Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Setan Apa


__ADS_3

"Aku mau membahas tentang Dalsa," ujar Revalina dengan nada serius.


Sontak kedua netra Sarah membesar, terkejut mendengar ucapan Revalina yang agaknya tak disangka-sangka olehnya.


"Dalsa," sebut Sarah sembari menelan salivanya dengan kasar.


Melihat reaksi yang ditunjukkan Sarah membuat Revalina merasa curiga, tak biasanya Kakak ipar yang satu ini terkejut mendengar nama Dalsa.


"Kenapa Mbak?" tanya Revalina menatap nanar.


Tak langsung menjawab pertanyaan Revalina, Sarah justru celingukan kesana kemari memandangi pintu cukup lama lalu kembali menghentikan edaran matanya pada Revalina.


"Aku suka takut kalau bahas ini karena beberapa hari ini Mama seperti memaksaku untuk sepemikiran dengannya tentang permasalahan Dalsa," jawab Sarah ketakutan.


"Memaksa untuk sepemikiran, maksudnya?" tanya Revalina bingung dengan kalimat tersebut.


Perasaan Revalina mendadak tak enak, beberapa detik saja menunggu Sarah membuka mulut kembali rasanya perasaannya mulai gusar tak sabar.


"Jadi akhir-akhir ini Mama itu sering bahas tentang Dalsa, menjelaskan banyak hal tentang kasus ini dan yah kau tahu lah Mama membela Dalsa. Setelah itu aku diminta buat kasih pendapat, ya awalnya aku tetap salahkan anak bontotnya itu dengan tata bahasa yang sehalus mungkin tapi makin lama Mama semakin gencar bahas hal ini," ujar Sarah panjang lebar dengan wajah ketakutan.


"Terus," pinta Revalina penasaran.


"Aku dibilang bodoh katanya nggak tahu hukum seperti kamu dan Rafa, sejak saat itu aku jadi mengangguk-angguk saja ketika Mama bahas Dalsa aku takut dipecat jadi menantu," sambung Sarah makin ketakutan.


Sebenarnya Revalina sudah tegang dan mulai tersulut api amarah ketika mendengar cerita Kakak iparnya ini tapi setelah mendengar kalimat terakhirnya, ia jadi tak bisa menahan senyumannya.


"Ada-ada saja Mbak Sarah Ini, mana ada menantu di pecat," ucap Revalina sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah puas menertawakan kalimat terakhir Sarah, Revalina pun kembali memasang wajah dan nada bicara seriusnya.


"Syukur kalau Mbak masih takut sama mertua, sekarang menantu yang menjaga kesopanannya itu langka dan untuk masalah itu aku bisa merasakan apa yang Mbak rasakan di waktu itu. Its okey Mbak Mama mertua kita sedang cari personil buat masuk ke kubu Dalsa," ucap Revalina kembali.


"Mungkin begitu, tapi aku merasa niat Mama itu tertuju pada Yakub. Dia ingin aku bisa mengelabuhi Yakub supaya percaya dengan Dalsa," sahut Sarah mulai menunjukkan dugaannya.


Mendengar hal itu ia semakin paham dengan perubahan sikap Candini yang begitu drastis, dia bukan kerasukan atau tertukar jin di jalan tapi memang ada sesuatu yang sedang direncanakan sehingga membuatnya begitu senang sepanjang hari.


"Selama ini Mama bicara sama siapa selain kamu Mbak?" tanya Revalina penasaran.


Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan raut lemas, tapi entah kenapa tak membuatnya percaya. Bukan tak percaya pada Sarah melainkan tak percaya pada mertuanya yang tak mungkin hanya mengelabui satu orang saja.


"Kalau itu aku nggak tahu Reva, Yakub sendiri juga nggak cerita apa-apa," jawab Sarah.


Pembahasan Dalsa terus berlanjut, kini berganti Sarah yang penasaran dengan proses hukum yang berlanjut lalu dengan tegas Revalina katakan Kakaknya tak akan menempuh jalur damai dengan Dalsa.


