
"Lagi pula nggak mungkin banget sih Cazim seiseng itu, cuma menghapus video dan mengganti dengan video upin ipin. Dia itu kan kriminal, pastinya dia udah menyelesaikan nyawaku saat tahu aku menyusup ke rumahnya bahkan merekam kegiatannya yang membahayakan. Cazim itu mafia, mana mungkin isengnya sekonyol itu."
"Kamu benar." Sarah jadi ikutan berpikir. "Tapi siapa yang menarih video upin kalau bukan Cazim?"
"Tauk ah. Entah kesalahan apa yang bikin error hape ku ini. Sekarang abi jadi marah banget sama aku karena mengira aku memfitnah Cazim dengan tuduhan palsu. Terus aku disuruh jadi muridnya Cazim. Parah banget kan? Nggak sudi aku jadi muridnya orang munafik seperti dia."
"Ahaaa... Ide bagus juga itu. Jadi muridnya Cazim kan? Udah, setujui aja."
"Gila kamu ya?" Chesy menoyong kening Sarah. "Ogah banget."
"Siapa tahu, dengan kamu menjadi muridnya Cazim, kamu malah jadi punya banyak waktu dengannya dan kamu jadi lebih bisa tahu banyak tentang dia. Ini kesempatan bagus bukan?"
Chesy terdiam, dahinya mengernyit. Kemudian ia tersenyum dan berkata, "Kamu benar juga. Kenapa aku nggak kepikiran sejak tadi ya? Ini otak jadi nge blank gara- gara Cazim. Oke deh aku setuju aja."
"Ya udah, aku pulang dulu ya. Seneng banget rupanya sahabat aku baik- baik aja. Kamu temui abimu gih, bilang kalau kamu setuju sama keputusannya. Jadi abi kamu nggak marah lagi sama kamu." Sarah bangkit berdiri. "Aku pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikumu salam." Chesy mengangguk. Ia kemudian cepat- cepat ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi. Badannya gerah dan lengket akibat meringkuk di lemari milik Cazim yang panas itu.
Setelah selesai mandi, Chesy keluar kamar dan menemukan pembantu melintas hendak pulang. Pembantunya itu menenteng tas. Ia terbiasa pergi pagi dan pulang malam.
"Bik, Si Ustad gadungan itu udah pulang apa belum?" Chesy menghentikan langkah wanita paruh baya itu.
"Ustad Gadungan tuh siapa, Non?"
"Si Cazim."
__ADS_1
"Oh. Sudah dari tadi."
Chesy mengangguk lega. Ia malas melihat muka Cazim malam ini.
"Ya sudah, saya permisi mau pulang duku, Non."
"Ya, Bik." Chesy melangkah menuju ke ruang tamu mencari abinya. Ternyata abinya sudah tidak ada di sana. Chesy pun melangkah keluar, menuju teras. Ia melihat Yunus duduk di kursi teras.
"Abi!"
Yunus menoleh menatap putrinya yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Jangan bicara apa pun kalau kamu hanya ingin mengajak abi bertengkar, abi mau tenang." Yunus bangkit berdiri dan melewati Chesy begitu saja.
"Abi, tunggu!" Chesy menghadang langkah abinya. Ia menatap wajah tua yang rambutnya separuh sudah memutih. Sungguh ia merasa sangat berdosa sudah membuat abinya menjadi kesal di usia senja begini. Seharusnya abinya hanya tinggal memetik kebahagiaan di usianya sekarang.
"Aku setuju kok menjadi murid nya Cazim." Senyum Chesy melebar, berusaha mencari damai.
Yunus mengangkat alis. "Sungguh?" Raut wajah Yunus masih tegang dan serius sekali.
"Iya." Chesy mengangkat dua jari, meyakinkan abinya.
Senyum di wajah Yunus akhirnya terbit. Ia mengangkat tangan dan meletakkan telapak tangannya di ubun - ubun berlapiskan hijab itu.
Wajah Chesy dihias cengiran kecil.
__ADS_1
"Abi tahu kamu anak baik. Jangan kecewakan abi ya?"
Chesy mengangguk.
"Abi hanya ingin kamu memahami keislaman, mendalami ilmu agama dengan baik. Itu saja," sambung Yunus.
"Iya, abi."
"Nah, kalau begini kan abi seneng." Yunus melangkah masuk ke dalam.
Bersambung...
Mau dung hadiah koin dan poin buat penyemangat. He heee...
Makasih banyak buat tiga akun pemberi hadiah tertinggi :
RaVaNieZka,
relove,
tutik Abdullah
__ADS_1
Kalian luar biasa, makasih banyak buat yang lainnya juga