Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Keceplosan


__ADS_3

Seketika Revalina terkejut menyadari mulutnya kelepasan mengatakan hal yang seharusnya ia sembunyikan, reflek netranya mengedar kesana kemari mencari cara untuk keluar dari pembahasan ini.


“Memangnya kamu tadi ketemu sama Mama?” tanya Rival penasaran.


‘Aihh, bodohnya aku kenapa pakai keceplosan segala. Kalau sudah begini repot urusannya,’ ucap Revalina dalam hati.


“E-enggak,” jawab Revalina gugup.


Rival melirik Revalina dengan wajah datarnya seolah enggan percaya dengan jawaban darinya, hal ini membuat Revalina semakin ketakutan dan marah akan kebodohannya.


“Katakan yang sejujurnya atau aku akan marah!” ancam Rival dengan nada bicara serius.


Nyali Revalina mendadak ciut mendengar ancaman Rival kali ini, rasanya ingin cerita tapi ia terlanjur berjanji pada Yakub untuk tak menceritakan kejadian di rumah sakit tadi.


‘Aduh gimana ini, aku harus jujur atau bohong, tapi kalau bohong mau bohong gimana lagi,’ ucap Revalina dalam hati kebingungan antara dua pilihan.


“Sekali lagi aku tanya, kamu tadi ketemu sama Mama?” tanya Rival kembali mengulang pertanyaannya.


Saat itu juga darah serasa berhenti mengalir, dari ujung kaki hingga ke ujung kepala terasa dingin seperti mayat kemarin sore.


“I-iya Mas,” jawab Revalina dengan sangat terpaksa.


Atensi Rival langsung meningkat, posisi duduknya cepat-cepat berubah sedikit mendekat ke arah Revalina.


“Kapan, kenapa aku bisa nggak tahu?” tanya Rival penasaran.


Sudah terlanjur masuk ke dalam kubangan air, terpaksa Revalina harus melanjutkan ucapannya namun tetap menyaringnya dengan hanya mengatakan hal sebaik mungkin.


“Pas kamu lagi periksa diantar sama Kak Rafa, saat itulah Mama dating,” jawab Revalina kali ini jujur.


“Pasti Mama datang hanya untuk mencela mu,” tebak Rival lirih sedih.


Kepala Revalina seketika menggeleng dengan cepat, tak membenarkan tebakan Rival terhadap Candini meski itu benar sekalipun.


“Enggak Mas, Mama tadi besuk tapi karena kamu lama di periksa dan aku sama Umi nggak tahu ruang pemeriksaan ada di mana jadi Mama tadi cari sendiri,” jelas Revalina mengarang cerita yang ada.


"Memangnya Mas nggak ketemu sama Mama tadi di rumah sakit?" tanya Revalina cepat-cepat mengalihkan pembicaraan yang sama tapi bukan ke arahnya.


"Enggak," jawab Rival dengan wajah bingung.


"Oh, mungkin nggak ketemu ruangannya tadi," ucap Revalina sembari mengangguk-angguk kepalanya.


"Mungkin ya," sahut Rival ikut menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba wajah ling-lung Rival berubah jadi wajah-wajah yang kembali memburu rasa penasaran.


"Eh, kau belum jawab pertanyaan ku tadi," tegur Rival menatap Revalina dengan tatapan kesal.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Revalina berlagak tak tahu. "Sudah ku jawab kalau aku ketemu Mama, sudah itu saja kan pertanyaanmu?"


Rival mendadak diam seperti ngeblank dengan sendirinya, lalu tak lama kembali menatap Revalina dengan berani.


"Sepetinya belum keluar pertanyaan ini dari mulut ku kalanya kamu bingung," gumam Rival.


"Jadi tadi itu Mama marahi kamu?" tanya Rival penasaran.


"Bukan marah, lebih tepatnya kecewa karena posisinya kamu itu masih ada di kursi roda dan aku yang mengajakmu kesana," jawab Revalina sedikit membuka namun masih berusaha ia tutupi keadaan yang sebenarnya.


Membohongi orang terdekat apalagi itu suami adalah hal yang paling Revalina tak sukai sebab saat hal itu terjadi ia selalu hampir tak sanggup menahan perasaannya dan sesaknya dada karena jantung terus berdegup kencang.

