
Suasana kamar terasa mencekam, semua orang menunduk dengan tatapan kosong.
"Sekarang Langit hilang, apakah hidup kita akan berakhir? Bagaimana kita akan mengatakannya pada ketua Frans?" Vina mengepalkan tangannya, "Seandainya saja Carroline tak menarikku pergi, aku pasti sudah menarik tangan Langit menuju tempat makan."
"Maafkan aku, tapi aku terpaksa melakukannya..." Carroline memukul lantai, "Seandainya aku tidak kabur-..."
"Kalian hanya banyak seandainya!" Rei memukul lantai dan berdiri, "Kita tidak tahu bagaimana nasib Langit!"
"Carroline, seharusnya kau tahu kalau ayahmu pasti akan mengusahakan berbagai hal untuk bisa membawa Langit kembali..." Senja melirik Carroline, "Sebaiknya, kita percayakan Langit pada organisasi Hunter, kita yang sekarang tidak akan bisa banyak membantu..."
Andhika mengaduk tehnya terus, ia tak berkata apapun. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Senja, "Kau mengatakan kalau Langit sudah seperti itu sejak dulu, kan? Bagaimana kalau kau menceritakannya lagi?"
Senja menatap Andhika, "Oke..."
***
Suasana markas besar StarSam seketika berubah menjadi menegangkan, puluhan senjata berat diarahkan ke satu makhluk dengan tubuh yang diselimuti api yang berdiri sambil membawa satu manusia.
"Jelaskan apa alasanmu datang kemari!"
"Apa kau berencana menghancurkan tempat ini?!"
Makhluk yang diselimuti api itu bernama Flame Emperor, dan manusia yang ia bawa adalah Langit.
"Aku sudah mengatakannya, aku datang dengan damai untuk mengirimkan barang ke Tom, itu saja." Flame Emperor menghela napasnya, "Apa kalian tak mau hidup? Aku bisa membunuh kalian jika kalian tak menyingkir."
"Tugas kami adalah membunuh Monster dan kami tidak akan melepasmu berkeliaran bebas di bumi!"
"Tarik senjata kalian!" suara yang menggelegar terdengar, dan semua orang seketika mematung, sementara Flame Emperor tersenyum.
"Tarik senjata kalian! Dia adalah Monster yang aman! Ia tidak akan membunuh manusia!" seseorang muncul dari kerumunan Hunter.
Orang itu bertubuh besar, dan di kedua tangannya memakai sarung tangan besi berwarna merah. Ia adalah Tom Cage.
Ia menerima laporan kalau ada Monster yang tubuhnya diselimuti api masuk ke kota, dan ia memastikan apa yang ia dengar itu benar, dan ketika mengetahui kalau Flame Emperor datang ke markasnya, ia langsung keluar dari ruangannya untuk menemui Monster itu langsung.
"Tom, aku mengembalikan anak ini..." Flame Emperor mendekati Tom, dan terlihatlah kalau tinggi mereka itu setara, sama-sama setinggi dua meter...
"Aku juga mengatakan, maaf kalau aku telat mengembalikannya, di Kanada benar-benar kacau, kalian tak boleh mencampuri urusan kami..." ujar Flame Emperor, "Amukan empat pasukan Emperor tidak akan bisa kalian atasi."
__ADS_1
"Maaf saja, tapi kami memiliki banyak Hunter kuat yang bisa mengatasi Monster, bahkan menghabisi Lord bukan masalah besar..." ujar Tom, "Sekali lagi, terima kasih..."
Ia mengangkat tangan, menerima tubuh Langit yang tak bergerak tetapi masih bernapas dari tangan Flame Emperor, dan setelah mengembalikan Langit, Flame Emperor melirik Langit sejenak sebelum ia memanggil Ashroll lagi kemudian pergi dari tempat itu.
Tom menatapnya dengan wajah serius, apa yang ia lihat tadi bukanlah utusan Flame Emperor, tapi Flame Emperor itu sendiri! Kenapa...
"Langit!" Joko mendekat dan ia memeriksa Langit, "Sepertinya dia baik-baik saja!"
"Tapi kita harus membawanya ke ruang perawatan, kemejanya terlihat berwarna merah darah, dia mungkin terluka parah!" Esterosa mendekat dan memeriksa Langit, "Untung saja dia selamat!"
Tom menggelengkan kepalanya dan berbalik, "Aku akan membawanya ke ruang perawatan!"
Ia menatap satu Hunter kemudian berkata, "Perintahkan yang lainnya untuk kembali bersiaga! Raid akan dilanjutkan!"
***
Ruang perawatan...
"Mr. Joko, bagaimana kondisi Langit?!" Carroline bertanya dengan nada yang terdengar panik, sementara yang lainnya bernapas dengan tidak teratur.
