
Setelah berdebat cukup panjang pada akhirnya Rival tak bisa mempertahankan Revalina untuk tetap bersamanya, dia kalah dengan Rafa dan Chesy yang mengaku lebih berhak atas Revalina. Sementara itu Revalina dengan tubuh lemasnya hanya bisa pasrah dibawa pulang keluarganya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Revalina kecuali mengalah pada keadaan, pasrah untuk kebaikan supaya situasi tidak semakin runyam.
Dengan menggunakan kursi roda perlahan Revalina di dorong menuju ke mobil yang sudah siap di depan sana.
Ternyata bukan hanya Rival saja yang diberi kesempatan merasakan duduk di atas kursi roda, Revalina pun dikasih giliran menikmati duduk di kursi itu.
"Reva," panggil Rival lirih, sedih melepas kepergian Revalina.
"Mas," sahut Revalina lebih sedih lagi.
Tak pernah ia sangka sebelumnya perpisahan ini akan terulang kembali, namun kali ini terasa begitu perih karena Umi dan Kakaknya sendiri yang memisahkan.
Tatapan antara Revalina dan Rival terpisah ketika Revalina disuruh masuk ke mobil. Ternyata tidak sulit membuat dunia Revalina runtuh, cukup pisahkan saja dia dengan Rival, maka semuanya hancur.
Di situasi seperti inilah Revalina bisa mengukur perasaannya terhadap Rival. Lebih dalam dari jurang sekali pun.
***
Di rumah, Revalina hanya terbaring lalu termenung menatap langit-langit kamarnya, ia masih kepikiran dengan Candini yang keluar dari rumah, juga memikirkan hubungannya dengan Rival.
Kenapa situasi jadi seperti ini? Tuhan, kuatkan Revalina.
"Reva, makan dulu yuk habis itu minum obat," ucap Chesy yang melangkah masuk ke dalam kamar sembari membawa satu nampan berisi makanan dan minuman.
Revalina menatap makanan yang dibawa. Tak lain makanan buatan Chesy, kesukaan Revalina. Tapi entah kenapa Revalina sama sekali tidak tertarik dengan makanan itu. Nafsu makannya hilang entah kemana.
Tanpa menyahut ucapan Chesy, Revalina langsung membalikkan tubuhnya sengaja memunggungi Chesy.
"Reva, makan dulu Nak," bujuk Chesy.
"Aku nggak mau makan Umi," sahut Revalina masih dengan nada bicaranya yang sopan, lirih dan tercekat.
"Reva, jangan begitu kamu harus makan supaya bisa cepat sembuh, ini demi kesehatanmu. Umi hanya menginginkan yang terbaik untukmu," bujuk Chesy kembali.
"Kenapa Umi?" tanya Rafa.
Mendengar suara Rafa, tiba-tiba Revalina jadi takut. Ia takut pada Rafa yang masih menyimpan kobaran amarah.
"Reva nggak mau makan, tolong coba kamu yang bujuk siapa tahu mau," jawab Chesy cemas.
"Reva," panggil Rafa dengan keras. "Nggak perlu seperti anak kecil. Kamu itu kan wanita kuat. Bagaimana mungkin malah kelihatan lemah begini?"
"Rafa, jangan seperti itu bicara yang lembut," tegur Chesy seketika sesaat setelah Rafa membentak.
"Aku nggak suka kamu nggak menghargai Umi, cara kamu memunggungi Umi seperti ini sama saja kamu nggak menghargai Umi," tegur Rafa dengan suara lantangnya.
Saking kesalnya, napas Rafa sampai tersengal.
"Aku nggak pernah mengajari mu begini," sambung Rafa.
Tak terasa air mata menetes menggenang di pipi, Revalina merasa ia tak punya hak untuk menyuarakan isi hatinya sementara semua secara sepihak memutuskan apa yang menurut mereka baik.
Perlahan Revalina mulai membalikkan tubuhnya namun enggan menatap Rafa saat ini, entah kenapa menatap mereka rasanya dada ini sesak sekali.