__ADS_1


'Maafkan aku Mas, aku berbohong juga demi kebaikan rumah tangga kita, aku juga nggak mau dibenci Kak Yakub gara-gara masalah ini aku telanjur katakan padamu,' ucap Revalina dalam hati.


"Mama sudah salah paham, pasti karena cuma lihat di berita. Soalnya dari kemarin itu nggak ada yang kasih kabar ke Mama," ucap Rival mulai mengelus pundak Revalina dengan lembut.


Bibir Revalina kembali terkunci, ia berusaha untuk mengontrol diri agar tak membatin setelah mendengar ucapan Rival yang seolah memaklumi apa yang Candini lakukan.


Akhirnya Revalina menutup pembicaraan tentang Candini pada suaminya ini dan beralih ke layar televisi yang lebih menarik ketimbang semuanya.


***********


POV Rival


Siang itu tak terasa ia dan Revalina tertidur dengan sendirinya, dengan posisi televisi yang masih menyala. Sore harinya Rival yang sudah terbangun sejak tadi perlahan meninggalkan ranjang berikut dengan Revalina di sana karena perutnya berbunyi sejak tadi.


"Ahh, aku sampai lupa kalau aku belum sarapan. Alamat kena maag ini mah," gumam Rival lirih.


Rival pun bergegas keluar dari kamarnya menuju dapur, sore-sore begini Sarah mungkin belum masak tapi Rival sudah membayangkan mengunyah makanan.


Tapi ekspektasi tak selalu berjalan mulus, setibanya di Dapur Rival membuka semua pintu pada kitchen set di sana namun hanya ditemukan beberapa mie instan di sana lalu mengingat dirinya sendiri yang belum memiliki pekerjaan membuatnya jadi sedikit tertampar untuk tak memesan makanan melalui aplikasi yang marah di lakukan oleh banyak orang.


"Alhamdulillah, sudah tinggal sedikit lagi sempura sudah kesembuhannya," ucap Yakub terdengar samar.


Seketika kedua mata Rival tertuju pada arah ruang tamu, entah siapa sore-sore bertamu 


"Beda sekali bahasa Kak Yakub, sepertinya yang datang sekarang itu adalah orang yang spesial," ucap Rival bertanya-tanya.


Sembari menunggu mi instannya sudah matang, Rival coba memberanikan diri untuk menuju ke arah ruang tamu dengan langkah mengendap-endap.


"Mas."


Tiba-tiba ada sosok tangan menyentuh pundak Rival dari arah belakang, halus dan tampilan luar yang indah perlahan Rival mulai memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.


Ia terkejut melihat Revalina sudah terbangun padahal tadi sebelum ia tinggalkan, sementara itu Revalina masih tertidur sebelum hilang namun memicu keresahan.


"Iya nih, padahal perasaaan tadi nggak aku nggak kenapa tiba-tiba sudah bangun tidur saja," sahut Revalina akhirnya mau mengungkapkan lagi.


"Itu namanya kau saja yang *****, ketemu bantal langsung molor," ledek Rival sedikit kesal.


Revalina terkekeh, namun tiba menyerang Rival dengan menggelitik perutnya.


"Aduh, geli Reva," ucap Rival dengan reaksi kegelian.


"Ampun nggak?" tanya Revalina terus menyerang.


"Hahahaha," tawa Rival kegelian.


"Ampun ampun," jawab Rival pasrah.


Akhirnya Revalina menurunkan tangannya tak lagi menggelitiki Rival.


"Enak saja bilang aku *****, padahal kan Mas sendiri yang *****," gerutu Revalina dengan nada kesal.


"Sudahlah aku mau mandi, bye," ucap Revalina kembali lagi masuk ke dalam kamar.


Rival tersenyum-senyum menatap punggung Revalina yang kini masuk ke dalam kamar.


"Awas ya," ucap Rival sambil terus tersenyum-senyum.


"Nggak bisa Pak, saya sudah bilang dari tadi kalau saya nggak bisa lakukan itu," ucap Yakub begitu keras.

__ADS_1


Sontak Rival kembali melirik ke arah ruang tamu tersebut, ia jadi tak tenang mendengar suara dan kalimat Yakub yang agaknya tengah ada masalah. Penasaran Rival pun mulai mengerakkan tungkainya menuju ke arah ruang tamu, di saat yang bersamaan Revalina kembali keluar dari kamar.


