Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Janggal


__ADS_3

Keesokan hari, terdengar kabar bahwa restoran Elang kebakaran, komplit dengan pemiliknya yang juga ikut terbakar di dalamnya. Marco.


Malam itu Marco ketiduran di restoran, ia masih sibuk menghitung omzet hingga larut malam dan ketiduran di ruang kerjanya. Saat ia ketiduran itulah kebakaran terjadi hingga menghanguskan restoran, beserta Marco yang juga menjadi korban karena terkepung asap dan tidak tertolong lagi.


Pemadam kebakaran tiba dan berhasil memadamkan api setelah delapan puluh persen bangunan restoran terlalap api. 


Menurut keterangan polisi, penyebab kebakaran adalah terjadinya korsleting listrik.  Jawaban simpel supaya tidak kebanyakan kerjaan dalam mengusut kasus itu. Tidak ada yang tahu bahwa pelaku di balik kebakaran itu adalah Revalina.


Sebenarnya ruang kerja Marco terpisah dengan restoran, namun karena Marco ingin menyelamatkan barang berharga, dia malah masuk ke restoran yang jelas apinya sudah membesar. Akibatnya Marco pun menjadi korban lalapan api.


Revalina pagi itu tengah duduk di kantin, menyantap mie goreng sambil membaca berita mengenai kematian Damar, Reno dan Marco silih berganti pada jejak digital yang disajikan di sosmed. 


Tinggal satu nama lagi. Entah siapa nama itu. Yang jelas, Revalina sekarang sudah menemukan bukti berupa luka di punggung Marco. Mayat Marco menunjukkan bekas luka yang sama dengan luka si pelaku jahanam itu. 


Revalina melirik bayangan di meja. Ada sosok yang berdiri di belakangnya, membuat bayangan itu tercipta di mejanya akibat pantulan dari lampu atasnya.


Revalina menoleh, menatap Akram yang entah sudah sejak kapan berdiri di sana. Pria itu tersenyum memegangi kue kecil.


"Hei, kenapa berdiri di belakangku?" tanya Revalina.


Akram kemudian langsung duduk di kursi depan Revalina.


"Maaf mengagetkanmu. Aku bawa kue ini untukmu." Akram meletakkan kue ke meja.

__ADS_1


Revalina tersenyum. "Kamu itu kan temannya Rajani. Pasti kamu beranggapan bahwa aku ini Rajani kan?"


"Tidak. Aku sadar Rajani sudah pergi. Aku merasa kepergian Rajani sangat mendadak. Dia masih mengobrol bersamaku di kampus beberapa jam sebelum kepergiannya. Dan sampai saat ini, aku masih tidak yakin kalau dia pergi meski aku sadar bahwa benar dia sudah pergi. Dan aku merasa ada yang janggal."


Revalina langsung menatap lekat mata Akram. Pria itu sejak awal menaruh hati pada Rajani, dia sangat menyukai Rajani. Mungkin itulah sebabnya dia merasa kehilangan dan banyak mencari tahu tentang kematian Rajani.


"Aku merasa sangat kehilangan. Beberapa jam sebelum dia pergi, aku sempat bilang kepadanya bahwa aku ingin menjadi pendamping hidupnya. Dan aku meminta supaya dia menungguku sampai aku mendapat pekerjaan mapan. Dan dia menerimaku. Tapi malah begini kenyataannya." Akram tampak sedih.


"Bukan cuma kamu yang terpukul. Aku juga. Tapi ini semua udah terjadi."


"Kamu yang menemukan Rajani saat dia meninggal. Memangnya kamu temukan dia dimana? Dia sakit apa sebenarnya? Kenapa mendadak kejadiannya? Rasanya ini janggal."


"Akram, anggap ini adalah takdir. Jangan dipertanyakan lagi." Revalina tidak mau ada satu pun orang yang tahu penyebab kematian Rajani. 


