nanti kita akan menemui kekacauan sekali lagi...
***
Aku melesat maju, kedua pedangku sudah menyala terang dan aku akan membalikkan situasi!
"Aliran Pedang Api Amarah, gaya kedua, Memotong Dimensi!"
__ADS_1
William yang ada paling depan menahan kedua pedangku dengan kesulitan, aku melepaskan seluruh aura yang kumiliki dan membuat William semakin kesulitan menahan kedua pedangku.
Suara tembakan terdengar lagi, dan aku melirik ke kiri, "Vina dan Marie di mobil di kiri, kemudian..." aku melirik ke kanan, "Ada Alteron yang maju dengan lancernya yang menyala..."
Aku menghempaskan kapak William kemudian menebas armornya hingga tergores lebar dan aku melompat ke kiri, melesat menuju mobil Marie yang diam di tempatnya.
Mobil itu bergerak menjauh, kemudian Senja terlihat melompat dari mobil kemudian menghadangku dengan pedang birunya, tetapi aku sudah menyiapkan tebasanku dan menghempaskannya jauh-jauh dengan mudah.
Dan akhirnya, dua sosok hitam muncul di depanku bersamaan dengan suara tembakan yang terdengar kembali.
Aku melirik ke kanan dan menebas sesuatu yang kecil menjadi dua kemudian aku melesat menuju orang yang melancarkan tembakan itu, yaitu Vina.
Vina terlihat terkejut, ia berseru kencang, "Bibi, pindah! Monster itu mendekati kita!"
Marie memutar stir mobilnya kemudian bergerak menjauhiku, tetapi aku bisa bergerak lebih cepat dari mobil itu, dan aku langsung menebas mobil itu, hingga mobil itu terbelah menjadi dua.
Aku menarik Vina menjauh sementara Marie melompat kemudian berguling di atas pasir, sebelum mobil itu meledak.
"Skakmat." aku menempelkan sisi tajam Pedang Api Hitam di leher Vina kemudian menariknya, "Kau melawan, maka lehermu putus."
"Hahaha, nampaknya aku masih belum kuat..." ujarnya, "Tapi kurasa itu bisa menjadi alasanmu melindungiku lebih lama lagi..."
Sialan anak satu ini, sudah diancam, masih bisa melawak pula...
"Tapi kau melupakan dua orang lagi..."
Benar, sedari tadi Yuuki dan Al tidak bergerak, apa yang dilakukan keduanya? Bolos latihan?
"Kena..."
Aku melirik ke belakang, kulihat Yuuki sedang menyeringai lebar dengan pedangnya yang mengarah ke kiri dan terlihat bersiap untuk melepaskan tebasannya.
__ADS_1
Pedang Api Hitam dan Black Flame Soul Katana kulepas dari peganganku, aku mengangkat Vina dan melompat menghindari tebasannya.
"Uh, masih lambat..." Yuuki memasang posisinya, dan ia melepaskan tebasan andalannya yang lebih jauh dari tebasan Katana pada umumnya.
Aku bisa menghindarinya dan aku melompat mundur lagi kemudian aku mengangkat pistol ke atas lalu melepaskan tembakan.
"Nyawa Sniper kalian ada di tanganku!" aku berseru lantang, "Kalian maju lagi, maka dia mati di tanganku!"
Tentunya aku hanya menggertak, mana mungkin aku membunuh Sniper andalan umat manusia ini...
"Hanya gertakan saja..." orang di kejauhan dengan pakaian militer mengangkat senapannya, "Itu berlaku jika kita maju..."
Tembakan terdengar dan peluru melesat ke arahku dengan cepat, aku berbalik dan kurasa peluru itu mendarat di punggung jas hitamku.
Aku mengangkat Vina lagi dan bergerak cepat menuju Pedang Api Hitam yang tergeletak tak jauh dariku, tetapi Yuuki menendang pedangku dan membuatnya lebih jauh lagi.
Tak lama, Rei muncul dan meraih pedangku kemudian melesat ke arahku, ia mengangkat pedangnya dan mengayunkan pedangnya dengan asal-asalan.
Harus kuakui, meski Rei menebaskan pedangnya asal-asalan, tebasan-tebasan itu mengandung kekuatan yang sangat besar, jadi aku harus berhati-hati menghadapinya meskipun itu hanyalah tebasan asal-asalan saja.
"Kulihat kau mulai kesulitan!" Rei berseru, "Mana kau serius?!"
Aku melesat lebih cepat ke arahnya dan mengangkat kakiku kemudian melancarkan tendangan yang mengarah ke dagunya, dan ia terpental ke belakang.
Ibuku menangkap Rei kemudian ia melesat maju ke arahku setelah ia meletakkan Rei di atas tanah dan ia melancarkan tebasan demi tebasan yang berkekuatan besar dan berkecepatan tinggi.
Aku menghindarinya lagi, kurasa aku memang harus memakainya lagi...
Dadaku terangkat sedikit, udara masuk ke paru-paruku, dan aku menghembuskannya perlahan, dan aku melirik sekitarku dengan tajam...
Seketika, semua orang terjatuh lagi, bahkan Rei yang kukira bisa bertahan saja sampai telungkup di atas pasir, tak ada yang berkutik lagi.
__ADS_1
Ini adalah aura penuhku, aku sudah melepaskan seluruh aura yang kumiliki dan dengan ini saja, aku sudah menunjukkan salah satu kekuatan abnormal yang kumiliki.
"Latihannya cukup dulu, aku kesulitan berpikir..." aku berbalik tanpa menurunkan Vina, "Aku akan benar-benar serius besok..."