
"Dengan memaksa Frans untuk memberitahunya padaku..." Orang itu memasang wajah horornya, "Hanya Si Cakar Merah saja yang bisa melakukannya..."
Bintang menghela napasnya dan ia menaikkan bahunya, "Aku tak membawanya."
"Eh?"
"Anakmu, Langit Satria yang membawanya." ujar Bintang, "Lagipula, anakmu sudah menjadi kuat, memiliki senjata api tidaklah aneh untuknya."
"Ah, Langit, ya? Aku tak tahu berapa bulan aku sudah meninggalkannya." Orang itu tersenyum tipis dan menunduk, "Dia harus tahu, kalau ayahnya amat menyayanginya..."
Selagi orang itu menunduk, Bintang mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada orang itu, "Taru, bicaralah pada Langit..."
Ya, orang berkemeja putih berdasi hitam itu adalah Joko Taru, seorang Hunter rank S dari Indonesia dan ia dijuluki Si Cakar Merah.
Pakaian khasnya memang itu, jas panjang hitam, dengan pakaian dalamnya adalah kemeja putih dasi hitam, sesekali ia memakai kacamata hitam saat bertugas.
"Tidak usah..." Joko mengibaskan tangannya, "Aku tak ingin membuatnya sedih."
"Dengan kau bertingkah seolah telah mati, membuatnya amat terpukul..." Bintang mematikan ponselnya, "Apakah itu adalah sikap seorang ayah yang benar?"
"Tidak, tujuanku tidak begitu..." Joko menggelengkan kepalanya, "Aku ingin agar Langit terbiasa menghadapi kehilangan dan berbagai tantangan dalam hidupnya."
Bintang angguk-angguk saja, "Ya sudah kalau itu maumu, selanjutnya aku ingin bertanya..."
"Dengan kau menunjukkan dirimu di hadapanku, apakah kau bersedia untuk muncul kembali di hadapan Langit?"
"Tidak, dan juga, aku akan mengakhiri pengabdianku di RedWhite pada Raid sekarang, setelahnya aku akan bergabung dengan StarSam." Joko berbalik, menatap jendela pesawat yang memperlihatkan awan-awan siang yang terik.
"StarSam, ya? Boleh saja, pastikan kau mengerti dengan semua yang orang-orang itu katakan." Bintang menepuk pundak Joko, "Semua yang akan kau lakukan, putuskan sendiri, jangan mencoba bertanya padaku, karena semua keputusanmu untuk masa depanmu, bukan masa depanku."
"Semua yang kau pilih saat ini, akan mempengaruhi masa depanmu..." tambah Bintang, "Jadi, pikir baik-baik semua keputusanmu."
"Eh, benarkah? Kukira ayah akan marah..." Joko menatap Bintang tak percaya, "Bagaimana bisa?"
"Aku baik begini salah, keras padamu salah, maumu apa sih sebenarnya?!" Bintang menarik kerah kemeja Joko, "Jawab!"
__ADS_1
"Kan aku bingung, apa yang membuat ayah menjadi seperti ini..." Joko menggaruk kepalanya, "Kalau begitu, aku akan menceritakan semua yang kulalui selama beberapa bulan terakhir ini..."
Jadiii, setelah pagi dimana Surabaya hancur oleh serangan Monster, waktu berjalan amat lambat.
Joko Taru bertahan di bawah reruntuhan atap rumahnya dengan kesulitan sampai akhirnya, ia berhasil keluar dari reruntuhan itu, dan saat ia keluar, ia melihat bahwa hari sudah sore, ia juga tak melihat Langit dimana-mana.
Ia berpikir bahwa Langit sudah mati, jadi ia membongkar reruntuhan rumahnya dan mencari sesuatu yang ia sembunyikan di bawah tempat tidurnya, yaitu brankas yang menyimpan semua perlengkapannya dulu.
Perlengkapannya, yaitu jas panjang, kemeja putih, dasi hitam, celana panjang hitam, masker hitam, kacamata hitam, jam tangan, dan pisau berbilah hitam, yang mana pisah itu termasuk senjata api juga...
Setelah memakai perlengkapannya yang ia cari hingga hari menjadi gelap dan tak memakan apapun sejak pagi, ia pergi ke markas SuraBaya dan melihat seisi markas itu.
Yah, ia datang hanya mencari minuman dan makanan kemudian pergi, sebelum itu, ia membuka semua kunci di markas itu agar siapapun Hunter yang datang ke markas itu tak kesulitan membuka pintunya, termasuk mencongkel pintu ruang penyimpanan.
Setelah itu, ia pergi dari markas SuraBaya, berbekal pisau, pakaian, makanan, dan senter, ia pergi ke kota sebelah, tapi sayangnya jalur kabur diblokir oleh para Monster.
Tahu kalau bertarung malam-malam tidak akan membuatnya menang, ia pergi ke rumah kosong dan beristirahat di sana.
