Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Panas


__ADS_3

Bruum brum...


Motor tiba- tiba seperti melayang saat tarikan gas pertama begitu kuat, membuat tubuh Chesy terayun maju dan permukaan tubuhnya menghentak punggung Cazim sangat kuat.


Cazim segera menginjak rem hingga motor pun kembali terhenti.


Sial! Keperawanan dadanya ternoda! 


"Brengsek! Bisa bawa motor nggak sih?" bisik Chesy tak ingin suaranya terdengar oleh Yunus di belakang sana.


"Anak kyai kok lidahnya kotor begitu. Silakan saja marah dengan bahasa kotor kalau sedang di kamar dan tidak ada satu orang pun yang mendengarnya, tapi kalau di tempat umum, jangan sampai keluar kata- kata umpatan itu. Tidak untuk menjaga emosimu saja, tapi jaga nama baik abi."


"Makanya kamu jangan modus. Kurang kerjaan!"


"Ini ada kesalahan sewaktu memasukan kopling!"


"Alasan!" 


Cazim kembali menarik gas setelah memainkan kopling. Motor kembali melaju meninggalkan rumah.


Angin sepoi- sepoi membelai tubuh keduanya, masih terlalu pagi untuk mereka bermain angin sehingga rasanya sejuk sekali. Untungnya badan kecil Chesy terhalang badan besar Cazim sehingga ia aman dari tamparan angin kencang arah depan.


"Kenapa lewat sini? Lewat gang sebelah aja!" pinta Chesy yang tersadar bahwa mereka akan melintasi rumah bibinya Sarah jika mereka melintasi jalan itu. Akan gawat kalau Cazim melihat Senja. Chesy belum mendapatkan informasi sepenuhnya dari Senja, jangan sampai Cazim melihat gadis itu di sana.


"Aku yang menyetir, maka aku yang tentukan jalan!" Cazim terus menjalankan motor.


Chesy terkejut ketika melihat Senja keluar dari rumah bibinya Sarah, gadis itu ada di samping rumah.

__ADS_1


"Itu bunganya bagus!" Chesy menunjuk ke arah kanan, disebabkan Senja berada di sebelah kiri.


Cazim tidak menoleh, tatapannya lurus ke depan. "Jangan mengalihkan perhatianku. Aku tau maksudmu."


Chesy menggigit bibir bawah. Ah, yang penting Cazim tidak melihat keberadaan Senja. Lagian kenapa sih mesti lewat gang itu? Jalan lain kan banyak.


Motor terus melaju. Mereka berada di jalan raya, melintasi gedung- gedung tinggi.


"Mau makan sate? Tadi hanya sarapan roti dan jus kan? Makan sate pasti bisa bikin perut kenyang!" tawar Cazim saat melintasi tukang sate di pinggir jalan.


Chesy diam saja, tidak sudi menjawab.


"Martabak mau?" Cazim kembali menawarkan ketika melintasi pedagang martabak.


Chesy masih diam.


Tak ada respon dari Chesy.


Motor akhirnya berhenti.


"Hei, kenapa berhenti? Aku nggak mau makan apa pun!" ketus Chesy.


Cazim tidak menanggapi. Ia duduk di kursi dan memesan makanan. "Mang, bubur dua mangkuk! Teh panas satu."


Dih, pesan dua mangkuk lagi. Chesy padahal sudah menolak untuk sarapan.


"Aku bilang aku nggak mau sarapan, kenapa malah pesan dua mangkuk?" ketus Chesy merendahkan suaranya supaya tidak terdengar oleh tukang bubur yang sedang sibuk meramu bubur sesuai pesanan. 

__ADS_1


"Hei, aku bicara padamu! Dengar tidak?"


Cazim mengangguk saat penjual bubur menyuguhkan teh panas.


"Makasih, Pak." Cazim segera meneguk teh itu.


"Gila nih orang diajak ngomong belagak budeg." Chesy kesal bukan main. "Heh, kamu dengar aku nggak? Aku nggak mau makan. Titik!" Chesy memukul pundak Cazim sangat kuat supaya pria itu merespon.


Teh pun tumpah dan mengenai kemeja Cazim akibat tangannya yang terguncang saat pundak ditepuk kuat oleh Chesy. Pria itu segera bangkit dan memundurkan tubuh, tapi percuma karena teh sudah mengenai bagian dadanya.


Sisa teh di gelas tinggal sedikit. Bukan karena sisa minum yang hanya tinggal sedikit yang membuat Cazim menatap datar ke arah dadanya, melainkan suhu teh yang lumayan panas dan langsung membuat kulit dadanya menjadi ruam memerah. Cazim membuka kancing di dadanya lalu mengibas- ngibaskan kemeja tersebut. 


"Mang, minta tisu!" Cazim meraih tisu di dekat gerobak.


"Silakan, Mas." 


Chesy yang melihat kulit dada Cazim ruam, membeku di tempat. Ia menyaksikan Cazim sibuk mengelap- elap dadanya yang ruam. Pasti panas.


Meski dengan muka memanas karena tidak terbiasa melihat dada polos lelaki, Chesy mengambil tisu yang disiram air dan mengelapkannya ke dada bidang Cazim.


Ya ampun, sampai merah banget begini!  Pasti rasanya panas sekali!  Chesy membatin kaget.  Kulit Cazim memang putih sekali, persis seperti pria Eropa, makanya kulitnya itu langsung memerah saat terkena panas.  Untung saja tidak melepuh.  Mana tehnya panas sekali, airnya tadi baru dituang dari ceret yang diturunkan dari api saat mendidih.


“Air dingin ini bisa meredakan rasa panas.”  Chesy terus mengelap- ngelapkan benda itu.


Cazim diam saja melihat tangan kecil Chesy bergerak di dada bidangnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2