
Seketika ia jadi ketakutan berada di ruangan seorang diri, entah kanapa ia batu sadar jika Rival tak ada dan entah kenapa pula Rival tak pamit dengannya. Karena sangking paniknya dengan cepat Revalina bergegas pergi menenteng tas sembari sementara satu tangannya menggenggam ponsel.
Klekkk.
Pintu langsung dibukanya, secara bersamaan dari arah luar Rival ada di hadapannya dengan kursi roda yang berhenti.
"Mas," panggil Revalina dengan degup jantung yang begitu kencang, terkejut melihatnya tiba-tiba ada di hadapannya sekarang.
"Dari mana saja?" tanya Revalina kesal.
"Aku tadi ke pantry bikin kopi," jawab Rival dengan santainya.
"Kenapa nggak pamit?" tanya Revalina kembali.
"Lah, sudah pamit tadi," jawab Rival.
"Mana ada, aku nggak dengar tuh," sahut Revalina sembari melirik-lirik ke atas.
"Sudah-sudah kenapa jadi berdebat begini," ucap Rival cepat-cepat menyudahi perdebatan.
Revalina langsung berdiam, benar-benar menyudahi perdebatannya meski ia merasa benar karena memang Rival tak pamit dengannya.
Tak lama ia mulai salah fokus dengan Rival yang kembali tanpa membawa apapun termasuk kopi yang katanya ingin dibuatnya.
"Terus kopinya mana Mas?" tanya Revalina kebingungan.
"Nggak ada, entah di mana orang-orang sembunyikan bubuk kopinya," jawab Rival sembari tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita ke black hole aku juga mau kopi sekalian makan malam," ajak Revalina tanpa menunggu jawaban Rival ia langsung memutar kursi roda.
Nampak Rival sedikit kebingungan, dia masih antara sadar dan tak sadar jika sejak tadi Revalina menenteng tas yang artinya pekerjaan sudah selesai dan waktunya untuk pulang.
Tiba di black hole salah satu resto&cafe ternama di negri ini, Revalina dan Rival mulai memesan makanan dan minuman di sana.
"Ada private room Kak?" tanya Revalina pada pelayan Resto.
Rival langsung menyenggol Revalina dengan sikutnya, tatapannya menggambarkan kebingungan namun Revalina hanya melirik lalu kembali menatap pelayan resto itu.
"Ada Kak," jawab pelayan resto.
"Untuk berapa orang?" tanya pelayan resto itu.
"Dua," jawab Revalina.
Lagi-lagi Rival kembali menyenggol lengannya, kali ini tak bisa dibiarkan lagi. Di hadapan pelayan itu Revalina mulai mendekatkan wajahnya ke arah Rival.
"Ada apa Mas?" tanya Revalina lirih.
"Kenapa kamu pesan private room?" tanya Balik Rival sembari mengerutkan keningnya.
"Ya, biar nggak ada yang ganggu," jawab Revalina dengan santainya.
Kasir mulai memproses pesanan Revalina berikut dengan private room ke dalam list pada bill.
"Siapa juga yang mau ganggu, memang dasar makhluk boros," ledek Rival sedikit kesal.
Tak menggubris ledekan Rival, Revalina langsung membayar bill tersebut lalu bergegas menuju ke private room yang sudah dibayarnya sembari mendorong kursi roda Rival.
"Mas, apa kau nggak lihat di meja biasa itu ramai sekali aku maunya itu kita cuma berdua," ucap Revalina sembari tersenyum-senyum menatap tengkuk Rival.
Rival menggeleng, entah apa yang ada di pikirannya setelah mendengar ucapan Revalina.
__ADS_1
Akhirnya mereka tiba di private room dengan ruangan yang benar-benar tertutup namun masih bisa melihat pemandangan kota dari dinding kaca.
Entah kenapa Revalina suka sekali dengan ruangan ini, ia jadi membayangkan betapa indahnya keluarganya dan keluarga Rival makan bersama di ruangan ini sambil bercanda gurau.
Sementara itu Rival justru resah, seperti tak nyaman berada di ruangan ini. Untuk mereda keresahan Rival, Revalina coba menggenggam tangannya sembari menatap dengan binar indah matanya.
"Kenapa Mas, bukanya enak kalau kita makan di sini?" tanya Revalina tersenyum ke arahnya.
Tak langsung menjawab pertanyaan Revalina, Rival justru kini mulai celingukan edaran matanya menyorot ke seluruh sudut ruangan.
"Enak sih enak tapi aku merasa beda saja dengan ruangan ini, emm sepetinya terlalu tertutup," jawab Rival.
"Bagus kalau tertutup begini kita bisa bicara apapun sepuasnya nggak akan ada orang lain dengar," sahut Revalina.
"Menurutku private room itu lebih pas buat meeting atau ketemu klien penting saja, kalau begini apa nggak pemborosan," ujar Rival masih terlihat resah.
"Enggak lah, apanya yang pemborosan. Umi saja setiap arisan selalu pesan private room," sahut Revalina membandingkan dirinya dengan Chesy.
Seolah sudah kehabisan kata-kata akhirnya Rival memilih untuk diam seribu bahasa tak lagi mendebat ucapan Revalina.
Malam itu mereka memulai dinner dengan menundukkan gelas masing-masing.
"Cheers."
Takkk.
