Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
22. Kereta lapis baja II


__ADS_3

"Ada yang rusak?" Tanya kakekku sambil mengelus dagunya dan mendekatkan wajahnya pada Yudi yang masih membongkar Cakar Ayam Api.


"Bisa dibilang begitu..." Yudi mengangkat sarung tangan besi itu yang logam pelapis luarnya sudah dilepaskan, "Ada beberapa yang rusak dan perlu diganti ataupun diperbaiki, prosesnya tidak akan lama kok..."


Yudi menjelaskan bagian mana saja yang rusak pada kakekku, sementara aku dan Senja hanya mematung tak memahami satu katapun yang disebutkan oleh Yudi.


"Bocah, katanya kakek Bintang, kau melihat langsung kehancuran Surabaya, benarkah begitu?" Frans yang berdiri di depanku bertanya sambil membalikkan badannya, menatapku dan Senja dengan tatapan seperti meremehkan kami berdua.


Aku menatap ke atas, ke arah wajah Frans dengan menyipitkan mataku.


Harus kuakui, tinggi tubuhku dan tubuh Frans terpaut amat jauh, sampai-sampai aku harus mendongak ke atas sambil membuka mulutku.


"Ah, kau pendek juga..." Frans menepuk pundak kepalaku, "Tapi tenang saja, nanti kau tinggi juga."


Makin lama, aku makin kesal dengan sikap Frans padaku, yang terlihat meremehkanku, tapi itu kurasa wajar saja mengingat aku adalah anak kecil saat ini...


Saat ini? Kenapa pikiranku mengatakan kalau bukan saat ini saja aku menjadi anak kecil? Kapan aku pernah menjadi anak kecil, selain saat ini?


Aku menggelengkan kepalaku, tidak ada gunanya memikirkan itu saat ini, untuk sekarang aku harus menjawab pertanyaan Frans.


"Aku dan Senja mengetahuinya..." aku menatap ke atas, "Dan setidaknya kami berdua tahu nasib


kota itu."


"Kalian tak perlu menjelaskan nasib kota itu, pasukan paman sedang mengelilingi kota itu, sambil mencari petunjuk tentang penyerangan terhadap kota itu." jawab Frans lalu membungkuk sedikit, "Mau berbicara di luar?"


Aku mengangguk, sebenarnya itu lebih baik mengingat informasi ini lumayan penting bagi paman bertubuh tinggi besar ini, sepertinya...


***


Kami berdua dibawa ke ruang kerja Frans yang ada di gerbong yang lain, jauh di depan.


Ruang mekanik yang mengurus senjata ayahku berada di gerbong belakang, tepatnya di ujungnya.


Menurut Frans, kereta lapis baja yang menjadi alat transportasi darat RedWhite memiliki sepuluh gerbong dan satu kereta penarik yang digerakkan dengan batu bara.


Sepuluh gerbong memiliki bentuk yang amat besar dan mampu menampung sekiranya tiga puluh orang per gerbongnya. Per gerbongnya berisi peralatan yang hampir tidak ada bedanya dengan sebuah rumah.


Masing-masing gerbong memilikinya sambungan komunikasi yang tersambung langsung pada gerbong pertama yang merupakan gerbong milik pemimpin suatu operasi. Dalam operasi kali ini pemimpinnya adalah Frans langsung, jadi dia yang berada di gerbong satu.


Karena kondisi yang amat tidak memungkinkan untuk bergerak lambat, masing-masing gerbong digerakkan dengan lima pasang roda yang memiliki putaran yang amat cepat, dengan mekanismenya memakai banyak sekali roda gir. Ah, aku tidak paham dengan roda-roda di gerbong karena perkataan Frans tentang ini masuk lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan, hehehe...

__ADS_1


"Bagaimana? Bukankah kereta lapis baja ini amat luar biasa?" tanya Frans membanggakan keretanya itu.


Senja mengangguk saja, sementara aku melihat ke berbagai arah.


Saat ini, kami berada di gerbong lima yang merupakan tempat para Hunter lainnya beristirahat.


"Bisa dibilang begitu..." Frans berjalan lagi, "Sebenarnya kita memiliki teknologi untuk membuat transportasi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan memakai batu bara, tetapi karena dua kereta kita yang sebelumnya dihancurkan oleh Monster, sebab itulah kereta lapis baja tua ini kembali beraksi..."


Bisa kukatakan, kalau Frans ini senang berbicara, dibalik penampilannya yang terlihat menyeramkan bagi orang-orang yang lemah.


"Sepertinya hari semakin sore, jadi bagaimana kalau kita bergerak lebih cepat?" Tanya Frans sambil meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.


Yah, aku setuju dengan perkataan Frans, hari semakin sore dengan cahaya matahari yang perlahan berubah warna menjadi jingga.


Memang, berbincang dengan seseorang yang baru dikenal dan kebetulan saja topiknya mengalir, bisa membuat waktu terasa sangat cepat.


Tapi, yang ia maksud cepat itu...


"Eh?!"


"Eh?!"


Frans mengangkatku dan Senja kemudian membawa kami dengan dua tangannya kemudian berkata, "Siap-siap, ya?"


Frans membungkuk sedikit dan melangkahkan kakinya dengan cepat, berlari maju dengan kecepatan tinggi.


