Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
110. Ruang latihan III


__ADS_3

"Senja, apa kau yakin laki-laki berperang itu adalah orang yang kau kenal?" tanya Vina sambil menahan napasnya, "Ia seperti bukan anak kecil saja..."


"Aku bahkan tidak tahu kalau Langit sudah sekuat itu setelah lima tahun berlalu..." Senja melirik Vina, "Apa kau bisa membayangkan seberapa keras latihannya hingga menjadi seperti itu?"


"Tidak..." Vina menggelengkan kepalanya, "Yang lebih penting adalah bagaimana bisa ia tetap tersenyum tenang ketika pedang diarahkan padanya?"


Senja memejamkan matanya, ia kesulitan membayangkan apa saja yang sudah dilalui oleh Langit selama mereka tak bertemu.


"Yang pasti, dia telah melalui lebih banyak hal dari kita terlepas usianya yang sama dengan kita..." hanya itu yang dipikirkan Vina.


***


Aku menyimpan Pedang Api Hitam kembali ke tempatnya kemudian pergi menjauh dari tempatku tadi bertarung melawan Andhika, "Silahkan dilanjutkan..."


Saat berjalan, aku melihat para Hunter yang menonton sedikit gemetar saat melihatku.


"Hmm? Ada apa?" tanyaku dengan suara yang aku yakin mereka pasti bisa mendengarnya.


"Ah, tidak ada..." salah satunya menjawab, "Kami hanya iseng saja..."


Oh ayolah, tubuh kalian sedikit bergetar dan kalian mengatakan tidak ada apa-apa? Apa kalian ketakutan melihatku?! Aku hanya manusia biasa oi!


Aku berbalik dan melihat ke tempatku tadi bertarung, dimana Vano masih berusaha membangunkan Andhika yang masih saja berlutut di lantai sambil memegangi kepalanya.


"Tidak! Aku tidak mau mati!" Andhika terus berteriak hal yang sama berulang kali, hingga paman Lein ikut membantu dan mengatakan semuanya baik-baik saja.


Aku tidak mengerti, apakah ancamanku tadi terasa nyata baginya? Sampai-sampai ia terus berlutut bahkan setelah paman Lein dan Vano menariknya untuk berdiri...


"Kurasa itu karena skill pasif Raja Api yang terlalu kuat, serta Pria Api Kejam yang cukup untuk menekan Monster agar menjauh, Andhika yang hanya mengalami ketakutan adalah sebuah kehebatan." Zon menjelaskan, "Menurut guide book, efek paling parah dari skill pasif Raja Api dan Pria Api Kejam adalah Crazy, dimana mental musuh yang kau tekan dengan dua skill pasifmu akan jatuh dan kehilangan kewarasannya, dengan kata lain ia akan gila."


"Bukankah efeknya tak terlalu gila? Apa itu akan baik-baik saja kalau aku terapkan pada manusia?" aku menghela napasku, "Terdengar berbahaya..."


"Ketakutan yang berlebihan bisa menyebabkan depresi dan stres, bahkan kalau tidak beruntung bisa mengalami kegilaan permanen." tambah Zon.


Aku berhenti dan menatap semuanya dari jauh, "Kalau begitu, apakah penggunaan skill pasifnya bisa diatur? Aku tak ingin ketika aku berbicara biasa dengan orang lain, skill pasifnya tiba-tiba aktif dan membuat orang yang kuajak berbicara ketakutan melihatku, ada caranya?"


"Tentang niat membunuh kurasa mempengaruhinya..." jawab Zon, "Ingatlah apa yang kau rasakan ketika pertarunganmu melawan Andhika berakhir?"

__ADS_1


Aku memejamkan mataku dan ketika aku membuka mataku, Senja sudah berdiri di depanku, "Langit? Apa kau benar-benar Langit yang kukenal?"


"Bunuh dia Langit! Dia tak mengenali calon Hunter rank SSS di masa depan nanti!" Zon berteriak di pikiranku hingga membuat telingaku sedikit sakit.


"Yaaa menurutmu? Aku ini Langit atau bukan?" aku mendengus, apa mungkin dia juga ketakutan ketika melihatku?


"Penampilanmu berbeda dari sebelumnya, aku bahkan yakin kalau tatapan matamu lebih tajam lagi dari sebelumnya, lebih serius lagi dari sebelumnya." jawab Senja, "Apa saja yang sudah kau lalui di luar sana?"


"Banyak, melawan Monster banyak seorang diri, melawan kakekku, disuruh bertahan di air terjun selama berjam-jam, dan masih banyak lagi latihan bagaikan neraka yang sudah kulalui." jawabku sederhana.


Senja diam dan ia memalingkan wajahnya, "Apa memang segila itu?"


Aku masih ragu menceritakan tentang sistem dan kebenaran kalau aku adalah Wadah Flame Emperor pada Senja, aku merasa belum saatnya ia tahu hal itu.


"Itu lebih baik, lebih sedikit orang yang tahu tentang Wadah, Lord, dan Emperor, lebih baik lagi..." ujar Zon, "Ingat itu..."


"Ah, baiklah..." Senja menarik pedangnya yang tersarung, "Kapan-kapan, mau berlatih bersama?"


"Boleh..."


