
Revalina terkejut melihat Rival sudah merayap di atas rumput, menyeret tubuh ke arahnya dengan muka tak berdosanya tersenyum meringis ketika ia memanggil namanya.
"Mas, ya ampun kenapa nekat sih," ucap Revalina kesal.
Ia pun cepat-cepat beranjak dari duduknya, menolong Rival yang kesusahan merayap.
"Sudah kubilang, aku mau bantu kamu cuci sprei itu," sahut Rival.
"Ya tapi jangan nekat Mas, tadi kalau jatuh gimana," gerutu Revalina sambil membantu Rival untuk duduk di kursi kecil yang ia duduki tadi.
"Hah, akhirnya," ucap Rival lega setelah berhasil duduk di dalam kungkungan cor batu tempat cucian di rumahnya.
Rival lega, sementara Revalina pusing tujuh keliling melihat suaminya berada di tempat cucian.
"Mas, nanti kedinginan gimana. Sudah kau duduk saja," ucap Revalina menarik bak berisi rendaman seimut itu ke arahnya.
"Aku suka kok," sahut Rival menarik bak itu ke arahnya.
"Nggak baik buat kesehatan," tolak Revalina menarik kembali bak itu.
"Siapa bilang justru bagus tahu," elak Rival menarik kembali.
"Sok tahu," sahut Revalina menarik bak itu untuk yang kesekian kalinya.
"Bisa-bisa sampai subuh kita begini terus Rev, tarik-tarikan nggak jelas," celoteh Rival.
Akhirnya Revalina menyerah, membiarkan Rival membantunya mengucek selimut itu. Nampaknya Rival senang dengan aktivitas ini, senyumnya seakan melepaskan kebosanan dalam diri.
'Aku ikut bahagia kalau kau bahagia Mas,' ucap Revalina dalam hati memandangi Rival sambil tersenyum.
"Hayo," Rival berseloroh sembari menyentuh hidung Revalina dengan jarinya yang penuh busa.
Sadar tangan Rival penuh dengan sabun itu telah menyentuh hidungnya, sontak membuat kedua mata Revalina terbelalak.
"Melamun saja dari tadi, nanti kesambet baru tahu rasa," tegur Rival dengan nada meledek.
"Maaas," teriak Revalina kesal. "Awas ya," geramnya.
Revalina mulai mengambil busa sebanyak-banyaknya, saat itu Rival langsung meronta tahu apa yang akan Revalina lakukan padanya.
"Sini nggak, siniii," ucap Revalina berusaha membidik dahi Rival.
Sssttt.
Busa itu mengenai pelipis sampai ke pipi Rival, seketika Rival terdiam menunduk sambil merasakan busa-busa di wajahnya.
"Nggak bisa dibiarkan ini," geram Rival.
"Seranggggg!!!"
Mereka kembali berperang busa seperti anak kecik diiringi tawa renyah Revalina yang enggan berhenti disetiap kali berhasil membuat tubuh Rival penuh dengan busa.
"Ck ck ck," decih Sarah dari tengah pintu belakang, memperhatikan adik-adik iparnya.
"Memang ya kalau sudah lihat pengantin baru mesra begini rasanya dunia cuma punya mereka yang ngontrak," ledek Sarah sambik tersenyum.
Sadar dengan adanya Sarah di tengah-tengah mereka, reflek keduanya kompak menyudahi perang busa itu dengan raut wajah menahan salah tingkah.
"Mbak Sarah," panggil Revalina malu-malu.
"Sudah teruskan saja, aku bisa tutup mata," ucap Sarah mulai menutup kedua matanya sambil tersenyum-senyum.
Mendengar hal itu justru membuat Revalina dan Rival terdiam kaku, jelas tak mungkin melanjutkan peperangan seperti tadi.
Tak lama Sarah kembali membuka matanya, menatap kebingungan dua sosok pasangan suami istri ini.
"Lah, malah diam saja," ucap Sarah.
__ADS_1
"Kak Yakub nggak ikut Mbak?" tanya Revalina mulai mengalihkan pembicaraan.
"Yee, ngalihin pembicaraan nih ye," ledek Sarah sambil tersenyum-senyum.
"Nggak ikut, biasa lah ada urusan perkejaan," jawab Sarah dengan nada bicara serius.
"Oh," sahut Revalina memanggut-manggut.
Tak lama Sarah mulai salah fokus dengan apa yang dilakukan Revalina dan Rival sekarang ini.
