Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
187. Desa yang masih utuh


__ADS_3

Desa yang sudah lama kutinggalkan, tak ada yang berubah sejak aku meninggalkannya.


Orang-orang yang masih sama, rumah yang sama, keramaian yang sama, dan segalanya yang masih sama, aku bisa mengingat setiap hal yang ada di desa ini.


"Langit! Mau mabuk bersama?"


Heh?! Baru sampai sudah diajak mabuk bersama?!


"Langit! Kau belum bayar hutang mie rebusmu!"


Oh iya, aku lupa...


"Langit! Ada mangga matang di rumah paman Dadang, ayo kita curi bersama-!"


"Dia adalah Hunter yang amat kuat, kau tak bisa mengajaknya melakukan hal aneh lagi!"


"Tapi dia masih berumur tiga belas tahun! Jelas dia masih punya sisi jahilnya!"


Yah, bagaimana aku menjelaskannya ya... Sebelum kakekku meninggal, aku sering bermain bersama teman-temanku di desa, juga melakukan beberapa keusilan, salah satunya adalah mencuri mangga punya orang lain.


"Ayo!" aku berteriak, sebelum seseorang menarik telingaku.


"Kau sudah menjadi orang penting sekarang! Mana mungkin kau melakukan hal bodoh seperti itu!" kakek-kakek menarik telingaku dan berteriak keras.


Adududuh! Sakit ey!


Beberapa orang yang mengerumuniku tertawa terbahak-bahak, karena aku sang Hunter rank SS hanya bisa diam dijewer telinganya oleh kakek-kakek tua.


***


Aku membayar hutang mie rebusku di warung, membeli beberapa makanan ringan, membeli minuman dingin, dan melakukan satu keusilan, yaitu mencuri mangga orang.


Setelah itu aku pergi ke rumah kakekku, bersama satu orang yang bernama Budi.


Budi adalah remaja yang sering mengusulkan hal bodoh pada anak-anak lainnya, ia bermimpi menjadi Hunter, tetapi sayangnya tak ada satupun keluarganya yang mengijinkannya menjadi Hunter. Akibatnya, ia menjadi remaja yang sering melakukan hal bodoh di usianya yang sudah mencapai tujuh belas tahun.

__ADS_1


"Kak Budi, kalau kau ingin menjadi Hunter, kah boleh ikut denganku ke RedWhite." ujarku sambil membuka pintu pagar, "Hmm, tidak dikunci..."


"Penduduk desa sering membersihkan rumah kakekmu, dan setidaknya kau tak perlu bersih-bersih setelah menempuh perjalanan jauh." ujar kak Budi.


Aku mengangguk, dan aku masuk kemudian pergi ke keran yang ada di dekat rumah lalu mencuci tangan, kaki, kemudian membasuh wajahku. Kak Budi melakukan hal yang sama.


Setelah itu aku mengetuk pintu kemudian masuk, dan kenangan demi kenangan yang kulalui bersama kakekku di rumah ini mulai berdatangan sedikit demi sedikit.


Kursi dan televisi tempat kami biasa berdebat mau menonton apa, meja yang tersisa bekas pukulan kakekku kalau ia kesal melihat tim bola favoritnya melakukan kesalahan, meja makan yang tertata rapi tempat kami biasanya makan bersama, dan masih banyak lagi.


"Makam kakekmu ramai didatangi penduduk, saat kemarin hari kemerdekaan Indonesia, makam kakekmu didatangi oleh semua penduduk desa." ujar kak Budi.


Dan aku teringat sesuatu...


"Bagaimana caranya desa ini masih berdiri? Padahal terpencil di pedalaman Jawa?" tanyaku sambil menatap kak Budi.


"Ada satu Hunter yang datang kemari setelah kau pergi dari desa. Ia mengenalkan dirinya sebagai Vein Ardhana, seorang Hunter rank S dari RedWhite. Ia juga mengatakan kalau ia dulunya lahir di desa ini dan pergi merantau ke Jakarta untuk menjadi Hunter." jawabnya, "Kukatakan, dia amat kuat..."


Hooh, lebih kuat dia atau aku?


Aku menatap kak Budi, aku memasukkan tanganku ke dalam kantong jasku kemudian meletakkan sesuatu di atas meja.


Pistol.


"Hah?!" kak Budi melompat mundur hingga kursi terjatuh dan ia terjatuh terduduk di atas lantai, "Apa itu?!"