"Mas," panggil Revalina, menghentikan langkah kaki Rival.


"Iya, kenapa?" tanya Rival dengan sedikit ling-lung tak fokus pada Revalina dan apapun itu.


"Kamu cium bau gosong nggak Mas?" tanya Revalina penasaran.


"Coba kamu cek, aku mau ke ruang tamu," jawab Rival bergegas pergi, rasa penasarannya lebih dominan ke arah sana bukan pada bau gosong yang tengah di pertanyakan Revalina.


Rival makin mempercepat langkah kakinya, ia sungguh tak ingin Kakaknya kenapa-kenapa. Tiba di ruang tamu semua memandanginya dengan pandangan terkejut terutama sosok tamu lelaki paruh baya dengan perut buncit, berpakaian rapi berdasi dengan perhiasan segambreng.


'Ya Tuhan, siapa dia. Kenapa seperti pemain circus,' ucap Rival dalam hati.


"Rival, duduk sini," ucap Sarah meminta Rival duduk di sebelah Yakub.


Sarah sengaja menepi, duduk di sofa yang lain untuk mempersilahkan Rival duduk.


"Terimakasih Mbak," ucap Rival sembari terduduk di sofa.


Tak lama Rival mulai berjabat tangan dengan lelaki yang sejak tadi tersenyum licik, dari tatapannya terlihat jelas ada maksud dengan dirinya tapi entah apa.


"Ini pengacara Dalsa yang disewa Mama, namanya Pak Probo," ujar Yakub dengan tatapan kesal.


"Oh," desah Rival mengangguk paham.


Ia sekarang paham kenapa sejak tadi Yakub terdengar seperti orang marah-marah, tak di sangka dia tengah menghadapi pengacara Dalsa.


"Ada keperluan apa Bapak kesini?" tanya Rival dengan sopan.


"Seharunya memang saya bertemu dengan anda, bukan Kakak anda tani tempramen ini," ucap Probo dengan nada meledek.


Sontak Yakub langsung melirik probo dengan lirikan tajam, sontak hal ini membuat Rival bertanya-tanya tentang apa yang terjadi sebelum dirinya ada di sini.


"Ada keperluan apa Bapak kesini?" tanya Rival mengulang lagi pertanyaannya.


Pengacara itu mulai membenarkan posisi duduknya, namun tak lupa terus melihatkan cincin dan gelang emasnya dengan terus menggerak-gerakkannya.


"Saya kesini mau mengajak keluarga Dalsa untuk melakukan proses BAP ulang demi kebebasan saudari Dalsa," jawab Probo.


Seketika Rival mengernyit kebingungan, ia masih awam tentang hukum karena jujur ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di kantor polisi sebagai keluarga pelaku sekaligus sebagai saksi.


"BAP ulang?" tanya Rival kebingungan.


"Biar saja jelaskan sedikit tentang BAP ulang, jadi BAP ulang ini bisa dilakukan berkali-kali oleh saksi dan di kesempatan ini saya minta semua saksi merubah keterangannya," jawab Probo dengan jelas.


Kening Rival makin mengerut tajam, ia masih tak paham dengan konteks tersebut.


"Apa maksud anda, saya harus merubah keterangan bagaimana?" tanya Rival kebingungan.


"Saya minta semuanya beri keterangan palsu, buat seolah-olah Dalsa adalah korban Almarhum Rajani dan saya minta kalian menyerang balik keluarga istrimu," jawab Probo semakin jelas membidik inti perkara.


Mendengar jawaban Probo kali ini sontak membuat kedua mata Rival terbelalak, shock dengan cara kerja pengacara Dalsa.


"Saya tidak mau melakukan itu," tegas Rival.


"Nah, sudah dapat jawabannya kan. Jadi saya persilahkan anda untuk pulang," ucap Yakub mengusir pengacara itu secara halus.


Pengacara itu justru terus tersenyum-senyum memandangi Rival dan Yakub, seolah seperti orang yang bertelinga tebal.

__ADS_1


"Lucu sekali kalian berdua ini, adik kandung sedang kedinginan di dalam penjara kalian justru angkuh tak mau membantunya. Pantas Bu Candini murka," ucap Probo dengan senyum sinis.


Bersambung


__ADS_2