"Ini beneran mesin cuci rumah lagi rusak?" tanya Sarah dengan ekspresi muka shock.
"Iya beneran Mbak," jawab Revalina.
"Terus kenapa masih nekat cuci pakai tangan sih, mana cuci selimut sama sprei lagi. Lempar ke tempat laundry kan enak," ucap Sarah bertanya-tanya.
Revalina terdiam, untuk petanyaan kali ini ia tak mampu menjawab takut jika dirinya kembali kena masalah dengan Candini hanya gara-gara menyampaikannya sebuah fakta.
"Mama nggak mau di laundry Mbak, jadi terpaksa cuci pakai tangan," jawab Rival dengan jelas.
"Ya ampun, ini kamu juga kenapa ikut-ikutan. Udah sana duduk biar aku yang bantu Reva," ucap Sarah lirih sedih.
Sontak Revalina panik mendengar ucapan Sarah. "Jangan Mbak, aku bisa sendiri."
"Aku juga bisa," sahut Rival enggan minggir dari kungkungan cor batu itu.
"Pada bandel ya dua orang ini, sudah tahu Mamanya kayak singa," gerutu Sarah lirih, memaksa Rival untuk minggir dengan menariknya perlahan lalu mendudukannya di atas pinggir batu di hadapan Revalina.
Setelah itu Sarah mengambil alih kursi kecil itu, melupakan kedua tangannya ke dalam bak yang sudah penuh dengan sabun.
"Mbak, jangan nanti ketahuan Mama," larang Revalina.
"Tenang saja nanti aku yang tanggung jawab," sahut Sarah dengan santainya.
Mereka cepat-cepat menyelesaikan cucian terakhir, yaitu selimut tebal yang berhasil menyiksa mereka berdua. Beruntung sampai mereka menjemur selimut dan sprei itu Candini tak menampakkan batang hidungnya.
Setelah selesai mencuci, Revalina bergegas mengambil pakaian ganti miliknya untuk Sarah mengingat baju dan celananya sudah habis basah akiibat membantunya mencuci tadi.
"Mas, Mama kemana ya?" tanya Revalina sambil menyisir rambut Rival.
"Nggak tahu, kan aku tadi ikut kamu terus," jawab Rival bingung dengan pertanyaan Revalina.
"Kenapa memangnya?" tanya balik Rival.
"Nggak kenapa-kenapa, aku cuma merasa rumah ini sepi saja takutnya Mama pergi tapi nggak pamit," jawab Revalina.
"Aku rasa Mama di kamar, akhir-akhir ini dia kan sering di kamar terus semenjak Dalsa pergi," ujar Rival dengan keningnya yang mendadak mengerut tajam.
Tiba-tiba Revalina merasa tak enak dengan Rival dan Yakub karena secara tak langsung sudah membuat Mamanya seperti ini, namun di satu sisi sejak awal ia sangat menginginkan Dalsa mempertanggungjawabkan perbuatannya meski sekarang masih zonk.
***
Keesokan harinya gantian Yakub yang datang di malam hari menengok Mama dan adiknya yang baru saja fisioterapi di rumah sakit.
Seperti biasa Yakub selalu membawa Sarah kemanapun, apalagi ke rumah Mamanya sendiri, pengantin lama itu selalu terlihat mesra tak kalah dengan pengantin baru yang ada di hadapannya.
"Gimana fisioterapi mu hari ini?" tanya Yakub pada Rival.
"Alhamdulillah lancar, tapi cuma bisa gerak semenit saja selebihnya aku nggak kuat lagi," jawab Rival sambil tersenyum senang.
Tak haya Rival yang senang mendapati pertanyaan itu dari Yakub, tap Revalina pun begitu. Ia senang merasa suaminya begitu di sayang oleh Yakub.
"Nggak papa itu sudah bagus sekali, setelah ini harus lebih semangat lagi untuk sembuh. Tapi juga jangan lupa minum obat sama makan teratur," sahut Yakub berujung teguran.
"Kalau sudah di tangan Reva kamu nggak perlu khawatir, Rival pasti makan dan minum obat teratur," ucap Sarah sambil melirik Revalina yang duduk di samping sisi kirinya.
"Alhamdulillah kalau begitu, aku jadi tenang," ucap Yakub dengan senyum teduhnya.
__ADS_1
Tak lama netra Yakub mulai menyorot kesana kemari lalu terhenti ke arah kamar Candini yang tertutup itu.
