
Taksi yang dinaiki Cazim berhenti agak jauh dari gerbang kantor polisi. Ia berniat untuk menyerahkan diri.
Saat Cazim baru saja turun dari taksi, bahkan belum sampai pagar, ia berpapasan dengan Chesy. Mereka berhadapan di jarak dua meter saja.
Mau apa Chesy ke kantor polisi? Apakah mau melaporkanku ke polisi? Pikir Cazim.
“Tidak perlu kau laporkan ke polisi tentang keberadaanku di sini. Aku sudah akan menyerahkan diri,” ucap Cazim.
Chesy memalingkan pandangan. “Aku menemani abi kemari.”
“Jadi kau datang kemari bersama dengan abi? Abi mana? Aku tdak melihatnya.”
“Sudah duluan masuk.” Chesy datar saja.
“Katakan ke abi, aku akan menyerahkan diri.”
“Nggak perlu. Aku udah bilang ke abi supaya abi mencabut laporannya.”
Cazim terkejut, mata gelapnya itu sampai terlihat tajam. “Kenapa?”
“Nggak perlu dibahas,” ketus Chesy. Dengan Cazim bersedia menyerahkan diri, artinya pria itu memang sudah mengakui kesalahan dan menyesalinya. Maka Chesy pun berbesar hati untuk melupakan dendamnya. Ini semua karena rasa cinta yang membuatnya tidak tega jika Cazim dipenjara. Satu lagi, karena bayi di rahimnya.
“Kasus pembunuhan itu mungkin bisa selesai. Tapi kasusku bukan hanya itu saja. Aku menjadi bagian dari kejahatan, memberi perlindungan pada bisnis narkoba.”
Muka Chesy langusng berubah murung. Entahlah, kenapa ia merasa sedih saat Cazim malah mengatakan akan dijerat dengan kasus lain? Jadi, meskipun abinya mencabut laporan, Cazim tetap harus masuk penjara?
Di tengah perbincangan itu, Hamdan menghampiri Cazim.
“Kenapa kau kemari?” Hamdan adalah rekan seperjuangan Cazim sejak dulu. Namun ia kalah nasib dengan Cazim yang begitu cepat naik pangkat, sedagkan Hamdan stuck di tempat karena prestasi nol.
“Aku mau menyerahkan diri.”
__ADS_1
“Gila kau ya?”
“Kenapa gila?”
“Kau punya istri. Bagaimana nasib istrimu saat kau tinggalkan?”
“Menurutmu, aku salah jika menyerahkan diri? Lalu apakah aku harus bersembunyi terus?”
“Halah, bukan aku tidak tahu, Cazim. Kau punya kekuatan di kepolisian. Kasusmu mudah saja ditangani jika istrimu sudah mencabut tuntutannya atas kematian ibunya.”
Muka Cazim langsung memerah. “Maksudmu bicara begini apa? Kau mau aku tetap berada di jalan yang salah? Aku dihantui dosa selama ini. Apa kau mengerti itu? lalu apa keuntunganmu melarangku menyerahkan diri?” Cazim mencengkeram kerah baju Hamdan.
“Jangan marah dulu. Aku bermaksud baik.”
“Aku tahu isi otakmu. Kau hanya inginkan aliran uangku, jika aku masuk penjara, maka kau akan kesulitan minta uang dariku, begitu kan?”
Hamdan menyentuh pergelangan tangan cazim dan menurunkan dari kerah bajunya. “Tidak begitu. Itu aku yang dulu. Tapi aku yang sekarang tidak sepicik yang kau bayangkan. Aku hanya tidak ingin sahabatku berada di dalam bui. Lebih baik kau pikirkan perkataanku. Kau jangan menyerahkan diri dulu. Biar aku yang bicara dengan ayahmu, ayahmu pasti bisa membicarakan masalah ini dengan baik pada pihak kepolisian.”
“Jangan libatkan ayahku!”
Yang dilirik seketika menunduk. Chesy berharap Cazim mau mendengarkan perkataan Hamdan.
Namun lidahnya tidak mau mengatakan itu.
Hamdan menarik lengan Cazim dan menggesernya supaya posisi Cazim berada di belakang badannya saat mobil polisi melintas dan masuk gerbang.
Hamdan lalu menarik Cazim dan membawanya masuk ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Apa lagi?" Cazim datar menatap Hamdan.
"Aku tidak mau kau gegabah. Jangan bodoh!"
__ADS_1
"Berani sekali kau mengataiku bodoh? Kau pikir kau sudah lebih pintar dariku?" Cazim menatap kesal.
"Baiklah kau boleh marah padaku karena selama ini aku memanfaatkanmu demi uang, tapi kali ini bukan itu mauku. Ini pure murni karena aku memikirkanmu."
Cazim menggaruk rambut jengah. Sampai rambutnya jadi berantakan hanya karena garukan sekilas.
"Percuma kau selama ini bersembunyi jika akhirnya kau menyerahkan diri," ucap Hamdan. "Masalahnya begini, hukum bisa dibeli. Jadi kau akan aman saat ayahmu turun tangan. Bahkan kau bisa bebas tanpa syarat. Lagi pula semua teman-teman di kantor juga mengenalmu, mudah saja mereka membantumu. Apa lagi?"
"Kau menyuruhku mempermainkan kewenanganku lagi? Kau pikir ini menarik? Aku sudah cukup muak dibayang- bayangi dosa."
"Wah, kau bicara soal dosa? Aku angkat tangan kalau soal itu."
"Ya sudah, biarkan aku melangkah."
"Setidaknya pikirkan perkataanku, kau tidak perlu menyerahkan dirimu sebelum ada aba-aba dariku. Lebih baik kasus mu ini diselesaikan dengan cara yang enak sesuai dengan pertimbanganku, kau pasti aman. Tidak ada yang tahu kalau kau terlibat dan ikut bermain. Hanya oknum di dalam yang tahu, saat mereka tutup kasus ini, maka semua akan selesai. Tidak ada pula wartawan yang meliput masalah ini, tidak ada netizen yang ikut campur. Kau beruntung."
"Sekarang terserah padamu saja." Cazim malas mendebat.
"Jadi kau setujui aku melibatkan ayahmu dalam masalah ini kan?"
"Aku bisa atasi sendiri masalahku tanpa melibatkan dia." Cazim keluar dari mobil milik Hamdan.
Cazim terkesiap menatap sosok yang sudah lebih dulu berdiri di belakangnya, tak Lain Chesy.
"Jangan menyerahkan diri ya!" pinta Chesy membuat Cazim mengernyit heran. "Enggak sekarang untuk menyerahkan diri." Chesy tidak tahu apakah permintaannya ini salah atau tifak, yang jelas ia berharap Cazim tidak dipenjara.
Sebelum Cazim mendapat jawaban, Chesy malah berlalu pergi, membuat Cazim merasa misterius. Tapi permintaan Chesy akan dia turuti. Niatnya menuju ke arah kantor polisi pun batal. Ia lalu memasuki taksi yang sudah menunggu.
Sekilas ia menoleh ke arah Chesy yang masuk ke area kantor polisi, lalu duduk di sebuah kursi taman kantor tersebut.
Sayangnya Chesy tidak menoleh ke arahnya. Taksi membawanya pergi.
__ADS_1
***
Bersambung