Selagi beristirahat, ia mencari cara untuk kabur tanpa bertarung, karena ia tak mempunyai senjata api andalannya, melainkan senjata api versi sederhana saja, beberapa kali dipakai bertarung, pisau itu bisa hancur. Joko tak ingin itu terjadi.
Dan satu hal yang mengejutkan, Joko sempat bertemu dengan Christo dan berbicara singkat.
"Kau bertemu dengan Christo?" Bintang terkejut, "Tapi Frans tak menceritakannya padaku..."
"Itu karena aku yang meminta agar Christo tutup mulut tentang keselamatanku. Selain itu, aku juga memberitahu Christo kalau aku akan kembali ke dunia Hunter, tetapi aku akan bekerja untuk StarSam." Jawab Joko, "Itu saja sudah amat penuh perhitungan..."
Setelah pertemuannya dengan Christo, Joko pergi melalui celah yang dibuat Christo dan ia berpetualang di pulau Jawa yang luas itu.
Dua bulan kemudian, setelah ia berhasil menghancurkan satu gelombang Monster dengan senjata api ia temukan di sebuah kota yang ia tak tahu namanya apa, ia akhirnya sampai Jakarta.
Kedatangannya amat tersembunyi, ia masuk Jakarta saat hari sudah gelap dan ia menyusup ke markas besar RedWhite tanpa diketahui oleh penjaga dan menemui Frans.
Frans terkejut dengan kemunculan Joko Taru yang disebut telah tewas, ia bahkan berencana mengumumkannya pada dunia, tetapi Joko memaksa Frans agar tidak melakukannya, dan juga ia bertanya tentang keberadaan Cakar Ayam Api yang ia tinggalkan di markas SuraBaya.
Frans mempertanyakan pertanyaan Joko, dan Joko menjawab singkat, "Aku ingin meninggalkan benda warisanku pada anakku yang mungkin bertemu dengan Christo dan dituntun ke markas SuraBaya."
__ADS_1
"Telat ah, Christo sudah gugur di Surabaya karena melawan Monster yang sama dengan yang pernah dilawan oleh ayahmu." Jawab Frans, "Dan juga, Cakar Ayam Api kini dibawa oleh ayahmu dan anakmu, katanya..."
"Ah, begitu ya..." Joko mengangguk, "Kalau begitu, biarkan aku berdiam disini dulu."
Setelahnya, Joko beristirahat di rumah Frans dan tak sengaja bertemu istrinya yang sedang mengganti pakaiannya, hingga menyebabkan salah paham.
Untung saja Frans berpikir kalau Joko Taru masihlah bodoh seperti sebelumnya, kalau tidak mungkin koridor rumahnya akan hancur oleh pertarungan keduanya yang disebabkan karena Frans berpikir kalau Joko sudah melecehkan istrinya...
Setelah beberapa hari tinggal di rumahnya Frans, Joko memutuskan untuk menjadi pelindung rahasia RedWhite, hingga akhirnya kabar Raid ke Islandia yang diusulkan oleh Bintang didengar olehnya.
"Dan untuk bisa mendapat kesempatan berbicara dengan ayah lagi tanpa diketahui oleh banyak orang, aku akhirnya memutuskan untuk ikut dalam Raid ini, sekaligus juga berbicara pada paman Tom Cage mengenai aku yang akan pindah ke Amerika Serikat." Joko menunjuk sebuah tas besar, "Itu adalah barang bawaanku ke Amerika Serikat."
Bintang menepuk pundak Joko lagi, "Baiklah, aku menerima semua yang kau putuskan..."
Joko tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih pada Bintang.
Sebelum keduanya kembali ke kabin utama, Bintang memberitahukan sesuatu yang penting pada Joko.
"Apa?! Langit menjadi wadah Flame Emperor?!" Joko terkejut mendengar kabar anaknya yang menjadi wadah seekor Emperor.
Ia tahu kisah para wadah, Lord, Emperor, dan Divine Legion karena Bintang pernah bercerita hal itu padanya.
"Apakah ayah yakin akan membiarkannya? Ia bisa menjadi incaran Ice Emperor, Black Emperor, Dragon Lord, dan semua pasukan mereka! Nyawa Langit akan terus berada dalam bahaya!"
"Sebab itulah aku masih belum mengirimkan Langit ke RedWhite dengan alasan itu, ia masih belum bisa melawan musuh yang setara dengannya. Menyerahkannya pada RedWhite hanya akan membuat dirinya terungkap ke dunia dan didengar oleh musuh." Bintang tersenyum, "Tenang saja, semuanya ada dalam perhitunganku..."
"Kuharap hitungan ayah tak salah..."
"Memangnya kau pernah melihatku salah hitung?"
"Pernah, saat dulu ayah mengajakku berbelanja ke pasar, dan ayah salah menghitung kembaliannya."
"Itu dulu..."
"Terserah..."
__ADS_1