
"Komandan, kurasa ada banyak orang yang ingin menolak keputusan itu dan ingin membelot kemudian menghancurkan pemerintahan." Dragon Emperor berkata.
Aku menghela napasku kemudian berbalik, menghadapnya yang duduk di sofa bersama beberapa orang.
Ada Andhika, Rei, Senja, Vina, Dragon Emperor, Flame Emperor, Ice Emperor, dan Purgatory Emperor, mereka semua duduk dalam diam di ruanganku.
Aku menarik satu kursi kemudian duduk, "Jika yang kau katakan itu benar, berarti konferensi ini tidak ada gunanya..."
Yap, dari mana Dragon Emperor mengetahui informasi itu? Akan kujelaskan secara singkat saja...
Ada beberapa Emperor yang berhasil mengambil wujud manusia, dan mereka kutugaskan menjadi tentara elit Indonesia. Dengan komandoku, mereka kutugaskan ke negara lain serta pedalaman untuk mengintai.
Karena itulah, aku berhasil menemukan pengkhianat, *******, serta mengetahui pergerakan terkini masing-masing negara.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Ice Emperor, "Bahkan dengan kekuasaanmu saat ini, kurasa sulit melawan aturan yang ada."
"Terlebih kau sudah menjadi menteri, kau akan kesulitan bergerak bebas seperti dulu." Purgatory Emperor berkata.
Itu benar, namun aku punya tangan yang panjang, sangat panjang serta amat kuat hingga manusia sekarang tidak akan bisa melawan tangan-tanganku sendiri...
"Ada para Emperor, aku tidak perlu khawatir karena kalian bisa melaksanakan tugas yang kuberikan dengan baik." aku menatap Flame, "Anda bisa melakukannya untukku, bukan?"
Ice Emperor menghela napasnya, "Hahah, kau tidak perlu meminta seperti itu, kau adalah rajanya dan kita adalah bawahanmu, kami siap bergerak kemanapun kau memerintahkan kami."
"Seperti biasa, aku hanya ingin menurunkan satu perintah saja..." Aku melirik Dragon Emperor, "Hancurkan World Freedom, dengan cara apapun, namun jangan memakai Energi Gaib."
Ya, hanya Dragon Emperor yang kuanggap mampu menghancurkan satu pasukan seorang diri. Bisa kukatakan dia orang terkuat kedua di bumi selain aku...
Biarpun begitu, ia masih perlu bantuan Emperor lain jika aku menurunkan perintah tidak memakai Energi Gaib untuk melakukan tugasnya.
"Oke, serahkan padaku..." Dragon Emperor berdiri, dan terlihat sosok setinggi dua meter berdiri di ruanganku, "Ice, Flame, Thunder, Wave, Metal, Stone, War Emperor, bantu aku..."
Setidaknya lima sosok muncul dari kegelapan dan mereka menyeringai lebar dengan mata merah masing-masing yang menyala terang...
"Sip, ayo hancurkan mereka..."
Sesaat setelahnya, mereka semua termasuk Dragon Emperor menghilang dari ruanganku.
__ADS_1
Andhika melirikku dan kulihat ia memejamkan matanya, "Nampaknya kau benar-benar serius mulai sekarang..."
"Yah begitulah, aku sudah lelah dengan serangan teror dimana-mana..." aku mengepalkan tanganku, "Rasanya seperti kemanusiaan sudah hilang..."
"Baiklah aku ijin undur diri dulu, aku akan melanjutkan tugasku..." Purgatory Emperor bangkit kemudian memberi hormatnya padaku, sebelum ia menghilang dan hawa berat di ruangan pun langsung menghilang.
"Fuuh, hawa para Emperor masihlah sama seperti dulu..." Andhika menarik ponselnya dari kantongnya, "Kurasa malam akan singkat, jadi aku akan kembali duluan..."
Ia berdiri kemudian menatap Senja, "Ikut aku, ada suatu hal yang harus kulakukan dan aku tidak bisa melakukannya sendiri, kau harus ikut."
"Kenapa aku? Ada Rei dan Vina selain aku." Senja melipat tangannya, "Tidak mau."
