Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
124. Hunter itu bernama Joko Taru


__ADS_3

"Yo guys, good morning everyone!" orang itu mengangkat tangan kanannya yang masih memegang ponsel, "How are you today? Are you ready for study?!"


Dia... Berbeda dari yang kukenal... Yang kukenal memiliki sifat yang sedikit pendiam, bukan ceria begini...


"Ready, Mr. Joko!" semua orang serempak menjawab, kecuali aku...


Sial, aku tak menduganya, ataukah orang-orang tahu kebenarannya, kalau ayahku masih hidup? Kalau benar, artinya...


"Kakekmu berbohong, begitu juga dengan Frans." ujar Zon, "Kenapa mereka berkata begitu?"


"Kemungkinan, uji mental. Kau tahu, kalau Hunter tak boleh memiliki mental lemah. Kakekmu ingin tahu, seberapa besar pengaruh kabar itu padamu, dan hasilnya? Kau berlatih dengan lebih keras, meskipun kau sudah mendengar kabar yang sama dua kali." tambah Zon, dan aku memahaminya.


Aku menatap lagi ke depan, tapi ketika aku melihat wajah ayahku, amarahku naik lagi, hingga rasanya aku ingin menusuk dada laki-laki tua itu dengan semua senjata api yang kumiliki, bahkan aku ingin menusuknya dengan pulpen yang kupegang.


"Langit, tahan amarahmu, jika kau tertelan amarahmu maka kau akan gelap mata dan melakukan semua cara agar amarahmu hilang!" Zon memperingatkanku, dan aku bisa tenang secara perlahan.


"Kau sekarang hanya perlu mendengarkan, jika waktunya tepat maka kau bisa bertanya padanya." ujar Zon, "Tenang, Langit, tunggu sebentar..."


Aku melihat ke depan lagi, dimana ponselnya menempel lagi di telinganya, dan aku melihat ke tubuh ayahku.


Ya, mau bagaimanapun aku melihatnya, dari sisi manapun, laki-laki dengan rambut putih, pakaian serba hitam, kumis tipis di bawah hidungnya, dan alis tebal itu tetaplah ayahku, sosok lelaki yang dulunya dikenal sebagai Hunter rank S tipe Assassin andalan RedWhite di masa lalu, dijuluki Si Cakar Merah, bernama Joko Taru.


Aku tidak akan pernah melupakan semua informasi tentangnya di SuraBaya dulu, itu saja, tetapi yang sekarang berbeda dari ingatanku.


Belati di belakang pinggangnya? Jas hitam yang terbuka di bagian dadanya, menunjukkan pakaian dalamnya yang berupa kemeja serta dasi hitam? Dan medali di dada kirinya yang bukanlah medali pengenal dari RedWhite? Apakah dia sudah berpindah dari RedWhite menjadi Hunter StarSam?


Dari koran dulu, ayahku digambarkan memiliki penampilan serba hitam, memakai jas panjang berwarna hitam, dengan kedua tangannya yang memakai Cakar Ayam Api, serta memakai kacamata hitam, jadi yang sekarang kulihat bukanlah penampilan ayahku seperti yang digambarkan itu.


"Okey, okey, i will introduce them to others." ujar ayahku kemudian memasukkan ponselnya ke kantong jasnya lagi, "Okay guys, i have a good news..." (Okey, okey, aku akan mengenalkan mereka pada yang lainnya... Okay semuanya, aku memiliki berita bagus...)


Aku menekan tombol di telinga kananku, dan semua yang kudengar di telinga kananku adalah bahasa Indonesia.


"Eh? Berita apa itu?"

__ADS_1


"Beritahu kami, pak Joko!"


Ayahku hanya tersenyum tipis dan ia meletakkan bukunya di atas mejanya, "Hari ini kita kedatangan murid baru, bukan dari New Washington ataupun dari daerah di benua Amerika, tetapi dari negara yang jauh dari sini..."


"Ah, yang dimaksudnya pasti kita..." ujar Andhika, dan aku mengangguk, meskipun aku tahu sepertinya ia tak melihatku.


"Mereka adalah para Hunter muda dari organisasi Hunter yang bermarkas di Indonesia, yaitu RedWhite." ayahku melipat tangannya, "Omong-omong, RedWhite adalah organisasi Hunter pertama tempatku bekerja."


Seisi kelas ribut, dan aku hanya menghela napas saja, sepertinya ia tak ingin identitas kami terungkap cepat...


"Hei kalian berlima yang duduk di belakang, aku tahu kalau kalian berasal dari RedWhite dan merupakan murid baru yang aku maksud..." ayahku menunjuk ke belakang, lebih tepatnya ke deretan tempat kami berlima duduk, "Perkenalkan diri kalian..."