"Aku nggak mau makan, aku nggak lapar," ujar Revalina sembari menelan salivanya.
"Lapar nggak lapar kau harus makan," sahut Rafa dengan cepat.
"Rafa, jangan terlalu keras," tegur Chesy berulang kali.
Namun Rafa tak menggubris semua teguran Chesy, dia benar-benar masih dalam posisi darahnya yang masih mendidih.
"Aku keluar dari sini, sejam lagi kalau aku masih lihat makanan dan minuman itu nggak habis. Aku pastikan kau tak akan pernah bisa ketemu Rival selamanya, hidup kamu bukan untuk meratapi," ancam Rafa bersungguh- sungguh.
Seketika air mata Revalina kembali jatuh, rasanya sakit sekali mendengar ancaman Rafa kali ini yang begitu sadis mencabik-cabik hatinya.
"Reva," panggil Chesy panik, langsung mengambil tisu untuk mengusap air mata Revalina.
__ADS_1
Sementara Rafa yang telah mengeluarkan kalimat ancamannya, langsung melenggang pergi keluar dari kamar Revalina sembari mendengus kesal.
Fokus Revalina sekarang benar-benar terpecah belah, antara merasakan rasa sakit mendengar ancaman itu dan rasa bahagia melihat perhatian Chesy yang kembali ia rasakan setelah beberapa Minggu menjadi istri Rival.
Perlahan Revalina menghentikan tangan Chesy yang tak berhenti mengusap air matanya yang juga tak berhenti mengucur.
"Umi," panggil Revalina menatap Chesy dengan sangat dalam.
"Iya Nak," sahut Chesy dengan cepat.
"Terimakasih Umi, maafkan sikap Reva tadi," ucap Revalina lirih sedih.
"Nggak papa sayang, Umi mengerti kamu lagi sedih sekarang. Sabar ya Nak tunggu semua membaik," sahut Chesy sembari tersenyum.
Mendengar sahutan Chesy, seketika membuat Revalina sedikit merasa tenang meski tak menjamin dirinya akan kembali bersama Rival setelah apa yang sudah terjadi hari ini.
Malam itu Revalina mulai menyantap makanan yang sudah disajikan Chesy dengan disuapi, perlahan sedikit demi sedikit ia mulai menelan makanan itu sesekali merasakan pusing yang tiba-tiba kembali menyerang. Lehernya tercekat, sulit sekali menelan makanan. Pada akhirnya ia hanya mampu menyantap setengah makanan itu dan langsung buru-buru minum obat.
"Langsung istirahat ya," ucap Chesy sembari menyelimuti tubuh Revalina.
"Iya Umi," sahut Revalina sembari melempar senyum termanis ke arahnya.
Revalina berbaring. Memejamkan mata, membiarkan Chesy keluar kamar sesaat setelah mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur, lalu menutup pintu.
********
POV Rival
Tiba di rumah yang terasa sunyi tak ada lagi Candini dan Revalina, hidup Rival sekarang terasa hampa meski Yakub dan Sarah memutuskan tinggal di rumah ini sampai semuanya kembali membaik.
"Rival, aku mau bicarakan semua masalah ini malam ini juga," ujar Yakub.
"Silahkan," sahut Rival lirih lemas.
Di ruang tengah berada mereka pun memulai perbincangan, Sarah sebagai satu-satunya wanita di sini hanya terdiam menyaksikan suami dan adik iparnya berbicara.
Rival terdiam, memberi waktu untuk Yakub berbicara sampai tuntas.
"Aku lihat kau tak bersemangat saat kau menangkap Dalsa, apa kau tak ingin Dalsa mempertanggungjawabkan perbuatannya?" tanya Yakub menatap Rival dengan tatapan intimidasi.
