Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Menjagamu


__ADS_3

"Kau tidak akan mengerti jika aku ungkapkan. Masalah ini akan sulit kau pahami. Ini intern lelaki, dan kau tidak mungkin bisa memahaminya. Fokus kita saat ini adalah kesembuhan Cazim. Lupakan sejenak masalah itu." Hamdan menyentuh kunci hendak memutarnya. Namun sebelum itu terjadi, ia mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.


"Chesy, kau bersama Cazim di dalam?" seru Yunus. "


Hamdan urung memutar kunci. Ia bersembunyi di balin pintu. Sedangkan Alando bersembunyi di balik samping ranjang, posisinya jongkok dan menunduk.


Chesy menatap Cazim sebentar sebelum akhirnya ia menuju pintu dan membukanya. Ia hanya membuka sedikit saja supaya kondisi di dalam kamar tidak terpantau oleh mata Yunus. Ia cepat keluar melalui pintu yang terbuka sedikit.


"Ada apa, abi?"


"Para tamu masih sangat ramai. Kenapa lama sekali kamu di dalam? Mereka ingin melihatmu. Cazim mana?" tanya Yunus yang melongok hendak masuk kamar.


"Nggak usah, abi. Biar aku yang panggil Mas Cazim." Chesy menghalangi Yunus dengan menghadang dan berdiri di depan handle pintu.


"Ya sudah, cepat ya! Oh ya, wajahmu kenapa sembab begitu? Kamu menangis?"


Duh, pakai ketahuan lagi.

__ADS_1


Chesy tersenyum. "Enggak kok, abi. Tadi tuh kening Chesy kepentok keningnya mAs Cazim jadinya gini, kesakitan sampai nangis." Tangan Chesy terangkat untuk menyentuh kening. Dan ia terkejut saat melihat telapak tangannya ada bercak darah. Ya ampun! Itu pasti darahnya Cazim. Chesy cepat menurunkan tangannya dan menyembunyikan ke balik badan.


"Oh. Ya sudah. Abi tunggu di depan."


Chesy mengangguk. Ia lalu kembali masuk kamar.


"Terima kasih kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik. Setelah ini, tolong ikuti perkataanku, jangan sampai ada yang tahu soal ini!" Hamdan melangkah keluar kamar bersama dengan Alando.


Chesy beberapa detik memperhatikan mengawasi Cazim, pria itu seperti tertidur.


Tapi bagaimana jika ternyata akan ada infeksi atau bahkan resiko lebih parah setelah operasi yang tidak menggunakan peralatan medis dengan tepat seperti tadi? Chesy bingung bukan kepalang. Ia kemudian keluar kamar, memanggil Sarah yang berada tak jauh dari pintu kamarnya.


Sarah pun mendekati Chesy. "Ya? Kenapa, Ches?"


"Mas Cazim lagi nggak enak badan, jadi dia nggak bisa kembali duduk di pelaminan. Tolong kasih tau abi ya!"


"Oh, iya iya. Terus gimana kondisinya Maz Cazim sekarang?"

__ADS_1


"Mm... Ya lemes. Jadi mau istirahat, kepalanya pusing."


"Moga lekas sembuh ya. Akan aku sampaikan ke abimu." Sarah kemudian berlalu pergi.


Chesy kembali masuk kamar dan mengunci pintu. Ia mendekati ranjang, lalu naik dan berbaring miring menghadap ke arah Cazim, menatap wajah pucat di depannya.


Sebenarnya siapa Cazim yang sebenarnya? Ada apa dengan masa lalu Cazim? Kenapa dia begitu kekeh tidak mau menceritakan semua itu? Setiap kali rahasianya diusik, Cazim pasti marah.


Andai saja tadi Cazim mau menceritakan haris besarnya saja, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini. Chesy tidak akan khilaf menekan pelatuk. Kenapa Cazim sampai harus sekuat ini menyimpan rahasianya? Bahkan sampai nyawanya terancam pun, ia masih bersikukuh tak mau bicara.


Chesy mengangkat tangannya, meletakkan telapak tangannya ke punggung tangan pria itu.


"Bangun ya! Ayo, bangun!" Air mata Chesy menetes. Dia bukan pembunuh, tentu aksinya itu sangat menakutkan baginya. Andai saja terjadi sesuatu yang buruk pada Cazim setelah penembakan itu, maka ia akan menjadi manusia paling menyesal seumur hidupnya.


Chesy menangis sesenggukan, menggenggam tangan Cazim erat, memohon supaya Cazim bangun.


Di luar sana, rebana dan salawat masih terus digaungkan, membahana meramaikan acara, menghibur para tamu.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2