Untuk kali ini, aku paham alasan kenapa Senja memejamkan matanya. Itu karena dia sudah tahu kekuatan Frans, sedangkan aku tidak!


Kecepatan Frans memang amat gila, dibalik tubuhnya yang besar berotot itu ternyata menyimpan kecepatan yang amat tinggi, hingga aku terpaksa menutup mataku dengan ketakutan.


"Haih, hanya kecepatan sekecil ini saja kau sudah takut..." Entah kenapa, sebuah suara terdengar di telingaku, tetapi aku tidak berani membuka mataku, takut jika Frans meremehkan kami berdua.


Tapi, kenapa sejak tadi aku selalu berpikir orang-orang meremehkanku?! Aku selalu berpikir seolah aku lebih kuat dari mereka, padahal tidak...


Entahlah, aku malas berpikir, untuk sekarang aku harus fokus ke depan, ke hadapanku yang hitam segelap malam.


Aku masih bisa merasakannya, kecepatan lari Frans yang amat tinggi. Sesekali aku mendengar suara sesuatu yang ditendang hingga hancur...


Eh? Ditendang hingga hancur?


"Yah, kita sudah sampai-..." Aku yakin suara itu adalah suara Frans, dan ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


"Kenapa kalian menutup mata kalian? Kita sudah sampai..." Ujar Frans kemudian membawa kami ke sebuah tempat, yang aku yakini masih berada di ruangan yang sama.


Aku merasakan kalau aku diletakkan di atas benda yang empuk, seperti sofa, dan saat aku membuka mataku, aku sudah duduk di atas sofa yang lumayan empuk.


"Nah, begitu..." Frans duduk di kursi yang lain, "Kalian ini berbeda sekali dengan Vina."


"Vina?" Tanya Senja.


"Ya, Vina..." Frans tertawa kecil, "Dia itu seumuran kalian, dan dia sudah bersamaku sejak masih berusia empat tahun, saat dia memutuskan akan menjadi Hunter seperti kakaknya."


"Apakah kalian tahu Jessica Celia?" Tanya Frans. Aku dan Senja menggeleng.


"Itu wajar karena kalian masih kecil." Frans tersenyum tipis, "Dia itu..."


Jessica Celia adalah seorang Hunter rank S yang dimiliki oleh Indonesia. Ia dijuluki si Mata Elang karena matanya yang tajam seperti mata elang saat membidik sasarannya.


Senjata apinya adalah sebuah senapan dengan pembidik yang dinamainya Senapan Elang. Panjangnya sekitar satu meter dengan berat yang lumayan ringan, sekitar satu kilogram.


"Apakah kalian ingin tahu lebih jauh tentang Jessica Celia ini?" Tanya Frans, "Anggap saja sebagai basa-basi..."


"Boleh..." Jawab Senja, sementara aku mengangguk saja.


Mendengar kisah seseorang dari nol menjadi terkenal itu kadang menyenangkan untuk didengar, sama seperti saat ayahku menceritakan tentang pekerjaannya dahulu sebagai Hunter rank S.


Jessica Celia dibawa ke RedWhite saat ia berusia tiga belas tahun, bersama adiknya yang berusia dua tahun. Mereka dibawa oleh ibu mereka yang merupakan Hunter yang asalnya sudah Frans lupakan.


Seingat Frans, saat itu memang sedang gentingnya karena Indonesia sedang melawan beberapa Monster kuat, beberapa Monster bahkan hampir menghabisi Hunter rank S sekalipun, sehingga Indonesia tidak memiliki pilihan lain selain meminta bantuan ke negara lain.


"Kita abaikan tentang Indonesia yang saat itu hampir hancur, kita lanjut tentang Jessica yang kurasa lumayan cantik di usianya yang mencapai delapan belas tahun..."


Jessica Celia berlatih langsung di bawah bimbingan Hunter rank S yang kini sudah pensiun, yaitu Vigo Setiawan.


Selama setahun, Jessica berlatih bersamanya dan setelah itu, ia diberikan misi pertamanya sebelum mendapatkan rank awalnya.


Saat ia berusia lima belas tahun, adiknya yang berusia empat tahun meminta Vigo agar mau melatihnya, dan sebagai Hunter yang melihat potensi kejam Vina, Vigo melatihnya.


"Sesekali aku membawa Vina di pundakku dan berlari berkeliling lapangan dengan kecepatan tadi. Bukannya takut, dia malah senang..." Frans tersenyum tipis, "Dan siapa kira, saat dua tahun berlalu, dia kini berdiri di barisan belakang teman-temannya dan mendapatkan julukan Iblis Penembak."


Yah, perlahan aku paham alasan kenapa Vina bisa sekuat itu di usianya yang masih muda, tekanan yang sama denganku ia rasakan juga, jadi bisa dibilang alasan kenapa dia berani melawan Monster adalah karena ia tidak ingin melihat keluarganya dalam bahaya.


Menurut cerita Frans tadi, ibunya tewas dalam misi dan setidaknya, itulah yang menjadikannya memiliki motivasi untuk menjadi Hunter.

__ADS_1


"Oh ya, apakah paman ada mengajak Vina kemari?" Tanyaku.


"Ya, dia ada di barisanku tadi, tetapi sepertinya kau tidak memperhatikannya..."


__ADS_2