
Rival kemudian mengarahkan kursi rodanya keluar ruangan.
Revalina mengernyit mihat Rival pergi begitu saja setelah mengobril banyak hal dengannya. Ada apa dengaj Rival?
Revalina mengejar Rival. Memegang besi di belakang punggung dan mendorong kursi roda itu.
"Kamu mau kemana? Kok pergi begitu aja?" tanya Revalina.
"Aku haus, aku mau ambil minum."
Revalina menghentikan gerakan kursi roda, ia memutari kursi roda itu dan jongkok di hadapan suaminya. "Hei, kamu kan bisa meminta tolong padaku. Kenapa malah ambil sendiri?" Senyum Revalina mengembang.
"Aku tidak mau merepotkan mu."
Revalina meraih tangan Rival, mencium punggung tangan itu. "Aku marah kalau kamu bilang begitu."
"Marahlah. Aku menunggumu marah. Akan aku lihat seberapa kuat kamu marah pada seorang Rival. Apakah mau mematahkan leherku setelah mematahkan kakiku, hm?" Rival menjepit ujung hidung revalina dengan jempolnya.
Maksud percandaan Rival justru membuat Revalina tertegun, mukanya seketika murung. Memang dialah penyebab kekacauan ini. Dia sudah membuat Rival menderita. Kenapa tidak dia saja yang cacat? Sungguh penyesalan yang menghantam benaknya jauh lebih menyakitkan dari apa pun.
"Maaf. Maafkan aku. Aku sungguh menyesal sudah membuatmu jadi begini. Kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin minta Tuhan menggantikan posisimu kepadaku. Biar aku saja yang duduk di kursi roda. Biar aku saja yang lumpuh. Aku rela. Aku sudah membuatmu jadi begini, aku benar-benar sedih setiap kali melihat kondisimu." Revalina murung.
"Hei, jangan terlalu serus. Aku hanya bercanda. Aku anggap ini adalah bagian dari takdirku. Tuhan berkehendak atas hal ini. Jadi, sudahlah. Aku akan mencoba untuk menerima kenyataan ini."
Rival terlihat bijaksana dengan mengucapkan kalimat itu meski di matanya terlihat rasa sedih. Tidak seperti Rival yang dulu, yang terlihat kaku dan berlagak sok berkuasa seperti saat dia berada di kampus.
"Andai saja waktu bisa diputar, maka aku akan memilih satu hal, biarlah kamu yang salah paham terhadapku, dan aku yang dipukuli dan dianiaya olehmu." Revalina tampak sangat menyesal. "Setiap kali melihatmu begini, aku merasa seperti pendosa yang nggak pantas mendapat ampunan."
"Silakan kalau mau menyesali, menyesal saja. Aku suka itu. Tapi jangan pernah berandai-andai, itu hanya akan membuatmu merasa teraniaya oleh kehendak Tuhan. Ini sudah jalanku. Dan aku menerimanya."
"Kalau boleh aku bertanya, apa yang bisa aku lakukan supaya kamu merasa tenang?"
"Memangnya apa? Tidak ada yang perlu kamu lakukan selain mendampingi aku sebagai suami."
"Aku sungguh seperti manusia bodoh saat ini. Aku sangat sangat sangat menyesal. Dan ini membuatku merasa jauh lebih hina dan sedih." Revalina ingin menangis, tapi ditahan. Akan lucu jika malah dia yang menangis sedangkan Rival sebagai korban malah tersenyum.
"Sudahlah. Jangan lagi membahas itu. Aku mengerti dengan penyesalanmu, tapi jangan berlarut. Itu hanya akan menyesatkan dan membuat keruh pikiran saja. Lalu, bagaimana dengan rasa hausku? Apakah aku masih bisa minum?"
"Eh? Maaf aku lupa. Iya, akan aku ambilkan. Tunggu di sini." Revalina menghambur menuju ke dapur. Menuangkan air mineral ke dalam gelas. Rasa taat dalam dirinya menguat. Ingin merawat sang suami setulus hati. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan meninggalkan Rival.
Revalina membawa gelas meninggalkan dapur, membawanya ke hadapan Rival.
"Ini minum untukmu." Revalina menyerahkan gelas untuk Rival, membantu mendekatkan gelas ke bibir suaminya.
