Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
218. Sehari setelah kekacauan di RedWhite


__ADS_3

Tyrant Emperor terlihat terkejut dan ia tak sempat menghindar, semua tebasanku mendarat di tubuhnya dan menyayat tubuhnya hingga seperti garis-garis di steak panggang...


Ia menjerit, dan Gate ungu tercipta di belakangnya kemudian ia melompat mundur sambil berseru, "Tuan Dragon Emperor akan menghabisi kalian!" ia kemudian masuk ke dalam Gate itu.


Aku membiarkannya pergi, aku mendekati ketua Frans perlahan sambil mengubah pedangku kembali menjadi cincin.


"Langit!" Senja dan Andhika mendekatiku, "Bagaimana kau bisa kembali?"


"Aku akan menceritakannya nanti..." aku mengibaskan tanganku dan aku berlutut di hadapan ketua Frans yang terkapar dengan luka tusukan lebar di tubuhnya, "Untuk pertama, kita harus menyelesaikan masalah disini..."


Seorang Hunter mendekat dan ia berkata, "Pak wakil ketua, Alvian melapor!"


"Katakan."


"Sekitar markas sudah ditangani oleh Hunter rank A ke bawah, di bawah penanganan pak Antonio Werdio!" Alvian melapor, dan aku mengangguk.


Aku juga tadi sempat melihat pak Antonio sedang bertarung, dan aku sempat berbicara sejenak dengannya.


"Pak presiden Oka sudah dibawah pengawasan pak Ardika, dan pak Ardika berkata akan mengamankan pak presiden Oka di bunker!"


Aku mengangguk, "Dan sisanya ada disini..." aku berdiri, dan aku tak melihat wajah Vein dimanapun, "Dan nampaknya ada satu yang tak terlihat..."


"Ya?" Alvian menaikkan alisnya, dan aku menggeleng.


"Lupakan itu..." aku mengibaskan tanganku, "Aku akan memeriksa kondisi ketua Frans dulu..."


Aku meletakkan tanganku di atas dadanya, aku bisa merasakan detak jantung yang mulai melemah, napas yang sedikit kacau, dan tubuhnya yang mulai memutih serta suhunya menurun.


Entah karena apa, aku bisa merasakan suhu tubuh ketua Frans seolah aku sedang memakai termometer, padahal aku hanya meletakkan tanganku di atas dadanya.


Vina datang dan ia berlutut di samping ketua Frans, "Bagaimana?"


Aku menghela napasku, "Beliau masih hidup dan sedang sekarat..."


"Ada kemungkinan selamat?" tanya kak Budi, dan aku menatapnya sambil menggeleng.

__ADS_1


"Pendarahan sejak lama membuat banyak darahnya keluar dari tubuhnya, kurasa pembuluh darahnya ada beberapa yang sobek, organnya kuperhatikan juga sedikit hancur, aku juga merasa asupan oksigennya berkurang akibat napasnya yang tidak teratur." jawabku, "Dengan kata lain, ketua Frans tak memiliki harapan untuk bisa bertahan..."


Tangan Vina terkepal, selanjutnya aku bisa mendengar suara dentuman keras, dan ketika aku melirik ke belakang, tanah hancur oleh pukulan Rei yang mendarat di atas tanah.


Suara senjata yang jatuh juga terdengar, aku melihat kak Jess yang menjatuhkan senapannya, Senja yang menjatuhkan senjata apinya, Alvin menjatuhkan senapannya, dan kak Budi yang menjatuhkan pedangnya.


Aku tahu kalau jawabanku membuat mereka syok, tapi itulah yang terjadi, ketua Frans telah mendekati masa akhir hidupnya...


"Meski dengan kekuatan besar yang kumiliki sekarang, aku tak bisa melakukan apa-apa saat ini..." aku mengepalkan tanganku, "Bagaimana ini?"


"Tunggu sebentar..." aku mendengar suara lirih, dan kulihat ketua Frans sedang tersenyum lebar.


"Kalian tak boleh menangis, kalian adalah Hunter..." ujar ketua Frans, "Kepergianku adalah karena kelemahanku sendiri, dan aku mengakuinya..."


"Langit, jika aku pergi, maka posisi ketua organisasi RedWhite akan dipegang olehmu..." ujar ketua Frans, dan aku terdiam mendengarnya.


