Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Biarkan Menangis


__ADS_3

Dari kejauhan tampak Yunus muncul. Berjalan dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya dibalut kecemasan. Ia berpapasan dengan Senja yang berjalan meninggalkan Cazim.


"Bagaimana kondisi Chesy?" Yunus menghampiri Cazim.


"Abi tenang dulu, Chesy selamat." Cazim menenangkan. "Chesy ada di dalam."


Yunus menatap ke dalam kamar melalui sepetak kaca di pintu. Ia melihat Chesy yang sudah dalam keadaan berbaring setelah meninggalkan pintu dan memilih untuk kembali berbaring di bed.


"Ya Allah.. Bagaimana ini bisa terjadi, Cazim?"


"Tidak ada yang tahu bagaimana musibah akan datang. Beruntung Chesy selamat."


"Syukurlah."


"Mobil abi jatuh ke jurang."


"Jangan pikirkan itu. Yang terpenting kau dan Chesy selamat. Memangnya kau dan Chesy mau kemana? Kenapa bisa melintasi jalan itu? Bukankah itu jalan menuju ke luar kota?"

__ADS_1


Cazim memutar mata. Ia memakai mobil itu untuk mengantar Senja.


"Abi, Chesy membutuhkan abi," ucap Cazim mengalihkan pembicaraan.


"Iya." Yunus melangkah menuju pintu, namun batal masuk kamar. Ia kembali menoleh pada Cazim.


"Cazim, Chesy itu anak tunggal abi. Dia satu-satunya harapan abi. Hidup abi hanya untuknya. Tolong, jaga dia. Temani dia saat dalam kondisi begini. Kau adalah suaminya, kau yang menjadi tumpuannya. Harapan abi hanya satu, melihat Chesy menjadi istri dan anak yang baik. Abi percaya padamu."


Cazim sedikit menundukkan kepala. Tidak tahu harus menanggapi apa. Rasanya harapan Yunus tidak pantas jika ditaruh di pundak Cazim.


"Aku mau ke toilet dulu, abi." Cazim melangkah pergi.


"Chesy, bagaimana kondisimu? Kamu menangis? Apanya yang sakit? Lehermu? Kakimu? Atau apa? Katakan!"


Chesy menggeleng kecil. Lehernya tidak bisa terlalu banyak bergerak. Ia menangis karena merasa hatinya kebas. Perih. Ingat suaminya memeluk wanita lain, hatinya ngilu. Dan mendadak ia ingin menangis. Terang saja, menangis mampu membuatnya merasa lebih plong dan lega. Baru saja ia merasakan yang namanya jatuh cinta, tapi kenapa rasa cinta itu mengajarkannya kepada rasa sakit dan cemburu?


"Iya, abi. Ini leherku sakit," lirih Chesy berbohong. Tak mungkin ia jujur dan mengatakan suaminya memeluk wanita lain. Saat ini ia sedang berjuang untuk membuat Cazim membalas cintanya, ia ingin membuat Cazim berpaling dari Senja. Entah dengan cara apa lagi. Yang jelas ia ingin terus memperjuangkannya. Meski nyawanya sudah menjadi taruhan untuk rasa cinta itu, belum juga ia mendapatkan balasan, namun ia tetap akan memperjuangkannya. Ia tidak mau kalah dari Senja.

__ADS_1


Mungkin Tuhan sedang menunjukkan padanya tentang cara berbakti pada suami, disebabkan selama ini ia telah durhaka pada suami.


"Kalau begitu abi akan memanggil dokter."


"Jangan, abi! Jangan!"


"Kenapa?" Yunus cemas.


"Ini udah dikasih obat dan pereda nyeri. Hanya saja aku sedang ingin menangis, abi. Nggak tau mau menangis aja. Pokoknya mau nangis."


Yunus pun terdiam. Tak bisa melakukan apa pun. Dia biarkan putrinya menangis sesenggukan. Tangisannya pilu sekali, membuat hati Yunus terenyuh dan malah ingin ikutan menangis.


Chesy tidak ingin berbuat apa pun. Dia hanya ingin menangis untuk meluapkan beban di dada. Setelah pengorbanannya yang mempertaruhkan nyawa, ternyata itu tidak mengubah apa pun untuk hati Cazim.


Baiklah, Chesy berusaha untuk ikhlas atas pengorbanan yang sudah dia lakukan, jangan mengharapkan apa pun dari pengorbanan itu.


Manik mata Chesy bergerak menatap kedatangan Cazim yang menyusul masuk. Demikian juga Yunus yang menoleh ke arah Cazim.

__ADS_1


"Chesy pasti trauma," ucap Yunus pada Cazim. "Dia sedang ingin menangis. Pikirannya pasti kacau sekali. Kasian dia."


Bersambung


__ADS_2