"Tidak perlu begitu, aku bisa sendiri." Rival mengambil alih gelas dari tangan Revalina, lalu meneguknya cepat.
Seusai minum, Revalina membawa gelas dan menaruhnya ke meja.
"Rival!" Suara keras Candini mengalihkan perhatian Revalina dan Rival.
Wanita berwajah sadis itu menatap kesal pada putranya.
"Bagaimana dengan Dalsa? Dia tidak kembali sampai sekarang. Bahkan Yakub bilang kalau Dalsa itu kabur setelah diancam akan dijebloskan ke penjara. Yakub dan Rafa akan menyeret Dalsa ke penjara. Bagaimana ini?" Candini panik.
"Ma, inilah resiko yang harus diterima oleh Dalsa, kemudian nanti akan menyusul sosok lain, yaitu Akram. Mereka itu bejat dan harus bertanggung jawab. Mama lihat kan? Dalsa malah kabur saat akan diserahkan ke hukum. Artinya dia itu tidak bertaubat, dia tidak menyesal. Dia malah tidak mau bertanggung jawab. Dengan dia kabur, jelas bahwa dia itu lari dari masalah." Rival tegas.
"Dia itu adik kamu, kenapa kamu malah bersikap seperti musuhnya? Seharusnya kamu menjaganya. Apa pun kesalahan yang dia lakukan, darah di tubuhnya tidak akan bisa tergantikan. Tetap kalian adalah sedarah dan harus saling melindungi."
"Bukan berarti melindungi kesalahan. Mama harus bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah, jangan memberi jalan pada kesalahan. Inilah yang akan mendidik Dalsa menjadi sosok yang jahat. Kalau mama sayang padanya, maka biarkan dia mempertanggung jawabkan kesalahannya."
"Rival!" Candini menghardik keras. "Apa pun kesalahan Dalsa, dia pasti punya alasan. Kekejaman yang dia lakukan karena perilaku buruk pada Revalina."
"Hentikan Ma. Jangan menutup mata. Apa pun alasannya, tidak ada yang membenarkan perbuatan sadis itu dilakukan oleh Dalsa. Apa lagi ini bukan kesalahan Revalina, Dalsa berbuat sesadis itu hanya karena memenuhi kesombongannya. Sifat itulah yang membuatnya nekat dan berlaku jahat. Mama harus buka mata, buka hati. Jangan membela yang salah, sebab saat mama membela kesalahan Dalsa, maka selamanya Dalsa akan menjadi ladang dosa untuk mama. Hasil pendidikan Mama akan dituai oleh Dalsa."
"Mama membawamu ke sini adalah untuk membuatmu bisa dekat dengan mama, seiring sejalan sama mama. Tapi kamu malah menentang mama." Candini panik.
"Aku tidak tahu harus bicara apa lagi untuk menjelaskan ke mama. Dulu, Dalsa melakukan kesalahan di kampus, dan aku sangat ingin menghukumnya, tapi mama bersikeras membelanya, meminta supaya aku yang mendidiknya dengan baik, jangan sampai dihukum di kampus, apa lagi sampai Mama dipanggil ke kampus. Okey, aku turuti kemauan mama. Tapi tahukah mama, perilaku itu justru membuat Dalsa di atas angin, merasa selalu dimenangkan. Dan akhirnya jadi jahat."
"Rival, kenapa kamu tidak bisa mengerti juga? Dalsa itu adik kamu. Jangan biarkan dia masuk penjara. Oke, dia sudah bersalah atas perbuatannya itu, tapi jangan sampai dia masuk penjara."
"Apakah menurut mama lebih baik Dalsa mati saja dari pada masuk penjara? Sama seperti Rajani yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia. Bayangkan jika posisi Rajani ada pada Dalsa, apa yang akan mama lakukan?"
Seketika Candini terdiam. Ucapan Rival mampu membawanya kepada bayangan dan halusinasi.
"Kita masuk kamar saja dulu, kamu mau istirahat kan?" Revalina yang sejak tadi menjadi pengamat, mengajak Rival masuk kamar, meninggalkan Candini yang masih tampak panik.
Revalina menutup pintu kamar dan menguncinya. Tak ingin Candini datang kepadanya dan nyelonong masuk lalu membahas Dalsa lagi. Dia mendorong kursi roda sampai mendekati ranjang.