"Kalian tak boleh meratapi kepergianku, kalian harus patuh pada ketua baru kalian..." Frans mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, "Aku memberikanmu kewenangan atas seluruh militer Indonesia. Kini kau bisa mengerahkan seluruh militer Indonesia kapanpun kau mau..."


Ia menyerahkan sebuah medali, dan aku melihatnya sebagai bendera merah putih.


Kami diam, dan tak lama, aku melihat mata ketua Frans yang menutup perlahan, dan napasnya menghilang.


Aku memejamkan mataku, dan aku berdiri kemudian berbalik menatap teman-teman Hunter rank S lainnya.


"Bangkit! Aku berikan perintah pertama pada kalian!" aku berseru, dan seluruh Hunter yang ada di tempat ini, langsung berdiri cepat.


"Baik, ketua Langit!"


***


Meja ruangan pertemuan terasa tegang, aku bisa merasakannya.


Para petinggi RedWhite yang hanya tersisa sedikit saja, sedang duduk melingkari sebuah meja besar, dimana aku duduk di paling ujungnya sebagai ketua baru organisasi Hunter RedWhite.


Tubuh petinggi yang tersisa diperban, dan aku tahu kalau mereka sudah melewati pertarungan yang amat sengit.

__ADS_1


Aku menyesal tak ada disini ketika negeriku diserang, dan rasa kesalku semakin meningkat saat tahu musuh yang menyerang adalah seekor Emperor, apalagi ia sudah membunuh sosok yang amat kuat di negeri ini selain aku.


Sehari berlalu sejak kematian ketua Frans, tubuhnya kami semayamkan dengan damai di dalam sebuah peti mati kemudian kami tutupi dengan bendera kebangsaan Indonesia, yaitu merah dan putih.


Beliau adalah sosok kebanggaan negeri kami, kematiannya jelas membuat seisi Indonesia terkejut bercampur sedih.


Apalagi kabar kematian ketua Frans muncul bersamaan dengan kabar kakek Oga yang tewas akibat serangan diam-diam dari musuh.


Sehari lalu, EasternDragon mengumumkan tentang kematian Oga Haruno, dan penyebabnya adalah serangan diam-diam dari musuh saat malam hari.


Aku merasa ada yang tidak beres dengan berita itu, bagaimana mungkin kakek Oga yang selalu ada di sebelah Yuuki Ken sang Hunter rank SS bisa tewas semudah itu? Apakah kewaspadaan Yuuki menurun sehingga kakeknya meninggal?


Tapi jika malam hari, aku menghubungkannya dengan kekacauan di StarSam saat malam itu. Kurasa hal itu masuk akal juga, tapi aku harus mencari tahu lebih banyak lagi.


Tom sudah kembali dari Misi Berbahayanya, dan ia mengambil alih kembali komando penuh di StarSam, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan Misi Berbahayanya itu...


"Berapa hari aku hilang?" tanyaku.


Vina mengangkat ketujuh jarinya dan berkata, "Tujuh hari, kau dan Carroline sudah menghilang selama tujuh hari."


Aku diam, perjalanan lima tahunku di dunia itu... Hanya berarti tujuh hari di duniaku?


"Jangan bohong, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" Carroline mengepalkan tangannya, dan aku menatapnya tajam.


"Kalian memangnya menghilang kemana?" tanya Alvin, dan aku berdeham.


Tak ada gunanya berbohong, mereka hanya akan berusaha mengoreknya lebih jauh lagi jika aku mencoba berbohong...


"Aku dan Carroline dipindahkan ke dunia asal para Monster oleh pimpinan musuh, dan disana kami berpetualang sela lima tahun sebelum akhirnya kami bertemu dengan Monster baik hati yang membantu kami kembali kemari." jawabku.


Tentu saja Monster baik hati yang kumaksud adalah Flame Emperor, tentang sistem akan kusembunyikan terlebih dahulu...


"Monster baik hati?" Alvian menaikkan alisnya, "Siapa itu?"


"Aku beritahu juga, kalian tidak akan tahu yang mana Monsternya, kan? Jadi kalian hanya harus tahu kalau kami selamat berkat bantuan Monster baik hati, itu saja." aku menepuk kedua tanganku, "Oke, sekarang kita harus berpikir tentang sisa dari RedWhite..."

__ADS_1


__ADS_2