Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
131. Ibu?


__ADS_3

Hari sudah benar-benar sore ketika aku merebahkan diriku di atas tempat tidur, sementara Andhika dan Rei sudah tertidur di tempat tidur mereka sambil membuka mulut mereka lebar-lebar dan mengeluarkan suara keras.


Sebelum Vina memisahkan diri, ia bercerita kalau Carroline sempat meminta nomorku, katanya ada perlu denganku, begitulah katanya.


Aku mengeluarkan ponselku dan menatapnya lama, yah, ponselku tak banyak memunculkan notifikasi, hanya notifikasi dari operator dan game yang kuunduh saat iseng, tak lebih.


Aku menurunkan ponselku dan menghela napas, hari pertama terasa mengejutkan bagiku.


Mendapat kelas unggulan, mengetahui kebenaran tentang ayahku yang ternyata masih hidup, kebenaran tentang dunia di masa lalu, melihat langsung wajah para pemimpin dunia, dan terakhir, mengetahui kalau ayahku sudah menikah.


Rosa? Siapa itu? Apakah dia adalah orang biasa?


"Aku berpikir, Rosa bisa saja panggilan ayahmu untuk seorang Hunter rank SS dari IronBlast..." Zon berkata, "Si Chevalier Bleu."


Ya, aku sempat memikirkan itu, nama Rosa ada di nama lengkap Hunter rank SS dari IronBlast yang dijuluki Chevalier Bleu, yaitu Esterosa de Esquede, tapi aku tak memikirkannya lebih jauh karena jarak antara Inggris dan New Washington amat jauh, selain itu Esterosa adalah Hunter rank SS yang menjaga Eropa utara, kecil kemungkinan ia menikah dengan ayahku yang berjaga di benua Amerika bagian barat.


Kecuali...


"Mereka menyepakati sesuatu, agar hubungan mereka tetap terjalin ketika jarak memisahkan, seperti..." Zon berpendapat, "Bertukar Hunter, itu mungkin saja..."


Ponselku berbunyi sejenak, dan aku meliriknya, sebelum mataku melebar melihat notifikasinya.


"Langit, ayah tunggu kau di ruang latihan bersama ibumu. Datanglah kemari. Dan juga, pakai semua perlengkapanmu, termasuk Black Scale Coat, Cakar Ayam Api, dan dua pedangmu itu."


Aku bangun dengan cepat dan menatap layar ponselku tajam, "Hah?!"


Satu hal yang pasti, meskipun Carroline tadi berkata kalau ruang latihan ada di gedung yang sama dengan ruang guru, aku tidak tahu dimana letak pastinya.


Ruang guru yang tadi menjadi tempat tujuanku saja, melewati banyak sekali belokan dan persimpangan koridor, membuatku kebingungan bagaimana caranya Carroline bisa mengingat semua itu.


"Aku harus meminta bala bantuan! Carroline!"


***

__ADS_1


Aku memakai dasi hitamku kemudian melepas dua kancing kemejaku yang paling atas, aku menatap diriku di depan cermin.


Setidaknya, aku sudah memakai pakaian seperti ini sejak berangkat dari Jakarta, dan sekarang, entah kenapa, ketika aku melihat diriku sendiri di depan cermin, aku tak percaya kalau hari ini bisa memakai pakaian seperti ini... Jadi mirip sekali dengan para Hunter hebat di ruangan Tom tadi siang...


Aku memakai Cakar Ayam Api di kedua tanganku, membawa kedua pedangku di pinggangku kemudian meraih ponselku yang ada di atas tempat tidur, lalu keluar dari kamar.


Omong-omong, dua manusia yang satu kamar denganku sudah pergi ke kota, katanya ingin bertemu dengan Donnie yang sedang berjalan-jalan santai disana.


Aku berjalan menuju kelas 1-A, ke tempat dimana aku menyuruh Carroline menunggu. Oh ya, kenapa aku meminta bantuan pada Carroline? Itu karena...


"Apa kau tak bisa mengingat struktur akademi?" Carroline menungguku dengan kedua tangannya yang diletakkan di pinggangnya, "Padahal mudah-..."


"Apa kau bilang?! Mudah?! Gedung yang banyak lika-likunya seperti kehidupan ini, kau sebut mudah untuk memghapalnya?! Apa kau tahu sudah berapa lama aku ada disini?!" aku meraih kerah kemejanya dan menariknya ke dekat tubuhku, tentunya dengan kasar karena aku kesal dengan pernyataannya yang selanjutnya, "Apa kau tahu semua itu?!"


"Ah, seminggu?" Carroline menatapku dengan tatapan tak bersalah, membuatku benar-benar ingin menghajarnya untuk saat ini.


