Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kurang Manis


__ADS_3

Uuugh... Chesy ingin sekali mencubit ginjalnya Cazim. Pria itu makin ngelunjak.


"Hei, kamu pikir aku ini babumu? Kamu baru bilang aku ini istrimu, tapi malah disuruh melayanimu kayak babu." Chesy menyambar gelas teh yang baru saja dia sajikan.


Byurrr... Air teh disiram ke wajah Cazim.


Pria itu hanya memejamkan mata merasakan air manis yang mengaliri wajahnya. Dia tetap tenang.


"Rasain! Enak?" Chesy marah.


"Chesyyyy! Keterlaluan!" Yunus berteriak kencang sekali dan meninju lengan Chesy.


"E eh..." Chesy terperanjat merasakan lengannya diguncang, Yunus mengguncang lengannya agak kuat hingga bayangan di kepala Chesy buyar seketika, memudar dan hilang.


Untung saja kejadian itu hanya dalam bayangan saja. Kalau benar terjadi, Chesy pasti sudah ditinju betulan oleh ayahnya.


"Chesy, kok malah diam saja? Ayo, bikinin minum untuk suamimu!" pinta Yunus yang sejak tadi sudah memanggil- manggil Chesy namun tidak ditanggapi hingga ia menyenggol lengan Chesy cukup kuat karena disenggol pelan tidak digubris.


Chesy sebenarnya ingin sekali menolak permintaan Cazim, tapi seandainya ia menolak atau bahkan menunjukkan sikap buruk kepada Cazim, ia pasti akan menjadi bulan- bulanan abinya. Yang jelas ia akan semakin terlihat buruk di mata Yunus. Akhirnya Chesy memilih untuk balik badan, kembali ke dapur untuk membuat teh.

__ADS_1


Sambil menggerutu, Chesy membuat teh yang kedua kalinya. Kali ini ia menunggu air sampai mendidih.


"Semoga saat minum lehermu kecekik dan kesedak. Nggak sudi banget aku bikinin minum begini. Berasa udah kayak pembantu aja. Ini sama aja aku disuruh menumpuk dosa kalau begini. Bukannya ibadah terpanjang, tapi malah dosa terpanjang, abisnya nggak ikhlas banget ngelakuin apa pun buat tuh cowok. Kalau apa saja aku lakukan dengan muak begini saat dimintain tolong sama Cazim, akhirnya kan aku malah menimbun dosa. Mendingan dia nggak jadi suamiku dong biar aku terlepas dari tumpukan dosa." Chesy menumpahkan air panas ke gelas berisi gula dan teh.


"Awh!" Ia merintih karena kecipratan air panas.


Gara- gara Cazim, ia sampai harus terkena cipratan air panas begini.


Gelas berisi teh panas kemudian dibawa ke ruang tamu. Ia meletakkan gelas ke meja.


Secepat kilat Cazim meneguk, sedikit saja.


Sialan! Mulai banyak bacot tuh orang! Chesy yang baru saja balik badan kemudian berjalan dua langkah meninggalkan meja, sudah mendapat komentar memuakkan itu. Ia sengaja mempercepat langkah supaya segera menjauh, namun panggilan Yunus membuatnya tak kuasa mengelak.


"Chesy, ini minumnya kurang manis, kamu tambah gula dulu!" titah Yunus.


Dengan perasaan gedeg, Chesy kembali mengambil gelas. Tak ada komentar apa pun, namun wajahnya yang cemberut sudah menjawab segalanya, bahwa ia sedang marah.


Chesy kembali ke dapur dan menambahkan gula empat sendok, air teh sampai tumpah- tumpah.

__ADS_1


"Rasain! Merem melek deh entar saking kemanisan." Chesy geram sekali. Ia membawa teh tersebut kembali ke ruang tamu.


"Oh ya, di meja makan tadi aku lihat ada kue kering, sepertinya enak kalau dimakan sama- sama di sini!" ucap Cazim.


Mendengar hal itu, Chesy langsung menangkap maksud perkataan Cazim, pasti lelaki itu berniat ingin ngerjain Chesy biar bolak balik.


Segera Chesy meninggalkan meja.


"Chesy, ambil kue kering di belakang!" titah Yunus.


"Enggak. Aku ngantuk!" Chesy bergegas masuk ke kamar, tak peduli dengan panggilan Yunus yang terus menyebut namanya.


***


Bersambung


.


.

__ADS_1


__ADS_2