
Chesy berdiri di depan kantor pengadilan agama membawa berkas penting untuk pendaftaran gugatan cerai.
Netranya mengawasi papan nama yang tertulis Pengadilan Agama. Ia menunduk menatap map plastik yang ada di tangannya. Separuh hatinya rahu, apakah langkahnya sudah tepat? Ia tidak ingin Cazim masuk penjara, namun ia tetap ingin berpisah dari Cazim. Berat sekali jika harus berdampingan seumur hidupnya bersama dengan pembunuh ibunya.
Chesy masuk ke sebuah ruangan. Lumayan antri untuk pendaftaran tersebut.
Kenapa sebanyak itu orang-orang mengantri untuk gugatan cerai? Apa begini potret rumah tangga? Diwarnai dengan perceraian. Dan anehny, mayoritas yang mendaftarkan gugatan cerai adalah wanita. Ada apa dengan kaum Adam? Apakah mereka selalu menyakiti wanita?
Seharusnya ia menyuruh pengacara saja untuk mengurus hal ini, hanya saja ia tidak mau momen gugatan ini tidak dikerjakan oleh tangannya sendiri.
Chesy duduk di kursi, diantara sekian banyaknya orang yang juga mengantri, masing-masing membawa map yang isinya pasti sama.
"Mau daftarin gugatan ya?" tanya salah seorang wanita, kelihatannya lebih muda dari Chesy, duduk di sebelah Chesy.
Chesy hanya melempar senyum canggung.
"Rame banget ya? Segini banyaknya para wanita merasa terzalimi dan memilih untuk berpisah dari pilihan hidupnya. Ya emang mendingan sendiri sih dari lada menderita," celoteh wanita muda itu.
"Kamu sendirian ke sini?" Chesy berusaha untuk berdamai dengan situasi. Stidaknya mengobrol di waktu yang membosankan bisa membuatnya merasa lebih terhibur.
"Tadi ditemani suami. Tapi dia nggak mau ikut masuk. Kan kita mau cerai. Jadi dia males nemenin sampai masuk. Kami bertengkar terus setiap hari. Udah enam tahun nikah tapi kehidupa kami diwarnai pertengkaran mulu. Dia tuh kasar dan mudah emosi, cemburuan lagi." Tanpa sadar, dia telah membuka aib suaminya.
"Enam tahun?" Chesy heran. Jika melihat postur tubuh dan wajah lawan bicaranya, jelas dia masih sangat muda sekali. Lalu usia berapa dia menikah sedangkan usia petnikahannya sudah enam tahun di umurnya yang masih muda begini?
__ADS_1
"Aku menikah di usia enam belas tahun. Masih SMA, hamil duluan sama kakak kelas. Terus kami nikah, aku keguguran dan sampe sekarang belum dikasih keturunan. Syukur deh nggak hamil dari lelaki itu."
Chesy mendapat jawaban dari pertanyaan di benaknya.
"Yaa… untuk apa sih bertahan kalau menderita dan tersiksa batin? Kebahagiaan itu kan kita yang menentukan," imbuh wanita itu cerewet sekali.
Meski cerewet dan terlalu banyak bicara, namun Chesy mengambil satu kesimpulan dari perkataan wanita itu, yaitu kebahagiaan adalah kita sendiri yang menentukan, bukan orang lain.
***
“Chesy, ini abi bawakan makanan kesukaanmu.” Yunus meletakkan sebuah kotak makanan ke meja. “Tadi abi baru saja bertemu sama teman-teman lama. Mereka ajak abi makan di restoran. Dan ini dibelikan oleh teman abi. Kamu pasti suka.”
Chesy tahu Yunus bersikap ramah, penuh senyum dan lembut seperti ini karena sedang menghiburnya. Bayangkan saja, masa depan Chesy benar-benar dipertaruhkan setelah menikah dengan lelaki pilihan abinya. Yang ternyata lelaki itu adalah seorang mafia. Bahkan kini Chesy dilanda kebimbangan akan rumah tangganya itu karena ada banyak yang harus dipertimbangkan.
“Kenapa? Itu ada sosis dan kejunya juga. Makanan kesukaanmu,” ucap Yunus.
Chesy mengambil sendok plastik yang disediakan di dalam kotak. Lalu memotong sosis dan memakannya.
Glek.
Kenapa rasanya aneh? Ini sebenarnya abi mau memberikan makanan enak atau sedang berusaha membuat Chesy move on dari Cazim dengan menikmati makanan aneh begini?
“Kok, mukanya kayak nggak suka begitu?” tanya Yunus menatap ekspresi wajah Chesy yang aneh.
__ADS_1
“Nggak enak, Abi.” Chesy berterus terang. Ia langsung menyambar air mineral dan meneguknya.
“Loh, itu kan kesukaan kamu.”
“Tapi sosisnya amis.”
“Masak sih?” Yunus mencicipi sosis. “Enak kok. Tidak amis. Abi tadi sudah makan ini kok di resto.”
“Untuk abi aja.” Chesy bergidik.
“Maafkan abi. Rencananya abi mau kasih makanan enak buat kamu, tapi malah bikin kamu jadi ilfil.” Yunus menarik kotak makanan dan menutupnya. “Belakangan ini abi sering mengecewakanmu. Abi berharap bisa membuatmu bahagia dan mendapat suami yang baik supaya akhirat pun baik, tapi abi keliru. Bahkan soal sepele untuk bisa menyenangkanmu dengan makanan ini pun juga ternyata keliru.”
Chesy malah jadi iba melihat Yunus sedih. Muka abinya mendadak mendung dibalut dengan penyesalan mendalam.
“Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya menderita dan sengsara? Asal kamu tahu Nak, abi terpukul saat kehilangan Ismail, abangmu. Abi terpukul saat tahu dia nyandu. Ternyata sikap Ismail yang pendiam dan cenderung tertutup itu malah menjadi bom waktu buat abi sendiri. Abi lengah sampai tidak tahu Ismail mengenal barang haram. Padahal kesehariannya terlihat sopan, baik dan taat dalam beribadah.” Yunus menghela napas berat.
Ia meneguk minum, menjeda kalimatnya.
“Abi bersikap keras padamu karena abi takut sekali kamu juga menjadi seperti abangmu. Abi ingin kamu yang sering lalai pada agama ini mendekat pada ketaatan melalui suami yang baik, hanya itu tujuan abi.”
Chesy akhirnya tersenyum. Ia mengerti maksud tujuan Yunus dalam kasus ini adalah baik, tapi setiap tujuan yang baik terkadang dilakukan dengan cara yang tidak tepat pula hingga akhirnya malah berujung tidak baik.
Bersambung
__ADS_1