Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Menyusul ke Neraka S2


__ADS_3

Andai saja Revalina yang meninggal, mungkin Chesy tidak akan sekehilangan ini. Tapi ini Rajani, sosok yang sangat baik, lembut dan selalu menyenangkan orang tua. Tentu saja Chesy merasa sangat kehilangan.


Mata Revalina berembun menyaksikan itu.  Ia kemudian bergegas meninggalkan rumah. Ia akan mencari empat pria biad*b itu, tangannya sendiri yang akan memberikan hukuman pada para pria itu. Seharusnya Revalina yang menjadi korban, tapi malah Rajani. Ini sangat menyakitkan. 


Tunggu Rajani, aku akan membuat empat pria itu menyusulmu ke liang lahat, mereka akan mencium panasnya api neraka. Tanganku sendiri yang akan melakukannya. Pikir Revalina dengan ubun- ubun yang terasa panas menguap.


Mobil melaju kencang meninggalkan rumah. Entah dari mana ia akan memulai untuk mencari para pelaku, namun ia akan mencari satu per satu dengan petunjuk yang ada. 


Ia ingat melihat tanda di tubuh para pria itu.  Tato di pundak si lelaki, luka di lengan salah seorang pria, juga benda milik mereka yang terjatuh di tempat kejadian. Empat lelaki itu akan mampus satu per satu. 


Revalina mengeluarkan kalung dari kantong bajunya. Tak lain kalung milik salah satu diantara pria biadab itu.  Revalina menatap kalung warna perak itu dengan seksama. Ia seperti pernah melihat kalung itu, tapi dimana? 


Bandul kalingnya berupa bulan, seperti tidak asing. Artinya pemiliknya juga tidak asing. Ia pernah melihat kalung itu, tapi lupa persisnya dimana. Otaknya harus lebih jeli mengingatnya.


***


Revalina kini berada di kampus, tengah makan bakso.  Dulunya Chesy sempat ngidam bakso, makanya Revalina juga hobi sekali dengan makanan itu.  otaknya tengah berputar mengingat- ingat kalung dengan bandul bulan.  Semoga saja akan ada petunjuk secepatnya.  


Pikiran Revalina benar- benar sudah berubah sekarang.  Tidak ada niatan lain selain mencari empat pria itu dan segera memberikan pelajaran hebat kepada mereka, tidak ada tujuan lain selain itu di otaknya.  Andai saja kejadian itu tidak terjadi di depan mata kepalanya sendiri, mungkin ia tidak akan sekalut ini.  Andai pula Rajani bukan merupakan salah korban, mungkin Revalina tidak akan semerasa bersalah seperti ini.


Dalsa.  Ya, Dalsa patut dicurigai.


“Revalina, kamu dipanggil Pak Rival!” ucap Akram yang menghampiri Revalina dan duduk di sisi gadis itu.


“Hm.”  Revalina menghabiskan bakso di mangkuknya.


“Aku turut berduka atas kepergian rajani.”

__ADS_1


Revalina diam saja.  hatinya nyeri seperti dibantai setiap kali nama rajani disebut.


“Apakah masalahmu dengan Pak Rival belum kelar?” tanya Akram.


“Terakhir kali, Pak Rival memintaku untuk menyampaikan surat panggilan ke Umi.  Tapi suratnya belum kusampaikan karena aku tertimpa musibah. Aku temui Pak Rival dulu.”  Revalina meninggalkan meja makan, ia melangkah menuju ke ruangan dosen.


Begitu memasuki ruangan Rival, ia terkejut melihat Chesy sudah duluan duduk di sana. 


Revalina duduk di samping kursi uminya.  


“Rival, makasih banyak kamu udah kasih kesempatan baik ini,” ucap Chesy dengan nada ramah.


Rival mengangguk.


Kenapa mereka seperti saling mengenal begitu?  Pikir Revalina bingung.


Dih, tumben sok bijak meski kesannya tetap galak dan dingin.


“Aku hargai keterlambatan ibumu datang menemuiku mengingat masa berkabung yang kau alami,” sambung Rival.  “Ingat, ini pertama dan terakhir kalinya kamu membuat kesalahan itu.  jangan diulangi lagi!”  Rival berusaha memberikan pembinaan.  


“Setidaknya Bapak juga berikan hukuman pada Dalsa meski dia adalah adiknya bapak.  Jangan tebang pilih!” tegas Revalina dengan tatapan tajam.


Perkataan itu membuat Chesy menatap kesal pada Revalina.  Kenapa Revalina harus bersikap tak sopan pada dosen?


Melihat tatapan Chesy, Revalina pun tersadar bahwa sikapnya ternyata mengundang kemarahan Chesy.  Semenjak kepergian Rajani, Chesy memang terlihat sensitive.  Sering marah.  Mungkin karena belum siap kehilangan.


Revalina menunduk. 

__ADS_1


“Oh… Mengenai Dalsa, tidak perlu aku menginformasikan kepadamu tentang tindakan apa yang aku berikan kepadanya.  Semua sudah berjalan sesuai dengan yang ditentukan.”  Rival mendominasi, seperti biasa, suaranya tegas dan menggetarkan lawan.  “Baiklah, kau boleh pergi.”


“Ibu juga permisi.  Titip Revalina ya!  Selagi di kampus, aku serahkan penjagaan Revalina kepadamu!  Kamu walinya di sini!” pesan Chesy membuat dahi Revalina mengernyit.


Namun Revalina tidak berani protes.  Cukup sudah kepedihan uminya selama ini, jangan ditambah lagi dengan sikap konyolnya itu.  Mulai saat ini, Revalina akan menjadi anak penurut.  Dia akan berubah, dia ingin mencontoh Rajani.  Setidaknya mendekati Rajani supaya Chesy tidak begitu merasa kehilangan Rajani.


Chesy meninggalkan ruangan bersama dengan Revalina yang menyusul di belakang.


Sesampianya di luar, Chesy menoleh pada Revalina dengan ekspresi tegang.


Mendapat tatapan berbeda dari Chesy, Revalina terdiam mematung. 


“Sudah cukup ya!  Jangan bikin masalah lagi!  Ikuti peraturan kampus.  Di sini bukan siapa yang salah atau yang benar.  Tapi bercerminlah pada dirimu sendiri.  Apakah kamu sudah benar?” Chesy balik badan, meninggalkan Revalina yang membeku di tempat.


Jika biasanya Revalina membantah, kali ini Revalina membisu, tidak mau membalas perkataan Chesy.  Diam lebih baik, supaya tidak menyakiti. 


Revalina terduduk di kursi.  Perasaannya kebas.  Sedih melihat uminya bersedih.  Apa lagi ia malah menambah masalah uminya atas kasus ini.  Air mata Revalina menetes.  Biasanya ia tidak cengeng.  Dia gadis kuat dan tidak mudah patah semangat.  Tapi kasus Rajani ini telah menyita pikirannya.


Tiba- tiba ia terkejut melihat sebuah tisu disodorkan ke hadapannya.  Segera ia mendongak.  Menatap Rival yang sudah berdiri tegak di hadapannya dengan paras dingin.


Revalina menyambar tisu itu dan mengusap air matanya.


“Kurasa nasihat yang kuberikan tadi bagus, tidak ada yang kejam.  Hanya karena ibumu dipanggil ke sekolah dan beliau mengetahui kasusmu, lantas kamu menangis?  Cengeng!”  Rival melangkah pergi.


Benar-benar dosen gila!  Umpat Revalina dalam hati.  Lihat saja nanti, jika benar Dalsa terlibat dalam kematian Rajani, apakah Rival sebagai abangnya juga terlibat?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2