
Aku membuka mataku, dan seseorang menutupi pandanganku, "Apa?"
"Kau tak sendirian menghadapi cobaan ini, ada aku, Rei, Andhika, Senja, Hunter lainnya..." jawab orang itu kemudian ia berjongkok di depanku, "Yakinlah..."
Vina tersenyum lebar di depanku, ia berjongkok di depanku kemudian menarik dasiku, "Turun..."
Aku turun dari kursi dan duduk di depannya sambil memperbaiki dasiku yang rusak, "Apa sekarang?"
"Sederhana, kalau kau memiliki masalah, ceritakan saja sekarang." jawab Vina, "Aku disini akan mendengarkan, bahkan sampai pagi akan kutemani kau bercerita."
"Hah..." aku meletakkan kedua tanganku di atas pundaknya, "Kau bodoh apa, sampai berniat menemaniku disini sampai pagi?"
"Bukan hanya sampai pagi, aku akan menemanimu sampai kita terpisah oleh maut." jawabnya, dan aku diam.
Hah? Bodoh ah, mana mungkin aku akan diam disini sampai mati?
"Kalau kau lelah dengan kehidupan Hunter, kau bisa meletakkan pedangmu dan hidup bahagia denganku, bagaimana?" Vina terdengar menawarkan sesuatu, dan aku menaikkan alisku.
Vina makin aneh dari hari ke hari...
Ia berdiri dan mengambil sesuatu di atas mejaku, entah apalah itu, kemudian ia duduk lagi di depanku dan meletakkan benda yang ia ambil... Pulpen dan kertas?
"Oke, aku akan menggambar sesuatu, kuharap kau mengerti dengan gambaranku..." Vina tersenyum dan ia mulai menggambar.
Aku melipat tanganku dan menatapnya, apa yang ingin ia gambar? Apalagi... Garisnya tidak ada yang lurus sama sekali! Kelok-kelok sana sini!
"Sudah..." ia meletakkan pulpen, "Baca dan pahami."
Aku mengambilnya dan menatapnya...
Ada namaku di paling atas, kemudian ada... Tiga garis yang mengarah ke arahku? Dan di ujung tiga garis itu ada nama Vina, Senja, dan Carroline? Lalu ada garis mengarah ke Senja dan satu garis yang mengarah ke Carroline? Di ujung dua garis itu, ada nama Andhika dan Rei?
"Jelaskan." aku meletakkan kertas itu, "Kau ini tidak jelas menggambar apaan..."
Seriusan, bahkan dengan poin INT yang kumiliki sekalipun tak mampu mencerna apa yang digambarkan oleh Vina...
"Pokoknya itu deh..." Vina berdiri, "Jadi, kapan kau akan pergi ke Semeru?"
"Besok..." jawabku.
Tak ada waktu bersantai lagi, dalam dua bulan terakhir tahun 2329, aku harus menyelesaikan persiapan perang akhir melawan Monster, agar kemenangan bisa terjamin.
"Oke, aku ikut..." Vina berjalan menjauh, "Kabari aku kalau mau berangkat!"
Suara pintu ditutup terdengar, dan aku menatap kertas yang tergeletak di atas lantai.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini?"
"Langit, kami akan bicara di luar sebentar..." suara kakek dan suara ibuku terdengar, dan tak lama dua api keluar dari tubuhku kemudian membentuk manusia, lalu keduanya pergi dari ruanganku.
***
"Kakek, apakah menurutmu Vina adalah wanita yang baik untuk Langit?" Ayu menatap Bintang dalam.
"Lalu bagaimana denganmu?" Bintang melipat tangannya, "Jujur saja, insting wanita itu amat kuat, sikapnya juga tegas, tapi sifatnya agak usil pada Langit, tapi yah..."
"Yah apaan?" Ayu menghela napasnya, "Apa kakek merasakan hal yang unik darinya?"
"Ya..." Bintang mengangguk, "Rasa cintanya pada Langit amat besar, aku tidak percaya kalau remaja usia lima belas tahun sepertinya bisa mengatakan hal semacam itu, hebat sekali dia..."
"Kalau kukatakan, Vina adalah wanita yang cocok untuk Langit..." Ayu melipat tangannya dan mengangkat wajahnya, menatap langit.
"Alasanmu?" Bintang menghela napasnya, "Jangan katakan hanya insting saja?"
"Entahlah, mungkin aku merasa kalau Vina adalah anak baik yang akan menjaga Langit sampai kematian memisahkan mereka?" Ayu melirik Bintang, "Ingat kata-katanya tadi..."
"Ah, itu ya..."