"Mas Rival!"
Rival yang tadinya terlihat kesal, tiba-tiba kekesalan memudar dan ia pun tersenyum. Mendengar Revalina memanggilnya dengan sebutan 'Mas', Rival senang. Panggilan itu terdengar manis.
"Hm?" Rival menoleh.
"Setelah aku melakukan kesalahan karena kesalah pahaman itu, aku merasa hidupku jadi seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Aku merasa seperti mengawang dan nggak tau ada dimana. Aku pasrah. Aku memilih untuk fokus padamu, aku ingin melupakan semuanya dan menyerahkan hasil akhir pada Tuhan. Biarlah Tuhan yang memberikan penghakiman atas semua ini. Cukup tanganku melakukan penghakiman pada orang yang salah." Revalina masih saja tampak larut dalam penyesalan.
"Lalu?" lirih Rival.
"Aku memilih untuk fokus ke kamu saja. Aku mau merawatmu. Soal Dalsa, biarlah. Aku tidak akan lakukan apa pun. Cukup Tuhan yang menghukumnya."
"Apa kamu tidak mau melaporkannya ke jalur hukum?"
"Ada banyak hak yang aku pertaruhkan saat melaporkannya ke hukum. Terutama mama mertua."
"Kenapa harus pikirkan mama? Mama harus bisa menerima kenyataan. Pendidikan terbesar untuk mama dan Dalsa adalah kenyataan. Saat mereka dihadapkan pada kenyataan pahit sesuai resiko uang seharusnya, maka mereka akan mendapatkan hikmah dati itu."
"Tapi aku sudah lelah. Aku trauma. Aku fokus padamu aja."
Rival pun mengangguk. "Ya sudah, tidak perlu dipikirkan. Andai saja sejak awal kamu katakan masalahmu kepadaku, tentu aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendiri. Aku tahu ini tidak mudah bagimu."
Revalina tersenyum. "Aku bersyukur kamu bisa memahami ini." Ia meraih tangan Rival, mengangkatnya dan menempelkan punggung tangan itu ke pipinya sendiri.
Sambil memejamkan mata, Revalina berkata, "Aku mencintaimu.
Matanya lalu terbuka kembali. Menatap Rival yang terus memandanginya. Mereka bertukar pandang dalam diam.
Dan Revalina terkejut saat ia mencium aroma menyengat. Ini aroma khas parfum milik Rival.
Loh, kok wajah Rival sudah ada di dekatnya begini? bahkan menempel?
Oh, rupanya saat ini posisi Revalina sudah maju dan mendekat pada Rival. Semua berjalan tanpa sadar, Revalina baru saja mencium suaminya. Anehnya, baru sekarang ia sadar sudah melakukan adegan beberapa menit dengan Rival.
Dengan canggung, Revalina memundurkan kepala. Agak gugup. Jantung berdebar tak menentu. Rasanya salahtingkah. Malu. Dan… entahlah. Banyak sekali perasaan tak menentu yang menggejolak, sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Kenapa? Tidak apa-apa. Malu ya?” Rival menggoda, membuat Revalina memalingkan wajahnya yang memanas, entah ke arah mana. Posisi mereka berhadapan terlalu dekat sehingga ia kesulitan mencari tempat untuk membuang muka.
“Kemarilah!” Rival menarik lengan Revalina dan mendudukkannya ke pangkuan.
“Hei, jangan begini. nanti kamu kesakitan. Kakimu kan masih sakit.” Revalina hendak bangkit namun ditahan oleh lingkaran lengan kokoh Rival.
“Jangan kemana-mana! Tetaplah di sini!”
Tatapan Rival mendominasi, membuat Revalina takluk.
“Apakah aku nggak boleh buang air kecil?” Revalina beralasan, padahal ia tidak sedang ingin buang air.
“Jangan beralasan! Kenapa kamu tidak mau dipangku oleh suamimu sendiri? Apa maunya dipangku sama selingkuhan, hm?”
“Kenapa ngomongnya begitu, sih?” Baru kali ini Revalina merasa sangat canggung. Malu dan gugup. Apakah ini efek dari rasa jatuh cinta. Bawaannya jadi ada salah tingkahnya, padahal biasanya biasa saja.
