
"Dan aku tahu apa yang kalian pikirkan..." Rei menatapku dan Vina, "Jika kalian berpikir kalau aku sudah menikah, maka kalian benar seratus persen."
...
...
...
"Oh, begitu ya..." aku mengangguk pelan, "Apa kau sudah itu?"
Rei dan perempuan di sampingnya menaikkan alis masing-masing bersamaan, Vina menarik telingaku lalu bertanya, "Itu apa yang kau maksud?"
"Cukup tahu." aku mengambil gelas kopi Rei kemudian meminumnya sedikit, "Oke, pertama kau harus mengenalkan siapa istrimu..."
"Namaku Dian Permata. Aku dan Rei menikah setahun lalu, beberapa bulan sebelum ibu Ayu meninggal karena sakit." perempuan itu membungkuk sedikit, "Salam kenal, jenderal Langit dan jenderal Vina."
Pfft, jenderal Vina...
"Namaku Langit dan nama perempuan di sampingku adalah Vina, kau pasti tahu namaku dan Vina dari televisi bertahun-tahun lalu..." aku menjelaskan, "Dan tujuanku kemari adalah untuk menarik Rei kembali ke militer."
"Dian, kau pasti sudah tahu kalau Rei dulunya adalah bawahanku yang paling kuat selain jenderal Andhika, jadi kau juga sadar kalau suamimu tidak bisa menjadi tukang angkut di pasar terus-terusan." aku menunjuk Rei, "Kemampuannya tak boleh menumpul disini, dia harus memakainya untuk dunia."
"Ya, aku paham itu..." Dian mengangguk pelan, "Sedari awal ia mengatakan kalau ia adalah Hunter, aku sudah memahaminya, bahwa suatu saat ia akan pergi bertugas dan meninggalkanku sendiri di rumah, dan aku sudah siap dengan itu semua."
"Maka pertanyaanku selanjutnya satu..." aku menaikkan telunjukku, "Apa kau akan mengikuti Rei ke Jakarta, atau kau tetap disini?"
"Jawabanku sederhana, aku akan mengikutinya kemanapun ia pergi..." jawabnya cepat, dan jawabannya membuatku teringat kata-kata Vina semalam.
Mengikuti laki-laki kemanapun ia pergi, ya... Menarik juga...
"Jadi, bagaimana denganmu, Rei? Apa kau ingin tertidur dan membiarkan dunia ini hancur?" tanyaku sambil memangku daguku, "Sebagai orang yang sudah pernah melangkahkan kakinya di jalur militer, kau pastinya paham maksud dari berita-berita yang muncul akhir-akhir ini, hingga konferensi militer internasional harus diadakan untuk kali kedua?"
Rei menunduk, dan aku merasa bahwa ia masih labil, mungkin saja efek dari perang dua tahun lalu masih ada sampai sekarang, dan ada sesuatu yang terjadi selama ia menghilang dari dunia...
"Hmph, jika kau pikir aku akan mundur lagi, mungkin kau salah besar..." Rei berdiri, "Aku akan melanjutkan tugasku sebagai tentara."
__ADS_1
Ia mengangkat tangan kanannya, memberi hormatnya seperti biasa, dan aku berdiri kemudian memberi hormat balik.
***
Hari ini Rei menyuruhku untuk menginap di kota 6, katanya aku dan Vina harus beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta ke kota 6.
Dan Rei memberikan satu kamar untuk kami beristirahat, sementara ia dan istrinya tidur di kamar lainnya.
Sederhananya, rumah Rei saat ini berisi dua kamar, satu dapur, satu kamar mandi, dan satu ruang tamu. Amat sederhana dan mirip seperti rumah kakekku di desa dulu...
Dan... Aku dan Vina melakukan rutinitas biasa kami saat di Jakarta dulu. Mandi, makan, lalu membaca buku sebelum tidur. Dengan catatan kami mandi bergantian...
Yaaaa, setelah aku berusia tujuh belas tahun, aku mulai paham beberapa hal lagi, yang lebih luas dibanding saat aku masih kecil dulu.
"Lihat bintang yang bersinar paling terang itu..." aku menunjuk ke langit di atasku, "Cantik bukan?"
"Benar..."
"Cantik sepertimu."
