Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sengit


__ADS_3

Chesy melangkah keluar didampingi oleh Sarah dan seseorang lainnya yang memegangi gaun bawahan. Mereka mengiringi Chesy berjalan menuju ke kursi pelaminan. Yang di sana ternyata sudah ada Cazim yang lebih dulu duduk. Pria yang juga mengenakan masker pengantin itu hampir tiga puluh menit duduk sendirian tanpa dampingan istri.


Chesy duduk di sisi Cazim, berjarak. Wajahnya tegang dan muak, namun tersembunyi di balik masker sehingga tidak ada yang tahu ekspresi Chesy saat ini.


Tamu yang datang banyak sekali, memenuhi meja dan bahkan sampai ada yang duduk di lantai beralaskan permadani.


Beginilah potret seorang terpandang. Disegani dan dihargai oleh banyak orang. Yunus adalah sosok yang baik, sering membantu dan dermawan, sehingga banyak yang menghadiri walimah tersebut sebagai wujud rasa hormat.


Tidak ada kotak sumbangan, acara itu memang diperuntukkan para tamu makan makan sebagai rasa syukur.


"Kau tau kenapa aku meminta masker ini dipasang di wajah kita?" ucap Cazim dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


"Nggak penting!" ketus Chesy.


"Pertama, supaya tidak ada satu pun kamera yang dapat meliput wajahmu dan wajahku. Wajah perempuan itu tidak bagus jika sampai diposting di sosmed karena jejak digital akan tetap ada meski kita mati. Kedua, supaya semua orang tidak melihat wajahmu yang dipastikan masam dan monyok. Ketiga, supaya tidak ada yang tahu kalau kau dan aku sedang berdebat. Tidak ada yang melihat mulut kita bergerak jika ditutupi masker begini."


"Diantara sekian banyaknya alasan, menurutku hanya ada satu alasan yang membuatmu sangat ingin menutup wajah dengan masker, yaitu menutupi wajahmu sendiri dari keramaian. Kamu nggak mau wajahmu diketahui banyak orang kan? Siapa tau ada tamu dari jauh yang ternyata mengenalmu dan malah membawa masalah bagimu. Kalau hak itu terjadi, maka musibah baru justru akan menimpamu."


"Cerdas. Baguslah kalau kau bisa membaca situasi itu."


Chesy melirik air mineral yang ada di meja samping Cazim, ia haus dan ingin meminta Cazim supaya mengambilkan air tersebut, namun enggan. Tatapannya beralih ke wajah Cazim, yang terlihat di wajah itu hanyalah bagian mata saja karena sebagian lainnya tertutup masker. Dan Chesy mendapati tatapan tajam dengan dahi bertaut.


Ada apa dengan Cazim? Kenapa tatapannya setajam itu? Chesy diam diam mengikuti arah pandang Cazim. Rupanya pria itu tengah menatap ke arah seorang pemuda berseragam polisi.

__ADS_1


Tak lama kemudian pria berseragam itu membalas tatapan Cazim dengan senyum tipis. Dia bangkit berdiri, melangkah gontai mendekati kursi pelaminan, dia melewati Chesy sambil tersenyum dan menangkupkan kedua tangan di depan dada, kemudian menghampiri Cazim sambil menjabat tangan pria yang menyambut sambil bangkit berdiri.


Pria berseragam memeluk singkat tubuh Cazim selayaknya tamu yang memberi penghormatan.


Namun Chesy meyakini bahwa itu tidak hanya sebatas pelukan biasa, ia mendengar pria berseragam mengatakan sesuatu, entah apa. Tidak jelas di pendengarannya.


"Aku mau numpang ke toilet rumahmu dulu," ucap pria berseragam selepas pelukan dengan senyum. Ia menuruni area pelaminan dan memasuki rumah Yunus.


Tak lama kemudian Cazim pun menuruni pelaminan, ia memasuki rumah.


Ada apa dengan mereka? Chesy bertanya- tanya. Penasaran sekali. Secepatnya Chesy menghambur turun dan mengikuti Cazim. Perlu melintasi banyak ruangan luas hingga ia sampai ke kamarnya sendiri. Dan di sana ia melihat pria berseragam tengah menodongkan senjata api ke arah Cazim dengan sorot mata tajam. Keduanya tampak sengit. Masker di wajah Cazim sudah dibuka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2