Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Terungkap Dalang Kematian Rajani


__ADS_3

Tanpa menunggu izin dari Rival, Revalina bergegas turun dari panggung singgasananya menghampirinya Akram yang duduk seorang diri.


"Lah," Rival melongo tak menyangka Revalina tetap menghampiri Akram.


Sementara itu perlahan Akram mulai sadar jika saat ini ia tengah berjalan ke arahnya, kedua matanya makin membesar menukik lirik seperti memberi kode pada Revalina untuk menjauh darinya. Tapi Revalina tak menghiraukan itu, ia justru makin mempercepat langkah kakinya.


"Reva, kenapa kau kesini?" tanya Akram lirih.


"Salah kamu sendiri tadi kenapa plonga plongo," jawab Revalina dengan nada kesal menyalahkan kebodohan Akram.


"Ya kamu nggak jelas," sahut Akram berbalik menyalahkan Revalina.


Kening Revalina seketika mengerut tajam, darah terasa mau mendidih ingin sekali membalas sahutan Akram sambil mengacak-acak wajah tengilnya.


"Sudah! sudah! ini kalau diteruskan aku bisa babak belur. Intinya saja kau kesini mau bilang apa," ucap Akram ketakutan melihat wajah merah Revalina dibalik riasan ala pengantin itu.


Perlahan Revalina coba mengatur nafasnya dengan menarik nafas panjang lalu membuangnya secara.


"Aku cuma mau bilang kalau aku akan memata-matai Dalsa dengan sempurna, semua aman di tanganku," ujar Revalina dengan wajah kaku, serius.


"Sudah itu saja?" tanya Akram sambil menaikkan satu alisnya.


Seketika wajah kaku Revalina berubah kusut, darah kembali mendidih dibuatnya. Hal sepenting ini tak disangka akan seperti ini respon Akram.


"Ya sudah kalau aman, kau tinggal pantau jangan sampai kecolongan. Tapi tunggu dulu, apa yang kau lakukan terhadap Dalsa?" tanya Akram lirih.


"Tenang saja, pokoknya ini akan menjadi pengawasan penuh terhadap Dalsa. Dan aku dari tadi sudah pakai earphone untuk penunjang rencana ini," sahut Revalina sambil menunjukkan earphone berwarna putih yang telah terpasang di telinganya.


"Hey, lagi bicarakan apa. Seru sekali sepertinya," Rival tiba-tiba datang masuk ke tengah-tengah mereka.


Seketika mulut Revalina dan Akram terkunci sama-sama terkejut melihat Rival yang tiba-tiba datang disaat mereka membicarakan rahasia penting.


"Eh ini Pak, Reva tanya lagu yang aku post kemarin katanya mau diputar disini," sahut Akram sembari memberi kode pada Revalina lewat kedipan matanya.


Beruntung Revalina langsung paham. "Oh iya."


"Lagu apa memangnya?" tanya Rival penasaran.

__ADS_1


"Lagu  hip hop," jawab Revalina.


"Lagu rock," jawab Akram.


Keduanya menjawab bersamaan, berujung terkejut saling menatap bingung satu sama lain.


'Sial, kenapa dia pakai jawab segala jadinya beda kan,' gerutu Revalina dalam hati sambil mendelik menatap tajam Akram.


Sementara Rival tak kalah kebingungannya, melirik Revalina dan Akram berulang kali.


"Ini yang benar mana?" tanya Rival.


"Dua-duanya Pak, aku baru ingat kebetulan post dua lagu kemarin," jawab Akram tersenyum lebar menutupi kepanikannya.


"Oh," sahut Rival mengangguk percaya.


Malam itu Rival dan Akram berbincang panjang tentang berbagai hal, sementara Revalina terdiam fokus mendengarkan grasak-grusuk yang ia dengar dari earphonenya.


Terus berlanjut sampai acara selesai dan dirinya sudah kembali ke kamar, ia terus memantau dari layar ponselnya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, nampak seorang laki-laki bertubuh tinggi masuk ke dalam kamar dengan memakai baju santai.


"Reva, aku bawakan jajanan tadi sisa banyak," ucap Rival menunjukkan isi piring yang dibawanya.


Tak langsung menjawab, Revalina terdiam beberapa detik mengatur degup jantung yang terus berdetak kencang serasa nyawa tinggal di ujung.


"Hey kenapa bengong begitu?" tanya Rival mulai panik bergegas mendekati Revalina.


"E-enggak aku cuma mau ke kamar mandi sebentar nanti aku makan jajannya taruh saja di situ," jawab Revalina bergegas memundurkan langkahnya menjauh dari Rival yang tinggal beberapa langkah lagi tiba di hadapannya.