"Aish, sebentar saja..." Andhika menarik tangan Senja, "Aku akan memberikanmu es krim setelah ini..."
"Oke gas..." Senja berdiri dengan cepat dan keduanya keluar dari ruangan.
Rei fokus pada ponselnya dan aku melirik Vina kemudian berdiri, "Vina, ikut aku sebentar..."
"Aku tebak, kalian akan pergi ke pantai, begitu?" tanya Rei tiba-tiba, dan aku menghela napasku.
"Begitulah, jadi kau harus menjaga kamarku dari para mata-mata yang berniat menghabisiku." ujarku kemudian aku berjalan keluar dari ruangan.
"Langit, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Vina bertanya sambil menatapku dalam-dalam.
Sudah kebiasaan Vina kalau ia akan menatapku dengan amat dalam jika berbicara denganku, seolah ia berusaha keras membaca apa yang aku pikirkan.
"Begitulah, aku ingin menegaskan sesuatu yang belum selesai aku katakan lima tahun lalu..." aku merogoh kantong jasku, "Sederhana saja..."
Aku meletakkan kotak kecil di atas pahaku kemudian aku membukanya perlahan.
Hawa keberadaan yang sedikit tipis namun aku masih bisa merasakannya muncul, dan cahaya berwarna merah muncul dari dalamnya.
"Apa kau ingat apa yang kukatakan lima tahun lalu?" tanyaku.
"Apa itu? Aku sudah lupa, tapi kata-kata itulah yang membuatmu tinggal satu rumah denganku selama lima tahun ini..." jawabnya, "Apa ya..."
"Aku ulangi saja..." aku mengeluarkan sebuah cincin kecil berwarna merah dari dalam kotak kemudian menarik tangan kanan Vina, "Dari detik ini..."
__ADS_1
"Aku ingin menyatakan isi hatiku yang terdalam, tentang apa yang kurasakan selama kita berjuang bersama, dan tentang apa yang sudah lama berusaha aku pahami..."
"Aku mencintaimu dari hati terdalamku, aku ingin terus bersamamu dan menjagamu hingga kematian memisahkan kita berdua..."
Aku mengangkat cincin kemudian memasangnya di jari... Apa namanya ya di dekat jari kelingking dan jari tengah... Aku lupa namanya...
Ah pokoknya aku memasangnya di jari itu, dan kulihat mata Vina melebar saat melihatku memasang cincin di jarinya...
"Kau..."
"Ya, cincin ini mewakili keinginanku untuk bersamamu dan melindungimu selamanya."
"Satu lagi, apakah kau mau menikah denganku?"
Pertanyaanku nampaknya membuat Vina sedikit bingung, dan aku memahaminya.
Tujuh tahun lebih yang kulalui bersamanya amat berharga, sama berharganya dengan waktu yang kulalui bersama teman-teman seperjuanganku dulu.
Namun, aku harus memilih masa depanku, aku tak bisa terus-terusan memegang Pedang Api Hitam dan bertarung, ada kalanya aku harus pulang ke rumah saat aku lelah dengan kehidupan orang dewasa yang berada diluar dugaanku.
Aku tak memiliki rumah yang nyaman, meskipun aku memiliki peringkat tertinggi diantara para manusia serta memiliki harta yang sulit aku hitung sendirian, tetap saja aku merasa kesepian.
Hanya saat Vina berada di sebelahku saja, secara tiba-tiba diriku terasa tenang dan bisa menyelesaikan masalah yang kuhadapi.
Kurasa, ia adalah orang yang tepat untuk menemani perjalanan hidupku selanjutnya...
"Ya..." Vina mengangguk, "Aku akan menikah denganmu dan berada di sampingmu sampai kematian menjemput."
Udara pantai terasa sejuk...
Ya...
Aku meraih tubuh Vina yang ada di sampingku kemudian menariknya dan memeluknya erat, begitu pula dengan Vina yang membalas pelukanku sama eratnya.
Kakek, ayah, ibu, kakak, ibu Esterosa, Alteron, kini aku tidak sendirian lagi...
Sudah saatnya memberi Langit pelajaran kecil
__ADS_1
*sambil ngelipet lengan jaket sendiri...
Btw next chapter adalah last chapter *naikin dua jari