
"Kenapa harus pindah?" tanya Rival kebingungan.
Melihat reaksi Rival sekarang, ia jadi makin menjaga lisannya dalam berucap terlebih menjawab pertanyaan-pertanyaan Rival padanya.
"Bukannya aku nggak percaya sama rumah sakit itu tapi aku lihat nggak ada perubahan di kamu jadi demi kebaikan mu dan kesembuhan mu aku kepingin kamu pindah terapi ke rumah sakit lain," jawab Revalina dengan jelas dan sangat hati-hati.
Sesuai dugaannya, Rival kini mulai menggelengkan kepala menatap Revalina dengan tatapan lain.
"Kamu salah Reva, cedera di kaki ku memang sulit untuk sembuh bukankah kau bilang mau sabar menunggu," sahut Rival.
"Tapi kenapa Dokter Vandy keluarkan surat yang berisi kalau kau ada perubahan yang signifikan, pada kenyataannya apa," ucap Revalina perlahan membuka apa yang sudah mengganjal di dalam kepalanya.
"Perubahan nggak selalu ada wujudnya, dibanding dulu bukannya aku lebih baik sekarang," sahut Rival.
Ia mendadak diam mendengar ucapan Rival, tak ada bantahan yang bisa membantah hal ini memang namun tetap saja rasanya mengganjal jika masih terus melanjutkan pengobatan di rumah sakit itu.
Pada akhirnya ia pasrah dengan pembahasan ini, memilih mundur dan kembali memulai pekerjaannya.
********
POV Dalsa
Di kamar kos yang sempit ia coba untuk bertahan melawan kebosanan yang hampir membuatnya hilang kewarasan. Setiap harinya hanya bergantung dengan sisa uang di rekening dengan ruang gerak terbatas mengingat dirinya saat ini berstatus buronan, meski berada di pinggir kota akan tetapi tetap saja dirinya was-was dan pada akhirnya selalu memilih kamar kos menjadi tempat paling aman di dunia ini.
Di dalam kamar ia meringkuk menahan lapar yang terus membuat perutnya berbunyi seperti ayam, sebisa mungkin dirinya menghemat pengeluaran sampai situasi mulai aman.
"Tahan Dalsa tahan, sekalian agak siangan jadinya beli makan buat separuhnya bisa buat makan malam," ucap Dalsa dengan dirinya sendiri.
Tak lama terdengar suara motor para tetangga kos nya mulai seliweran keluar dari garasi, beberapa minggu tinggal di sini ia sudah hafal dengan rutinitas tetangga kos nya yang sudah bekerja itu.
"Enak kali ya kerja, bisa beli makanan ini itu," ucap Dalsa sembari membayangkan ucapannya sendiri.
Tak terasa air mata berlinang, perasaan mulai tak karuan, dada pun terasa sangat sesak. Segini beratnya nasibnya sekarang, tak pernah sekalipun ia merasakan kelaparan dal hidupnya seperti sekarang ini baru kali ini lah ia kelaparan setiap harinya hanya bisa membeli satu bungkus makanan untuk makan siang dan malam sementara pagi ia tak pernah makan.
Beruntung dari awal semenjak kabur pikirannya langsung tertuju pada tempat kost bukan hotel apalagi apartemen, sehingga uangnya tak terlalu keluar banyak sehingga masih ada sisa untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Revalina, ipar menyebalkan itu. Gara-gara dia aku sekarang jadi buronan," geram Dalsa menatap tajam ke arah tembok yang tiba-tiba memunculkan bayangan wajah Revalina.
"Hih kesal sekali aku, awas saja nanti akan aku buat akhir hidupnya seperti saudara kembarnya," geram Dalsa.
Kini jam menunjukkan pukul 11.23 cacing-cacing di perutnya mulai brutal menyuarakan demo, tak biasa dibiarkan terus menerus yang ada ia bisa pingsan. Dengan cepat ia mulai meraih jaket, masker dan tas yang sudah berisi ponsel baru dan dompet.
Dalam misinya mencari makan ia sengaja memilih tempat yang jauh dari kos dengan berjalan kaki, teriknya matahari siang itu dengan posisi perutnya yang kosong sejak pagi membuatnya hampir tak kuat menyangga tubuh kurus ini.
"Lapar, haus juga," rengek Dalsa lirih.
"Coba kalau di rumah pasti banyak makanan, Mama pasti bakal ajak aku jajan tiap belanja. Aku bisa ambil ini itu sesuka hati, sekarang cuma buat makan saja aku tersiksa begini," gerutu Dalsa sepanjang jalan.
Ia terus menggerutu seakan tak peduli dengan orang-orang yang terus memperhatikannya sepeti orang gila.
Tiba di warung tegal termurah yang pernah ia beli di negri ini, warung ini biasa di kunjungi oleh tukang becak dan tukang ojol yang sedang istirahat. Sebenarnya Dalsa malu harus berkerumun bersama orang-orang tua itu namun karena terpaksa apalah daya.