Setelah beberapa jam berlalu, pembahasan tentang Dalsa sudah berakhir. Akhirnya Sarah memutuskan untuk pulang sebelum orang rumah curiga dengan kepergiannya yang terlalu lama.

__ADS_1


"Hati-hati ya Mbak, terimakasih sudah mau datang ke kantor," ucap Revalina berdiri di tengah pintu ruangan kerjanya.


"Sama-sama, lain kali kita bahas lagi ya," saut Sarah melempar senyuman termanisnya.


Sarah pun benar-benar pergi, melenggang dengan langkah terburu-buru nampaknya mereka terlalu lama melakukan perbincangan sampai lupa waktu.


"Kalau tidak begini aku dan Mbak Sarah nggak akan pernah bisa bicarakan hal ini di rumah. Karena meskipun Mama nggak ada di rumah tapi Mas Rival selalu ada, aku tak ingin ada kesalahan pahaman lagi dengannya," gumam Revalina sembari memandangi punggung Sarah yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.


"Aku juga harus lanjutkan pekerjaan ku," gumam Revalina mulai melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Sore itu cepat-cepat Revalina selesaikan pekerjaannya sebelum matahari senja tiba, tak lama datanglah Joseph dengan membawa setumpuk berkas.


"Reva, aku bawakan kerjaan tambahan untuk mu," ucap Joseph sembari meletakkan berkas-berkas itu ke atas meja Revalina.


Seketika tubuh Revalina mendadak lemas melihat tumpukan berkas itu, ia pun tersandar pada sandaran kursinya sembari melamun membayangkan cara untuk menyelesaikan semua pekerjaannya dalam waktu singkat.


"Ya Tuhan, apa nggak bisa besok saja Pak?" tanya Revalina lirih lemas.


"Kenapa begitu?" tanya Joseph kebingungan.


Tak lama akhirnya kedua netra Joseph melirik ke arah dokumen yang ada di tangan kiri Revalina, lalu beralih melirik ke arah layar monitor.


"Perkejaan mu yang tadi belum selesai Reva?" tanya Joseph terkejut setelah melihat apa yang tengah Revalina kerjakan sekarang.


Seketika nyali Revalina mendadak ciut, malu dengan keleletannya. Lebih tepatnya dengan kegiatan gibah yang justru ia prioritaskan.


"Bagaimana ini, berkas ini harus di kerjakan sekarang karena data dari semua berkas ini penting buat bekal kita tugas ke luar kota besok," ucap Joseph kebingungan.


Lagi-lagi kedua netra Revalina dibuat terbelalak dengan ucapan Joseph, tak disangka tugas ke luar kota itu terjadi besok sementara dirinya belum mempersiapkan apapun.


"Jangan bilang kau lupa kalau besok kita tugas ke luar kota?" tanya Joseph menatap Revalina dengan tatapan seperti tengah mengintimidasi.


"Enggak Pak, aku ingat kok," jawab Revalina sedikit gugup.


"Bagus kalau kau ingat, berarti semuanya sudah siap. Kita ketemu di bandara besok jangan lupa bawa flashdisk ku dan jangan lupa kerjakan berkas-berkas ini hari ini juga," ucap Joseph.


Setelah berucap panjang lebar akhirnya Joseph pergi. Revalina terus memandanginya sampai tak terlihat lagi pada pandangan matanya.


"Pak Joseph sudah mulai mengeluarkan taringnya, aku kita dia bakal tetap mau ngemong aku ternyata sama saja seperti CEO lain yang suka perintah-perintah bawahan," gerutu Revalina kesal.


Kali ini ia merasa kerjaannya tak selesai-selesai bukan karena asik hibah dengan Sarah tadi melainkan Joseph yang terus memberi tambahan tugas, kini akhirnya ia terpaksa lembur sampai malam sesekali ditinggalnya untuk ibadah sebentar lalu kembali lagi dengan mulut yang terus menguap.


