
“Aku benar- benar merasa bersalah,” ucap Yakub dengan menyesal.
“Aku kan sudah bilang, semuanya bisa diatasi.”
“Sudah selesai, Bu! Ini obatnya untuk dikonsumsi,” ucap suster menyerahkan beberapa bungkus obat.
“Enggak deh, obatnya disimpen aja. Sakit gini doang mesti minum obat segala,” tolak Chesy.
“Itu ada obat anti nyeri juga, Bu. Untuk meredakan rasa nyeri di tulang.”
“Nggak usah. Aku kalau nggak terpaksa juga nggak mau minum obat.”
Suster hanya tersenyum dan membaw aobat pergi.
“Chesy, ini ada sedikit uang untuk biaya pengobatanmu. Maaf aku sudah membuatmu jadi terluka begini!” Yakub menyerahkan uang ke pangkuan Chesy.
“Ini untukku?”
“Jangan salah sangka, itu sebagai bentuk pertanggung jawabanku karena kamu sudah celaka gara-gara aku.”
“Nggak usah. Aku nggak apa- apa kok.”
__ADS_1
“Jangan begitu, aku serius. Aku akan sangat merasa bersalah kalau kamu menolaknya. Justru aku bingung sekarang, apa yang bisa aku lakukan padamu untuk mengurangi rasa bersalah ini.”
“Oh… ya sudah, aku terima.” Chesy mengambil uang itu demi supaya si pria merasa lega. Ditengah perasaan kesal yang sejak tadi bercokol gara- gara Cazim, Chesy mesti berusaha untuk berdamai dengan situasi.
Yakub pun tersenyum lega.
“Aku boleh tanya sesuatu, Chesy?”
“Apa? Tanya aja?”
“Apa benar kamu sudah menikah dengan Cazim?”
Chesy mengangkat alis. Jantungnya tersengat begitu nama itu disebut. Rasanya seperti mendengar nama narapidana dalam kasus mengegerkan.
“Aku telat mendengar itu. Jadi aku telat mengucapkan selamat untukmu. Selamat ya!”
Chesy diam saja. bukan kata selamat yang seharusnya dia terima, tapi kata berduka. Menikah dengan Cazim sama halnya mendapat musibah.
“Aku mengenal Cazim dengan baik. Dia adalah lelaki yang juga baik. Dan aku tidak menyangka jika ternyata dia adalah jodohmu.” Yakub tersenyum miring. “Aku pertama bertemu dengannya di acara keagamaan di masjid. Kemudian kami terlibat pembicaraan serius tentang keagamaan. Dia orang yang asik. Aku juga menyimpan nomer hp-nya.”
“Ngomong- ngomong kamu udah jumpain Rival? Kamu ke sini untuk menemui Rival atau kepala sekolah?” Chesy mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Oh iya, aku mau menemui kepala sekolah. Ya sudah, aku permisi.” Yakub balik badan. Naun ia harus bertabrakan dengan Sarah saat berada di ambang pintu.
Sarah terlihat sangat buru- uru hingga tak sengaja menabrak Yakub. Wanita itu langsung mengelus dadanya yang menghentak benda keras, tak lain dada Yakub.
“Maaf!” ucap Yakub sopan.
“Eh iya!” Sarah menunduk dengan muka memerah. Ia sedang memikirkan apa yang dirasakan oleh Yakub saat berbenturan tadi. Ya ampun.
Segera Sarah menutup pintu UKS setelah Yakub keluar ruangan.
“Biasa aja jalannya, jangan nubruk- nubruk begitu. Akhirnya nyelakain orang kan?” komentar Chesy.
“Maaf. duh, aku cemas banget dengar kamu kecelakaan tadi. Aku telat masuk jadi nggak tau kejadiannya. Kenapa bisa sampai kecelakaan sih beib?” Sarah menatap prihatin pada luka- luka di tangan Chesy.
“Aku nggak apa- apa kok.”
“Kenapa bisa begini? Yang nabrak kamu si Yakub tadi ya?”
“Iya. Tapi dia orangnya kan baik, jadi dia tanggung jawab sama aku. Dia juga minta maaf. justru yang bikin aku bête adalah si Cazim. Dia itu keterlaluan banget.” Mata Chesy berembun seketika.
“Memangnya Cazim kenapa lagi? Dia bikin ulah lagi ya?”
__ADS_1
“Apa lagi?” Chesy mengusap air mata yang tiba- tiba saja merembes begitu saja. Chesy lalu menceritakan drama pagi ini. Dimana cazim memaksanya membonceng di motornya, kemudian membiarkan dia jalan kaki sampai sekolah setelah terjadi kemarahan besar oleh Cazim. Lelaki itu menghardiknya setelah mendapat interogasi bertubi- tubi dari Chesy.
Bersambung