
Berita-berita tentang Gate ungu yang bermunculan di beberapa bagian di bumi berhasil membuat situasi berubah drastis, dari yang awalnya tenang karena keberadaan Hunter rank SS, menjadi panik serta ketakutan.
Pernyataan Tom yang mengatakan bahwa Gate ungu adalah Gate paling berbahaya yang pernah muncul menambah ketakutan, dan situasi mereda sedikit dengan pernyataan Tom selanjutnya.
"Kami para Hunter tidak akan tinggal diam, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mengatasi masalah ini. Kalian hanya perlu tenang, dan serahkan Gate ungu itu pada kami..."
Disaat yang bersamaan dengan pernyataan Tom, setiap organisasi Hunter terkuat di seluruh dunia bekerjasama dengan militer negara anggota mereka, dan mengerahkan ratusan pesawat tempur yang membawa puluhan Strategic Missile menuju dua puluh Gate ungu yang tersebar di seluruh dunia.
Gate ungu bermunculan di atas New Washington, Stonehenge, Shanghai, Kyoto, Bandung, Sydney, Grand Canyon, Kanada, Islandia, Siberia, Rio de Janeiro, Giza, Madagascar, Samudra Hindia, Samudra Pasifik, Everest, Israel, Paris, Los Angeles, dan Buenos Aires. Dua puluh Gate ini jelas membuat suasana panik melanda para manusia.
"Wakil ketua, apa kita harus melakukannya secepat ini?" tanya Rei, dan aku mengangguk.
Aku memasukkan ponselku ke dalam kantong celanaku dan menatapnya, "Ya, angkatan darat bertugas di darat, dan karena kita yang berposisi paling dekat dengan Gate membuat kita memiliki kewajiban untuk mengintai duluan." jawabku.
Ya, angkatan darat kuarahkan untuk bergerak menuju Bandung secepatnya, dan setidaknya setelah lima jam bergerak kami sudah menempuh separuh perjalanan.
Aku harus melihat kekuatan para Monster dari Gate ungu, aku merasakan firasat lain...
***
"Pak wakil ketua! Kita sudah sedikit lagi mencapai Bandung!"
"Gate ungu terlihat!"
Aku menatap layar, dan aku menatap orang-orang, "Persiapkan meriam! Kita akan mendekat dengan kecepatan penuh!"
"Baik!"
Para tentara menyiapkan meriam, sementara Hunter menyiapkan senjata api masing-masing, termasuk aku. Kedua pedang warisan kakekku masih kupakai, dan hanya Pedang Api Hitam yang selalu kupakai.
"Meriam sudah siap, pak!"
Peta di layar menunjukkan pasukan sudah dekat dengan Bandung, dan tak butuh waktu lama sekumpulan Monster muncul menghadang kami.
Meriam-meriam ditembakkan, dan ledakan-ledakan terjadi di depan, menghabisi cukup banyak Monster.
"Maju!"
***
Bandung terasa sepi, tetapi karena Gate ungu muncul di kota, menyebabkan kota Bandung ramai oleh Monster! Bukan manusia yang menghuni kota!
__ADS_1
"Berpencar dengan membawa satu kendaraan meriam!" aku berseru, dan perintah dilaksanakan.
Semua Hunter dan tentara berpencar, meninggalkan aku yang berdiri di tengah-tengah kota... Seorang diri.
Aku memejamkan mataku, pertempuran benar-benar datang, dan aku tidak tahu apakah akhir dari invasi Monster adalah saat ini...
Dugaanku benar-benar terjadi, bukan dalam kurun waktu beberapa tahun, tetapi dalam hitungan jam.
Bukannya aku tidak siap, tetapi masalahnya tidak terduga saja, tetapi untungnya organisasi Hunter dan IHO bisa bertindak cepat.
Puluhan Monster mendekatiku, aku menarik Pedang Api Hitam dan menghunuskannya, gerakan mereka amat lambat dan aku bisa membaca celah-celah yang mereka tunjukkan.
Aku melesat maju, dan monster-monster berukuran besar menghadangku, tapi aku bisa mengatasi semuanya dengan mudah.
"Gerakan beruang lambat tetapi berkekuatan penuh, aku hanya harus menghindarinya kemudian melancarkan serangan balasan dengan cepat..."
"Serigala memang cepat, tapi kekuatan serangannya juga tidak kalah kuatnya..."
Pergerakan mereka mudah dibaca! Aku mampu melawan mereka dan membunuh semuanya dengan mudah.
[Level up!]
Aku terus menebaskan pedangku, memenggal semua Monster yang menyerangku.
***
Pertempuran telah dimulai tanpa disadari...
"Dragon Emperor bergerak..." Tang Liao berkata, "Dia telah mengirimkan dua puluh Gate ungu serta mengerahkan seluruh Destruction Army, Ice Legion, dan Titan Raged."
Flame Emperor muncul dan ia duduk, "Para manusia juga telah bergerak, Wadahku bahkan sudah menghabisi ratusan Monster seorang diri."
Kekacauan telah mencapai puncaknya...
"Aku akan menyiapkan Void Imperial Army." Void Emperor berdiri, "Ini adalah pertempuran penentuan."
Flame Emperor berdiri dan melirik Tang Liao, "Kekuatanmu setara dengan satu pasukan, kau tidak perlu khawatir kalau kekuatan pasukan kami kurang."
Pertumpahan darah akan terjadi...
"Ya, aku akan mengayunkan Sky Devourer demi keberhasilan..." Tang Liao mengangkat pedangnya, "Tenang saja, satu Tang Liao setara dengan sepuluh ribu Monster..."
__ADS_1
"Dalam waktu tak lama lagi, kepala Ice Emperor, Black Emperor, Dragon Emperor, dan Tyrant Emperor akan tergeletak di atas tanah..."
Pertempuran tak bisa dihindari...
Tiga gate tercipta di belakang mereka, dan mereka berjalan mundur perlahan, bersamaan dengan suara sorakan dari pasukan mereka.
Pertempuran penentuan nasib bumi, dimulai!
Cold Blooded Hunter : Seeker of Peace - Arc 8 - Angin tenang sebelum badai menerjang - The End
Catatan penulis:
Yo, Rio Andriana disini...
"Thor, tumben chpnya pendek???"
"Thor, sape tu tyrant emperor??? Ga pernah muncul di chp sebelumnya!!!"
Sabar woi!
Oke sans, aku jelasin dikit aja (Kabor)
Wis pokoknya, chapter kali ini singkat aja karena cuman pembuka pertempuran selanjutnya.
Siapa itu Tyrant Emperor? Nanti juga muncul wahai pembaca budiman, sabar aja, mana mungkin saya melupakan karakter yang pernah saya tulis.
John: Tapi kau pernah ngelupain aku pas Raid Islandia! Kau hampir ga nulis namaku woi!
Zeon (Moving World in Strange Ways): Aku juga woi! Untung anak satu ini ingat trs nulis aku abis buang air, kalo ga mungkin kepalanya lepas...
Langit: Punten saya yang dilupakan satu arc penuh...
Author mengusir mereka kembali ke alam mereka masing-masing...
Ehem, satu lagi, Cold Blooded Hunter telah mencapai titik puncak ceritanya, jadi ikuti terus perjalanan Langit menuju tujuan akhir hidupnya!
Langit muncul lagi: Aku akan menjadi Hunter rank SSS terku-...
Andhika: Pulang woy, dokumenmu belom kelar!
Ya begitulah, sekian saja dan ikuti terus titik puncak Cold Blooded Hunter sampai akhir!
__ADS_1
Salam,
Rio Andriana.