Aku melirik Vina yang duduk di sebelahku, kami kini berada di halaman rumah Rei yang luas, tempat aku dan Rei dulu bertarung... Yah, rasanya nostalgia saat mengingatnya...
"Bagaimana dengan Rei? Apakah ia benar-benar setuju kembali ke militer?" tanya Vina.
Aku mengangguk meski aku ragu Vina melihat anggukanku, "Yah, aku bisa berkata kalau Rei adalah orang yang ambisius sekaligus cepat bosan akan suatu hal. Ia akan melakukan apapun itu yang dirasanya benar, terus meningkatkan dirinya, dan ia akan terus mencari sesuatu untuk menghilangkan kebosanannya akan suatu hal."
"Apa yang membuat Rei bisa menjadi sosok petarung tangan kosong terkuat di dunia setelah kematian pak Tom adalah ambisinya yang ingin mengalahkanku sekaligus menghabisi Monster yang telah membunuh ayahnya dulu."
"Lihat saja bagaimana dunia akan gempar saat kembalinya Rei yang kabar terakhirnya adalah tewas di hutan..." aku terkekeh kecil saat membayangkannya saja...
***
"Bangun! Ini sudah jam setengah enam!"
Aku menendang pintu kamar Rei, dan kulihat ia sedang berdiri di depan lemari sambil menarik sesuatu.
__ADS_1
"Siapa yang mengijinkanmu masuk kemari?!" Rei mengikat handuknya di tangannya kemudian berjalan mendekatiku, "Jangan pikir karena aku punya pangkat lebih tinggi bisa membuatku mengampunimu!"
Aku melompat mundur, dan Rei mengangkat tangannya yang diselimuti handuk berwarna biru. Rei berjalan melewatiku, sementara aku menempel di tembok untuk memberikannya jalan lewat.
Rei masuk kamar mandi, suara pintu ditutup terdengar, tak lama suara air yang disiram terdengar nyaring.
Aku berjalan pergi dari tempatku tadi, kemudian duduk di sofa di ruang tamu, dengan Vina yang duduk sambil membersihkan bagian-bagian senapannya.
Yah, Vina terhitung rajin merawat senapannya sejak ******* menyerang perumahan tempat kami tinggal, dan saat biasanya aku tanyai, ia hanya menjawab singkat,
"Karena aku bosan."
Biarpun begitu, ia tidak pernah menurunkan kewaspadaannya sama sekali, berbeda dengan orang-orang biasa saat berada di tempat yang dirasanya aman.
Aku menarik Pedang Api Hitam kemudian aku menatap bilahnya yang berwarna hitam mengilap terkena lampu redup di ruangan itu, nampak sedikit menyeramkan.
"Langit, aku ingin memegang pedangmu." aku melihat Vina yang menadahkan tangannya, dan aku menyarungkan pedangku lagi kemudian memberikannya.
"Hati-hati, mungkin pedang ini terasa berat di tanganmu..." ujarku dan Vina menerimanya.
Oke, aku akan menjelaskannya sedikit saja...
Pedang Api Hitam adalah pusaka keluarga Satria yang sudah diturunkan sejak ratusan tahun lalu, dan menurut cerita Flame Emperor, pedang ini hanya bisa dipakai oleh anggota dari keluarga Satria yang terpilih saja.
Hanya yang terpilih saja, yang artinya di dalam darah keturunan keluarga Satria, ada sesuatu yang membuat anggota keluarga Satria unik dan berbeda dari orang biasa.
Aku masih belum memahami maksud dari sesuatu di dalam darah keturunan keluarga Satria, apakah ada aliran energi misterius yang mengalir? Atau suatu kekuatan misterius yang diwariskan dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya?
"Hee, jadi pedangmu ringan?" Vina berdiri dan ia mengangkatnya, "Ringan, kukira akan berat seperti pedangnya Andhika..."
"Yo tidak bisa dibandingkan begitu, besarnya saja sudah berbeda jauh, terlebih benda ini diciptakan agar penggunanya leluasa dalam bertarung..." aku meraih pedangku lagi dan duduk, sementara Vina juga duduk lagi, "Dan mungkin kau dihitung orang terpilih untuk bisa memegang pedang ini."
"Hah?"
"Begitulah..."
__ADS_1