
Tak banyak berpikir, dengan cepat Revalina berlari menuju ke dapur menghempas kopernya secara asal tak peduli akan apa uang terjadi pada kopernya fokusnya saat ini hanya tertuju pada area belakang.
Ketika berada di dapur Revalina langsung menghentikan langkahnya, tak terlihat satu orang pun ada di sana. Karena masih sangat penasaran ia pun bergegas menuju ke kamar mandi yang tak jauh dari sana namun lagi-lagi ia tak mendapati seseorang ada di sana.
"Mbak Sarah, Mbak," panggil Revalina sembari melirik kesana kemari.
Kepanikan melanda. Kepala pun mendadak berdenyut.
"Mas Rival," panggil Ravalina kembali.
"Mana Mama, tapi mobil Mama nggak ada," ucap Revalina bertanya-tanya.
"Reva."
Tiba-tiba seseorang di belakang Revalina tengah memanggil namanya, sontak dengan cepat ia pun membalikkan badan.
Tak disangka sosok itu adalah Sarah, seketika dipikirnya ada maling di rumah atau malah setan ternyata masih ada yang menunggu rumah ini. Namun ada beberapa keanehan dari Sarah sekarang, dia nampak membawa satu jirigen berukuran besar dengan keringat di keningnya yang masih bercucuran.
"Kakak habis dari mana?" tanya Revalina kebingungan.
"Habis dari jalanan gang yang ada di sebelah situ," jawab Sarah sembarang menunjuk ke arah selatan.
"Hah, ngapain Kak?" tanya Revalina kembali masih tak paham dengan jawaban Sarah yang hanya sepenggal.
"Nih, aku di telfon Kakak ipar mu suruh kirim air radiator mobilnya mogok kehabisan air," jawab Sarah dengan nada kesal.
Setelah menjawab pertanyaan Revalina, Sarah pun bergegas menuju gudang yang tak jauh dari dapur meletakkan jirigen itu di sana.
"Kak Yakub sama Mas Rival tadi Mbak?" tanya Revalina mulai cemas.
"Iya," jawab Sarah.
Revalina tak berani lagi bertanya, kini ia memilih mengunci mulutnya mengingat Sarah sekarang tengah kesal.
Dapat ia bayangkan betapa jauhnya Sarah berjalan membawa beban jirigen yang pastinya penuh dengan air lalu membawanya pulang kembali. Tak heran jika Sarah mengeluh, keringat di keningnya telah memberi bukti akan kelelahannya.
Petang itu Revalina memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya, membawa koper yang penuh dengan baju kotor itu ke kamar terlebih dahulu.
Di bawah guyuran shower Revalina mulai membersihkan tubuhnya dari kotoran dan keringat yang menempel sejak pagi tadi, di bawah shower itu juga ia kembali memikirkan ucapan Chesy.
"Lebih baik aku harus waspada mulai sekarang, jangan sampai aku menyesal di kemudian hari," gumam Revalina.
Setelah membersihkan diri Revalina pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah mengusap-usap sembari terus menggerakkan tungkainya menuju ke meja rias.
"Sudah pulang ternyata," ucap Rival.
__ADS_1
Mendengar suara itu seketika fokus pandangannya yang hanya tertuju pada meja rias kini seketika beralih ke arah ranjang, reflek Revalina berjingkat mendapati Rival sudah terduduk bersandar di sana.
"Mas Rival," panggil Revalina lirih lemas akibat terkejut.
"Aku kaget Mas tiba-tiba ada di sana," ucap Revalina dengan nafas terengah-engah.
Setelah keluar dari sana Revalina tak lagi terkejut tantang Rival yang ada padanya dengan cara-cara seperti itu.
Namun Saat itu Revalina memilih untuk mengemasi laptop dan charger laptop tersebut ke dalam kantor dan sementara itu dia sangat tak memikirkan.
"Aku dari tadi ada di sini," sahut Rival.
Aku ingin seperti kamu nggak berkerja tapi selalu punyanya.
"Lah," ucap Revalina makin terkejut lagi.
Ia benar-benar tak tahu ada Rival sejak tadi di ranjang, sahutan Rival seketika membuatnya bingung bukan kepalang.
"Bisa-bisanya aku nggak lihat tadi," ucap Revalina dengan raut wajah bingungnya.
Sebelum memulai aktivitas rutin malamnya, Revalina terlebih dahulu mencium punggung tangan Rival setelah pulang dari luar kota yang memakan waktu dua hari lamannya. Setelah itu ia pun kembali ke meja riasnya untuk mengoleskan skincare malam pada wajah dan mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Tadi kata Mbak Sarah mobil Kak Yakub mogok, benar Mas?" tanya Revalina hanya ingin basa-basi.
"Iya benar, tahu tuh Kak Yakub bisa-bisanya lupa isi air radiator," jawab Rival dengan nada kesal.
