
Cazim menyalakan televisi, menonton film holywood sambil makan roti yang bungkusnya baru saja dibuka.
Asli nih ketahuan bukan manusia alim. Masak makan roti langsung main ganyang aja nggak pake bismillah sebelum mulut mangap. Chesy mengintip sambil geleng- geleng kepala.
Tak berapa lama kemudian, ponsel Cazim berdering.
"Ada apa, Al?" tanya Cazim sambil menempelkan hape ke telinga.
"Ada orang mencurigakan. Dia nguntitin aku terus, Bang," sahut Alando di seberang.
"Masa? Memangnya siapa yang mengenalimu di daerah sini?"
"Entahlah. Aku harus bagaimana?"
"Uangnya belum kau berikan?"
"Belum. Aku sambil berkendara ini menelepon mu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Jangan berhenti. Aku akan menyusulmu." Cazim bangkit dan membuka laci meja lalu mengambil senjata api, pistol.
Mulut Chesy ternganga menyaksikan hal itu, kaget bukan main. Cazim punya senjata api? Ternyata dia benar- benar lelaki berbahaya. Lawan Chesy sekarang bukan kaleng- kaleng. Ini lawan serius.
__ADS_1
Cazim buru- buru keluar kamar masih dalam posisi menelepon.
Baiklah, ini saatnya Chesy keluar dari kamar itu membawa bukti akurat yang bisa dia tunjukkan pada abinya bahwa Cazim bukanlah lelaki baik seperti yang dinilai abinya.
Chesy berjingkat keluar dari balik guci, lari ngibrit menuju pintu, namun kemudian ia kembali menarik tubuhnya mundur saat melihat Cazim balik lagi. Pria itu berjalan kembali ke kamar.
"Aduuuuh ... Gawat ini! Tuh kunyuk kenapa balik lagi sih? Ampun deh." Chesy yang baru saja menginjak ambang pintu pun menghambur masuk lagi. "Terus ini sembunyi dimana lagi?"
Chesy masuk ke lemari. Slep. Pintu lemari tertutup dan Chesy bersembunyi diantara gantungan baju yang menutupi sekujur tubuhnya. Aman.
Terdengar suara langkah kaki masuk kamar. Suara kaki Cazim.
"Lain kali kau lebih akurat dalam memberiku informasi," tegas Cazim sambil menghempaskan tubuh ke kasur.
Sambungan telepon diputus.
Chesy mengintip melalui lubang kunci lemari, tampak Cazim berbaring di kasur sambil menonton televisi.
"Duuh.. kapan aku bisa keluar dari sini? Terus gimana nasibnya Sarah di luar? Sarah kan nggak bawa hape gara- gara hape nya disita bapaknya, dia nggak bisa dihubungi." Chesy berbisik sendirian.
Sembari menunggu, Chesy membuka galery hape nya, memutar ulang video yang baru saja dia rekam untuk mengeceknya setelah mengecilkan volume video supaya tidak terdengar keras. Video itu terekam dengan jelas, tersimpan di galery dengan tepat.
__ADS_1
Baiklah, ini akan menjadi bukti akurat. Chesy menutup hape dan memgantonginya. Menghela napas menunggu waktu yang tepat untuk bisa keluar dari sana.
Bukan hanya panas dan gerah, ia juga sumpek berada di ruang sempit yang gelap itu. Entah sudah berapa jam ia di sana, ia hampir tidak menyadarinya.
***
Dug!
Chesy membuka mata ketika keningnya terantuk.
"Eh? Dimana ini? Di kuburan? Apa aku udah mati?" Chesy meraba ke sekitar, ruangan sempit dan ada banyak kain menggantung di depannya. Ia baru ingat kalau ia sedang bersembunyi di lemari baju Cazim. Rupanya ia ketiduran. Entah sudah berapa jam ia ketiduran di sana. Rasanya sudah lama sekali ia berada di sana, perutnya pun sudah lapar.
Chesy mengintip melalui lubang kunci lemari, lampu kamar sudah menyala. Artinya sudah malam. Ia melihat jam di hape, sudah menunjuk jam delapan malam.
Tampak Cazim berbaring di atas kasur, tertidur pulas dengan posisi menelentang.
Inilah saatnya Chesy keluar. Ia mengendap pelan- pelan keluar dari lemari, menutup pintu dengan pelan juga. Ia lalu berjalan pelan menuju pintu sambil sesekali menoleh ke arah Cazim untuk mengawasi lelaki itu.
Aman. Cazim kelihatannya pulas. Inilah saatnya Chesy keluar dari pintu belakang. Sarah sudah tidak ada di sana, sudah tentu Sarah pulang.
Chesy berlari meninggalkan rumah Cazim, jarak rumahnya dengan rumah Cazim tidaklah jauh, bisa ditempuh hanya dengan berlari saja.
__ADS_1
Bersambung ...