__ADS_1
“Aku tahu kamu tidak sedang ingin buang air kecil.”
“Tapi di posisi ini, kamu bisa kesakitan. Pahamu harus menopang badanku begini.” Revalina meringis, takut Rival kesakitan.
“Tidak. Justru aku merasakan kalau kakiku ini mati rasa. Jadi tidak ada rasanya.”
Lagi-lagi raut wajah Revalina berubah murung. Mendengar kaki Rival mati rasa, hatinya ngilu. Semua terjadi karena ulahnya.
“Stay di pangkuanku. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu malam ini.”
Revalina mengangguk. ia mengalungkan lengan ke leher suaminya.
“Apa kau ingat? Saat malam pertama yang batal itu, aku mengungkapkan rasa cintaku ke kamu,” ucap Rival sambil mengecup pipi Revalina, kecupan yang menimbulkan sengatan hebat di sekujur tubuh Revalina. Hangat dan menggelora.
Bayangan Revalina seketika melayang pada kejadian malam itu, dimana Rival sempat mengungkapkan cinta. Andai saja di situasi normal, tanpa adanya dendam membara malam itu, pasti perasaan Revalina membuncah. Namun sayangnya situasi itu mesti dinodai dan dihancurkan oleh dendam yang tumbuh di hati Revalina.
“Dan skearang aku akan mengulanginya, aku akan menciptakan momen yang belum sempat aku rasakan, momen yang gagal.” Rival meraih tangan Revalina dan meremaskan lembut.
Mereka bertatapan. Hangat sekali. Sayangnya lampu menyala terang benderang. Andai saja remang-remang, pasti akan lebih romantis. Mustahil Rival meminta Revalina mematikan lampu hanya untuk adegan yang dia harapkan. Hal itu hanya akan mengacaukan momen saja.
“Aku mencintaimu, Revalina. Aku tidak tahu kapan perasaan itu tiba, tapi aku sudah merasakannya sejak kita semakin dekat.” Rival menggenggam tangan Revalina erat.
Perasaan Revalina membuncah. Bahagia sekali. Mereka ternyata memiliki rasa yang sama. Ternyata begini rasanya mencintai dan dicintai. Indah sekali.
“Revalina, sampai kapan kamu mau mendampingi aku di saat kondisiku seperti ini? Aku lumpuh,” rival berbisik di telinga Revalina. Bibirnya bergerak-gerak mengenai daun telingan wanita itu.
“Sampai maut menjemputku. Sampai aku mati. Dan aku minta pada Tuhan, supaya mencabut nyawaku sehari setelah kamu meninggalkan dunia. Supaya aku yang menjaga dan merawatmu sampai akhir hayat. Jangan sampai aku yang duluan mati.” Revalina menghela napas.
“Oh ya? Tapi apakah ada wanita setulus itu?”
“Selain ingin menebus dosaku, aku juga tulsu menyayangimu.”
“Aku tidak percaya. Benarkah kamu ingin menjadikan aku sebagai satu-satunya suamimu? Atau… jangan- jangan suatu saat nanti kamu akan meninggalkan aku saat merasa bosan dan mencari orang yang sempurna, bisa memberikan mu segalanya.”
“Mas, kok kamu bicara begitu? Aku sungguhan ingin hidup bersamamu sampai mati.”
“Itu kan lidahmu saja. aku tahu kamu sedang mengejekku.” Tatapan Rival yang teduh, kini berubah menjadi ganas. Ekspresi wajahnya sadis. Senyumnya sinis. Satu lengan kokohnya yang melingkar di pinggang Revalina terasa semakin kuat.
Tangan yang menggenggam jari Revalina pun semakin terasa kuat.
“Aakh… Sakit. Mas Rival, ini sakit sekali.” Revalina meringis merasakan pelintiran tangan Rival.
Apakah Rival sedang memendam kebencian pada REvalina sejak tadi? Dan semua sikapnya itu hanya akting? Ya Tuhan, meskipun beneran Rival tadi bersikap baik hanya sebatas akting saja, dan sebenarnya pria itu masih menaruh kebencian terhadap Revalina, maka Revalina ikhlas. Ia akan menerima apa pun perlakuan Rival terhadapnya.