"Dari kantor polisi, tadi siang itu Kak Yakub dihubungi suruh kesana karena ada hal penting yang mau dibicarakan. Karena Kak Yakub merasa aku perlu ikut jadinya aku ikut," jawab Rival secara jelas.
Seketika Revalina langsung menelan salivanya dengan kasar, terkejut mendengar jawaban Rival serta kebingungan dengan Rafa yang tak cerita apapun tentang apa yang terjadi padahal seharian ia bersama dengannya di rumah.
'Kenapa Kak Rafa nggak bilang apa-apa soal ini,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
Rasa penasarannya yang berhenti sampai situ, Revalina kembali menatap Rival dengan tatapan serius begitupun dengan Rival.
"Ada hal penting apa Mas?" tanya Revalina makin penasaran.
"Aku sama Kak Yakub dimintai izin buat penyebarluasan foto Dalsa," jawab Rival.
"Lalu apa keputusan kalian?" tanya Revalina kembali.
"Belum kasih keputusan karena keputusan ku sama Kak Yakub itu beda," jawab Rival dengan santainya.
Namun sesantai apapun pembawaan seseorang tetap saja kedua matanya tak bisa berbohong dan terlihat seorang ini Rival tengah sangat memikirkan permasalahan tersebut.
"Beda?" tanya Revalina tak puas dengan jawaban Rival yang rasanya hanya sepenggal saja.
__ADS_1
"Kak Yakub minta buat lanjut, katanya memang sudah hal polisi buat sebar luaskan foto pelaku tanpa perlu izin sama pihak keluarga. Tapi menurutku itu nggak perlu, karena tanpa disebar luaskan Dalsa pasti akan tertangkap," jawab Rival dengan nada berat.
Terbukti Yakub lebih punya ketegasan di sini, sementara Rival masih memakai hati sebagai seorang Kakak dari Dalsa.
Mengetahui hal itu Revalina tak bisa protes atau bahkan menyalahkan Rival akan keputusannya, sejak awal ia selalu menghargai Rival juga Yakub sebagai Kakak kandung Dalsa dengan tak pernah membahas lagi permasalahan ini sejak adanya pelaporan.
"Aku hargai keputusanmu Mas, aku tahu perasaan mu sebagai seorang saudara," sahut Revalina lirih sedih.
Seketika Rival langsung menatap Revalina dari kaca rias, terlihat dari matanya nampak terkejut dengan ucapannya.
"Aku harap kamu nggak salah paham dengan keputusan ku, untuk hukuman yang akan diterima Dalsa aku nggak akan usik karena dia memang sudah pantas mendapatkan itu atas segala perbuatannya tapi untuk kali ini aku nggak mau ada wajah Dalsa bertebaran dimana-mana, apalagi di media," jelas Rival panjang lebar.
"Enggak, aku nggak akan salah paham. Sepeti yang aku katakan tadi aku tahu perasaan mu sebagai saudara," sahut Revalina kembali mengulang ucapannya.
Malam itu seperti biasa Candini tak kunjung pulang juga, Revalina yang ingin tidur jadi harus ikut menunggu mertuanya pulang di ruang tamu.
'Ah, sebenarnya badan ku sudah remuk sekali aku sudah sangat mengantuk tapi mau gimana semua lagi tungguin Mama pulang nggak enak kalau aku nggak ikut tungguin juga,' gerutu Revalina dalam hati.
"Mama sering sekali pulang malam sekarang," singgung Yakub.
Terlihat raut wajah cemas Yakub tak dapat disembunyikan, sementara Rival justru terlihat sangat santai.
"Tenang saja, Mama ada di rumah saudaranya," sahut Rival dengan nada santai.
"Katanya acara syukuran itu pagi, kenapa sampai malam begini nggak pulang juga," ucap Yakub.
Sementara itu Sarah yang juga terlihat cemas terus mengutak-utik ponselnya, sepetinya tengah berusaha menghubungi Candini.
"Seperti nggak tahu Mama saja kau ini Kak, biasanya Mama kan suka ke Mall," ucap Rival tetap santai.
"Ke mall terus, bosan aku dengarnya," gerutu Yakub.
Perlahan Yakub mulai melirik ke arah Sarah yang sejak tadi duduk diam di sampingnya mengutak-atik benda pipih itu.
"Gimana sudah bisa dihubungi?" tanya Yakub pada Sarah.
"Belum," jawab Sarah dengan kening mengerut tajam.
"Ah. Aku susul juga nih," gerutu Yakub langsung beranjak dari duduknya, menyahut kunci mobil yang ada di meja dekat pintu.
"Hey, kamu mau kemana?" tanya Sarah menatap cemas.
"Mau susulin Mama di rumah saudaranya," jawab Yakub dengan nada kesal.
"Aku pergi dulu, kalian jaga rumah. Kalau Mama sudah pulang hubungi aku," pamit Yakub sembari memberi pesan.
__ADS_1
"Tunggu," seru Rival menatap Yakub dengan wajah datar.
Bersambung