Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Marah


__ADS_3

“Jadinya malah kecelakaan gini kan?  Makanya kalau diajak ngomong itu jawab, jangan dicuekin!” geram Chesy tanpa menatap lawan bicaranya, fokus pandangannya ke dada yang ditumbuhi bulu halus.  Tangan Chesy bergetar saat mengelapnya.  Suer, ini adalah pertama kalinya ia harus melihat dada polos lelaki, bahkan sesekali jari lentiknya bersentuhan secara langsung dengan kulit dada bidang itu.


Eh, tapi yang sedang dia lihat saat ini bukanlah aurat.  Seharusnya ia biasa saja.  tapi nyatanya ia gugup sekali.


“Kau sudah merasakan bagaimana buruknya saat lawan bicaramu tidak mau menanggapi ucapanmu, kan?  Itulah yang aku rasakan!  Jadi, belajarlah untuk menghargai orang lain!  Dicuekin saat bicara itu tidak menyenangkan!”  Cazim meraih tangan Chesy dan menjauhkannya dari dadanya.  Pria itu kemudian duduk lagi.


Chesy tertegun.  Ingat bahwa ia tadi sudah cuek pada Cazim saat beberapa kali pria itu menanyainya.  Duh, mau berapa kali Cazim bikin ia jadi skak mat begini.  Dengan tingkahnya yang santai dan tenang, dia dengan mudahnya membuat Chesy merasa diskak.


Chesy duduk di kursi panjang bersebelahan dengan Cazim.


Dua mangkuk bubur disajikan oleh si penjual.


Cazim menyantap bubur dengan lahap.


“Makanlah!” ucap Cazim menunjuk bubur.


Mencium aroma bubur yang gurih, Chesy pun tidak kuasa menahan diri.  Pengalaman tentang buruknya menahan gengsi gara- gara pecal di rumah sakit cukup membuatnya menelan rasa malu, jnagan sampai itu terjadi lagi.

__ADS_1


Chesy pun ikutan menyantap bubur.


“Mau minum apa?” tanya Cazim.


Chesy menggeleng.


“Memangnya bisa makan tanpa minum?”


“Air putih aja.”  Chesy mengambil air mineral dalam kemasan gelas, lalu meneguknya melalui sedotan.


Sebenarnya Cazim ini orangnya bagaimana?  Sikapnya membuat Chesy bingung.  Chesy pernah memergoki Cazim dengan penampilannya yang lebih pantas disebut preman, jauh dari kata ustad, bahkan tato yang ada di badannya juga jelas menunjukkan kalau dia itu memang bukan pemuka agama.  Dia juga sering kali marah setiap kali hal- hal yang berbau rahasia tentangnya hampir terbongkar.  


“Sekarang kamu suamiku kan?” tanya Chesy.


“Tidak perlu kau tanyakan lagi, apa perlu akad dua kali untuk meyakinkanmu?”


“Maksudku, kalau kamu itu suamiku, maka biarkan aku mengenal keluargamu.  Orang tuamu, dan saudara- saudaramu.  Aku tentu harus mengenali keluargamu juga.”

__ADS_1


Cazim diam saja.  dia tampak serius menyantap buburnya.


“Bawa aku bertemu dengan kedua orang tuamu!”


“Aku tidak punya orang tua.”


Chesy mengernyit.  Pembohong!  Jelas- jelas Senja mengatakan bahwa Cazim Cazim masih memiliki ayah.


Kalau memang Cazim berasal dari keluarga baik- baik, seharusnya ia bersedia mengenalkan orang tuanya.  Tapi dia malah menghindarkan istrinya dari orang tuanya.  Sungguh manusia aneh.


“Jangan bohong!  Aku nggak suka dibohongi!” ketus Chesy.  


“Kenapa aku harus berbohong?”


“Aku tahu kamu masih punya keluarga.  Jangan sembunyikan mereka dariku!  Kenapa kamu harus menghindari mereka dan bahkan pernikahanmu pun disembunyikan dari mereka?  Apa yang kamu takutkan dari mereka?”


Cazim mulai terlihat jengah dengan semua pertanyaan itu.  ia meletakkan sendok dan garpu ke mangkuk, menoleh dengan tatapan tajam.  

__ADS_1


“Berhentilah untuk banyak bicara!  Kau tidak menginginkan pernikahan ini bukan?  Lalu kenapa terlalu sibuk dengan urusan keluargaku?  Kau melakukan ini hanya karena ingin tahu identitasku bukan?  ****!”  Cazim bangkit berdiri dengan kasar, kursinya sampai berderit.  Ia meletakkan uang lima puluh ribuan ke gerobak dengan sentakan agak kuat sampai- sampai mamang penjual itu kaget.


Bersambung


__ADS_2