Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
118. Serangan ke RedWhite II


__ADS_3

"Pertama, kita harus memeriksa seluruh markas RedWhite, dan memastikan pertahanan cukup kuat agar tak ada Monster yang lolos ke kota." aku menjelaskan rencanaku yang nantinya akan kubicarakan dengan paman Frans jika bertemu nanti.


"Apa yang akan terjadi kalau ada Monster yang lolos ke kota?" Senja menaikkan telunjuknya, "Apakah rumah-rumah akan dihancurkan seperti lima tahun lalu?"


"Bisa kau katakan begitu..." aku mengangguk, "Jika benar-benar terjadi, maka banyak nyawa yang akan melayang dalam serangan Dragon Lord."


Sejauh kakekku menceritakan, Dragon Lord tak pernah muncul ke dunia, dengan kata lain tiga Naga Kehancuran yang datang selama tiga ratus tahun ini hanyalah bawahannya saja, bukan komandan Destruction Army, bukan juga Dragon Lord itu sendiri, hanya bawahannya saja, bahkan hanya prajurit biasa saja.


"Kalau begitu, bukankah para Monster akan bergerak lebih agresif lagi karena tahu Wadah telah muncul ke dunia lagi?" tanya Zon, dan aku menyetujuinya.


Para Monster sebenarnya bertikai, dan ras Monster terbagi menjadi dua kubu yang bertentangan tujuannya, yang masing-masing dipimpin oleh dua Emperor.


Black Emperor dan Ice Emperor telah menyadarinya lebih dahulu, sebagai percobaan mereka mengirim Dragon Lord untuk melihat kemampuanku, dan jika aku dirasa belum terlalu kuat, maka mereka akan melancarkan serangan lagi.


Mereka mungkin juga telah memperkirakan kalau aku sudah dilindungi oleh sembilan organisasi Hunter terkuat, jadi mereka akan melancarkan serangan ke satu persatu markas organisasi Hunter terkuat di seluruh dunia. Jika itu terjadi, maka tamatlah riwayat ras manusia.


"Aku tak bisa membayangkannya..." aku mengepalkan tanganku ketika memikirkan itu semua, sebelum Senja melambaikan tangannya di depan wajahku dengan wajahnya yang kebingungan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya, dan aku menggelengkan kepalaku cepat.


"Kalau begitu, jelaskan rencananya lagi..." Senja menatapku datar.


"Oke, selanjutnya adalah kita harus memberitahu para Hunter..." aku mengeluarkan ponselku, lebih tepatnya ponsel kakekku dan melihat paman Frans sedang menghubungiku.


Aku mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponselku di telingaku kemudian bertanya, "Ada apa?"


Kudengar paman Frans sedang panik, dan ia berkata, "Dimana kau sekarang?!"

__ADS_1


Aku menjelaskan semuanya dengan tenang, bagian dimana aku sempat bertukar serangan dengan Dragon Lord juga kusebutkan, dan bagian itu jelas membuat paman Frans terkejut bukan main.


"Sialan, ini karena kau ceroboh!" paman Frans membentakku, "Kenapa kau bisa ada di luar asrama ketika malam sudah amat larut?!"


Yah, ini adalah murni keceroboganku, jadi aku siap menanggung hukumannya.


"Aku siap menerima hukumannya." jawabku, dan paman Frans berteriak lagi.


"Tak ada hukuman, yang penting sekarang kau kembali ke kantor, ada yang harus kau pahami!" setelah itu panggilan ditutup.


Yah, meskipun paman Frans berkata begitu, aku tak bisa kembali, karena taman tempatku sempat bertukar serangan dengan Dragon Lord, sudah dikepung oleh Monster dengan berbagai bentuk.


Aku memasukkan ponselku ke kantong jas panjangku kemudian berdiri, dan melirik Senja yang ikut berdiri sambil bertanya, "Kau mau bertarung?"


Mungkin, pertanyaanku tadi sempat membuatnya berani maju, dan ia mengangguk cepat sambil berseru, "Aku akan bertarung!"


Aku berbalik, menghadap para Monster yang sedang menunggu kami maju, dan mata mereka semua merah menyala terang, terlihat mengerikan di malam yang larut ini.


Kakekku pernah berkata, semua Monster, tak terkecuali para Lord dan Emperor, bahkan Wadah bisa saja berubah menjadi lebih kuat jika bertarung di malam hari. Kekuatan mereka akan meningkat jauh jika bertarung di malam hari dan tentunya malam hari bukanlah waktu yang ingin para Hunter gunakan untuk menghadapi Monster.


Aku mengangkat kedua pedangku, kulirik ke sebelahku, Senja berdiri dengan pedangnya yang sudah menyala terang.


"Kalau begitu, pastikan dirimu tak mati kali ini..." ujarku sambil menyalakan pemanas di kedua pedangku. Bilah Pedang Api Hitam dan Pedang Naga Iblis berubah menjadi merah menyala, menyinari taman sedikit dan aku mengacungkan Pedang Api Hitam ke depan, "Dan jika kau benar-benar Hunter, maka cobalah mengimbangiku..."


Aku membungkuk sedikit sebelum berlari cepat ke depan menuju para Monster itu.


Aku sudah terbiasa memakai dua pedang sejak setahun lalu, tetapi kakekku berkata agar tak pernah melupakan gerakan satu pedang, agar jika seandainya aku hanya membawa satu pedang saja, maka aku tak kesulitan bertarung.

__ADS_1


Kakekku juga menyuruhku agar selalu berlatih ilmu cakar mencakar, biar ada gunanya itu Cakar Ayam Api di tanganku, begitu katanya.


Sekarang, aku tak memerlukan dua ilmu itu, karena aku memegang dua pedang, tapi tenang saja kakek, aku akan selalu mengingat ajaranmu.


Aku bergerak cepat dan tak perlu waktu lama, aku sudah ada di depan dua Monster berbentuk seperti serigala, dan kedua pedangku terangkat kemudian memenggal dua kepala sekaligus dengan cepat.


[Raged Wolf (Level 20)]


Monster level 20 tidak akan terlalu banyak memberi EXP, hanya sedikit saja, ketika aku membunuh 30 Monster level 30, EXP yang kudapatkan bisa membuatku naik level sebanyak lima kali, mungkin? Bisa saja lebih...


Dan menurut guide book, semakin tinggi levelnya, semakin banyak EXP yang diperlukan untuk naik level, yang artinya makin banyak Monster yang harus kuhabisi agar bisa mendapatkan EXP.


EXP bisa juga didapatkan dengan berolahraga sehari-harinya, tapi tak terlalu banyak, tergantung porsinya.


Aku pernah naik satu level hanya dengan berolahraga, dan aku menghabiskan waktu selama kurang lebih seminggu, yang artinya berolahraga tidak banyak menaikkan level.


Aku mengayunkan kedua pedangku lagi dan membunuh lebih banyak Monster lagi, sementara Senja juga bertarung menghabisi banyak Monster, pastinya dia tak mau kalah denganku.


[Level up!]


[Level up!]


[Level up!]


[Level up!]


Kami maju terus menghabisi banyak Monster, hingga pada akhirnya para Monster kabur menjauh, melihat itu kami langsung bergerak cepat ke kantor tempat paman Frans menunggu.

__ADS_1


Perutku sakit cuy, pendek aja dulu:D


__ADS_2