Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
25. Aku, kakekku, pria tua, dan radio


__ADS_3

Aku dan kakekku duduk sambil meniup teh kami yang masih panas.


Kami kini berada di sebuah rumah yang sebelumnya kami ketuk pintunya. Pemilik rumah mengizinkan kami masuk dan begitulah semuanya berakhir.


"Emm, kakek Bintang, apa yang membuat anda memunculkan diri lagi ke dunia?" Tanya pria tua yang menjadi pemilik rumah ini.


"Hmm? Aku yang sedang mengunjungi rumah anakku kalian sebut memunculkan diri lagi ke dunia? Apa alasannya?" Kakekku menaikkan alisnya.


Aku yakin, semua orang di desa yang melihat kami berdua pasti akan bertanya hal yang sama, kenapa kakekku memunculkan dirinya lagi ke dunia?


Mungkin aku sudah mengatakannya sebelumnya, tetapi aku akan mengatakannya lagi.


Kakekku itu sudah pensiun sejak lima belas tahun... Sebentar, aku hitung dulu pada usia berapa kakekku pensiun...


...


...


...


Abaikan, aku tidak tahu caranya, tapi yang pasti, kakekku sudah pensiun cukup lama, dan sayangnya, meskipun ia sudah pensiun sejak lama, prestasinya tak mudah untuk dilupakan.


Berbagai hal sudah kakekku hadapi dan semuanya berhasil kakekku lewati. Dengan itu saja kakekku sudah setara dengan Hunter rank SS sekalipun.


Banyak yang menyebutkan, bahwa kakekku memiliki cara untuk mengakhiri masa invasi para Monster, tetapi hingga sekarang tak ada yang bisa membuktikan kebenaran kalau kakekku mampu menghentikan masa kacau ini.


Biarpun begitu, masih banyak yang yakin, akan ada saatnya kakekku muncul lagi dan membantu para manusia untuk menghadapi para Monster lagi.


Karena aksinya di masa lalu sulit dilupakan dan karena rumor itu, maka pria tua yang kini bersama kami saat ini bertanya hal semacam itu, dia pasti yakin kalau kakekku muncul untuk membantu para manusia.


"Ah, hanya saja sudah berlalu amat lama sejak anda memutuskan untuk pensiun dan menurunkan senjata anda dari melawan para Monster..." Pria tua itu tersenyum tipis, "Jadi, kakek dan cucu anda ingin makan apa?"


"Emm, apa saja boleh, yang penting hangat dan berkuah..." Jawab kakekku, "Aku yakin Langit pasti menginginkan sesuatu yang hangat dan berkuah..."


Yah, aku tak bisa menolaknya sih, karena aku sekarang ingin makan sesuatu yang hangat, sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhku ini.


***


Pria tua itu membuatkan kami sup, satu panci berukuran sedang, dan menyajikannya pada kami sekaligus dengan pancinya juga.


Pria tua itu meletakkan pancinya di atas meja kemudian mengambil tiga mangkuk bersama tiga sendok makan kemudian memberikannya padaku dan kakekku.

__ADS_1


"Maafkan aku yang hanya bisa menyajikan sepanci sup panas..." Pria tua itu menundukkan kepalanya, "Harga beras sedang mahal, sedikit distributor yang mengirimkan sedikit beras ke desa..."


Kakekku menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tenang saja, lagipula makan nasi hanya akan membuatku semakin gendut..." Kakekku pun tertawa.


Kalau kuperhatikan, tubuh kakekku lumayan berisi, berisi otot yang mulai mengecil karena usia pastinya, kalau dari jauh kakekku akan terlihat kurus tetapi lengannya itu loh, berotot!


Pria tua itu tertawa kemudian memberikan sendok yang berukuran lebih besar dari sendok makan, bisa kusebut sendok sup, sambil berkata, "Mari, dimakan..."


Kakekku mengambil sendok sup itu kemudian mengambil sup hingga mangkuknya kepenuhan. Aku juga diambilkan sup oleh kakekku, tetapi diisi hanya separuhnya saja.


Setelah diberikan sup, aku mengucapkan terima kasih dan berdoa sebelum makan.


"Selamat makan!"


Kami bertiga makan dengan tenang, ditemani oleh radio yang mengeluarkan lagu-lagu yang bahasanya tak kupahami, mungkin lagu berbahasa Inggris? Aku tak tahu juga karena liriknya tak bisa kuikuti.