"Masih diperiksa, sekarang kalian hanya harus berdoa yang terbaik baginya..." Joko menepuk pundak Carroline, "Dan, seharusnya kalian percaya kalau kondisi Langit baik-baik saja..."
"Masalahnya, dia itu selalu bertindak seenaknya! Bagaimana mungkin kita tidak cemas dengan kondisi manusia itu?!" Andhika berteriak.
"Benar juga..." Joko mengangkat tangannya dari pundak Carroline, "Apa yang terjadi sebenarnya?"
Joko berbalik dan menghadap pintu, tapi matanya melirik ke belakang, "Kalian tak boleh masuk, biarkan aku saja yang masuk dan melihatnya."
Rei berniat masuk, tapi begitu melihat lirikan Joko yang tajam membuatnya mengurungkan niatnya.
Joko membuka pintu dan masuk, ketika ia sudah di dalam, hawa panas seketika menyambutnya.
"Mr. Joko! Bantu kami!" beberapa Hunter yang ahli dalam bidang pengobatan berseru, "Kami tak bisa menyentuhnya! Tubuhnya terlalu panas!"
Joko menaikkan alisnya, "Apa maksud kalian?!"
Ia mendekat dan benar saja, semakin ia mendekati Langit yang terbaring di atas tempat tidur, tekanannya dan hawa panasnya semakin kuat, membuatnya harus menarik napas panjang dan menahannya.
"Apa maksudnya ini? Kenapa Langit bisa memancarkan hawa sepanas ini?"
__ADS_1
Ia mengetahui kalau manusia biasa tidak akan bisa melakukannya, bahkan Hunter sekelas Tom saja tidak akan bisa melepaskan hawa sepanas itu, paling mungkin hanya melepaskan hawa mengintimidasi yang amat kuat, yang mampu membuat siapapun akan bergetar begitu melihatnya.
Yang saat ini kulihat bukanlah sesuatu yang bisa manusia biasa ataupun Hunter bisa lakukan, batin Joko.
Mungkinkah kekuatan Flame Emperor sudah bangkit di dalam tubuhnya? Ia mengelus dagunya.
Ia berbalik dan membuka pintu, "Rosa, masuk kemari! Aku perlu ketahananmu!"
Esterosa berbalik, sementara anak-anak yang lainnya saling lirik, dengan kepala yang pastinya dipenuhi pertanyaan.
"Kali ini kuberikan ijin..." Joko berkata lagi, "Kalian boleh masuk..."
Semuanya mengangguk cepat, dan Esterosa bersama empat anak kecil masuk ke ruangan, mengikuti Joko.
***
Suasana di dalam ruangan tak menurun sedikitpun, bahkan suhunya terasa semakin panas dari yang Joko terakhir ingat.
"Sial, apa yang terjadi?" Hunter lainnya semakin bingung, tak ada satupun yang berani mendekati Langit.
"Hawa ini..." Esterosa menatap Langit, "Apakah panas ini berasal dari Langit?"
"Ya, tapi aku tidak tahu sebabnya apa." Joko melipat tangannya, "Hanya ada satu hal yang kupikirkan, kekuatan Kaisar Api sudah aktif di tubuhnya."
Hunter-Hunter yang tidak memahaminya hanya diam saja, sementara Esterosa memasang wajah serius.
"Terjebak di Kanada mungkin membuat kekuatannya aktif, dan setelah kembali, kekuatan api yang tak terkendali dalam tubuhnya meluap dan membuat suhu ruangan menjadi panas..." Joko menjelaskan, "Yah, kurang lebih seperti itu yang bisa kujelaskan."
"Jadi kembali ke topik utama..." Esterosa mengibaskan tangannya, "Buat apa kau menyuruhku kemari?"
"Membantuku memeriksa tubuhnya, apakah luka yang ia terima parah atau tidak..." Joko menunjuk Langit, "Aku sendiri tidak akan bisa."
Esterosa menatap Langit, dan matanya melebar melihat pakaian Langit yang terlihat bercak merah seperti darah, "Oh, aku mengerti..."
Keduanya mendekati Langit, dan perlahan keringat mengucur di wajah mereka, ketika sudah ada di dekat Langit, Esterosa merasa berpindah ke tempat yang berbeda, begitu juga dengan Langit.
"Jangan... Ganggu... Raja..." Suara terdengar, dan Esterosa bersama Joko menatap ke seisi ruangan gelap, tempat mereka dipindahkan.
Tak lama, wajah yang tak mereka kenal muncul, dan ia berkata lagi, "Jangan... Ganggu... Raja... Kami..."
__ADS_1
Melihat itu, keduanya bergetar, keringat mengucur deras di sekujur tubuh mereka, hanya satu hal yang mereka rasakan ketika melihat wajah itu...
Amarah yang amat kuat...