
Cazim menyulut rokok. Menghisap dan melepaskan asap ke udara. Ia tengah duduk di bawah pohon, sendirian.
Chat dari Yakub sungguh membuatnya menjadi kacau. Entah ada apa dengannya. Pengaruh chat itu sangat buruk baginya.
Klung.
Notifikasi pesan masuk ke hape nya. Cazim membaca pesan dari sadapan tersebut.
'Aku mau bicara sebentar. Boleh?'
'Kalau begitu aku telepon sebentar ya. Aku mau bicara soal calon mantan suamimu.'
Yakub! Ini pasti Yakub. Cazim mengayunkan hp ke udara. Geram sekali. Ingin melempar namun urung. Ia masih membutuhkan hp tersebut.
Kenapa begitu besar pengaruh kata-kata Yakub yang dikirim kepada Chesy?
Dan apa tadi? Yakub menyebut calon mantan suami? Beraninya dia menyebut Cazim sebagai mantan suami. Masih berani dia menghubungi Chesy. Apa yang dia sampaikan pada Chesy?
Cazim mondar- mandir, jalan ke sana sini, lalu kembali duduk. Mengambil batu lu melemparnya ke sembarang arah.
"Aduh!"
Suara itu membuat Cazim menoleh. Menatap Alando yang berjalan menghampirinya, satu tangan Alando memegangi hidung.
"Apaan yang abang lempar tadi? Nih, kena di hidung nih." Alando mengusap- usap ujung hidungnya yang memerah.
Cazim memalingkan pandangan, tak peduli.
"Abang kelihatan frustasi sekali. Sejak tadi aku memperhatikan dari jauh," ucap Alando memperhatikan wajah Cazim. "Minum dulu, Bang." Alando menaruh minuman kaleng.
Cazim membuang puntung rokok dan menginjaknya kuat sampai mati. Ia membuka kaleng minuman, meneguknya sampai habis.
__ADS_1
Klontang... Kaleng dibuang begitu saja.
"Jangan main lempar- lempar sembarangan, Bang. Tadi hidungku yang kena, jangan-jangan nanti bapaknya genderuwo yang kena."
Cazim meninju kecil pelipis Alando. Bisa juga si buntal itu ngelawak.
"Soal Chesy ya Bang?"
"Iya. Dia ingin menggugat cerai, dia mungkin juga akan melaporkan keberadaan ku ke polisi. Pak Yunus pun sudah tidak menerima ku lagi. Kupikir memang sudah sepatutnya aku menanggung semua ini. Hanya saja, aku harus selesaikan dulu urusanku dengan Chesy.
"Abang jatuh cinta ya sama Chesy?" Alando mengawasi wajah Cazim.
Hanya putaran mata yang ditunjukkan oleh Cazim. Dia tampak resah.
"Yakub sedang berusaha mendekati Chesy. Aku tidak suka itu terjadi. Aku ingin menghabisinya." Cazim menginjak rumput dengan sentakan kuat.
"Sabar, Bang. Jangan gegabah begitu. Abang hanya sedang emosi saja. Ini artinya abang memang jatuh cinta pada Chesy."
"Yakub memang salah karena mendekati Chesy disaat Chesy masih bersuami. Tapi abang juga tidak bisa melarang mereka dekat karena abang tidak pantas untuk Chesy."
"Kau benar, aku tidak pantas untuk Chesy. Tapi selagi aku menjadi suaminya, aku tidak akan pernah biarkan siapa pun mendekati istriku. Tidak akan pernah."
"Temui saja Chesy, Bang. Ajak dia bicara baik-baik."
Cazim mengernyit, berpikir. Rasanya tidak mungkin ia menemui Chesy. Wanita itu sedang sangat marah terhadapnya.
"Bang, kita berada di sini karena sedang bersembunyi dari pengejaran polisi, meskipun aku tahu sembunyi di sini hanyalah sekedar identitas saja. Supaya pelaku dianggap melarikan diri. Dan justru tujuanmu berada di sini adalah untuk mendekati keluarga Yunus, untuk mendapatkan simpati dari keluarga Yunus, untuk mendapatkan pencabutan laporan dari pihak mereka. Tapi sebelum tujuanmu terwujud, sekarang malah jadi berantakan begini. Kau belum mendapatkan simpati sepenuhnya, kau belum membujuk Pak Yunus untuk mencabut laporan."
"Aku sudah tidak pikirkan itu lagi, Al. Aku hanya ingin Chesy mengerti. Itu pun kalau dia mengerti." Cazim bangkit, meninggalkan kursi.
"Abang mau kemana?"
__ADS_1
Cazim diam saja. Ia mengemudikan motor.
***
Chesy menjawab telepon dari Yakub. "Halo, Yakub! Apa yang mau kamu bahas soal Mas Cazim?"
"Cazim tadi datang menemuiku," sahut Yakub.
"Menemuimu? Ngapain?" kejut Chesy.
"Iya. Dia memintaku supaya tidak mendekatimu, dia hampir menghajarku. ini tindakan brutal. Memang sudah sepatutnya kamu menggugat dia. Lelaki seperti itu tidak baik dipertahankan."
Chesy termenung. Detik berikutnya ia berkata, "Sudahlah, jangan bicarakan ini lagi. Aku nggak mau mendapat pengaruh apa pun saat ini. Biarkan aku berpikir sendiri sesuai dengan isi hatiku. Maaf." Chesy memutus sambungan telepon.
Ia menarik napas pelan dan mengembuskannya dengan berat. Kenapa ini harus terjadi? Chesy merasa sangat rindu pada Cazim. Dia ingin bertemu. Dia ingin memeluk pria itu dan bilang kalau dia sangat sayang. Tapi hatinya hancur jika harus memeluk lelaki yang membunuh ibunya. Bahkan selama ini Cazim menyembunyikan hal itu dari Chesy.
Pantas saja Cazim bersedia menikahi Chesy saat Yunus meminta untuk menikahinya. Rupanya Cazim memiliki maksud lain. Barangkali dia merasa berhutang nyawa.
"Chesy!" panggil Yunus yang langsung duduk di sisi putrinya. mereka berada di ruang keluarga sekarang.
"Ya, abi?"
"Abi serahkan kepadamu mengenai Cazim. Sekarang pembunuh ibumu sudah diketahui keberadaannya. Apakah kamu mau kasih tau polisi tentang keberadaan Cazim, atau dibiarkan saja sampai polisi yang menangkapnya kemari, atau kamu minta abi mencabut laporan?"
"Kenapa harus dicabut laporannya?" tanya Chesy.
"Siapa tahu kamu ingin menjaga nama baik keluarga kita. Siapa tahu kamu malu jika suamimu ditangkap polisi dan menjadi tahanan. Banyak yang harus abi pikirkan, dan semua adalah tentangmu. Abi harus menjaga hatimu, menomer satukan semua tentangmu. Semua yang terjadi padamu, ini adalah akibat ulah abi. Jadi abi tidak mau ambil tindakan jika bukan tanpa kemauanmu." Yunus tampak menyesal.
Chesy melipat dahi. Bimbang.
Bersambung
__ADS_1
Maaf telat update. Level terjun bebas. Dan ini udah balik lagi, jadi update lagi.