"Kakak mana yang mau adiknya di penjara, iya aku tahu dia salah aku juga ingin dia bertanggung jawab tapi dari lubuk hati terdalam aku berat melihat adik yang selama ini aku jaga dan selama ini aku sayangi berada di balik jeruji besi," jawab Rival dengan jelas tanpa berbelit-belit.
"Justru sikap mu yang seperti itu akan buat Dalsa semakin besar kepala, asal kau tahu dia sampai di detik-detik terakhir saja masih nggak mau minta maaf sama keluarga Revalina," ungkap kekecewaan Yakub.
Rival terdiam sejenak memikirkan ucapan Yakub, saat ini butuh proses pada otaknya untuk mencerna dan memikirkan apapun sebab otak dan kepalanya sekarang benar-benar penuh dengan masalah dan sebagian besar dipenuhi oleh permasalahannya dengan Revalina.
Setelah melalui proses berpikir yang tak singkat ini akhirnya Rival memahami maksud Yakub, namun sejak awal ia juga tahu maksud Yakub bersikap keras terhadap Dalsa.
"Maaf Kak, untuk urusan hati aku memang lemah aku nggak bisa setegas kamu. Aku akui kau hebat bisa kuat menyeret Dalsa ke kantor polisi padahal hati mu remuk saat itu," ucap Rival dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Terkadang rasa sayang nggak perlu pakai hati, cukup pakai aksi, meski aksi itu perih tapi percayalah kalau rasa sayang itu akan kembali dengan versi yang lebih baik bahkan sempurna," jelas Yakub mulai menitihkan air matanya. "Dengan hukuman, Dalsa mungkin akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
Seketika Yakub langsung mendapatkan pelukan dari Sarah, tak disangka Yakub yang terbilang kaku dan seperti orang yang pantang menangis kini untuk pertama kalinya Rival melihatnya menangis seperti ini.
Melihat sang Kakak menangis, Rival akhirnya ikut tertular menangis.
"Besok kita besuk Dalsa ya," ajak Sarah pada Yakub dan Rival.
"Iya Mbak," sahut Rival yang benar sudah rindu dengan adik tercintanya itu.
"Jangan, jangan buat dia bergantung biarkan dia selesaikan masalahnya sendiri sampai dia temukan kerendahan hati untuk mengakui perbuatannya serta meminta maaf sama keluarga Revalina.
Ketika Yakub mengeluarkan kalimat larangan semua langsung terdiam termasuk Rival yang mengiyakan ajakan Sarah.
Setelah beberapa lama membahas tentang Dalsa, kini akhirnya Yakub mengganti topik pembicaraan.
"Sekarang kita beralih ke Mama, gimana cara kita cari Mama?" tanya Yakub menatap bingung.
"Kalau itu justru gampang, karena Mama nggak akan kemana-mana," jawab Rival dengan santainya.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Yakub sembari mengerutkan keningnya.
"Tadi Tante Cindy kasih kabar kalau Mama menginap di sana, tapi dia diam-diam kasih kabar supaya Mama nggak pergi," jawab Rival dengan jelas.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Yakub lega mendengar jawaban Rival.
"Terus gimana hubungan mu sama Reva, apa perlu besok kita datang ke rumah Tante Chesy?" tanya Yakub masih cemas.
Akhirnya perbincangan yang tunggu-tunggu tiba, Yakub menanyakan soal Revalina hal ini yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
"Soal itu.... Nanti saja aku pikirkan," sahut Rival lirih, lemas.
"Nggak boleh nanti-nanti, kamu harus pikirkan sekarang juga sebelum semuanya terlambat," tegur Yakub.
"Aku juga inginnya begitu."
"Kamu mencintai Revalina kan?"
Pertanyaan Yakub membuat hati Rival mencelos. Ada sayatan tak kasat mata di dalam sana. Hatinya kebas. Dia teringat Revalina.
Ah, kapan ia bisa berkumpul lagi dengan Revalina seperti dulu lagi?
"Kau harus secepatnya menemui Revalina, bila perlu kau ajak kami bersamamu," imbuh Yakub bijaksana.