Aku berdiri perlahan sambil menyeringai lebar, sementara empat orang di sebelahku ikut berdiri.


Saat aku berdiri, aku bisa melihat wajah ayahku sedikit terkejut, dan senyumannya terlihat dipaksakan, jadi kutebak ia terkejut melihatku.


"Perkenalkan diri kalian, dari yang di dekat jendela..." ayahku menunjukku, dan aku menarik napas panjang kemudian mengenalkan diriku dengan bahasa Inggris.


Dan empat temanku mengenalkan diri mereka dengan terbata-bata, dan ketika aku mendengar Vina mengenalkan dirinya, ia amat lancar berbicara, membuatku yakin kalau ia hanya ingin menyuruhku, tak lebih...


"Oke, kita tahu kalau mereka dari Indonesia, dan mungkin bahasa Inggris mereka tidak sebagus guru kalian, jadi mulai hari ini kalian akan memakai Auto Translator." ujar ayahku sambil mengangkat benda kecil di tangannya, dan kulihat murid lainnya ikut memakainya.


"Kalian boleh duduk..." ayahku mengangkat bukunya, "Hari ini kita akan belajar tentang..."


***


Jam sepuluh pagi...


Ayahku mengakhiri pelajarannya ketika bel berbunyi, yang artinya kegiatan selanjutnya adalah istirahat.


Aku tidak tahu lama istirahat di akademi ini berapa menit, tapi kalau mengikuti seperti dulu, mungkin lima belas menit? Bisa jadi lebih...


Aku melirik ke samping, kulihat Vina dikerumuni oleh beberapa laki-laki yang ingin berkenalan dengannya, dan aku membiarkannya untuk berbicara dengan bahasa Inggris... Tak jadi, dia berbicara dengan bahasa Indonesia...

__ADS_1


"Wah, alat ini benar-benar bekerja, ucapan Vina benar-benar diterjemahkan ke bahasa kita!"


"Meskipun bahasanya berbeda, kita tetap mengerti!"


Andhika duduk di kursi yang sama denganku dan memangku dagunya, "Cih, itu saja heboh..."


Aku memakluminya, murid-murid di kelas ini mungkin saja belum pernah memakai Auto Translator, jadi reaksi mereka yang heboh begitu adalah hal yang wajar bagiku, tetapi kurasa tidak untuk Andhika.


"Oh ya Langit, apa kau tak jadi menemui ayahmu?" tanya Zon tiba-tiba, membuatku teringat sesuatu yang sempat membuatku marah tadi.


"Oh..." aku menunduk perlahan, amarah kembali menguasaiku, "Nampaknya marahku akan meledak sekarang."


Tangan kananku yang memegang pulpen menguatkan peganganku pada benda kecil itu, hingga perlahan pulpen itu melengkung kemudian patah menjadi dua, dan suaranya terdengar cukup keras.


Murid-murid yang duduk di depanku, berbalik hanya untuk melihatku, dan kulihat tatapan mereka seperti ketakutan. Apa-apaan tatapan itu? Apakah itu adalah tatapan yang harusnya ditunjukkan oleh murid akademi Hunter terbaik di dunia?


Aku berdiri dengan perlahan, dan aku mendengus, sepertinya aku benar-benar kesal sekarang...


"Dua kali... Aku tidak akan lunak padanya..." gumamku, sebelum seorang perempuan berdiri di depanku.


"Apa maksudmu bertingkah seperti paling kuat disini?" perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap wajahku, dan tatapannya benar-benar berani menatapku langsung, menarik saja melihatnya.


"Dan apa maksudmu menghalangi jalanku? Siapa kau?" tanyaku dengan nada dingin, aku ingin agar perempuan ini cepat menghindar.


[Skill pasif Raja Api aktif! Semua kawan akan menurut padamu dan semua lawan akan gentar menatapmu!]


Perempuan itu bergerak mundur sedikit, ia menunjukku dengan telunjuknya dan berteriak, "Jangan remehkan aku! Aku adalah ketua kelas 1-A! Kau harus menjawab pertanyaanku tadi!"


"Aku tanya siapa kau, bukan posisimu di kelas ini." perempuan sialan, geser atau kucekik kau! Aku sedang marah dan aku kesulitan menahan diriku!


"Namaku Carroline, dan aku berhak tahu apa alasanmu bertingkah paling kuat padahal kau murid baru?!" perempuan itu mendorong telunjuknya ke dadaku dan mendorongku mundur sedikit, "Jawab-..."


"Tak kujawab." aku menarik tangan Carroline kemudian mengangkatnya ke atas, hingga ia tergantung di tanganku hanya dengan tangannya saja, "Kau kuanggap sudah menghalangi jalanku." kemudian aku pergi sambil membawa Carroline di pundakku.

__ADS_1


__ADS_2