
Perlahan tangan Chesy mulai melingkar di tangan Revalina, menggiringnya masuk ke dalam acara yang sudah di mulai sejak beberapa menit yang lalu. Ketika melintasi salah satu gerbang acara dengan berhiaskan bunga-bunga entah kenapa jantung seakan terpompa dengan sangat cepat dan semakin cepat ketika seluruh pasang mata menatap ke arahnya.
Namun tak kalah mendebarkannya ketika menyadari salah satu kursi barisan keluarga yang duduk tepat di belakang Rival, dialah Candini. Mama kandung Rival yang tak disangka akan hadir dalam prosesi akad.
'Syukurlah, aku sangat bahagia jika semua hadir. Meski aku menikah bukan karena hati tapi aku ingin menjaga hati Umi,' ucap Revalina dalam hati.
Perlahan Revalina duduk di samping Rival, duduk tegap namun tak setegap Rival yang lebih terlihat begitu tegang.
Tak lama terasa lembut dua kain membalutnya jadi satu, dengan cepat tangan meraih jabatan tangan Rafa sebagai wali mengucap ijab kabul saat itu juga dengan mata merah berkaca-kaca.
Sederet ucapan sakral yang diserukan oleh Rival telah mengubah status Revalina detik itu juga menjadi istri seorang dosen.
Seruan para saksi serentak mengucap kata 'sah' makin meyakinkan Revalina bahwa ia kini benar-benar telah resmi menjadi bagian hidup Rival.
"Alhamdulillah," ucap semua kecuali Revalina.
Doa langsung diserukan Bapak penghulu lalu diamini oleh semua tamu undangan yang berperan dalam prosesi akad tersebut.
Seketika selesai Rival langsung membacakan doa ke kepala lalu tak disangka juga ke dadanya, beruntung ia sudah mempelajari hal ini jika tidak tangan ini sudah habis kena babak belur olehnya.
Terakhir, barulah Revalina mencium tangan Rival untuk pertama kalinya lalu Rival mencium kening Revalina.
"Hihiwww," sorak para tamu yang menyaksikan adegan itu, sama-sama tahu bahwa itu dilakukan keduanya pertama kali dalam hidup.
"Reva," panggil Chesy dengan derai air mata memeluk putrinya dengan erat.
Revalina pun tak lagi mampu membendung rasa sedihnya melepas status lajang dengan adanya sesuatu dibalik ini, bayang-bayang Rajani terus menghantui pikirannya juga bayang-bayang kesalahan pada almarhumah Abi juga, entah kenapa ia yakin Abi di sana tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang.
__ADS_1
'Maafkan aku Abi, kalau Abi masih ada pasti Abi akan sangat kecewa dan marah padaku kalau tahu aku menikah untuk dendam. Tapi bagaimanapun jika tidak begini Abi, bagaimana aku bisa kumpulkan bukti kejahatan mereka terhadap Rajani, sungguh aku nggak rela pelaku-pelaku itu hidup bebas di luaran sana,' ucap Revalina dalam hati.
"Selamat ya anakku sayang, Umi berdua semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Chesy lirih tepat di telinga sisi kiri Revalina.
"Anak Umi, besok sudah nggak ada lagi suara bising mu di rumah. Umi akan sangat rindu padamu nak," ucap Chesy dalam pelukan Revalina.
Perlahan dengan sangat lembut Revalina melepas pelukan Chesy padanya.
"Terimakasih untuk doanya Umi. Umi jangan sedih, Reva janji akan sering-sering main ke rumah atau kalau perlu menginap selamanya. Hahahaha, namanya numpang itu mah," jelas Revalina dengan santai.
"Kamu ini, itu juga rumah kamu jadi nggak ada istilahnya numpang," tegur Chesy sedikit kesal.
Karena itu lah tangisannya terhenti, kedua tangan mulai berhasil mengusap seluruh air matanya.
Setelah puas berucap Chesy mundur mempersilahkan yang lain berbincang pada Revalina.