"Makasih, Mas. Aku saat ini benar- benar belum bisa berpikir jernih. Tapi aku pastikan akan menemui Revalina. Dia istriku."
"Apa pun itu, aku mendukungmu selagi itu untuk kebaikan kalian berdua. Ingat, secepatnya kau harus temui Revalina," ulang Yakub dan diangguki oleh Rival.
Ucapan Yakub itu terus terbawa Rival ke dalam mimpinya, semalaman ia gusar ketika tidur lalu secara berulang-ulang terbangun dengan posisi kaget.
Tepat jam sebelum adzan subuh berkumandang, Rival melirik dan meraba ranjangnya pada bagian kiri, bagian yang biasa Revalina tiduri.
"Reva, gimana kabar mu sekarang. Aku rindu," ucap Rival sembari memandangi bantal yang biasa dipakai sang istri. "Apa kau juga memikirkan aku? Apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
Seluruh sudut ruang kamar ini memiliki kenangan tersendiri tentang Revalina yang membuatnya tak berhenti menghapus bayang-bayang Revalina untuk sejenak saja.
Hidupnya ini benar-benar merana, tak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan di pisahkan dengan isinya oleh keluarga masing-masing.
Hatinya remuk tatkala kini ia menunaikan ibadah subuh seorang diri tak lagi berjamaah dengan Revalina, selepas salam Rival langsung menciumi mukena yang biasa digunakan Revalina untuk sembahyang.
"Harumnya mukena ini membuatku teringat wangi tubuh Reva, aku jadi rindu ingin memeluknya, aku sungguh ingin bertemu denganmu, sayang," gumam Rival.
"Reva, maafkan aku. Aku sudah gagal mempertahankan kamu, benar kata Kakak mu, dia lebih berhak tas kamu," ucap Rival kembali mengingat kejadian di rumah sakit tadi.
Pagi harinya Rival dengan tubuh yang sudah bersih perlahan keluar dari kamar tanpa bantuan tangan Revalina yang biasa mendorongkan kursi rodanya.
Sekarang, semua benar- benar terasa berubah. Rival merasa sendirian, kehilangan Revalina.
"Pagi Rival," sapa Sarah tersenyum tipis ke arahnya.
"Pagi Kak," sahut Rival tersenyum juga ke arahnya. Senyuman tipis yang membuat wajah tampannya makin menawan. Sayangnya senyuman itu tidak lepas, tapi tertahan.
"Kita sarapan yuk, Kakak mu sudah menunggu di ruang makan tuh," ajak Sarah perlahan mulai mengambil alih kendali kursi roda.
Terlihat kondisi mental Yakub lebih baik dari kemarin, berbeda dengan Rival yang masih saja acak-acakan apalagi setelah mencium mukena miliki Revalina. Balutan rindu dalam benaknya membuatnya menjadi seperti ini, lemas karena rindu tak tersalurkan.
Seisi rumah menyisakan kenangan tersendiri. Tidak mudah bagi Rival menjalani kenyataan ini.
"Kita sarapan roti dulu ya, di kulkas nggak ada lagi stok makanan soalnya," ujar Sarah.
"Iya Kak nggak papa, ini sudah lebih dari cukup," sahut Rival mulai mengambil selembar roti tawar dan mengunyahnya. Entah bagaimana roti yang biasanya enak, kini mendadak jadi tidak enak.
Rival tahu saat ini Sarah tengah malu keluar rumah karena pasti banyak tetangga akan bertanya tentang kehebohan semalam atau bahkan mereka semua telah mendengar permasalahan yang terjadi pada keluarga ini.
"Nanti aku coba pesan belanja sahut sama bahan-bahan masakan di situs online, jadi siang nanti kita nggak makan roti lagi," ujar Sarah.
"Atur saja gimana baiknya," sahut Yakub dengan santai.
"Dan kau, mau kapan jemput Reva?" tanya Yakub beralih menatap Rival yang ada di hadapannya.
__ADS_1