"Aku baru sehari disini!" aku melepas peganganku pada kerah Carroline, dan ia terjatuh terduduk di atas lantai.


Samar-samar, aku melihat sesuatu di kakinya, lebih tepatnya di bawah rok merahnya itu...


"Sialan, sudah memanggilku di jam santaiku, memakai kekerasan pula..." Carroline berdiri sambil menggerutu, "Ayo, kuantar kau ke ruang latihan..."


***


Ruangan yang pintunya terbuka sedikit, Carroline sebut sebagai ruang latihan. Ada cahaya sedikit keluar dari ruangan itu, aku menebak kalau ayahku ada di dalam.


Aku membuka pintu dan masuk, sambil menarik tangan Carroline, aku akan bertanggung jawab atas bocah ini karena sudah memintanya membantuku mencari ruangan ini.


Ayahku berdiri di tengah ruangan, sambil berbicara dengan seorang wanita yang berambut kuning, pakaian mereka sama seperti tadi siang.


Wajah wanita berambut kuning itu tak terlihat seperti wajah wanita kebanyakan, lebih ke arah... Mirip laki-laki, kalau saja bukan karena rambut panjangnya, senyumannya yang manis, dan benda bulat di dadanya, aku akan berpikir kalau dia adalah laki-laki.


Aku mendekati keduanya dan menyapa ayah sialan, "Yo, father..."

__ADS_1


Ayahku itu melirikku dan ia tersenyum lebar, "Kau datang..."


"Ya, dan sesuai permintaanmu, aku memakai perlengkapan yang kau inginkan." aku merentangkan kedua tanganku dan melepas tangan Carroline.


Ayahku menghadapku, sambil mengelus dagunya, ia berkata, "Hmm, penampilanmu agak mengerikan..."


"Tapi kalah mengerikan dibandingkan pak William ketika melompat dengan Kapak Pencabut Nyawa...." wanita itu melipat tangannya, "Untuk ukuran bocah sepertimu, lumayan saja..."


Oh, mulutnya agak menyebalkan, ya? Kutarik pikiranku tentang senyuman manisnya itu...


"Rosa, aku sudah bilang tentang anak kecil yang namanya Langit, kan?" ayahku melirik wanita itu, "Ini dia orangnya..."


Wajah wanita itu berubah, ia menatapku tajam dan bertanya, "Apa kau benar Langit?"


Sebentar, aku merasa pernah melihat orang menyebalkan ini...


"Ah, Esterosa de Esquede, kan?" aku menaikkan telunjukku, "Anda kan Hunter rank SS dari IronBlast, kenapa ada disini?"


Oke, sebelumnya aku hampir tak menyadari keberadaannya di ruangannya Tom, tapi setelah kuperhatikan lebih baik ketika yang lainnya membahas tentang para Emperor, aku menyadarinya, keberadaan satu perempuan yang terasa lebih kuat dari Marie Guitternie.


"Hmph, kau bisa memanggilku begitu..." Esterosa mengibaskan rambutnya ke belakang, "Dan, aku istrinya Joko Taru..."


Ia meraih tangan kiri ayahku dan memeluknya, membuatku terdiam melihatnya.


"Eh? Jadi tebakanku tadi benar?" aku mematung melihatnya, kurasa Carroline juga begitu.


"Apa-apaan itu? Kenapa ayah tak membicarakannya lebih dulu denganku?" tanpa sadar, aku mengepalkan tanganku kuat, dia benar-benar membuatku kesal...


[Skill pasif Raja Api aktif! Semua kawan akan menurut padamu dan semua lawan akan gentar menatapmu!]


"Oh ayolah, ini adalah ujian mental Hunter, seberapa kuat kau menghadapi kenyataan, dan sekarang aku sudah melihatnya..." ayahku menatapku dengan tenang, seolah tak terpengaruh oleh aura dari skill pasif Raja Api yang kulepaskan, Hunter rank SS memang hebat...


"Intimidasimu lumayan, nak..." Esterosa melepas pegangannya pada tangan ayahku kemudian mendekatiku, "Kau benar-benar mirip seperti Taru..."

__ADS_1


Kakekku berkata, jika aku sampai memiliki sifat yang keras ketika dewasa, itu karena kakekku dan ayahku adalah orang yang keras, segalanya amat keras, seperti ucapan dan kelakuannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan kurasa, sifat yang keras itu sudah mulai muncul dalam diriku.


"Baik, aku tidak akan memperlamanya lagi, aku akan menjelaskan semuanya." Esterosa berdeham, "Dimulai dari..."


__ADS_2