Revalina benar-benar telah lelah sekaligus mengantuk, rasanya tubuh pun remuk serta jari jemari yang kini berkedut menyisakan rasa nyeri yang tak tertahankan.


"Ini gara-gara Pak Joseph," gerutu Revalina kesal.

__ADS_1


Saat hendak kembali ke ruangannya setelah menunaikan ibadah sholat, tiba-tiba ia merasakan hawa tak biasa di lantai lima itu. Melintasi setiap ruangan demi ruangan yang tak lagi berpenghuni membuatnya bergidik ketakutan. Terlihat tak ada siapapun di sana, kemungkinan di kantor ini hanya ada dirinya dan dua satpam di bawah.


"Kenapa aku harus lembur di saat Mas Rival tidak ikut ke kantor, kalau begini aku jadi sendirian di lantai ini," gerutu Revalina kesal.


Langkahnya kian terpacu cepat menyisakan bunyi gesekan pantofel pada lantai-lantai kantor, ia benar-benar takut dengan kesunyian dan kegelapan kantor pada malam itu.


Ia tak mau berlama-lama melintas di sana, entah kenapa pintu ruangannya yang padahal terlihat dekat namun tak kunjung diraihnya akhirnya ia pun semakin keras berusaha untuk mempercepat langkah kakinya.


Klek klek.


Revalina masuk ke dalam ruangan kerjanya dan langsung menutup pintunya kembali dengan nafas terengah-engah.


"Kurang sedikit lagi Reva, kau harus bisa selesaikan secepat mungkin sebelum hawa lantai lima ini semakin horor," ucap Revalina mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.


Dengan cepat ia menuju ke meja kerjanya, kembali melanjutkan perjalanan dengan semangat penuh.


Tok tok tok tok.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu ruangan kerjanya, sontak kedua mata Revalina terbelalak degup jantung kian terpacu begitu kencang. Perlahan ia mulai melirik ke arah pintu yang terus diketuk itu.


"Siapa yang mengetuk pintu itu, bukannya yang lembur di lantai ini cuma aku," ucap Revalina bertanya-tanya, melirik kesana kemari.


Tak sengaja ia mengingat saat-saat paling seram dalam hidupnya ketika sholat seorang diri di mushola kantor tadi yang hanya terkena sedikit penerangan dari lampu yang jaraknya lumayan jauh.


"Ada kemungkinan ini setan mengikuti ku sejak dari mushola," duga Revalina sembari mengerutkan keningnya.


Kening tiba-tiba terasa basah, peluh keringat dinginnya semakin menghujani tubuh tak lama rasanya tubuh mulai gemetar ketakutan.


Tok tok tok tok tok.


Lagi-lagi suara ketukan pintu itu kembali terdengar, perasaan Revalina semakin tak karuan. Segala ayat Al-Qur'an mulai dibacanya lirih, mulai dari ayat kursi sampai An-Nas semua dibacanya.


Tok tok tok tok tok.


Tetap tak mempan, sosok di balik pintu itu terus mengetuk pintu ruangan kerjanya.


Revalina mendengus. Helaan napasnya pun panjang. Kekesalan berbaur dengan rasa takut.


"Agak bandel ya setan satu ini, sudah aku bacakan ayat kursi berkali-kali sampai baca An-Nas masih nggak ada takutnya jadi setan," gerutu Revalina kesal.


Sepersekian persen dari ketakutannya seketika berubah menjadi rasa kesal yang tak dapat ia gambarkan tentang hantu itu, namun meski begitu ia tetap ketakutan.


Klekkkkk.


Tiba-tiba sosok dari balik pintu itu mendadak membuka pintu, sontak Revalina langsung menutup kedua matanya.

__ADS_1


"Aaaaaaa jangan ganggu aku, aku kurus. Nggak ada daging. aku cuma mau kerja, kalau mau ganggu, ganggu saja Pak Joseph dia yang suruh aku lembur," teriak histeris Revalina.


Bersambung


__ADS_2