Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kekesalan Ayah


__ADS_3

Chesy menghambur memeluk Cazim ketika pria itu menemuinya di ruang besuk. 


Tangis Chesy pecah. Sebaliknya, Cazim tampak tenang dan rileks. Sedikit oun tidak terpengaruh dengan keadaannya. Ia sudah tahu sewaktu- waktu hal itu akan menimpanya. Jadi tidak perlu kaget apa lagi kejang-kejang.


Senja dan Fatih bertukar pandang di ambang pintu.


Fatih menepuk pundak Senja iba, ia mengerti Senja terluka saat melihat Cazim berpelukan dengan wanita lain. Fatih berusaha menguatkan.


"Sabar ya!" ucap Fatih.


Senja tersenyum canggung.


"Kemarilah, duduk!" Cazim membimbing Chesy duduk ke kursi bersisian.


Fatih dan Senja menyusul duduk berhadapan dengan dua sejoli itu.


Cazim baru sadar kalau Chesy datang tidak sendiri, bahkan bersama dengan Senja dan Fatih. Saat itulah ekspresi Cazim terlihat berubah.


Ah, kenapa ayahnya harus mengetahui kasus ini? Sebisa mungkin selama ini ia menyembunyikan masalahnya, menunjukkan sebagai anak baik di hadapan sang ayah supaya ayahnya tidak kecewa, tapi malah begini kejadiannya. Ayahnya pasti sedih dan kecewa melihatnya sebagai tahanan.


"Kenapa kau datang bersama dengan ayah?" tanya Cazim.


"Maaf, aku panik dan mengatakan keberadaanmu di sini pada Chesy di hadapan Om Fatih," sahut Senja sebelum Chesy menyahuti.

__ADS_1


Cazim menatap raut sedih dipenuhi kekecewaan di wajah ayahnya. Inilah penampakan wajah yang sangat dia takuti sejak dulu. Kini akhirnya ia saksikan juga. Semua orang boleh tahu tentang kejahatannya, tapi tidak untuk ayahnya.


"Ayah!" panggil Cazim.


"Sudah, jangan katakan apa pun! Ayah kecewa. Ayah terpukul. Ayah menyekolahkanmu dengan hasil keringat ayah sendiri, banting tulang, adalah supaya kau menjadi berguna. Tapi ini yang kau lakukan. Kau sudah sangat mengecewakan ayah." Fatih tampak terpukul.


"Iya, aku pendosa, ayah."


"Lanjutkanlah hidupmu yang gila dengan kekuasaan dan harta dunia. Sekarang terserah padamu. Karena setelah kamu menikah, aku tidak punya tanggung jawab lagi terhadapmu." Fatih berlalu pergi dengan mata berembun. Satu- satunya anak yang sangat dia harapkan dan dia sayangi, bahkan dikenal sebagai anak baik, malah mengecewakannya begini.


"Ayah!" Chesy bangkit hendak mengejar.


"Sudah, jangan dikejar. Tidak apa- apa. Ini resiko bagiku. Biarkan ayah kecewa padaku. Nanti kau bisa menghiburnya, tolong bantu hilangkan rasa sedihnya," ucap Cazim.


"Cazim, aku tadi berada di satu restoran denganmu. Aku melihatmu ditangkap polisi, jadi aku panik dan langsung ke rumahmu untuk mengabari Chesy, tapi aku lupa malah mengatakannya di depan ayahmu. Seharusnya aku tidak mengatakannya di depan beliau. Aku khilaf. Maafkan aku!" ucap Senja dengan sedih.


"Semua sudah terjadi," jawab Cazim.


"Makasih, Senja. Kamu peduli padaku dan mau mengabariku soal ini," ucap Chesy yang tidak menyangka Senja ternyata Senja bersedia membantunya memberi informasi penting itu.


"Di saat kondisi seperti ini, aku nggak bisa egois. Aku menyayangi sahabatku, maka aku harus menjadi bagian penting dalam menyelesaikan masalah hidupnya," jawab Senja.


"Thanks, kau bawa Chesy kemari." Cazim menepuk singkat lengan Senja. 

__ADS_1


Tepukan itu dilirik oleh manik mata Chesy. Sebenarnya Chesy merasa jijik dengan perasaan cemburu di situasi seperti ini. Tapi rasa itu muncul dengan sendirinya. Alangkah egois ia merasa cemburu melihat Cazim bersikap hangat pada Senja sebagai sahabat di situasi begini, sedangkan Senja melapangkan hatinya untuk membantu Chesy.  Jika saja Chesy melihat Senja bersikap hangat pada Cazim, itu sudah biasa, tapi saat Cazim bersikap manis pada Senja, rasanya menusuk.


Chesy, buang keegoisanmu. Ini hanya sebatas toleransi kecil meski menyebalkan.


"Cazim, aku nggak mau kamu ditahan. Aku nggak mau kamu sampai dipenjara. Pokoknya kamu harus melakukan sesuatu, kalau perlu libatkan papamu, Pak Diatma. Kamu itu anak kandungnya, maka dia harus ikut campur dalam urusanmu ini. Setelah sekian tahun dia melepaskanmu, maka inilah saatnya dia memberikan tanggung jawabnya di sisi usianya." Senja antusias. Dia raih tangan Cazim dan menggenggamnya erat. Tatapannya berembun, hampir menangis.


Ah, kenapa harus ada drama ini? Seharusnya Chesy dan Cazim hanya berdua saja untuk melepas berbagai rasa yang ada, tapi malah Senja yang menguasai situasi, sampai Chesy jadi seperti penonton saja. Haruskah ia memahami situasi itu dan memberikan toleransi atas persabahatan mereka?


"Aku bisa bicarakan ini pada pihak kepolisian, aku akan bernegosiasi," sahut Cazim.


"Ya. Lakukanlah apa pun. Sampai sekarang mereka belum menemukan pusat terbesar dari kepemimpinan gembong narkoba yang katamu ada di Medan. Jika mereka mau bekerja sama denganmu untuk menyelesaikan misi ini, kemungkinan hukumanmu akan diringankan.  Atau, kalau perlu kamu minta bebas bersyarat. Ini kasus besar, maka negosiasi juga harus besar."


"Aku akan atasi ini. Aku minta kau temui ayah dan bantu tenangkan dia."


Senja mengangguk.


Nah, malah Senja yang disuruh menenangkan Fatih, padahal tadi Cazim sudah meminta pada Chesy untuk melakukannya. Apakah Cazim tidak mempercayai Chesy? Apakah Cazim beranggapan bahwa Senja jauh lebih mampu menenangkan Fatih karena Senja adalah wanita yang dikagumi oleh Fatih?


Ayo, Chesy. Singkirkan perasaan cemburu ini. Situasinya tidak tepat untuk berpikiran buruk. 


"Kalau kamu butuh bantuanku, katakan saja," ucap Senja. "Aku akan temui Om Fatih dulu." Senja berlalu pergi.


Tinggal lah Chesy dan Cazim di ruangan itu. Cazim menoleh pada Chesy, yang ternyata kini menatap lurus ke depan, entah menatap apa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2