Revalina menatap Rival sambil meringis menahan sakit. “Iya, lakukan saja, Mas. Nggak apa-apa. setelah ini, aklau mau pukul, atau mencambukku, lakukan aja. Aku ikhlas.” Revalina berkata lembut.
“Ha haa haaa…” Rival melepas cengkeraman tangannya, juga melonggarkan ligkaran lengan di pinggang Revalina.
Mendadak Revalina bingung. Rival tertawa? Pria itu bahkan menghabiskan waktu beberapa menit untuk tertawa, pertut sedikit membungkuk. Tawanya puas sekali.
“Mas Rival! Apa-apaan kamu?”
“Takut ya? Mukamu lucu sekali saat ketakutan.” Rival masih terkekeh, tawanya belum selesai.
“Mas, kamu ngerjain aku?” Revalina bangkit berdiri dan geleng-geleng kepala. Namun kemudian ia ikutan tersenyum. Melihat Rival tertawa puas begini, ia bahagia sekali.
“Aku suka melihatmu panik seperti tadi.”
“Nyebelin!” Revalina mencubit pinggang suaminya.
Yang dicubit tertawa.
“Ternyata begini ekspresi istriku saat pasrah.”
“Aku udah deg- degan tadi, kupikir kamu beneran memendam kebencian padaku.” Revalina mengelus dadanya merasa lega. “Oh ya, ini sudah malam. Aku bantu kamu ke kasur ya?”
“Tidak.”
“Aku belum mandi. Badanku gerah sekali.”
“Oh… Mmm… Kalau begitu aku akn siapkan air hangat untukmu. Sebentar!” Revalina beranjak ke kamar mandi. Dia mempersiapkan air hangat di bath tub. Suaminya pasti akan rileks saat dimanja dengan air hangat di bath tub.
Setelah itu, Revalina menyiapkan handuk, menggantung di kamar mandi. “Ayo kubantu ke kamar mandi.”
Revalina mendorong kursi roda ke kamar mandi. Lalu, sekarang Revalin abingung. Apa yang harus dia lakukan? Apakah ia harus memandikan Rival?
Rival membuka bajunya sendiri, yang langsung disambut oleh Revalina dan digantung.
“Ayo, bukakan celanaku! Kenapa diam?” ucap Rival membat Revalina terkejut. “Aku bisa membuka baju sendiri, tapi celana kesulitan.
“Oh eh, mm… iya.” Revalina menunduk. Tangannya sedikit bergetar saat maju. Mulai membuka celana suaminya, menarik celana itu turun ketika Rival mengangkat bokongnya dengan berpegangan sandaran tangan di kursi roda.
Percayalah ini adalah hari menegangkan bagi Revalina. Melihat pemandangan unik dan membantu suaminya mandi seperti seorang bayi. Dia membantu Rival memasuki bath tub. Mengangkat badan itu dengan merangkulnya dan membimbing ke dalam bath tub.
Tidak berhenti sampai di situ. Revalina juga menggosok badan Rival menggunakan tangannya. Sebenarnya Rival bisa melakukannya sendiri, tapi Revalina tidak mau melewatkan kesempatan itu.
Revalina menggosok setiap inchi menggunakan tangannya sendiri. Tak peduli wajahnya sesekali terkena cipratan air. Dia menggosok punggung kekar Rival, dada, dan leher pria itu.
Ini adalah momen yang dia tunggu, tidak perlu dia melewatkannya. Persis seperti anak- anak bermain air, rasanya menyenangkan.
“Mau dibantu gosok di kaki nggak?” tawar Revalina kemudian nyengir.
“kalau mau, tidak masalah.”
“He heee…” Revalina mulai memasukkan tangannya ke busa sabun yang emmenuhi bath tub. Dia menggosok betis Rival.
“Terus. Terus!” pinta Rival tersenyum.
Revalina menurunkan tangannya kembali ke betis ketika telapak tangan itu sudah menyentuh bagian lutut.
“Kamu yakin akan sanggup menjalani hari begini bersamaku?” tanya Rival menatap wajah Revalina intens. Dia mengusap-usapkan busa sabun ke lengannya.
“Yakin.” Revalina mantap sekali.
“Bagaimana kalau kamu bosan?”
“Nggak akan.”
