
"Mimin, tolong kamu tinggalkan kami. Aku mau bicara dengan putriku," ucap Yunus.
Mimin tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku pergi. Assalamualaikum, Mas."
Yunus mengangguk dan menjawab salam.
Chesy menatap janda berhijab putih itu, melenggang gontai dengan bandulan di belakang yang goyang ke sana goyang ke sini. Selalu begitu setiap kali berjalan, pasti pinggulnya digoyang kuat supaya menarik perhatian para lelaki.
Iya, badannya memang bagus, sintal dan padat, tapi bukan berarti kalau berjalan mesti demikian. Kabarnya dia disukai banyak pria, lantas kenapa dia terus- terusan mendekati Yunus yang jelas jelas usianya terpaut jauh? Kenapa malah Yunus yang menjadi sasarannya? Wanita itu terkenal dekat dengan banyak lelaki, oleh sebab itu Chesy tidak menyukainya.
Di meja tampak kue lapis legit yang baru dipotong sedikit. Itu pasti bawaannya si janda muda spesial untuk Yunus. Ya ampun. Rupanya tidak jengah juga janda muda itu mendekati Yunus dengan berbagai cara.
"Chesy, katakan sejujurnya, kamu setiap pagi dan sore mendatangi rumah kontrakan Cazim kan?" tanya Yunus.
__ADS_1
"Iya," jawab Chesy enteng saja.
"Apa yang kau lakukan?"
"Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, aku beresin rumah Mas Cazim."
"Bukan hanya itu saja yang kau lakukan. Kau sudah berbohong pada Abi." Yunus menatap tajam.
Chesy mulai menerka- nerka apa penyebab kemarahan ayahnya. Pasti gara- gara si janda muda itu. Hasutan apa yang diberikan oleh si janda itu?
Chesy menunduk. Kalimat apa pun pasti tidak akan mampu melumpuhkan kemarahan abinya. Semua yang dikatakan abinya benar. Alih alih memikirkan segala tuduhan yang memang benar, Chesy bertanya tanya, apakah Mimin mencari info dan mengadukannya pada Yunus? Benar- benar biang keladi!
"Jika kau membenci Cazim, bukan begini caranya. Kau sampai menembaknya dan membuat Cazim hampir mati. Apa yang sebenarnya ada di kepalamu, hm? Kau seperti bukan putriku. Kau mewarisi sifat iblis!" Yunus mendorong pundak Chesy geram sekali hingga tubuh kecil Chesy terhuyung mundur.
__ADS_1
Chesy tidak sanggup menyeimbangkan tubuhnya, tubuh itu bergerak mundur dan terhuyung sembilan puluh derajat dari atas permukaan lantai, hendak menghantam keras.
Bruk!
Ah, ketakutan Chesy tidak terjadi. Tubuhnya yang terhuyung hampir jatuh ke belakang itu ditangkap. Chesy menoleh dan melihat wajah Cazim di dekatnya. Pria itu menangkap tubuhnya dari arah belakang. Mendekapnya erat. Hangat.
Jangan bergerak! Chesy mau lebih lama lagi di posisi itu. Cazim memang selalu datang tepat waktu.
Cazim membetulkan posisi badan Chesy supaya dapat berdiri dengan tegak lurus.
"Abi, ada apa ini?" tanya Cazim dengan lembut. Ia menyaksikan mertuanya sangat marah hingga mendorong badan Chesy sangat kuat.
Yunus beristigfar. Berusaha menguasai emosinya sambil mengusap wajah.
__ADS_1
Bersambung
Klik like dulu yah