Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Wanita Modis


__ADS_3

“Pak Rt, ayah saya ada di dalam?” tanya Cazim.


“Ada.  Ayo, masuk!”  Pak RT membmbing langkah Cazim memasuki rumah.


Sudah ada beberapa orang di dalam yang tampak sibuk.  


Kenapa rumah menjadi ramai begini?  


Cazim melewati ruang tamu, memasuki ruangan lain.  Tubuhnya membeku di tempat saat melihat sosok yang terbujur kaku di lantai, sudah ditutupi kain kafan.  


“Ayahmu meninggal.  Sepertinya sudah sejak tadi malam beliau tidak ada.”  Pak Rt menjelaskan.  “Kami terlambat mengetahuinya karena beliau tinggal sendirian, sehingga tidak ada yang memergoki lebih awal.  Tadi ada pegawai pak Fatih yang datang setiap pagi seperti biasanya, dialah yang mengetahui bahwa ayahmu sudah tiada.”


Lutut Cazim ambruk ke lantai.  Ia mengangkat tangan dan membuka kain di wajah Fatih.  Wajah itu sudah memucat, terpejam seperti sedang tidur.


Wajah Cazim jatuh ke atas kedua tangan ayahnya yang terlipat.  Ia belum sempat memberikan penjelasan apa pun terhadap ayahnya.  Ia belum sempat memberikan pengertian pada ayahnya bahwa ia ingin bertaubat atas semua kejahatannya.  Ia pun belum sempat memberikan kebanggaan.  Justru di akhir usia ayahnya, ia memberikan kesan buruk yang dibawa mati.


Jasa ayahnya yang tidak terhitung, malah terbalas dengan luka.  Cazim menraih tangan dingin Fatih. Mencium punggung tangan itu.


“Maafkan aku, ayah!”  Cazim menunduk.  Selama ini ia tiak terpengaruh saat divonis penjara, juga tidak masalah meski harus menjalani hidup di dalam tahanan.  Tapi melihat ayahnya meninggal disaat ia belum berhasil memberikan ketenangan jiwa sang ayah, hatinya kacau sekali.


“Sabar ya!”  Pak Rt mengelus singkat pundak Cazim.


Hamdan yang baru saja menyusul masuk pun menatap iba.  


***


Beberapa hari setelah kematian Fatih, Cazim meminta kepada pegawai bakso yang bekerja di rumah Fatih untuk tetap melanjutkan pekerjaan itu.  Cazim memberikan kepercayaan kepada pegawai itu untuk mengelola bisnis bakso.


“Aku mau pergi, kau jaga rumah, jaga pekerjaan ini.  Anggap dagangan bakso ini adalah milikmu, maka begitu pula kau menjaganya!” pinta Cazim pada pegawai itu.

__ADS_1


Si pegawai yang mukanya polos seperti donat tanpa lapisan gula itu pun megangguk senang. 


“Dan Alando akan membantumu.  Semua pekerjaan koordinasi saja pada Alando.”  Cazim menepuk pundak Alando yang ditunjuk sebagai pimpinan.


“Siap!” pegawai mengangguk patuh.


“Oh ya, kau tahu istriku kan?” tanya Cazim pada pemuda yang sering dipanggil Narvel itu.  dia adalah pegawai yang jujur.  Nomer ponsel Chesy tidak dapat dihubungi.  Wanita itu mungkin sudah mengganti nomernya.


“Maksudnya Mbak Chesy?”


“Iya.  Dimana dia?  Apakah dia tinggal di sini selama aku tinggalkan?”


“Dulu iya.  Setelah Mas Cazim ditahan beberapa bulan, Mbak Chesy meninggalkan rumah ini, pamitan sama bapak dan bilang kalau dia mau pulang ke rumah orang tuanya.”


“Baiklah.  Kau boleh mulai bekerja kembali.”  Pegawai itu pun berlalu ke belakang.


Tatapan mata Cazim kini tertuju pada mata Alando.  “Al, apa kau tahu dimana keberadaan Chesy?”


“Jangan memperlihatkan wajah bingungmu itu, makin membuatku pusing saja.  ya sudah, aku pergi.”


“Kemana, Bang?” tanya Alando.


“Mencari Chesy.”


Alando mengangguk.


Cazim melangkah keluar.  Baru saja menginjak halaman rumah, ia melihat seorang wanita dengan penampilan modis berjalan ke arahnya.


“Azzam!”

__ADS_1


Nama itu dipanggil oleh wanita berusia lima puluh tahun namun wajahnya jauh lebih muda dari usianya.  Rambutnya berwarna cokelat dan ujungnya memakai cat rambut lebih terang.  Tas di tentengannya mahal.


Cazim menatap wanita itu datar saja.  Ia tidak mengenali wanita itu.  


“Aku Rebecca, mama tirimu,” sebut wanita itu.


Cazim melengos meninggalkan wanita itu.  Untuk apa ia meluangkan waktu bicara dengan wanita yang selama ini menjadi pengaruh besar bagi papanya?  Dialah wanita yang menjauhkannya dari papa kandungnya.  Sayangnya dia tidak bisa memiliki anak.  Dan sekarang sibuk mencari Cazim untuk diakui sebagai anak.  


Selama hidup bersama dengan Fatih, Cazim sering membicarakan wanita itu, namun tidak pernah saling bertemu.


“Cazim, aku ingin bicara denganmu!” teriak Becca sambil mengejar langkah Cazim.  Sepatu high heel di kakinya membuatnya kesulitan berjalan dengan cepat.


Cazim terus berjalan hingga sampai ke pinggir jalan.  Ia menunggu taksi, atau mungkin ojek.


“Cazim, pulanglah ke rimah!” pinta Rebecca.


Cazim emmalingkan pandangan tanpa mau menggubris.


“Pulanglah ke rumah sekarang!”


“Permintaan apa ini?”  Cazim menatap wajah wanita yang mengaku sebagai ibu tirinya.  “Hamdan sudah mengabarimu bahwa aku masuk tahanan, tapi berita itu mungkin tidak sampai pada Tuan Diatma.  Kau sembunyinya kabar itu darinya, hm?  Kau sengaja tidak smapaikan bukan?  Selama ini Tuan Diatma bolak- balik menemuiku, memintaku supaya ikut dengannya dan tinggal seatap dengannya, tapi saat aku butuh bantuannya, kenapa dia tidak datang?  Dlaang dari semua itu adalah kau.  kau sengaja tidak sampaikan pesan Hamdan kepada Tuan Diatma.”


“Cazim, kau keliru.”


“Baiklah, kalau aku keliru, lalu apa yang benar?  Sekarang jawab pertanyaanku, apakah kau menyampaikan pesan Hamdan kepada Tuan Diatma?”


“Tidak.  Aku memang tidak sampaikan pesan itu kepada papamu, tapi itu bukan tanpa alasan.”


“Bagus.  Ini sudah menjadi jawaban!”  

__ADS_1


Sebuah taksi berhenti di depan.  Segera Cazim memasuki taksi dan meninggalkan wanita modis yang memanggil- manggilnya itu.


Bersambung


__ADS_2