“Sungguh?” Rival makin serius.
“Plis, jangan ragukan aku. Aku akan buktikan ke kamu.”
“Ini hanya sebatas untuk menebus kesalahanmu, atau karena kamu mencintaiku?”
“Dua- duanya. Aku ingin menebus kesalahanku dan aku juga mencintaimu. Aku sudha katakan itu sbeelumnya bukan?”
“Lalu, bagaimana dengan penghasilan sehari- hari kita? Aku tidak bisa bekerja karena kondisiku yang begini. aku tidak bisa menafkahimu. Mas Yakub memintaku untuk bekerja di perusahaannya, tapi aku belum sempat terjun, malah sudah begini.”
“Jangan bebani dirimu dengan perkara nafkah. Itu akan menjadi urusan kita berdua. Aku akan bekerja di perusahaan Umi. Aku akan jalankan perusahaan itu bersama dengan Rafa.”
“Artinya kamu tidak selamanya bisa seharian bersamaku, sementara aku butuh orang untuk merawatku. Sebaiknya carikan saja perawat untukku.”
“Hah?” Revalina menjauhi bath tub. Mendadak otaknya tarveling kemana-mana. Kalau Rival dirawat oleh suster, maka suster itu pasti akan melakukan apa saja seperti yang dilakukan Revalina sekarang. Membantu membuka celana, membantu saat mau buang air, dan masih banyak lagi pekerjaan lain.
Revalina menggeleng. “Enggak. Aku nggak mau ada perawat yang merawat kamu.”
“Kenapa? Itu akan meringankan bebanmu.”
“Biar aku aja yang merawat kamu.”
__ADS_1
“Kamu tidak sepenuhnya bisa berada di dekatku.”
“Bisa.”
“Saat kamu bekerja, lalu aku kebelet pipis, bagaimana? Apakah aku harus menunggu mu pulang?”
Revalina tergugu. Benar juga, bagaimana ia akan mengurus Rival saat ia sedang bekerja di luar rumah? Bagaimana ini?
“Aku nggak mau kamu dipegang-pegang, atau bahkan sampai seorang perawat melihat milikmu. Ah, aku bicara apa ini? Pokoknya aku nggak mau ada wanita lain melakukan itu.” Revalina gigit bibir.
Rival sontak tersenyum. “Aku kan minta perawat laki-laki, bukan perawat perempuan.”
“Oh…” Revalina nyengir lebar. Terlalu bersemangat memikirkan hal-hal buruk.
“Bagaimana? Apakah kau masih menolak untuk mencarikan aku perawat laki-laki?”
“Aku lebih suka aku aja yang merawatmu, aku akan bawa kemana pun kamu pergi. Aku mau bersamamu terus. Jadi, kemana pun aku pergi, kamu akan selalu bersamaku. Sewaktu aku ngantor, aku meeting, aku ke mall, pokoknya aku selalu bersma kamu.”
“Tidak. Aku mau di rumah saja.”
Revalina menekuk wajah, namun kepalanya mengangguk. ia tidak bisa menolak permintaan sang suami. Lebih baik diiyakan dari pada harus membuat suaminya itu tertekan karena situasi. Mental dan psikisnya bisa saja terganggu bisa saja dipaksakan untuk membaur dengan lingkungan umum di saat dia merasa tidak nyaman. Lebih baik dituruti saja.
“Jadi, kau lebih suka kalau aku ikut kemana pun kau pergi, begitu?” tanya Rival dengan tatapan intens.
“Enggak. Aku ikuti aja bagaimana maumu. Kalau kamu lebih nyaman di rumah saja, ya sudah lebih baik di rumah saja. Jangan sampai merasa nggak nyaman dengan situasimu.”
“Baiklah. Aku akan coba untuk ikut denganmu saja. Dan setelah aku jalani ternyata aku merasa tidak nyaman, maka aku akan memilih di rumah saja.”
“Deal!” Revalina meraih kelingking Rival dan menautkannya dengan kelingkingnya sendiri. “Aku setuju. Aku yakin kamu akan merasa jauh lebih nyaman.”
“Ya sudah, sekarang bantu aku bangkit dari sini. Aku harus membilas badanku. Bantu aku buang air kecil. Terlalu lama berendam akan membuat sotong ini menjadi mengeriput. Bahkan kebelet buang air.”