Setelah kedua gelas saling bertubrukan Revalina Rival kompak langsung meminum ice coffe masing-masing.
"Padahal isinya kopi," gumam Rival sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hihihihi," kekeh Revalina tahu apa yang dimaksud oleh suaminya ini.
Mereka pun mulai menyantap makanan masing-masing dengan lahapnya, memang baru malam ini melihat makanan setelah seharian bekerja.
"Mas, kamu pesan apa?" tanya Revalina melirik ke arah hot plate milik Rival.
"Steak hot plate," jawab Rival sambil tersenyum.
"Kenapa asap dari steak mu nggak berbau steak ya, tapi enak kan Mas?" tanya Revalina khawatir Rival tak suka dengan makanan itu.
"Enak kok," jawab Rival dengan tatapan yang begitu meyakinkan.
Mendengar jawabannya pantas Revalina mencoba untuk langsung percaya dan tak lagi menghiraukan penciumannya.
Namun tak lama Rival mulai gusar, hidungnya mengendus-endus seperti manusia serigala membuatnya jadi takut.
"Mas, kamu ini kenapa?" tanya Revalina bingung sekaligus takut.
"Jangan bikin aku takut ya!" Revalina mulai memperingatkan suaminya dengan tegas.
Tapi peringatannya tak digubris oleh Rival dan kini justru terus mengendus hingga mengerakkan kursi rodanya ke arah pintu.
Sementara itu Revalina yang masih terbawa film jutsru melengos ke arah dinding kaca.
"Bulannya sabit, nggak mungkin Mas Rival berubah," ucap Revalina.
Cdakkkk.
Tiba-tiba suara begitu keras terdengar sesat setelah Rival membuka pintu, lalu seketika kepulan asap hitam yang begitu tebal masuk ke dalam private room.
"Masss," teriak Revalina.
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk," Revalina langsung terbatuk-batuk sesaat setelah membuka mulutnya.
Asap itu dalam sekejap mampu memenuhi ruangan, lalu dengan cepat memenuhi paru-paru Revalina yang kini terasa begitu menyesakkan.
"Reva, uhuk uhuk," teriak Rival diikuti dengan batuknya.
Revalina tak bisa lagi bicara, ia berusaha untuk keluar dari sana namun tubuhnya sudah benar-benar lemas tak berdaya.
Nampak dibalik kepulan asap tersebut ada api yang terus membumbung tinggi lalu tak lama ada dia orang memakai baju oranye datang menembus kobaran api, menyelamatkan satu persatu pengunjung restoran tersebut.
'Ya Tuhan kenapa mereka nggak selamatkan aku sama Mas Rival dulu atau minimal Mas Rival karena dia nggak bisa lari,' keluh Revalina dalam hati.
Ctdakkkkk.
Tiba-tiba puing-puing plafon yang ada di atas ruangan itu berjatuhan diikuti dengan api yang membakar.
"Reva, minggir!" teriak Rival.
Reflek Revalina langsung berguling ke kiri masuk ke dalam meja.
"Uhuk uhuk, Mas aku nggak sanggup lagi aku takut," ucap Revalina.
"Ayo kita keluar dari sini Reva," ajak Rival.
"Aku nggak kuat Mas," sahut Revalina lirih.
Dada kini terasa semakin sesak, seakan sudah tak ada lagi oksigen yang bisa ia hirup kecuali hanya asap asap berhawa panas itu.
Tak bisa ia bayangkan bagaimana caranya untuk keluar dari sini sementara tubuhnya sudah sangat lemas sekali.
Di tengah keputusasaannya tiba-tiba ada seseorang mengulurkan tangannya ke arah bawah meja seolah tahu ada orang di sini, tanpa berpikir panjang Revalina langsung menerima uluran tangan itu dengan seluruh tenaga yang tersisa keluar dari meja itu.
Seketika satu tangan menangkap tubuhnya, merangkul pinggang lalu bergegas membawanya pergi dari ruangan ini.
"Pelan-pelan Reva, awas," ucap Rival.
Mendengar suara itu yang rasnya tak asing ditelinganya sontak Revalina langsung mendongakkan kepalanya coba melihat siapa sosok yang tengah menolongnya sekarang ini dan betapa terkejutnya ia melihat sosok yang menolongnya dan tengah berusaha membawanya keluar adalah Rival.
"Mas," panggil Revalina dengan kedua mata terbelalak.
Dari ujung rambut hingga ujung kaki secara berulang-ulang di pandanginya, ia masih tetap tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Mas, kamu sudah bisa jalan?" tanya Revalina.
"Uhuk uhuk uhuk," Revalina kembali terbatuk-batuk.
"Revalina, awas," teriak Rival menghalau sesuatu dari atas.
Brakkkk.
Sepotong reruntuhan kayu terjatuh tepat di lengan tangan Rival dan langsung terhempas, dia berhasil menyelamatkan Revalina dari reruntuhan itu.
Mereka terus melanjutkan langkah kaki melewati api yang sudah mengepungnya dari berbagai sisi, mereka terus melompati beberapa piung-puing reruntuhan yang masih terbakar.
Saat-saat itu Revalina terus memandangi kedua kaki Rival yang dengan lincahnya melompati satu persatu puing itu.
"Reva," teriak Rival untuk yang kesekian kali.
Brakkkkk.
************
__ADS_1
Bersambung