Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Ada Dendam


__ADS_3

Fatih bangkit berdiri, menghampiri Cazim dan menepuk pundak putranya.  “Ayah terlalu banyak meletakkan harapan di pundakmu, Nang.  Ayah berharap kamu menikah dengan sosok yang sejak dulu ayah sukai, ayah berharap kamu memiliki keturunan dari sosok yang ayah sukai pula.  Tapi ayah lupa, bahwa ini adalah jalan hidupmu.  Ayah tidak bisa memaksakan situasi supaya sesuai dengan kemauan ayah.”  Fatih berusaha melegakan dirinya sendiri meski tampak berat.


“Aku tahu ayah pasti bijaksana,” sahut Cazim.


"Ayah hanya sedang kecewa, kenapa kamu tidak melibatkan ayah dalam pernikahanmu, seolah-olah ayah ini bukan siapa-siapamu. Ah ya, ayah lupa. Memang ayah ini bukan siapa- siapa bagimu. Ayah hanyalah orang yang membesarkanmu, bukan orang yang memiliki garis keturunan bagimu. Jadi memang untuk urusan pernikahanmu pun, ayah tidak punya hak apa- apa." Meski berusaha membesarkan hati, namun jelas sampai kini Fatih tampak masih tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan. 


"Common, ayah! Jangan katakan itu! Satu-satunya orang yang berhak atas aku hanya ayah." Raut wajah Cazim tampak memerah.


"Soal restu, seharusnya memang tidak perlu kau minta pada ayah. Sebab dalam hidupmu, aku memang bukan siapa- siapa. Tidak berhak pula memberikan restu. Kau bisa minta restu pada orang tua kandungmu." Fatih berucap datar saja.


"Ayah! Tolong jangan bahas itu lagi! Ayah tau bahwa aku tidak suka dengan kalimat itu!" Suara Cazim meninggi. "Aku tidak punya orang tua selain ayah. Titik." 


Melihat Cazim marah, Chesy jadi bingung. Bukankah tadi Cazim yang menenangkan dirinya supaya bisa membicarakan hal ini dengan kepala dingin? Tapi sekarang malah giliran Cazim yang emosi. Kapan drama ini akan berakhir jika terus menemukan masalah baru? 


Dan apa tadi? Ayah kandung? Lalu siapa ayah kandung Cazim jika bukan Fatih?


"Asal Kau tahu Cazim, dalam hal urusan ikatan darah, aku bukan siapa- siapa dan tidak punya hak apa pun. Dalam ajaran kita, hanya orang yang memiliki ikatan darah yang berhak atas keluarganya. Semua ini sudah diatur dalam aturan itu." Fatih terdengar lesu mengucapkan kalimat yang tidak sesuai dengan kemauannya.


"Sudahlah, ayah. Tidak perlu dibahas lagi." Cazim bangkit meninggalkan meja. Kursinya berderit keras saat terdorong mundur.

__ADS_1


Fatih pasrah meninggalkan ruangan menuju ke kamar.


Chesy yang tidak mengetahui akar permasalahan pun hanya diam mematung. Ia kemudian menyusul Cazim ke kamar. Suaminya itu duduk di pinggir kasur kecil dengan raut frustasi. Sesekali Cazim mengusap rambutnya kasar.


Oke, melihat suaminya dalam kekalutan, maka saatnya Chesy mendinginkan hatinya. 


"Mas Cazim," panggil Chesy sambil duduk di sisi suaminya. "Aku harap jangan ada masalah baru lagi ya. Kamu kan yang bilang supaya kita menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Jadi aku harap Mas Cazim nggak bikin kasus baru lagi. Ini demi mendapat restu abi kembali."


Cazim menghela napas. Ia mengusap wajah dan menatap Chesy dengan senyum samar. "Kau sangat mengharapkan restu itu ya?"


Chesy hanya memutar mata.


"Aku suka itu," sambung Cazim. "Artinya kau dangat berharap rumah tangga kita akan tetap langgeng."


Beberapa detik Cazim terdiam, sampai akhirnya ia pun berkata, "Sosok yang mengaku mama dan papaku tidak mengharapkan kelahiranku. Papa mencintai wanita yang tidak direstui oleh nenek. Papa adalah keturunan konglomerat dengan kekayaan berlimpah. Sedangkan mama berasal dari kelas sosial bawah. Inilah yang membuat nenek tidak merestui hubungan mereka. Diam-diam papa menikahi mama. Papa menempatkan mama tinggal di kontrakan, lalu mama hamil. Namun rahasia itu akhirnya terbongkar juga oleh nenek. Mama diusir dari kontrakan. Sedangkan papa tidak bisa berbuat apa-apa. Dia malah menikah lagi dengan gadis pilihan nenek. Mama ditemukan oleh ayah Fatih dalam keadaan miris. Kelaparan dan kesulitan. Mama yang masih terlalu muda itu frustasi, membenci kehamilannya, sampai akhirnya bayi itu lahir dan mama meninggal dunia. Sedangkan papa tidak memilki keturunan sampai saat ini."


"Bayi itu adalah kamu?" tanya Chesy.


"Ya."

__ADS_1


Sungguh malang nasib Cazim dan mamanya. 


"Tapi beruntung kamu punya ayah yang membesarkanmu dengan sangat baik," ucap Chesy. 


"Itulah kenapa aku hanya mencintai ayah."


"Lalu bagaimana dengan papamu sekarang?"


"Papa berusaha mengambilku ketika tahu bahwa aku adalah anak kandungnya. Dia mengakuiku sebagai anaknya, dia memintaku supaya aku pulang ke rumahnya dan hidup bersamanya setelah selama ini membiarkan mama dan aku dibuang."


"Nenekmu bagaimana? Apakah masih mau menerimamu?"


"Justru oma yang minta supaya papa mengambilku, itu karena oma sadar menantu kesayangannya tidak bisa memberikan keturunan."


Di balik kisah hidup Chesy yang rumit, ternyata Cazim juga memiliki latar belakang yang cukup miris. Tidak semua orang terlahir dengan disambut kebahagiaan, ada banyak sisi kehidupan lainnya. 


Mungkin inilah yang dimaksud oleh Alando tentang dua ayah yang dimiliki oleh Cazim, yaitu ayah Fatih yang membesarkan Cazim dari bayi. Juga papa kandungnya.


"Ayah hanya sendirian saat membesarkanku, ibu sudah meninggal sebelum ayah menemukan mama. Itulah sebabnya ayah hanya mengabdikan hidupnya untuk aku. Jadi, aku hanya mengakui ayah sebagai orang tuaku. Bukan siapa pun."

__ADS_1


Chesy melihat kilat dendam dan sakit hati di mata Cazim. Ternyata luka sejak kecil membuatnya marah pada orang tua kandungnya.


Bersambung


__ADS_2