Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sikap Tak Biasa


__ADS_3

Melihat sikap tak biasa yang ditunjukkan Rival, Revalina masih berusaha untuk berpikir positif lebih dulu meski tak bisa dipungkiri dari lubuk hati terdalam ia merasa bingung sekaligus kesal dengan sikapnya.


'Mungkin Mas Rival capek habis jalan dari Masjid ke rumah,' ucap Revalina dalam hati.


"Reva," panggil Yakub dari ruang tengah melirik ke arah Revalina.


"Iya Kak," sahut Revalina langsung menoleh ke arah Yakub.


"Kamu besok libur kerja kan?" tanya Yakub sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Iya Kak, sudah dikasih surat dispensasi sama Kak Rafa cuma setelah sidang aku harus kembali ke kantor," jawab Revalina.


"Yah kenapa dispen, jelas suruh balik lagi. Tapi nggak papa lah yang terpenting kau datang ke sidang besok," sahut Yakub dengan nada berat.


Setelah berbincang dengan Yakub menyinggung agenda besok ia jadi terpikirkan kembali akan sikap Rival, otaknya secara otomatis membandingkan agenda besok dengan sikap Rival padanya.


'Ya Tuhan jangan-jangan Mas Rival memang lagi marah sekarang,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


Revalina mulai gusar, tak tenang jika saling diam secara terus-menerus.


"Kak, aku ke kamar dulu ya," pamit Revalina pada Yakub.


"Oh iya," sahut Yakub dengan senyum ramahnya.


Setelah berpamitan dengan Yakub, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk melihat suaminya. Setibanya di sana terlihat Rival tengah bermain ponsel dengan terduduk di atas ranjang tanpa meliriknya sedikitpun, melihat sikap Rival yang lagi-lagi dingin padanya sudah tak salah lagi memang suaminya ini tengah marah padanya.


"Huhh," Revalina mengembuskan nafas beratnya dengan lirih dan perlahan.


'Nggak bisa dibiarkan ini,' ucap Revalina dalam hati.


Dengan hati dan perasaan yang masih bergejolak menahan kekesalan Revalina memaksa dirinya untuk mendekati Rival.


Perlahan Revalina mulai terduduk di atas ranjang tepat di samping dekat Rival, saat itu Rival baru mau melirik namun masih enggan menyapanya.


"Mas, capek ya?" tanya Revalina sembari memandangi wajah Rival yang terus menunduk menatap benda pipihnya.

__ADS_1


Tapi bibir Rival tetap membisu, membuat hati Revalina terasa seperti patah secara terpaksa. Meski begitu ia tak putus asa, dengan segenap jiwanya kembali mengumpulkan serpihan hati itu.


"Mas, kamu capek ya jalan kaki dari Masjid?" tanya Revalina kembali namun dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Sekuat apapun tetap saja sebagai wanita tetap rapuh juga, sampai ia tak sanggup menahan matanya untuk terus kering.


Seketika Rival langsung mengangkat dagunya, menatap Revalina dengan tatapan sendu. Nampaknya ada rasa penyesalan yang membuat Rival menatap dirinya seperti ini.


"Aku mau istirahat, kamu istirahat juga ya," ucap Rival mulai merebahkan tubuhnya dan langsung membalikkan dengan membelakangi Revalina.


Sontak Revalina terbelalak melihat Rival yang terlihat sangat berbeda dadi biasanya "Mas, tapi ini masih sore belum juga sholat isya' sudah mau tidur saja kau?"


Tak langsung menjawab pertanyaan Revalina, mulutnya seketika terkunci beberapa detik lamanya.


"Istirahat, kan aku bilang istirahat bukan tidur," jawab Rival dengan jelas.


Ia masih berusaha mencerna jawaban Rival yang menurutnya sama saja, tapi entahlah ia tak ingin mendebat lagi sudah cukup Rival mau menjawab pertanyaannya meski sikapnya masih terasa dingin.


Perlahan Revalina beranjak "nanti aku bangunkan buat sholat isya' sama makan malam kalau Mas ketiduran habis itu kita bicara ya."


Tak ada sahutan, sepertinya Rival sudah tertidur. Melihat hal itu Revalina cepat-cepat beranjak pergi dari sana memberi suaminya waktu untuk sendiri.


