
Hei, hei, hei! Tujuanku kemari adalah mencari Flame Soul lain yang masih hidup, bukan menjalin kontrak dengan Emperor lain!
Kalau begitu, bukankah aku akan menampung kekuatan dua Emperor dan satu kekuatan dahsyat milik praktisi legendaris dari dunia lain?
"Aku juga akan menyerahkan kekuatanku padamu." Gajah Mada berkata, "Aku harap Nusantara bisa disatukan di tanganmu, yang belum berhasil aku lakukan."
"Namun dalam sejarah, kau sudah berhasil melakukannya." suara berwibawa kakek Vian terdengar, dan aku melirik ke kanan, kakek Vian berdiri dengan senyuman lebar.
"Patih Gajah Mada berhasil menyatukan Nusantara, dari ujung timur Nusantara sampai ujung barat Nusantara, kau berhasil melakukannya, bahkan kau berhasil menyatukan hampir seluruh Asia Tenggara dalam pimpinan raja terbaik di seluruh Nusantara, Rajaku Hayam Wuruk..." ia membungkuk dan mengangkat tubuhnya lagi, "Dan penerus kalian akan melakukan hal lebih lagi dari yang pernah kalian lakukan..."
"Kurasa mempercayai masa depan pada anak muda memang yang terbaik.." Hayam Wuruk memejamkan matanya, auranya bertambah dahsyat, "Inilah akhirnya, aku akan menyerahkan Nusantara pada kalian..."
Ia menghilang dan tak lama, tubuhku terasa amat berat, aku jatuh berlutut di hadapan yang lain.
Tubuhku terasa akan pecah oleh tekanan dari dalam tubuhku, tapi aku harus mengendalikannya agar tubuhku tidak benar-benar meledak!
Perlahan, tubuhku mulai membaik, dan aku sedikit kebingungan, tapi kurasa kekuatan Hayam Wuruk sudah mengalir dalam diriku...
Kalau iya, bukankah aku menampung kekuatan dari dua Emperor?!
"Aku akan menyerahkan Nusantara padamu, aku percaya kalau kau bisa menyatukan Nusantara kembali seperti dulu, bukan tidak mungkin kau bisa menyatukan seluruh dunia di bawah kakimu." Gajah Mada mendekatiku dan meletakkan tangan besarnya di pundakku, "Jangan kecewakan aku..."
Ia memejamkan matanya dan menghilang, sebelum aku merasakan tubuhku ditekan dari luar dan dalam, terasa amat menyakitkan!
...
...
...
"Langit, sekarang kau lebih kuat..." suara terdengar di telingaku, dan aku membuka mataku cepat.
Seseorang dengan wajah mirip seperti kakakku mendekat dan ia tersenyum lebar, "Langit, ini aku..."
Air mataku rasanya ingin jatuh, aku kembali melihat sosok yang sudah meninggalkanku sejak tujuh tahun lalu...
"Kak Bintang..." aku mendekatinya, "Apa itu kakak?"
"Ya, ini aku, kakakmu..." kak Bintang mendekat dan memelukku, "Kau sudah dewasa sekarang..."
Andaikan kakakku masih hidup, mungkin dia sudah berusia tujuh belas tahun dan berdiri di barisan depan bersamaku sebagai Hunter rank SS...
Ya...
Andai saja Surabaya tidak hancur...
Atau keberadaan Surabaya sebenarnya menghalangi impianku dan kak Bintang menjadi Hunter, jadi dunia merencanakan untuk menghancurkannya agar aku bisa menjadi Hunter?
Entahlah...
"Kau sudah menjadi Hunter yang hebat, padahal itu impianku..." kak Bintang berkata lagi, dan aku... Tak bisa menahannya lagi.
"Kakak, kau seharusnya masih hidup! Posisiku saat ini seharusnya kakak yang memegangnya!"
__ADS_1
Tangisanku lepas, dan aku tak peduli aku ada dimana saat ini, tapi yang penting, aku bisa menyentuh kakakku lagi meski hanya sesaat saja! Ini hal yang tak boleh kulewatkan!
Kenangan tujuh tahunku bersamanya terasa singkat, tapi penuh makna, aku ingin menambah kenanganku dengannya!
"Sudah, berhenti menangis..." kak Bintang melepas pelukannya, "Kau sudah dewasa, laki-laki tak boleh menangis..."
"Apalagi kau sudah menjadi Hunter rank SSS dan ketua organisasi RedWhite, kau tak boleh menangis lagi..." kak Bintang menyeka air mataku, "Tersenyum dong..."
Ia memakai telunjuknya untuk menaikkan pinggir bibirku, dan mungkin aku sedang tersenyum sekarang?
"Ahahah, wajah adikku sekarang terlihat seperti orang bodoh!" kak Bintang tertawa keras dan membuatku terdiam.
Yah, mungkin aku perlu tertawa lagi...