Sotong? Hadeeeh… perkataan Rival membuat Revalina jadi keliyengan. Revalina membantu Rival berdiri, membilas badan suaminya menggunakan air shower. Setelah itu, Revalina membawa Rival ke kloset. Membantu pria itu berdiri di depan kloset untuk menunaikan hajatnya.
Duh, jika begini terus setiap saat, Revalina bisa garuk- garuk kepala. Semuanya serba dia lihat namun tidak bisa dinikmati. Eh? Mikir apa sih dia?
Selesai dengan kegiatan itu, Revalina mengambil handuk dan mengelapi badan suaminya sebelum akhirnya melilitkan handuk ke badan itu.
Revalina mendorong kursi roda, dengan posisi Rival yang sudah duduk di kursi itu, handuk melilit pinggang.
Revalina membantu Rival memasang pakaian. Termasuk membantu memasangkan celana. Inilah drama menarik yang membuatnya selalu tersenyum. Dimana ia harus memegangi celana segitiga milik suaminya, lalu membantu memasukkan kaki Rival satu per satu ke celana mini itu. setelahnya, mendorong celana ke atas, sampai ke pinggang. Demikian juga yang dia lakukan saat memasang celana tidur. Celana panjang yang bahannya halus dan fleksibel sehingga mempermudah Revalina saat memasangnya.
Pekerjaan Revalina selesai. Dia kini membimbing tubuh Rival naik ke atas ranjang. Dia menyusul naik, berbaring di sisi Rival. Menggunakan lengan kokoh Rival sebagai alas kepalanya.
Revalina memeluk tubuh Rival dari arah samping. Menyenderkan kepala di dada bidang sang suami. Betapa nyaman rasanya berada di posisi itu.
“Baru kali ini aku merasa senyaman ini,” lirih Revalina dengan senyum.
“Oh ya? Seperti anak- anak ingusan yang jatuh cinta, semuanya terasa nyaman meski pegel saat menyangga kepala sang pacar lama- lama.”
“Dih, jadi ini ngerasa pegel? Belum lima menit juga.”
Rival menjepit ujung hidung Revalina. Membuat wanita itu tertawa kecil.
Beberapa detik keduanya diam membisu. Masing-masing memikirkan apa yang ada di kepala. Ada banyak angan-angan yang mesti mereka selesaikan bersama. Ini baru dimulai, mereka masih harus menjalani perjalanan rumah tangga yang panjang.
"Besok pagi kamu harus bangun lebih awal. Kamu harus mengurusku sebelum mengurus dirimu sendiri," kata Rival sambil mengelus rambut Revalina menggunakan tangan yang menjadi alas kepala Revalina.
Tidak ada sahutan. Beberapa detik berlalu, tak juga ada sahutan.
"Reva!" Rival mengangkat kepala untuk melihat wajah istrinya.
Hah? Sudah tidur?
Rupanya Rival ditinggal tidur. Revalina terpejam erat dengan mulut yang sedikit terbuka.
Setelah itu, Rival yakin akan ada pulau-pulau di bantal, eh bukan bantal, sebab Revalina saat ini tidur dengan alas lengan Rival. Percayalah, tidur dalam keadaan mulut sedikit terbuka akan menjamin adanya aliran mendadak.
Rival menangkupkan bibir Revalina dengan cara mendorong dagu. Mulut pun tertutup.
Setengah jam Rival terbaring, ia masih belum bisa tertidur. Kondisi kakinya yang dalam kondisi tidak sempurna membuatnya merasa tak tenang. Dia sudah tidak seperti manusia sempurna lainnya. Kehilangan fungsi kaki, membuatnya merasa insecure, sedih dan kacau. Sama seperti kehilangan kehidupan.
Rival benar-benar tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Frustasi. Juga ingin menangis. Entah sampai kapan ia akan begini. Akankah selamanya ia tidak bisa berjalan?
Sebenarnya dia merasa kesal, marah pada Revalina, kenapa sampai membuatnya menjadi lumpuh. Tapi cepat-cepat ia mengembalikan kondisi pikirannya supaya normal, jangan membenci Revalina. Semua sudah terjadi, bukan karena niatan Revalina untuk membuatnya lumpuh. Semua ada sebabnya.