***


Kenapa? Karena menahan serangan secara langsung memiliki kemungkinan merusak Cakar Ayam Api yang cukup besar, dan bisa saja kalau tebasan Senja mungkin memotong tangan Rei. Aku tak mau hal itu terjadi.


Selain itu, aku juga mengajukan agar keduanya tak bertarung dengan amat serius, sampai membawa kata-kata membunuh, karena bisa saja Rei akan kalah oleh hawa membunuh yang Senja lepaskan ketika mengatakan membunuh.


Aku tak tahu berapa banyak kemampuan yang dimiliki Senja, dan aku hanya memiliki sedikit gambaran tentang kemampuannya, jadi aku juga memperingatkan Rei untuk berhati-hati melawannya.


Selebihnya aku serahkan pada mereka, kalau ada hal-hal yang kulihat bisa berpotensi membunuh salah satunya, aku mengajukan diri pada Vano untuk menghentikan mereka.


Tapi rasanya ada yang kurang dalam perhitunganku ini, aku tidak tahu apa yang kurang...


"Kau lihat saja nanti..." ujar Zon, "Rei akan menunjukkan kemampuannya..."


Rei dan Senja saling berhadapan, dengan Senja yang sudah menarik pedangnya dan memasang posisinya, begitu juga dengan Rei yang memasang posisinya.


"Aturannya masih sama, hanya saja jika ada diantara kalian yang bisa membuat lawan kalian terbunuh, maka Langit akan maju menghentikan pertarungan ini." ujar Vano, "Siap?"

__ADS_1


"Siap."


"Selalu siap."


"Mulai!" Vano melompat mundur, bersamaan dengan Rei yang bergerak maju kemudian memukul ke depan, ke arah Senja yang masih berdiri dengan posisinya.


Senja terlihat terkejut dengan gerakan Rei, dan aku tak heran ketika melihat reaksi Senja.


Rei memang bergerak dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh Senja, jadi mungkin refleknya akan terlambat, tapi itu bisa dimaklumi karena Senja kekurangan pengalaman bertarung melawan musuh yang cepat.


Tapi gerakan Senja selanjutnya benar-benar diluar perkiraanku tadi, ia bisa menanggapi pukulan Rei dan mengangkat pedangnya untuk menahan pukulan Rei.


"Uh, Cakar Ayam Apiku..." rasanya aku masih tak merelakan benda itu dipakai oleh Rei... Aku takut benda itu hancur dan membuat biaya perbaikannya meningkat jauh...


Rei membungkuk sebagai tanggapan atas tebasan dari kiri ke kanan yang dilancarkan Senja, sebelum ia bergerak ke belakang Senja dan mengangkat tangannya kemudian meletakkan tangannya di depan leher Senja kemudian menarik tangannya sedikit, hingga ia terlihat seperti penjahat yang sedang menyandera seseorang.


"Bergerak, maka lehermu kulukai..." ujar Rei, dan ancaman itu tak cukup membuat Senja menyerah.


Senja menekuk tangannya dan menyikut perut Rei dari depan dengan keras, hingga Rei menyemburkan angin dari mulutnya dan melepas kekangannya dari leher Senja kemudian bergerak mundur menjauhinya.


Harus kuakui, gerakan Senja cukup membuatku berpikir kalau ia cukup berpengalaman dalam pertarungan, dibandingkan ia kekurangan pengalaman melawan musuh yang memiliki pergerakan yang lebih cepat darinya.


"Kau tidak akan bisa membuatku menyerah hanya dengan itu saja..." Senja mengangkat pedangnya, "Sayangnya aku tidak akan meremehkanmu lagi selanjutnya..."


Rei berjalan maju perlahan dan berkata, "Oh, jadi kau meremehkanku? Boleh juga Hunter satu ini..." Ia memasang posisinya kemudian bertanya, "Tapi apakah kau tahu kalau di kota 6 aku sering berkelahi melawan Hunter?"


"Hah? Apa maksudmu?" Senja menaikkan alisnya, "Jangan bodoh deh, mana ada Hunter yang bisa kalah dihadapan anak kecil sepertimu?"


Sementara kau juga anak kecil... Batinku sambil menghela napas.


"Mau kubuktikan? Akan kulakukan..." Rei mengepalkan kedua tangannya dan berlari maju dengan cepat, hingga aku yakin kalau untuk saat ini Rei telah serius, begitu juga dengan Senja yang sudah mengangkat pedangnya ke atas kepalanya.


Paman Lein muncul di sebelahku dan berkata pelan di sebelah telingaku, "Kita sudah dipanggil oleh pak Frans, ia telah sampai disini..."


Mendengar itu, aku memasang posisiku kemudian melesat maju, mengangkat kedua tanganku kemudian berhenti diantara Rei dan Senja yang siap mengadu serangan masing-masing.


Aku melirik keduanya dan kulihat wajah terkejut mereka, tapi aku mengabaikannya dan berkata, "Paman Frans sudah ada disini, dan aku melihat sesuatu yang berbahaya dari serangan kalian, jadi kuhentikan saja."

__ADS_1


Ya, selain karena paman Frans sudah datang, aku menghentikan pertarungan ini karena dari tebasan Senja dan pukulan Rei, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kalau aku biarkan kedua serangan itu dilancarkan...


__ADS_2