
Andhika meletakkan tas dan dia duduk di bangku depan kemudian ia berbalik, "Masih pagi oi, malah tidur..."
Aku mengangkat wajahku dan menatapnya, "Kau tidak tahu kalau aku semalaman tidak tidur..."
"Jam sepuluh aku diserang, dan jam tiga pagi baru kembali ke rumah, mana tugasku ada beberapa yang belum selesai pula..." aku menguap pelan.
"Dan sebentar..." Aku bangun, "Bagaimana caramu masuk kemari?"
"Kekuatan militer tak bisa kau remehkan..." Andhika mengeluarkan kartu dari kantong seragamnya yang kekecilan, "Dengan kartu ini, semua bisa kau lakukan?"
Perempuan di sebelahnya hanya menghela napasnya, dan aku teringat sesuatu...
Jika aku, Vina, Andhika, dan perempuan di depanku ini duduk bersama begini, bukankah itu artinya reuni petinggi RedWhite?
Sekedar fakta saja, perempuan di depanku ini bernama Senja Irawan, ia ikut serta dalam Perang Dunia ketiga dan posisinya adalah jenderal angkatan laut saat itu, namun ia bertugas di pulau Jawa sambil mengomando pasukannya. Begitulah pembagiannya, namun aku tahu ada sesuatu selama aku pergi...
Senja terlibat dalam pertahanan ibukota saat diserang ratusan Monster, yang berujung pada gugurnya beberapa Hunter rank S yang dimiliki Indonesia saat itu, juga ia merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rei Artawan di hutan saat bertugas bersama.
Setidaknya itulah yang diketahui setelah Perang Dunia ketiga selesai... Dan mungkin itu yang membuatnya keluar dari militer...
"Omong-omong, sudah lama kita tak berkumpul begini, bukan begitu, ketua organisasi RedWhite?" Andhika memasukkan kartunya ke kantongnya dan ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya.
Dengan ia memakai seragam kekecilannya, membuatnya terlihat seperti berandalan tukang tawuran di sekolah, itulah yang akan dikatakan orang-orang, namun berbeda dengan orang-orang yang sudah mengenalinya hanya dengan wajahnya saja...
Guru masuk, bersama dengan seorang pria... Sebentar...
"Halo, good morning everyone..." pria dengan kacamata hitam dan pakaian khas militer di balik jas hitamnya tersenyum lebar sambil mengenalkan dirinya, "How are you today?"
"Seingatku sekarang tidak ada pelajaran bahasa Inggris..."
"Benar..."
__ADS_1
"Apakah ada perubahan jadwal?"
"Aaahh, buku bahasa Inggrisku ketinggalan di rumah!"
Yah...
Aku tak perlu panik...
Dia adalah Yuuki Ken...
"Apa yang dia lakukan disini?" suara terdengar, dan aku mendengarnya dari Senja, "Tak ada urusan militer disini, buat apa dia kesini, apalagi dengan Andhika?"
"Oke-oke, mungkin kalian bingung, begitu juga dengan ibu..." guru di depan kelas menjelaskan, "Hari ini ada sesi penjagaan dari militer. Sekolah ini menjadi sasaran selanjutnya *******."
Oke...
Apa aku tak bisa dibiarkan tenang di semester dua kelas sebelas SMAku???!
Oke, mungkin tujuan Andhika ke sekolah adalah sebagai langkah awal, namun kalau sampai dua jenderal datang kemari, ada kemungkinan kalau apa yang dikatakan guru itu benar adanya...
Aku dan Andhika berdiri, dan maju ke depan kelas, dan mengikuti Yuuki keluar dari kelas.
***
"Silahkan masuk, pak Yuuki, pak Andhika, pak Langit..." seorang tentara membukakan pintu ruang pertemuan kemudian kami masuk dan pintu ditutup kembali.
Kulihat kepala sekolah dan wakil kepala sekolah dari segala bidang duduk mengelilingi meja besar, dan kulihat wajah mereka tegang...
"Oke, sudah waktunya kalian mengetahui beberapa hal..." Yuuki berjalan maju dan ia duduk di satu kursi, "Tentu kalian sudah mendengar kabar kalau semalam sempat ada serangan teror ke ibukota, namun berhasil dihentikan oleh militer."