Setengah jam berlalu, Rival mulai merasakan lengannya pegal. Kesemutan akibat ditindih kepala Revalina. Namun ia memilih untuk bertahan tanpa memindahkan kepala yang sudah nyaman itu, takut membuat Revalina terjaga dan tidurnya pun terganggu.
Biarlah. Berkorban untuk sosok yang dicintai.
(Kita sedang berbahagia dulu ya dengan Revalina dan Rival untuk bab ini. Jangan ganggu kesenangan mereka dan jangan iri.)
***
Matahari terasa hangat menyentuh kulit. Cahayanya masuk melalui jendela kaca bening. Tirai sudah dibuka lebar.
Rival dan Revalina masih berpelukan seperti teletubies di atas kasur, selimut sampai ke perut.
Setelah shalat subuh, mereka kembali naik kasur. Tidak tidur, hanya berbaring- baring saja. saling berbagi kehangatan.
Rival shalat subuh dalam keadaan duduk di atas kasur. Sedangkan Revalina di lantai.
Kini, mereka di posisi setengah berbaring, beralaskan bantal yang ditumpuk di dinding, menikmati pemandangan di luar melalui jendela kamar yang bening, sehingga mata mereka bisa menembus pemandangan di luar.
Revalina belum memiliki kegiatan apa pun saat ini, maka inilah saatnya ia menghabiskan waktu berduaan bersama dengan suami. Berbeda kasusnya saat ia sudah bekerja, pasti dia akan disibukkan dengan segudang pekerjaan yang tentunya akan menyita perhatiannya dari Rival.
“Kamu mau minum? Biar aku ambilkan,” tanya Revalina, takut suaminya merasa haus dan merasa sungkan meminta tolong.
“Tidak.” Rival menggeleng.
“Aku buatkan sarapan ya?” Revalina mengangkat wajah, menatap suaminya. Kepalanya nyender di dada bidang Rival, sedangkan lengan Rival berada di punggung Revalina. Sesekali tangan pria itu mengelus lengan polos istrinya.
“Nanti saja. belum lapar.”
“Oh.”
“Kamu pernah menyangka apa tidak? Kalau dosenmu ini pada akhirnya menjadi suami mu?”
“Sama sekali tidak. Bahkan aku juga tidak pernah jatuh cinta padamu waktu itu. makanya nggak nyangka kalau ternyata kita berjodoh.”
Rival tersenyum, senyuman yang menambah kesan tampan. “Aku juga. Kupikir jodohku itu wanita dari London, atau Jerman, atau Inggris, atau gadis luar negeri seperti yang aku inginkan. Selama ini aku mendambakan wanita bule. Eh, ternyata jodohku tdak jauh. Dapat orang Indonesia asli yang cantiknya paripurna.”
Revalina mencubit perut keras Rival, tidak menimbulkan efek apa pun. Perut berotot Rival seakan tidak merasakan apa- apa meski cubitan Revalina cukup keras.
“Suer, aku jadi males kerja. Males ngapa- ngapain,” keluh Revalina. “Sudah terlanjur nyaman dengan posisi ini. Beberapa jam begini un betah.”
Lagi-lagi Rival tersenyum.
“Ternyata begini rasanya punya suami, bisa sayang- sayangan, bisa pelukan, bisa berbagi kehangatan. Pantesan orang-orang pada nikah. Ternyata menikah itu ada banyak sisi kebahagiaan yang nggak bisa dijabarkan dengan kata- kata.” Revalina memeluk Rival erat.
“Kalau tahu begitu, ita pasti sudah menikah sejak dulu.”
“Iya, aku telat lahir. Seharusnya lahir lebih cepat biar bisa cepat nikah sama kamu. Hi hiiii….” Tawa Revalina pecah.
“Revalinaaaaa…..”
Suara keras dari luar membuat Revalina terlonjak kaget. Itu suara Candini. Suaranya melengking keras bak petir.
“Sarapan mana? Kenapa belum ada apa-apa?” Suara Candini makin menggelegar.
__ADS_1
Hadeeeh… Manusia yang satu ini benar-benar tidak bisa melihat orang lain senang. Baru semalam menikmati keindahan bersama suami, sudah diganggu begini.