"Itu pistol, mana mungkin kau tidak tahu itu..." aku mengambilnya lagi dan menyerahkannya pada kak Budi, "Nih, todongkan padaku."


Kak Budi berdiri, ia menerima pistol yang kuberikan kemudian menodongkannya padaku, tapi aku mengangkat tanganku dan menepisnya hingga jatuh.


"Lambat." ujarku, dan kak Budi terkejut, "Kau terlalu lambat, gerakanmu masih bisa terbaca jelas."


Kak Budi menunduk kemudian mengambil pistol lagi, "Terus buat apa kau menyuruhku memegang pistol kalau ujung-ujungnya kau menepisnya?" ia menodongkan pistol ke arahku.


Aku menepis pistol yang ia todongkan kemudian berkata lagi, "Refleks, kemampuan mengambil keputusan, insting, semua itu adalah dasar menjadi Hunter. Kalau dasar-dasarnya kau tidak memahaminya, maka sebaiknya kau mundur saja dengan mimpimu itu."

__ADS_1


Wajah kak Budi terlihat terkejut, ia mengambil pistolnya lagi dengan perlahan, dan aku mengangkat kakiku untuk menendangnya, tapi ia bisa menghindar.


"Ini maksudmu?" kak Budi berdiri kemudian menodongkan pistol, "Aku bisa melakukannya!"


Aku menunduk dan menyentil lututnya, hingga ia terjatuh terduduk dan aku merebut pistolnya kemudian menodongkannya.


"Masih lambat." ujarku, dan kak Budi berdiri dengan cepat kemudian berusaha merebut pistol dari tanganku.


Aku melemparnya ke samping kemudian menyentil dahinya hingga ia bergerak terhuyung-huyung ke belakang.


Kak Budi memegangi dahinya dan ia berdecak kesal, "Cih, sulit sekali..."


Aku berbalik dan mengambil kedua koperku yang di luar kemudian masuk lagi, dimana kak Budi sudah berdiri di depan pintu dan ia menodongkan pistol.


"Ah..." tangan kiriku bergerak cepat meraih tangan kanan kak Budi yang memegang pistol kemudian menjauhkannya dan tangan kananku meraih wajah kak Budi hingga ia jatuh terduduk.


"Akkh!" kak Budi menjerit, dan aku melepas genggamanku pada wajahnya, "Sakit!"


"Kalau kau mau, aku bisa membantumu menjadi Hunter." ujarku, dan wajah kak Budi yang awalnya kesakitan berubah menjadi antusias.


"Eh? Kau serius dengan kata-katamu?" tanyanya, dan aku mengangguk.


"Dengan posisiku sebagai wakil ketua RedWhite, aku bisa membuatmu menjadi Hunter tanpa perlu ujian, tentunya semua tergantung pada kemampuanmu sendiri." aku membuka koperku dan menatap dua pedang serta satu pasang sarung tangan besi di dalamnya, "Kau sekarang boleh memutuskan ingin memakai senjata apa..."


Kak Budi berdiri dan menatap koperku, "Apakah ini adalah senjata api yang dipakai para Hunter untuk melawan Monster?"


"Ya, ini adalah senjata api, ada dua jenis senjata api yang dibedakan berdasarkan jarak serangnya..." aku menjelaskan tentang senjata api, dan ia mengangguk sambil mendengarkan dengan seksama.


Hariku di desa kuhabiskan dengan mengajari kak Budi dasar-dasar menjadi Hunter, serta sesekali berinteraksi dengan penduduk desa.


***


"Tak terasa, sudah dua tahun sejak kak Budi menjadi Hunter rank S di RedWhite, dan ia mencetak rekor sebagai seorang Hunter yang terlambat berlatih tapi mampu mengejar ketertinggalannya dan menjadi Hunter rank S di usia sembilan belas tahun." ujarku, dan perempuan di depanku mengangguk pelan.


"Jadi, bagaimana kesan dan pesannya setelah anda menjadi wakil ketua RedWhite termuda di dunia?" tanya perempuan di depanku, dan entah kenapa, sejak tadi dia berbicara denganku ia selalu memakai panggilan yang teramat formal.

__ADS_1


"Vina sialan, bisakah kau memakai panggilan yang lebih santai lagi? Pembicaraan akan terasa tegang kalau kau memanggilku begitu..." aku meringis, dan perempuan di depanku hanya tersenyum lebar dengan wajah tak bersalahnya.


__ADS_2