
Reno.
Nama itu terlintas di kepala Revalina. Ia ingin segera menemukan pria itu secepatnya. Yaitu pria ke dua setelah Damar. Reno akan menyusul Damar setelah ini. Harus!
"Hei, kok makannya diaduk- aduk aja?" tanya Rafa yang melihat Revalina menatap kosong ke depan dengan tangan mengacak- acak isi piring.
"Eh?" Revalina tersenyum, kemudian lanjut makan sambil melirik Chesy yang duduk satu meja.
Wajah Chesy tanpa senyum. Entah karena memang belum mood untuk tersenyum sejak kehilangan Rajani, atau karena menelan kekecewaan atas keputusan Revalina yang menolak Rival. Nyatanya Revalina memang terlalu banyak memberikan kekecewaan pada Chesy dalam segala hal.
"Umi, nanti sore kita belanja yuk! Revalina temenin beli daging segar ke mall!" ajak Revalina, berusaha mengajak berdamai. Memangnya sejak kapan sosok Revalina mengenal belanja dapur? Ya mungkin sejak Chesy selalu dibuat kecewa olehnya.
"Hm." Chesy membawa piring kotor bekas makannya dan berlalu pergi.
Revalina dan Rafa bertukar pandang.
"Umi marah banget ya sama Revalina?" Revalina berbisik.
Rafa hanya mengelus singkat punggung tangan Revalina tanpa berani memberikan jawaban. "Ayo ke kampus!" Rafa mencuci piring dan berlalu pergi.
Revalina pun menyusul Rafa.
Mereka naik kendaraan berbeda saat pergi ke kampus. Seperti biasa, Rafa naik motor gede, sedangkan Revalina naik mobil.
Kali ini Revalina benar- benar menuju ke kampus dan menjalankan tugasnya sebagai mahasiswi, tidak mangkir. Ia berpapasan dengan Dalsa di koridor kampus, gadis itu tampak biasa saja, melengos begitu saja tanpa memperlihatkan gerak- gerik berbeda.
Bukankah seharusnya Dalsa terlihat kaget atau sikap aneh lainnya saat melihat Revalina masih berkeliaran di kampus? Jika dia dalang dari kasus kematian Rajani, maka dia akan kaget melihat Revalina yang meninggal setelah digilir empat pria suruhannya. Tapi gadis itu biasa saja.
__ADS_1
Oh, atau jangan- jangan Dalsa sudah tidak heran lagi karena sebelumnya sudah dapat kabar dari Rival bahwa gadis yang meninggal itu adalah Rajani, bukan Revalina. Artinya dia sudah safar bahwa dia sudah salah sasaran. Entahlah, apakah benar Dalsa di balik semua ini atau tidak.
Setelah selesai kelas, Revalina bergegas menuju ke alamat Reno. Di dalam chat yang ada di hp Damar, Revalina melihat percakapan antara Damar dan Reno yang menyebutkan sebuah alamat rumah baru milik Reno. Alamat sudah dikantongi.
Dengan mengenakan kaca mata hitam, Revalina mendatangi rumah Reno. Rumah yang cukup besar dan bagus. Reno adalah seorang arsitek yang belum seberapa terkenal. Belum menikah. Ia hidup sendirian, keluarganya ada di Sulawesi. Begitu yang terdengar oleh Revalina melalui penyelidikannya beberapa hari terakhir.
Setelah memencet bel pintu dan menunggu beberapa detik, akhirnya sosok lelaki menyembul keluar dengan mengenakan celana pendek selutut dan singlet saja, handuk masih mengalung di leher.
"Siapa kamu? Ada perlu apa?" tanya pria bertubuh jangkung itu.
"Reno ya?" tebak Revalina.
"Ya. Kamu siapa?" ulang Pria itu tidak mengenali wajah Revalina yang memakai kaca mata hitam besar. Tersisa bagian hidung sampai ke dagu dan sedikit kening, sisanya tertutup hijab.
Revalina melepas kaca mata berjalan maju, tersenyum.
"Kau?" Reno melangkah mundur dengan wajah memucat.
"Iya. Aku. Masih ingat saat kamu menggagahi gadis itu kan? Sadis sekali." Revalina tersenyum dan terus melangkah maju.
Reno berlari menjauh. "Jangan mendekat! Kau mau apa? Uang? Aku akan berikan. Berapa yang kau mau?"
"Aku nggak mau uang, harta atau apa pun. Aku cuma mau kamu menyusul Damar." Revalina mengambil pisau apel di meja dan mengupas apel, lalu mengunyahnya dengan santai.
Reno sadar sudah memperlakukan seorang gadis dengan sangat biadab, itulah yang membuatnya jadi gugup dan takut saat gadis yang dia kira adalah gadis yang sudah dia gagahi itu muncul ke hadapannya.
"Apa nggak ingat bagaimana kamu merusak kehormatan seorang gadis, hm?" Tatapan Revalina menantang.
__ADS_1
Reno gugup dan menghambur naik ke lantai atas.
Revalina mengikuti ke lantai atas. Langkah kakinya mengetuk- ngetuk anak tangga, semakin mendekat ke arah kamar yang dimasuki Reno.
Tepat saat Revalina memasuki kamar, Reno ternyata sudah berlari keluar menuju balkon.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Reno sambil melangkah mundur dengan raut ketakutan.
Revalina masih asik mengupas apel dan terus mengunyah buah yang sudah dipotong.
"Siapa yang menyuruhmu? Siapa saja yang terlibat? Jawab!" tanya Revalina.
"Tidak ada. Aku hanya diajak Marko. Iya, Marko yang mengajakku."
"Siapa Marko?"
"Pemilik restoran Elang."
"Diajak atau nggak diajak, kamu tetap pelaku." Revalina melangkah maju.
Bruk!
Reno yang turut melangkah mundur itu terjatuh ke lantai halaman melalui balkon.
Revalina berlari menuju balkon dan menatap ke bawah. Reno tergeletak di lantai halaman dengan mata melek.
***
__ADS_1
Bersambung