Sementara itu ia tak mungkin membuat gerakan yang bisa memantik rasa penasaran Rival, semua terpaksa ia lakukan dengan sangat hati-hati berusaha bersikap biasa saja.


Ketika tiba di kamar mandi, Revalina duduk di atas closet kembali memantau Dalsa yang sejak tadi tak jelas berjalan mondar-mandir dengan raut wajah gelisah.


"Kenapa dia terlihat gelisah, apa dia mulai takut semua terbongkar," Revalina bertanya-tanya.


Entah kenapa di setiap gerak-gerik Dalsa, ia selalu membawanya ke arah yang berhubungan dengan kematian Rajani. Sebegitu yakinnya ia dengan keterlibatan Dalsa yang hanya menunggu validasi sementara tiga pelaku lainnya sudah ditemukan.

__ADS_1


"Ting ting ting ting," dering ponsel Dalsa yang tergeletak di atas meja tak jauh dari posisi kamera tersembunyi.


Dengan raut wajah gelisah yang kini mendadak bercampur kesal, Dalsa cepat-cepat menyahut ponsel, sialnya kamera tersembunyi itu tak bisa menangkap gambar nama kontak yang tengah menghubungi Dalsa.


"Hallo, ada apa kau menghubungi ku?" tanya Dalsa dengan nada kesal.


Revalina mulai membuka telinganya lebar-lebar, menaikkan atensinya merasa ini saatnya ia merekam baik-baik setiap kalimat yang akan keluar dari mulut Dalsa.


"Kenapa tiba-tiba bicara begitu? Hei, tenanglah, aku sudah hilangkan semua bukti dengan bersih tentang keterlibatanku dalam kasus Rajani. Bukti bahwa aku yang suruh empat pria memperkosa Rajani," ucap Dalsa semakin lirih.


Sontak kedua mata Revalina terbelalak mendengar ucapan Dalsa, seketika darah mengalir cepat membuat  dada terasa sesak semakin sesak dan makin tak tertahankan namun ini yang ia tunggu-tunggu selama ini pengakuan dari mulutnya langsung meski tak di depan matanya.


"Kurang ajar memang dia blasteran manusia iblis, jahat sekali. Memangnya sesalah apa aku sama dia sampai-sampai terpikir untuk melakukan hal sekeji ini terhadapku dan malah salah sasaran," gerutu Revalina marah.


Sekelebat ingatannya menunjukkan moment-moment penting bersama Rajani semasa hidup, hal ini makin mencabik-cabik perasaan Revalina membuatnya semakin rapuh. Tak ada yang bisa menggambarkan perasaanya sekarang.


"Malang sekali nasib mu Rajani, aku menyesal kenapa aku tidak bisa membantumu, aku menyesal kenapa aku nggak bisa jadi saudara kembar yang protective. Sekarang penyesalan hanya penyesalan, sebagai penebus penyesalanku, aku mau usut tuntas kasus ini tak akan aku biarkan satu orang pun lolos," ucap Revalina dengan amarah yang membara membayangkan betapa tersiksanya Rajani saat itu.


"Sekarang aku sudah dapatkan buktinya. Dalsa adalah biang keladi, dan Rival merupakan tim eksekusi," ucap Revalina tersenyum puas menatap layar ponselnya.


Sejak berada di dalam kamar ia sudah mempersiapkan ponselnya untuk melakukan perekaman layar, dengan begitu tak membuatnya kecolongan.


"Sekarang tinggal menunggu hukuman manis untuk Rival dan Dalsa," gumam Revalina sambil mengepalkan tangan kanannya.


Sekuat tenaga ia coba mengontrol emosi, lebih tepatnya menyimpan semua emosi saat ini untuk diledakkan dalam waktu yang tepat. Meski hati rasanya sudah tak kuasa menahan bara api di dalam dada yang ingin mengacak-acak nyawa Dalsa sekarang.


"Sudah, aku nggak mau bahas itu lagi. Bagiku semua sudah clear jadi nggak perlu lagi dibahas," ucap Dalsa langsung menutup telfonnya lalu melempar ponselnya ke arah ranjang.


"Huhhh," Revalina langsung menghembuskan nafas beratnya.


"Tok tok tok tok," suara ketukan pintu dari balik pintu kamar mandi.


Sontak pandangan Revina beralih ke arah pintu, terkejut reflek mematikan ponselnya.


"Re, lama sekali kamu tidak papa kan?" tanya Rival dari luar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2