Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
44. Melindungi desa


__ADS_3

Di desa, situasi sudah amat kacau dengan beberapa rumah yang hancur hingga tak berbentuk lagi.


Aku tadi telah mengantarkan bibi Sri kembali bersama keluarganya dan menuntun mereka menuju tempat yang aman, menurutku...


Aku menuntun mereka ke satu tempat, di rumah kepala desa. Aku berpikir tempat itu aman karena banyak pria dewasa yang berjaga dengan berbagai alat bertani dan segala macamnya yang amat tajam, hingga aku yakin kalau satu Monster kecil akan bergetar ketakutan saat melihat mereka berdiri dengan berbagai alat tajam.


"Dengarkan aku sebagai Hunter, bukan sebagai anak kecil!" Aku berseru sambil menarik pedang, "Aku meminta kalian untuk tetap tenang!"


Suasana halaman rumah kepala desa yang ricuh seketika senyap saat aku berseru begitu.


[Kau mengaktifkan skill pasif Raja Api! Beberapa manusia akan tunduk padamu dalam waktu lama dan mematuhi semua yang kau katakan!]


Apaan coba? Kan aku hanya meminta mereka agar tidak panik, kenapa dikira perintah oleh nih sistem?


"Apa maksudmu? Jangan besar kepala hanya karena kau memegang pedang!"


"Meskipun kau memegang pedang, tapi tak bisa menggunakannya, tak ada bedanya dengan orang biasa!"


Wah, mereka ini minta diberikan bukti, ya? Baiklah, biar kuberikan bukti...


Aku berbalik dan berkata lantang, "Kalian boleh tidak mempercayaiku, tapi jika kalian mati, jangan menyalahkanku yang sudah berusaha melindungi kalian!"


Aku masih bisa mendengar kata-kata yang meremehkan dari orang-orang dewasa yang masih tidak percaya dengan kemampuanku.


Yah, itu wajar saja karena beberapa penduduk desa ada yang tidak melihatku saat melawan serigala empat hari lalu, jadi mereka tidak percaya kecuali melihatnya langsung.


Aku tidak tahu apakah ada penduduk lainnya yang tak kulihat dan belum ke rumah kepala desa, jadi aku berencana mencari lagi, tetapi aku mengurungkan niat saat merasakan sesuatu, mirip seperti keinginan membunuh yang tajam.


Aku pernah merasakannya, setiap Monster yang kulawan selalu melepaskan keinginan membunuh yang amat kuat, hingga aku sendiri hampir tumbang jika saja skill pasif Raja Api tak membiarkanku untuk berlutut begitu saja.


Yaaa, skill pasif Raja Api melindungiku dari bersujud pada Monster, masa raja bersujud pada sosok yang lebih lemah sih?


Aku menyalakan senjata apiku dan berjalan menuju kiriku, ke arah dimana aku merasakan hawa itu.


Dan benar saja, seekor belalang besar sedang memakan sesuatu, seperti kambing di dekat sebuah rumah yang telah hancur.


"Wah, belalang..." Aku bergetar sedikit, menurut kakekku, harga satu ekor belalang adalah dua juta rupiah, tergantung dari besar dan hawa membunuh yang dilepaskannya.


Dan yang kulihat saat ini adalah belalang yang kuperkirakan seharga lima juta rupiah, besar bukan?


Aku memasang posisi dan berkata lantang, "Maju!"

__ADS_1


Belalang itu bersuara keras dan berlari maju menghampiriku, meninggalkan makanannya yang belum selesai ia makan.


Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi dan maju, kemudian menebaskan pedang ke bawah sambil berseru, "Membelah Samudra!"


Tebasanku tak mengenai apa yang ingin kutebas, yaitu kepalanya, tetapi sekali tebasanku menciptakan gelombang angin, yang cukup besar.


Aku melompat mundur dan belalang itu menyerang ke depan, dan sialnya, capitnya hampir mengenaiku, dan aku menahannya dengan pedangku hingga aku terlempar ke belakang lagi.


Untung saja aku sudah berlatih, jadi aku bisa mengendalikan tubuhku dan mendarat dengan baik, sambil mengatur napas.


Baru satu tebasan saja membuatku terengah-engah? Kenapa bisa begitu?


Aku menarik napas dan menghembuskannya cepat kemudian berlari maju, dengan pedangku yang sudah terselimuti api sedikit.


[Kau memakai skill Pedang Api! Segala jenis seranganmu akan dipastikan mengenai musuh dan meningkatkan Attack Speed sebesar 5%!]


Dengan peningkatan seperti itu, aku setidaknya yakin bisa menebas kepala belalang itu dalam waktu tak lama lagi.


"Tarian Raja Bumi..."


Aku berlari dengan kecepatan tinggi menuju belalang itu sambil mengayunkan pedangku ke segala arah dan saat sudah dekat, aku mengarahkan ujung pedangku ke kiri dan bagian tajamnya mengarah ke depan.


Semakin dekat aku dengan belalang itu, ujung pedangku tak lagi mengarah ke kiri, melainkan mulai ke arah belakang juga, hingga aku bisa merasakan bahwa kekuatan tebasanku kali ini akan melebihi semua kekuatan tebasan yang sering kulepaskan.


Aku melepaskan tebasan dari kiri dan membelah kepala belalang itu dari samping, dan membuat belalang itu berhenti bergerak, maksudnya mati.


Dengan satu tebasan, aku kembali membunuh Monster, dan itu cukup membuatku senang.


[Naik level!]


[Kau mempelajari skill baru! Pukulan Kehancuran berhasil dikuasai!]


Baru satu, aku berencana menaikkan levelku hingga mencapai level 15, untuk mengetahui skill apa yang akan kudapatkan selanjutnya...


Eh? Sudah level 15?! Sudah punya skill juga?! Wah, tak kusangka deh...


Aku mengibaskan pedangku ke samping dan menghilangkan cairan ungu yang menyelimuti pedangku kemudian mematikan pemanasnya dan menyarungkannya.


Saat aku berbalik, aku melihat gerombolan Monster belalang mendekat dari sisi lain dan aku kembali menarik pedangku dan berlari.


Dengan kecepatan tinggi, aku bisa mencapai gerombolan itu, dan sambil berlari, aku memeriksa status.

__ADS_1


"Status."


[Nama: Langit Satria


Level: 15


Usia: 7 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Flame Emperor


Title: Pejuang Sejati, 2+


HP: 500


STR: 80


INT: 20


VIT: 27


DEX: 26


DEF: 20


LUCK: 20


Bonus poin: 10


Stamina: 75/85


Skill pasif: (Raja Api: Lv. 2)


Skill aktif: (Sprint: Lv. 6) (Pedang Api: Lv. 2) (Pukulan Kehancuran: Lv. 1) (Lv. 20) (Lv. 25) ( Lv. 30) (Lv. 50)


Equip: Shirt (E) Jacket (B) Shorts (E) Slippers (E) Pedang Naga Iblis (S)]


"Wah, pukulan yang bisa menghancurkan, ya? Hehehe..." Tiba-tiba saja aku memiliki ide menyeramkan.


"Memakai pukulan adalah hal biasa..." Suara kembali muncul dan aku yakin kalau ada yang berbicara, tapi bukan dari penduduk desa.

__ADS_1


Kalau penduduk desa, mereka memilih duduk manis dan melihatku yang berlari sambil membawa pedang menghadapi para Monster.


Pukulan Kehancuran, ya? Akan kucoba dengan tangan kiriku, kalau tidak berhasil maka aku akan memakai pedang saja, abaikan pukulannya...


__ADS_2