"Lagunya... Lagu-lagu lama, bukan?" tanya kakekku disela makan dan pria tua itu mengangguk.


"Ya, aku senang mendengarkan radio karena sering memutar lagu-lagu yang menyejukkan hati, dan karena aku tak punya televisi seperti yang anda lihat, aku jadi senang mendengarkan radio..." Pria tua itu berdiri dan mengambil radio yang benar-benar terlihat seperti radio tua, "Ini radionya..."


Kakekku menatap radio itu sebentar kemudian berkata, "Ini radio yang masih memakai antena sebagai media penerima gelombang radio, bukan?"


"Bisa anda bilang begitu..." pria tua itu tertawa kecil, " Aku sudah merawat radio ini sejak kakekku masih ada di dunia, sekitar dua puluh tahun lalu..."


"Menurutku, radio ini sudah ada sejak tahun-tahun sebelum Monster datang ke bumi, jadi mungkin sudah dipegang oleh keluargaku sejak tiga abad lalu..." pria tua itu memejamkan matanya, "Ah, lagu yang kusukai diputar..."


Kakekku ikut diam saat lagu yang benar-benar santai bagiku diputar, sebelum ia bernyanyi kecil.


"Country road, take me home... To the place, i belong..." Kakekku bernyanyi kecil.


Aku yang mendengarnya hanya bisa terhanyut dalam renungan.


Entah kenapa, lagu satu ini benar-benar membuatku tenang hingga sup yang disajikan pria tua itu mendingin.


Lagu berjalan kurasa kurang dari tiga menit, hingga lirik yang membuatku benar-benar tenang muncul.


"I hear her voice in the morning hour, she calls me


The radio reminds me of my home far away


Driving down the road, I get a feeling

__ADS_1


That I should've been home yesterday, yesterday


Country road, take me home


To the place, i belong


West Virginia, Mountain Mama


Take me home, country road..."


Lirik terakhir diulang hingga dua kali hingga akhirnya suara petikan gitar mengakhiri lagu itu.


"Kau tahu, Langit? Lagu ini amat kakek sukai karena liriknya yang menenangkan diri ini dan membuat kita ingat lagi dengan rumah yang ada jauh disana..." Ujar kakekku.


Memang benar sih, saat aku mendengar lagu ini, seketika ingatanku tentang rumahku, keluargaku, dan semua pemandangan yang kulihat saat masih di rumahku, muncul semua, entah apa alasannya.


"Anda benar, lagu ini memang paling bagus didengarkan saat sedang hujan, ditemani mie instan serta lagu ini..." pria tua itu menambahkan, "Wah, rasanya sejuk sekali, serasa ingin pulang ke masa sebelum kekacauan..."


"Ya, masa itu benar-benar menyenangkan dan menyejukkan..."


Tak lama, satu lagu lagi diputar dan saat itulah, keduanya kembali diam.


"Heal the world, make it a better place...


For you and for me and the entire human race


There are people dying, if you care enough for the living


Make it a better place, for you and for me..."


Harus kuakui, lagu-lagu lama tak buruk juga, meskipun musiknya yang benar-benar berbeda dari musik sekarang, selebihnya amat bagus.


Kakekku dan pria tua itu bernyanyi-nyanyi kecil saat lagu-lagu yang mereka tahu diputar sambil sesekali membicarakan tentang harapan kembalinya masa-masa sebelum kekacauan.


Di luar sedang hujan dan tepat sekali, sup ini dimakan sambil mendengarkan lagu-lagu tua...


Fun Fact: Take me home, country road adalah lagu yang dipopulerkan oleh John Denver, seorang penyanyi asal Amerika Serikat, tepatnya gak tau saya, tetapi yang pasti lagunya yang disebutkan tadi itu benar-benar bagus untuk didengarkan saat perjalanan pulang kampung, siapa tahu kalian tiba-tiba saja teringat dengan kampung kalian.


Heal the world adalah lagu yang dinyanyikan oleh Michael Jackson, penyanyi dari Amerika Serikat (Kayaknya...) dan menurut ibu saya, lagu ini dinyanyikan saat sedang terjadi wabah kelaparan di Etiopia karena perang. Lagu ini bagus buat belajar bahasa Inggris karena pengucapannya lumayan jelas dibalik arti lagunya yang meminta agar perdamaian dihadirkan ke dunia.


Dari sekian banyak lagu yang saya punya, Take me home, country road adalah kesukaan, karena artinya itu...

__ADS_1


__ADS_2