"Mama mana, kok dari tadi belum kelihatan?" tanya Yakub menatap Revalina dan Rival.
Pertanyaan itu seketika membuat mood Rival bebrubar 180°, dia jadi lemah tak berdaya.
"Ada di kamarnya, dari siang tadi nggak mau keluar," jawab Rival mulai murung.
Saat itu juga Revalina dengan cepat mendaratkan sentuhan lembut ke arah bahu Rival, coba menguatkannya meski hanya setitik.
"Tapi Mama sudah makan?" tanya Yakub kembali.
Nampak Yakub mulai cemas setelah mendengar jawaban dari Rival, dan sepertinya kedatangan Sarah kemarin juga semata-mata untuk menengok keadaan Candini.
"Sudah, aku sudah antar makanan dua kali tapi cuma di makan sedikit itu pun harus aku suapi," jawab Rival makin sedih.
"Ya Tuhan, kalau terus-terusan begini Mama bisa sakit," cemas Yakub mengetahui hal ini.
"Kasihan Reva kalau Mama sampai sakit, dia pasti kepontang-panting sendiri urus kalian belum lagi urus rumah," sambung Yakub.
"Kalau aku nggak masalah sama sekali Kak, cuma ya jangan sampai sakit lah aku lebih kasihan ke Mama karena sakitnya dia itu menyerang ke psikisnya," sahut Revalina.
Beberapa lama setelah berbincang akhirnya Yakub memutuskan untuk memberanikan diri mendatangi Candini seorang diri, menutup pintu itu kembali sepeoryuj hanya ingin bebincang empat mata saja.
Sarah yang melihat hal itu terlihat biasa saja, sepertinya sama-sama mengerti apa yang di butuhkan mertua dan suaminya saat ini.
Beberapa hari berlalu, kondisi Candini semakin buruk hingah terdengar sampai ke telinga Chesy dan Rafa. Sore hari tepat selepas sholat ashar mereka datang ke rumah membawakan parsel buah. Tepat ketikan kaki menginjak masuk ke dalam rumah Chesy langsung memeluk erat Revalina disusul Rafa meluknya dari arah samping.
"Ini kenapa makin erat pelukannya, aku jadi nggak bisa bernafas," ucap Revalina dengan posisi nafas yang seperti tertahan.
"Eh maaf-maaf," ucap Chesy cepat-cepat melepaskan pelukannya.
"Sangking kangennya Umi sama kamu," jelas Chesy kegirangan.
"Kak Rafa kangen juga?" tanya Revalina beralih melirik Kakaknya sambil menaikkan sebelah alisnya.
Rafa langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak sama sekali."
Mendengar jawaban Rafa seketika Revalina dan Chesy saling menatap, berujung tawa renyah menertawakan kegengsian Rival.
"Hahahaha."
"Bohong sekali, padahal di rumah Umi di marahi terus suruh cepat-cepat," ucap Chesy sambil melirik Rafa.
"Biar nanti pulangnya nggak kemaleman Umi," jelas Rafa mengelak dari tuduhan Chesy.
"Ah gengsi terus," ledek Revalina sambil tersenyum-senyum.
"Sudah ini malah jadi ngobrol di sini, ayo jenguk Mama Candini," Rafa cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
"Eh Umi sama Kak Rafa sudah datang," ucap Rival dari arah belakang mulai mendorong kursinya menuju ke ruang tamu.
"Rival, gimana kondisi mu sekarang?" tanya Rafa mulai bersalaman dengan Rival.
"Baik Alhamdulillah," jawab Rival.
Chesy pun ikut bersalaman dengan menantunya ini "syukurlah, semoga ada hasil dari fisioterapi yang kamu jalani ya. Umi selau kirim doa terbaik untuk mu dan untuk rumah tangga kalian."
"Terimakasih Umi," ucap Rival makin memperlebar senyumannya.
"Sama-sama," sahut Chesy.
"Oh iya, Mama mu mana?" tanya Chesy pada Rival.
"Ada di kamar, mari aku antar Mi," jawab Rival mulai mengerakkan kursi rodanya.
Revalina yang melihat Rival nampak kesulitan mengerakkan kursi roda dengan cepat membantunya mendorong kursi itu.
__ADS_1
Tiba di kamar Candini, perlahan Rival membuka gagang pintu itu lalu melirik dari sela-sela pintu.
"Kenapa, Val?" tanya Chesy kebingungan.