Seperti biasa ketika siang hari banyak tukang becak dan tukang ojol istirahat di sana sembari memesan makanan dan kopi hitam, perlahan Dalsa mulai menyelinap masuk di kiri yang sebenarnya masih ada satu orang tengah melahap nasi dan telur.
Melihat makanan yang di makan orang-orang di sana Dalsa jadi ngiler, sudah dua Minggu ini lidahnya sudah tak merasakan gurihnya telur apalagi ayam.
"Biasa Bu, nasi sama tempe," jawab Dalsa.
"Di bungkus ya," sambung Dalsa sebelum penjual itu bergerak mengambil piring.
"Siap Neng, ditunggu ya," sahut penjual itu dengan cepat mengambil nasi dari rice cooker.
Saat penjual itu tengah mengambil nasi, reflek netra Dalsa celingukan melihat seberapa banyak nasi yang diambilnya.
"Agak banyakan ya Bu, terus sambalnya tolong di pisah," ucap Dalsa.
"Siap Neng," sahut penjual.
"Cantik-cantik makannya banyak juga ya, tapi setiap hari tempe terus apa nggak bosan. Mau bapak belikan ayam," ucap bapak tukang becak.
Mendengar hal itu Dalsa langsung menyorot laki-laki paruh baya yang duduk di seberangnya dengan baju lusuh dan kulit kering berkeringat.
__ADS_1
'Bisa-bisanya bapak ini menawariku ayam, dari pada buat orang lain kenapa dia nggak kasih buat anak istri saja di rumah. Aku nggak semenyedihkan itu juga nggak butuh di kasihani,' gerutu Dalsa dalam hati.
"Enggak Pak, terimakasih," sahut Dalsa.
Tak lama pesanan Dalsa sudah siap, ia pun langsung membayar total makanan yang dipesannya lalu bergegas pergi dari sana tempat yang menurutnya buruk dan tidak higienis.
"Kalau bukan karena isinya banyak dan harganya murah aku nggak mau kesana lagi," gerutu Dalsa dari sebrang jalan melirik tajam warung tegal itu.
Tiba-tiba ia terkejut dengan dirinya sendiri yang dengan entengnya bersuara di tengah kerumunan orang, seketika ia jadi parno mengingat beberapa waktu lalu sempat bertemu dengan laki-laki bertubuh tegap memakai jaket kulit hitam tengah mengintai di sekitar daerah ini.
'Bodoh, keras sekali aku bicara. Bisa-bisa ketahuan kalau begini caranya, nggak ada satu orang pun di luar kos yang tak boleh lepas dari kecurigaan ku,' ucap Dalsa dalam hati.
Sepanjang jalan bibirnya terus terkunci, menunduk menutupi setengah wajahnya yang tak tertutup oleh masker. Makin lama langkahnya makin lirih, makin tak kuasa lagiĀ
Kelaparan ini membuat tubuhnya sangat amat lemas, hampir saja ia menyerah detik itu juga namun terlihat lambaian plang bertuliskan kos yang dia tempati seakan memberinya semangat untuk berjalan lagi.
"Aku harus bisa, sedikit lagi aku bisa makan," ucap Dalsa lirih coba menyemangati dirinya sendiri.
Dengan langkah terseok-seok menahan lapar di perut, Dalsa terus berjalan menenteng kantung plastik berisi sebungkus nasi yang sudah di beli nya tadi.
Beberapa lama kemudian akhirnya ia telah tiba di depan kamar kos nya dengan nafas yang sudah tinggal setengah tak kuat membuka kunci pada pintunya, di saat-saat seperti ini tak ada satu pun orang yang melihat dan membantunya semua penghuni kos itu sudah pergi menyisakan dirinya seorang diri.
Klekk klekkk.
Dua kali kunci berputar membuka pintu itu, akhirnya pintu pun terbuka berkat sisa-sisa tenaga yang ada di dalam dirinya.
Dengan cepat Dalsa masuk ke dalam kamar kosnya, membuka nasi bungkus lalu langsung membelahnya menjadi dua.
Saat itu entah datang dari mana asalnya tiba-tiba tenaga Dalsa jadi kembali terisi ketika melihat aroma nasi yang sudah setengah hari tak diciumnya, sesaat setelah membagi dua bagian nasi dan lauk ia baru teringat akan suatu hal.
"Aishhh, pakai lupa lagi aku," gerutu Dalsa.
Tangan kanannya mulai meraih dua botol air mineral kosong membawanya keluar dengan langkah terburu-buru.
"Harusnya aku ambil pas sebelum subuh, kalau begini bisa-bisa ada orang yang tahu. Nanti di katain orang susah lagi, ihh apaan," gerutu Dalsa sembari terus mengerakkan kakinya.
__ADS_1
Tibalah ia di tempat cucian baju yang biasa digunakan para penghuni kos mencuci bersama.