Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
113. Ruang tes tulis


__ADS_3

Paman Frans berkata kalau aku sudah menjadi Hunter, dengan rank C sebagai permulaanku.


Aku menerimanya, lagipula meminta yang lebih tinggi hanya akan membuatku terlihat orang serakah di mata paman Frans, jadi lebih baik aku menaikkan peringkatku secara perlahan hingga bisa mencapai rank SS, mungkin rank SSS juga.


Dan katanya paman Frans, ia memerlukan sebuah bukti agar bisa mempercayakan rank C padaku, berupa hasil tes tertulis dan praktiknya.


"Frans belum tahu hasil pertarunganmu melawan Andhika, jadi wajar saja kalau ia meminta hasil praktikmu sebagai pertimbangan." ujar Zon, "Seandainya Vano memberitahunya, mungkin hal itu bisa dibatalkan."


Yah, selain itu aku juga ingin melihat bentuk dua tes itu, apakah sesuai dengan yang dikatakan paman Lein atau tidak.


Dan kini, setelah berjalan beberapa menit dari ruangan paman Frans, kami berhenti di depan sebuah ruangan yang ada di sebelah ruang latihan.


"Disini aku akan memberikan tesnya." Vina berkata kemudian membuka pintu, "Kalian boleh masuk dan menungguku mengambil tesnya..."


Aku, Andhika, dan Rei masuk bersama Senja sementara Vina pergi mengambil sesuatu yang berhubungan dengan tesnya.


Di ruangan itu ada beberapa meja, lebih tepatnya aku bisa menyebutnya seperti ruang kelas di sekolahku dulu, dan Senja duduk di salah satu dari dua meja yang ada di paling depan menghadap barisan meja di ruangan itu.


"Yak, kalian boleh duduk, dimana saja boleh yang penting jangan merusuh." ujar Senja kemudian mengeluarkan ponselnya, ia kemudian menatap layar ponselnya dalam waktu yang pastinya akan lama sekali.


Aku, Andhika, dan Rei duduk bersebelahan, di satu kursi sendiri-sendiri kemudian duduk dalam diam. Rei duduk di sebelah kiri dekat tembok, Rei di sebelah kanannya, dan aku di kanannya Rei, jadi Rei ada di tengah-tengah kami berdua.


Aku sudah memikirkannya sejak tadi, apa yang membuat Andhika ketakutan ketika melihatku, yang sampai sekarang masih saja takut melihatku. Apa aku semenakutkan itu di mata Andhika?


"Andhika, aku ingin bertanya sesuatu..." Rei bertanya, dan aku menoleh ke arah Andhika yang duduk di sebelah kiri Rei, "Apa yang membuatmu kalah?"


Oke, itu adalah pertanyaan yang salah, jadi aku akan bertanya sesuatu yang masuk akal, "Apa yang membuatmu ketakutan melihatku?"

__ADS_1


Andhika melirikku dengan tatapan takut, tapi aku tersenyum lebar agar ia tak takut lagi.


"Kau... Monster..." jawab Andhika, "Kau diselimuti api, senyumanmu amat mengerikan, bahkan aku melihat Pedang Api Hitam yang bilahnya biasanya hanya berwarna merah, tadi itu diselimuti api yang amat besar, aku yakin kalau aku tak mungkin salah lihat."


"Wajahmu tidaklah wajah Langit yang kukenal, wajahmu berbeda dari ingatanku, matamu bukan mata biasa, tapi mata yang berwarna merah sepenuhnya..." Andhika menjatuhkan kepalanya ke atas meja, "Mengerikan..."


Aku diam mendengar penjelasan Andhika, apa-apaan penggambaran gila tentangku itu? Monster berselimut api? Apa yang ia maksud adalah Flame Emperor?!


"Kurasa begitu, kekuatan Flame Emperor berdiam dalam dirimu dan pastinya jika kau mengeluarkan skill pasifmu, mungkin bagi orang yang mentalnya lemah akan secara tidak sengaja melihat sosok Flame Emperor di hadapan mereka, padahal yang di hadapan mereka hanya kau seorang..."


Hmm, pendapat itu bisa kuterima, tapi apakah hal yang sama dimiliki oleh Wadah yang lain?


Seingatku kakekku tak menunjukkan hal seperti itu ketika berkali-kali beliau mengatakan akan membunuhku, meskipun beliau adalah Wadah Fire Bird Lord, tetap saja yang kulihat ketika beliau mengatakan akan membunuhku tetap kakekku yang keji dan kejam ketika melatihku.