"Dengan kasus itu dan keberadaan kelompok ******* di Papua, dunia sudah memutuskan bahwa Indonesia darurat keamanan, sama seperti negara-negara lain di dunia." Yuuki mengangkat dua jarinya dan menunjuk dua bangku di depannya, "Aku datang kemari sebagai bantuan Jepang terhadap masalah ini."
__ADS_1
Aku dan Andhika duduk di dua bangku di depannya, dan mendengarkan.
"Akan ada beberapa bantuan lagi dari beberapa negara, namun tak banyak yang bisa Indonesia terima." Yuuki meletakkan kacamata hitamnya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Dan jenderal Andhika telah datang ke Papua kemarin malam dan bertemu dengan kelompok ******* itu."
"Dalam pertemuannya, telah terjadi baku tembak dan baku hantam, dan TNI berhasil menang dengan bayaran lima tentara gugur disana. Dan Andhika berhasil mengorek informasi dari mulut pemimpin kelompok itu..." Yuuki mengeluarkan ponselnya, "Dan apa yang dicari kelompok itu..."
Ponsel Yuuki berbunyi, mengeluarkan suara percakapan...
Semakin lama rekaman diputar, alisku makin mengkerut rasanya...
Militer memerintahkan mereka mengacau hanya untuk mengejar satu orang?
Dan orang itu adalah aku?
"Oke, kuanggap kalian mengerti..." Yuuki mengambil ponselnya lagi, "Salah satu murid kalian yang juga mantan Hunter terkuat di dunia, menjadi incaran satu dunia..."
"Aku sudah menjelaskannya pada pak presiden dan ja berkata bahwa semua langkah boleh dilakukan, jadi langkah selanjutnya setelah kami menghancurkan kelompok ******* di Papua adalah mengamankan Langit Satria."
"Sebentar, bukankah lebih baik jika membujuknya kembali ke militer? Dengan begitu kami bisa mengeluarkannya dari sekolah dan kami pun aman." kepala sekolah berkata dengan mudahnya, dan aku sedikit geram...
Semudah itukah mulutnya menjawab mengeluarkanku dari sekolah? Biarpun aku masih memiliki jabatan di militer, namun aku juga masih memiliki hak untuk menyelesaikan pendidikanku di sekolah...
"Dengan kami menerimanya, itu sama saja seperti mengundang masalah ke sekolah, begitu?" orang yang kutebak adalah wakil kepala sekolah berkata.
"Masalah militer tidak sesederhana itu untuk dipahami..." Yuuki berkata, "Seseorang akan semakin kuat jabatannya dengan kekuatan yang besar di belakangnya, namun kebalikannya, meski seseorang memiliki prestasi yang bagus di mata dunia sementara ia tak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya, prestasi yang ia miliki hanya akan menjadi omong kosong semata."
"Selain itu, orang tidak hanya mengincar sasarannya, namun juga sesuatu yang dekat dengan sasarannya, seperti keluarga, teman, dan sebagainya." Yuuki mengangkat telunjuknya dan menunjuk kepala sekolah, "Kalaupun Langit drop out dari sekolah, kau tetap terancam bahaya karena dihitung pernah dekat dengan Langit."
"Bukan hanya itu, semuanya yang ada di sekolah ini ada dalam bahaya meski Langit sudah drop out dari sekolah." Yuuki melipat tangannya, "Sederhananya, kalian tetap terancam bahkan saat pembelajaran berlangsung seperti saat ini."
"Orang yang mengirim teror ke rumah Langit, kerusuhan di Papua, dan yang paling baru berhasil ditangani oleh Arab Saudi kemungkinan adalah orang yang sama." ujar Yuuki, "Namun siapa orangnya, aku juga tidak tahu..."
__ADS_1
"Jadi, menjaga sekolah ini sampai keluarnya informasi terbaru kurasa keputusan terbaik yang bisa kami ambil." Andhika mengeluarkan surat dari kantong celananya yang kekecilan, "Maaf jika kusut..."
Aku melirik Andhika yang memasang wajah serius, aku kini paham kalau lelahku semalam tidak ada apa-apanya dengan Andhika yang sudah pulang pergi Jakarta ke Papua kemudian ke Bali sebelum kembali ke Jakarta... Aku yakin ia sangat lelah saat ini...