"Reva, selamat. Sekarang kau sudah resmi.jadi adik ipar ku, semoga jadi keluarga sakinah dan buat kado nya menyusul ya aku tadi lupa belum beli," ucap Yakub dengan senyum khasnya.
"Bisa-bisanya bilang begitu, giliran ke aku saja mintanya nggak ngotak sama sekali," Rafa cepat-cepat menyela pembicaraan dengan wajah datarnya yang seakan muak demgan sahutan Revalina kini.
Yakub mundur sembari tersenyum lebar tahu akan maksud Rafa.
"Ya sudah selamat ya, doa terbaik buat kalian berdua dan semoga selamat sampai hari akhir dan satu lagi," ucap Rafa menatap Revalina dengan sejajar, enggan memeluk seperti Chesy barusan.
"Sudah itu saja, nggak ada kado gitu?" tanya Revalina sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.
Seketika reflek wajah Rafa yang datar jadi berubah makin datar dan kusut, tubuhnya melemas ketika mendapat informasi dadakan setelah semua selesai.
__ADS_1
"Tuh kan Yakub, lihat sendiri kalau sudah sama Kakaknya sendiri sepeti rentenir tapi kalau sama kamu beda sendiri," ucap Rafa sambil menunjuk-nunjuk ke muka Revalina.
Yakub hanya tertawa melihat kerusuhan dua saudara yang tiada henti melempar serangan, berbeda dengan keluarganya yang adem ayem saling berpelukan memeluk erah Rival tanpa memberinya celah.
Dan yang ditunggu-tunggu tiba, Candini menghampirinya. Menebar senyum tiada habisnya dan sepertinya janda.
"Tante," sapa Revalina lebih dulu dengan suara lirih lembut.
"Jangan panggil Tante. Panggil saja Mama," sahut Candini menolah sebutan Tante dari dirinya, ia sangat menginginkan sebutan Mama lah yang pas untuknya.
Seketika senyum di kedua sudut bibir Revalina tak mampu terbendung untuk keluar sebentar, tapi ada saja alasannya. Menjadi pertanyaan besar, kenapa hanya sekedar mereka bergerombol dengan alasan hanya ingin tahu informasi segala melainkan menjulidi karena dia tiap.menit kan gitu kan.
"Mama," panggil Revalina untuk pertama kali.
Tak seperti Uminya yang mampu menggebrak pertahanan tebing tinggi yang ku bangun tinggi-tinggi.
"Beda sama Mama Candani yang justru sangat kaku, sangking kakunya terkesan seperti sedang cosplay jadi patung jalanan," ucap Revalina kembali dalam hatinya lirih.
Candani mendoakan segala yang terbaik bagi Revalina dan Rival, bahkan membisikinya jika dirinya ingin punya cuci kembar pula.
Semua menghampirinya memberikannya doa dan perhatian, lain halnya dengan Dalsa yang enggan menghampirinya apalagi memberi doa padanya, dan hebatnya tidak ada satu pun anggota keluarga yang menegur.
'Kalau begini ceritanya gimana caranya dunia periparan bisa akur,' gerutu Revalina dalam hati kesal.
Sejak awal ketika selepas doa selesai diucapkan Dalsa memilih berundur pergi meninggalkan acara di tengah-tengah, entah pemakluman apa yang di beri keluarga mereka terhadap Dalsa.
Kenapa harus sangat berbeda dengan dirinya yang tidak bisa seenaknya memperlakukan seseorang. Meski di belakang orang tua dirinya dan siapapun itu termasuk dia musuhan, namun tak pernah menunjukkan secara terang-terangan. Semua terjadi beriringan dengan kalimat manis yang selalu dia katakan untuk merayu.
__ADS_1
'Tidak mungkin aku merayu Dalsa supaya dekat, aku jenuh jika terus begini, sebenarnya kalau aku dan dia baikan, aku lebih mudah untuk mendapatkan bukti banyak.'
Bersambung