"Ah, hahaha, begitu ya..." aku menggaruk kepalaku, "Yaaa, maafkan aku kalau begitu."


"Tapi rasanya, aku masih belum mempercayainya..." Rei melirik ke arahku, "Sekarang kita satu ruangan dengan orang yang membawa kekuatan Monster dalam dirinya."


Tatapannya seperti menyelidiki, mungkin itu wajar saja karena dia Hunter, orang yang memburu dan membunuh Monster, jadi mungkin ketika ia mendengar ada manusia yang memiliki kekuatan Monster, ia takkan segan membunuh manusia itu, hal yang bisa saja berlaku padaku.


Tapi yah, aku tak merasa seperti itu, ia seperti menyelidiki apa saja yang sudah kulalui selama lima tahun ini, yang belum kujawab pada pertanyaannya yang sebelumnya.


Aku menghela napas lagi sambil memejamkan mataku, dan ketika aku membuka mataku lagi, Vina berdiri di depanku sambil meletakkan beberapa kertas, "Kalau kau mengaku sehebat itu sebagai calon Hunter, maka selesaikan soal tes ini."


Rasanya aku ingin menyembur Vina dengan napasku! Bagaimana bisa ia bergerak ke tempatku tanpa kusadari?!


"Kau lengah sekali, Langit Satria!" Zon mengejekku, "Apa itu sikap yang pantas ditunjukkan oleh sang Wadah Flame Emperor?!"

__ADS_1


Berisik ah, lebih baik kau tutup mulut saja daripada mengganggu konsentrasiku menjawab tes ini... Ah, dia betulan diam...


Aku mengangkat kertas dan melirik ke meja, dimana di atas meja sudah ada satu pulpen yang bisa kupakai.


"Waktunya singkat saja, enam puluh menit seharusnya cukup untuk soal sederhana begitu." Vina berkata dan ia tersenyum lebar. Ia kemudian berjalan dan duduk di sebelah Senja kemudian berbincang seru.


Oke, soalnya benar-benar sederhana baginya, begitu juga denganku. Soalnya hanya seputaran matematika, bahasa, teknik memakai senjata api, cara memperkirakan kekuatan Monster, tipe-tipe Hunter beserta Advantage and Disadvantage, dan dan di halaman terakhir ada sebuah pertanyaan, dimana jawabannya berupa pilihan dan pilihannya sama tiap pertanyaan.


"Langit, aku merasa kalau nilai tes tulis paling banyak berasal dari pertanyaan ini..." ujar Zon ketika aku membaca beberapa pertanyaan itu, "Rata-rata, semuanya membahas tentang pandanganmu tentang Monster, Hunter, dan gate, serta kesediaanmu menjadi Hunter."


Hehehe, semuanya terasa mudah di mataku...


Aku mengangkat pulpenku dan menjawab satu persatu soal yang ada di kertas-kertas itu, mulai dari matematika dan semuanya, kujawab dengan mudah.


"Matematika hanya sekedar pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, tak perlu berpikir keras karena ini adalah hal dasar..." gumamku pelan, dan sekarang aku tersangkut di Advantage and Disadvantage.


Materi ini sedikit sulit, meskipun sudah tahu dasarnya kalau tidak pernah menerapkannya dalam pertarungan, akan sulit memperkirakannya. Untungnya aku sudah pernah melawan paman Lein sebelumnya yang memiliki tipe Striker Defender, jadi aku memiliki sedikit bayangan.


Aku menyelesaikan soal-soal yang jumlahnya lima puluh soal itu setelah selesai aku meletakkan pulpenku sambil melirik ke arah Rei yang sedang melirik kertasku.


"Rei melirik kertasmu tuh..." ujar Zon, "Mungkin dia tak tahu semua hal yang muncul di tes."


Aku mengerti kalau Rei tidak pernah mendapat pendidikan Hunter mengingat hubungannya dengan ayahnya yang amat buruk dan kesehariannya di kota 6 menurut ceritanya adalah mengusili dan menghajar para Hunter yang berjaga, jadi semua hal yang muncul di kertas tes bukan hal yang ia ketahui.


Aku menggeser kertasku dan berbisik "Lihat ini."


Kulihat mata Rei melebar, ia tersenyum lebar dan mengisi kertas jawabannya dengan meniru semua jawabanku, atau bisa kusebut menyontek...

__ADS_1


"Langit, aku sudah selesai." bisik Rei, dan aku menggeser kembali kertasku ke hadapanku dengan cepat.


"Totalnya lima puluh soal, sekarang tinggal kertas terakhir..." aku membalik halaman dan melihat sepuluh soal di kertas terakhir.


__ADS_2