***
"Perlengkapan?"
"Sudah."
"Sudah."
"Tenda?"
"Sudah."
"Dan terakhir, tubuhmu masih aman?"
"Sudah."
"Oke, waktunya berangkat."
***
"Langit, apa kau yakin tahu posisi gunung Semeru?" kudengar Vina bertanya, "Masalahnya kau mengebut di jalan seperti tanpa arah!"
"Intinya kau diam saja!" aku berseru, "Diam adalah tugas penumpang, biarkan pengendara yang mencari jalan!"
__ADS_1
Aku sejujurnya tidak tahu dimana gunung Semeru berada, tapi aku merasakan hawa aneh yang sedikit samar di pulau Jawa, bahkan setelah dua hari aku meninggalkan Jakarta bersama Vina dengan motor saja, hawa aneh itu tak kunjung hilang.
Apa-apaan hawa aneh itu? Jujur saja aku sulit menebaknya, apakah kawan atau lawan?
Sebab itulah, aku bergerak menuju hawa aneh yang paling terasa, ke arah timur.
Aku menebak kalau Semeru kemungkinan memiliki hubungan dengan apa yang kucari selama ini, jadi aku harus mencoba mencarinya meskipun persentase yang kupikirkan amat kecil hanya untuk bisa menemukan satu petunjuk saja.
"Bagaimana kalau hawa aneh yang kau rasakan sebenarnya berasal dari Semeru?" suara kakek Vian terdengar, dan aku kembali termenung.
Kakek Vian kuanggap amat bijaksana, yah, meski aku belum melihatnya langsung, tapi aku bisa merasakannya hanya dari tutur katanya yang tenang dan perawakannya yang benar-benar berwibawa.
Apalagi ia mengatakan kalau ia terjebak di dunia lain dengan nama Elysie, Flame General terkuat yang pernah kulawan, membuatku yakin dia sebenarnya adalah orang bijaksana layaknya seorang raja.
"Apakah kakek tahu dimana letak gunung Semeru?" tanyaku, aku berharap dengan petunjuk yang diberikan kakek Vian, aku bisa menemukan Semeru lebih cepat.
"Di kabupaten Lumajang dan kabupaten Malang, untuk jalur pendakiannya, aku kurang tahu..." jawabnya, dan jawabannya membuatku terdiam.
"Awas Langit! Di depan ada batu!"
Aku kembali fokus ke depan, dan benar! Ada batu di depan kami!
Aku membanting stang motor ke kanan, menghindari batu itu. Meskipun bisa menghindari batu besar itu, aku dan Vina tak mampu menyelamatkan diri kami, jadi kami jatuh dari motor dan berguling di tengah hutan.
"Sialan..." aku bangun perlahan, kulirik Vina ikut bangun, "Kenapa aku bisa selengah itu?"
"Langit..." aku didorong oleh Vina dan aku telungkup lagi, sementara Vina menahan tubuhku, "Ada yang datang..."
Aku menaikkan alisku, aku menajamkan pendengaranku dan ya, aku mendengar suara langkah kaki yang cukup berat serta pembicaraan kecil...
"Paman Patih, apa kau yakin kalau Langit akan datang kemari?"
"Entahlah, saya sebenarnya hanya merasakan dengan kemampuan saya, bahwa ada dua orang yang memasuki wilayah Semeru dengan kecepatan tinggi dan motor mereka menabrak batu besar."
"Hawa keduanya masih terasa, tetapi ada satu hawa yang amat berat, seperti hawa paman Patih..."
"Ah, saya tidak sekuat itu..."
Aku diam tak berkata apapun, keduanya kurasakan amat kuat, bahkan aku merasa kalau aku tidak akan mampu melawan satu-...
"Disini dia, pemilik hawa yang amat kuat..."
Aku menoleh ke belakang dan mematung melihat sosok yang baru saja menyapaku tadi...
Dua sosok, pertama kurus tinggi dengan kepalanya yang dihiasi mahkota mewah, aura yang dipancarkannya amat hangat dan juga terasa berat, dan yang kedua adalah orang bertubuh tinggi kekar berotot lain yang kutemui selain paman Frans dan pak Tom, aura yang dipancarkannya juga amat berat, rambutnya digulung kemudian diikat, serta sesuatu tersarung di pinggangnya, tetapi aku yakin itu bukanlah pedang.
__ADS_1
Orang bertubuh kurus tinggi melipat tangannya dan mendekat, "Jadi, kurasa kau adalah Langit Satria, begitu? Atau haruskah aku memanggilmu dengan sebutan Tuan Flame Emperor?"