Revalina kembali menutup pintu kamar.


Di saat yang bersamaan setelah ia menutup pintu, tak sengaja melihat Yakub dan Sarah tengah bercanda gurau di ruang tengah tak menunjukkan kepentingan atau ketegangan menyambut sidang pertama besok.


Mendapati mereka yang nampak biasa saja bahkan bisa tertawa ria membuat Revalina penasaran, lantas ia pun bergegas menghampiri mereka.


"Lagi ngomongin apa sih seru sekali," ucap Revalina mulai bergabung dengan mereka, duduk di satu sofa seorang diri menghadap ke arah dua Kakak iparnya itu.


Seketika Yakub dan Sarah mengalihkan senyum dan pandangan mata ke arah Revalina secara bersaman.


"Reva, enggak ada yang seru malah receh sekali nggak ada lucu-lucunya sebenarnya," sahut Sarah sembari terus tersenyum lebar.


Tanpa bicara Revalina menatap Yakub dan Sarah dengan tatapan ekor matanya sembari tersenyum meledek, satu hal yang membuat ia ragu dengan jawaban Sarah yaitu pada kedutan di kedua sudut bibirnya yang menandakan jelas bahwa di tengah menahan tawanya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Ah, bohong kalau receh dan nggak lucu nggak mungkin Mbak Sarah tertawa terbahak-bahak seperti tadi, ini saja sudah tertawa lagi kan," ledek Revalina akan jawaban Sarah.


"Hahaha," tawa lepas Sarah tak terkendali.


Reflek Sarah langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, di saat yang bersamaan kedua bola mata terbelalak sampai seperti mau keluar saja.


"Gimana sih," ucap Yakub dengan wajah datar mulai menggeleng-gelengkan kepalanya.


Awal mula Revalina dan kedua Kakak iparnya ini masih berbincang dengan pembahasan ringan, sampai lama kelamaan pada akhirnya ia berani untuk membuka pembicaraan ke arah serius.


"Kak, aku mau tanya Mas Rival memangnya dari tadi badmood begitu?" tanya Revalina dengan kening mengerut tajam.


"Rival, emmm," ucap Yakub lirih sembari melihat-lihat ke atas.


Tatapan dan nada bicara Yakub seperti tengah menggali ingatannya tentang Rival hati ini, ditambah lagi gumamannya yang semakin meyakinkan bahwa memang Yakub masih mengingat-ingat sesuatu.


Tak hanya Revalina yang kini menunggu-nunggu jawaban Yakub, tali Sarah pun ikut menunggu terlihat dari tatapan matanya yang tak lepas dan berkedip dari Yakub.


"Tadi itu pas berangkat kita baik-baik saja, Rival banyak bicara sepanjang perjalanan tapi waktu pulang memang sedikit berbeda dia jarang bicara," jawab Yakub kembali menatap Revalina.


Mendengar hal itu Revalina pun seketika langsung menaikkan atensinya setelah menemukan secuil jawaban dari segala pertanyaan di kepalanya.


"Kakak tahu apa yang bikin Mas Rival banyak diam waktu pulang dari Masjid?" tanya Revalina kembali masih begitu penasaran.


"Kalau soal itu, aku nggak tahu karena shaf kita saja nggak sama, dia ada di barisan depan sementara aku dapat bagian belakang," jawab Yakub dengan wajah kebingungan.


"Ih, apa hubungannya," gerutu Sarah dengan kedua mata memicing, kesal.


Lirikan mata Yakub seketika menusuk tajam ke arah Sarah, namun terlihat sekali hanya sebuah candaan terlihat dari senyum tipis pada masing-masing bibir mereka.


"Ada hubungannya ya, kita nggak pernah tahu sebelum sholat terjadi apa dan begitupun selepas sholat," jawab Yakub.


Kepala Sarah menggeleng tak percaya, agaknya dia merasa jawaban Yakub tak bisa diterimanya secara utuh atau bahkan secuil pun tak bisa.


Di tengah candaan Yakub dan Sarah yang terbungkus oleh kalimat bernada kesal, saat ini Revalina justru berpikir keras tentang perubahan sikap Rival yang belum terpecahkan.

__ADS_1


"Kira-kira ada apa ya Kak, aku jadi cemas," ucap Revalina lirih lemas.


Bersambung


__ADS_2