"Tapi kuperhatikan juga, kau sebenarnya menyukai temanmu..." kak Bintang tiba-tiba berkata, dan aku menaikkan alisku.
"Hah?"
"Vina Celia, perempuan itu adalah perempuan yang baik, jika kau menyia-nyiakannya, maka aku akan memukulmu." kak Bintang meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, "Ingat itu."
Apakah itu adalah wasiat kakakku?
"Dekati dia, buat dia nyaman dengan keberadaanmu, dan satu lagi, nikahi dia jika waktunya sudah tiba." tambah kak Bintang, "Yah, intinya aku akan lahir kembali menjadi anakmu nanti, agar kita bisa terus bersama, sampai kau-..."
***
"Akibat besarnya kekuatan yang ia terima, ia jatuh pingsan..."
"Sekitar dua hari sudah berlalu, dan tak ada satupun Monster yang mendekat, aku rasa Monster memberi umat manusia kesempatan untuk bersiap-siap."
"Pendapatmu benar, kalau begitu aku menyerahkan keamanan Langit padamu."
Aku membuka mataku perlahan, kulihat Vina sedang menurunkan ponselnya, dan kepalaku terasa dialasi sesuatu yang empuk...
"Jam berapa sekarang?" aku bangun dan melirik sekitarku, cahaya matahari menembus rimbunnya hutan, "Dan berapa hari sudah berlalu?"
"Belum lama, sekitar dua hari sejak pertemuan kita dengan dua tokoh legendaris itu..." jawabnya, "Bagaimana kondisimu?"
Aku memegangi kepalaku, "Rasanya masih sedikit pusing, tapi aku bisa membawa motor sampai kembali ke Jakarta."
"Jangan memaksakan diri lagi, kau sudah berhasil kali ini..." Vina tersenyum lebar, "Bayangkan saja, kau mendapatkan kekuatan luar biasa dan ditambah kau mendapatkan ratusan ribu pasukan Majapahit di bayanganmu, jadi kau bisa tenang sekarang!"
"Tapi itu masih kurang." aku menatap Vina dalam, "Tujuan akhirku adalah Death Emperor."
Death Emperor, ya?
Vina, ya? Apa aku bisa mendekatinya, agar aku bisa mewujudkan wasiat kakakku?
Aku menggeser posisi dudukku dan duduk di sebelah Vina kemudian memiringkan kepalaku, "Apa ini sudah dekat?"
Di dunia lain...
"Apa yang kau ajarkan pada Langit?"
__ADS_1
Bintang terdiam melihat bola di depannya, "Entahlah, aku hanya menyuruhnya untuk dekat dengan Vina, tapi tak kusangka kalau ia menangkapnya seperti itu..."
"Adikmu itu orang bodoh."
"Jangan begitu, dia telah membawa beban berat selama hidupnya dan ia harus sesekali merasakan yang namanya tenangnya dunia..." Bintang menghela napasnya.
Bintang tahu, Langit mungkin sekarang adalah orang yang bodoh dengan semua yang harusnya ia tahu di usianya kini, tapi nanti, Langit akan menjadi sosok ayah yang baik baginya...
Catatan Penulis:
Yooo, Rio Andriana disini...
Bagaimana kabar semuanya? Baik donh, masa engga...
Oke, aku mungkin bakal persingkat saja sesuatu yang sebenarnya sudah singkat..
Sedikit lagi Cold Blooded Hunter bakal tamat, dan Langit akan mencapai tujuannya sedikit lagi.
"Banh, ada rencana baru?"
Rencana apaan? Paling cuma lanjut nulis novel baru dan nambahin side story disini.
"Side story siapa?"
Banyak, mungkin aja kehidupan karakter-karakter di novel ini kubuat jadi chapter baru, jadi semacam bonus gitu lah.
"Terus si Langit gimana?"
Ya hidup terus, aku ga akan bocorin masa depannya karena-...
Zione: Ekhem, jadi disini aku karakter dari novel lain yang sedang dibuat sama Rio, namaku Zione. Nah, disini aku bakal ngasi tau genre novel barunya si Rio.
Ferio: Genre apaan?
Zione: Fantasi juga, tapi berbau perang-perang dan sedikit gelap, karena banyak pembunuhannya.
Ferio: Wah, ada bocorannya?
Zione: Sayangnya cover novel barunya nyangkut di dasar penyimpanan nih hape, jadi ga bisa nunjukin.
Author: Aku males scroll ke bawah, pegel wey...
Zione, Ferio: Semangat yo, kita tunggu Watch Creator of Destruction rilis...
Yaaa, jadi begitulah, setelah ini tamat aku punya projek lagi...
Mungkin jumlah chapter di Cold Blooded Hunter tersisa sekitar 10-20 chapter, tidak dihitung dengan side story yang kusebutin tadi.
Ya udah, gitu aja, kepanjangan jadinya gara-gara disekap...
Salam,
Rio Andriana.
__ADS_1