"Stop, Akram. Kamu nggak berhak bicara banyak hal tentang Rajani hanya karena kamu menyukai dia," kesal Revalina. Semakin Akram mendesak, Revalina takut penyebab kematian Rajani malah akan terkuak dan akhirnya ia tidak bisa menuntaskan misinya.


Cukup dia saja yang tahu tentang penyebab kematian Rajani. 


"Aku sebenarnya tahu sesuatu, tapi aku tidak tahu apakah ini perlu aku sampaikan kepadamu atau tidak," jelas Akram.


"Tahu sesuatu? Apa maksudmu?" 


"Dalsa itu sosok yang ditakuti di kampus ini, dia sok menjadi penguasa dan sok hebat, tidak ada yang berani melawannya. Satu- satunya orang yang melawannya adalah kamu. Dia sakit hati terhadapmu. Lalu dia mengadukan hal ini pada abangnya, Pak Rival."

__ADS_1


"Apa kaitannya dengan topik yang kita bicarakan? Jangan berbelit- belit!" Revalina penasaran.


"Pak Rival itu sangat menyayangi Dalsa. Aku mendengar pembicaraan Pak Rival di telepon dengan orang yang dia sebut Marco, entah membicarakan apa. Tapi dia menyebut- nyebut namamu, Revalina."


Revalina sedang mengambil kesimpulan atas kalimat yang disampaikan oleh Akram. Apakah ini artinya Rival terlibat? Apakah dia yang mengajak tiga temannya untuk memperk*sa Revalina tapi malah salah sasaran? Justru Rajani yang menjadi korban. Terbukti Rival itu berteman dengan Marco, mereka saling kenal. 


"Dan... Aku waktu itu masih belum bisa mengambil kesimpulan atas pembicaraan Pak Rival.  Hanya saja, aku heran kenapa tiba- tiba Rajani meninggal setelah itu. Apakah  Rajani meninggal secara wajar, atau ada kejanggalan? Aku menduga pembunuh Rajani ini salah sasaran, seharusnya kamu yang menjadi sasaran, tapi malah Rajani," sambung Akram menduga- duga.


"Kamu bicara begini karena kamu sedang kalut kehilangan Rajani. Ini nggak ada kaitan." Revalina berusaha menutupi.


"Sebelum Rajani pergi meninggalkan dunia ini, dia sempat meneleponku dan bilang mau menemuimu. Dia menuju ke tempat asing, gedung tua. Dan dia memintaku menyusulnya ke sana. Tapi saat aku menyusul ke sana, sudah tidak ada apa- apa. Aku hanya menemukan bercak darah yang seperti sengaja sudah dibersihkan, tapi masih tersisa." Akram kembali melanjutkan. 


Revalina tertegun. Sepertinya ia sudah membersihkan darah itu dengan baik. Apakah masih tersisa? Bahkan ia juga sudah membungkus pakaian Rajani yang sobek- sobek itu dan merapikannya tanpa sisa.


"Aku berharap itu bukan darah dari luka Rajani, tapi makin ke sini, aku makin bertanya- tanya, apakah ini berkaitan? Kamu sendiri mengakui bahwa Rajani meninggal secara mendadak karena sakit, kamu yang pertama menemukan dia. Dan kamu tidak membahas masalah gedung tua itu, apakah benar kamu tidak menemukan Rajani di gedung tua itu?" sambung Akram lagi yang tampak dihantui rasa penasaran. "Baiklah, kalau kamu memang tidak mau terbuka kepadaku soal ini, aku akan cari tahu sendiri. Sebenarnya Rajani meninggal karena apa? Aku akan cek darah yang tertinggal di gedung tua itu, apakah itu milik Rajani atau bukan."


Wah, gawat. Masalah bakalan panjang jika Akram sampai mengecek darah itu.


"Nggak perlu, Akram. Baiklah, aku akan katakan semuanya," ucap Revalina, akhirnya menyerah. Tidak ada salahnya juga ia bicara pada Akram soal ini. Akram ada di pihaknya. Revalina kemudian berbisik, "Rajani dibunuh."


Akram terkejut. Wajahnya langsung memerah. 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2